NovelToon NovelToon
Jodohku Mas Bule

Jodohku Mas Bule

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: mitha

Retna tak pernah menyangka rumah tangga yang mati-matian ia pertahankan akan berakhir dalam satu keputusan kejam: perceraian. Atas desakan suami dan ibu mertuanya, ia diusir dari rumah, seolah seluruh pengorbanan, cinta, dan tahun-tahun yang ia jalani bersama keluarga itu tak pernah berarti.

Dengan hati hancur, Retna bersumpah tak akan lagi percaya kepada laki-laki. Baginya, cinta hanyalah pintu menuju luka yang lebih dalam.

Namun, ketika ia memilih mengunci rapat hatinya, seorang pria asing justru hadir membawa kehangatan yang belum pernah ia rasakan. Pria yang dijulukinya “Mas Bule” itu memperlakukannya dengan tulus, penuh perhatian, dan kasih sayang—perlahan menggoyahkan sumpah yang selama ini ia pegang.

Di antara trauma masa lalu dan harapan yang mulai tumbuh, mampukah Retna kembali membuka hati? Ataukah pria asing itu benar-benar hadir sebagai penyembuh luka sekaligus jodoh yang selama ini diam-diam menunggunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 - Someone Special

Seharian itu Retna tidak bisa berkonsentrasi.

Sejak Nathan berangkat bekerja, pikirannya terus kembali pada percakapan mereka pagi tadi.

Terutama satu kalimat yang terus terngiang di kepalanya.

"Aku tidak akan lagi menyembunyikan bahwa aku menyukaimu."

Retna menghela napas.

Ia berusaha menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah. Membersihkan ruang tamu, mencuci pakaian, merapikan kamar, sampai menyiapkan makan siang.

Namun setiap kali tangannya berhenti bekerja, wajah Nathan kembali muncul di pikirannya.

Apalagi ketika ia mengingat rencana makan malam yang sudah dikatakan pria itu.

Nathan ingin mengajaknya keluar.

Bukan sebagai pekerja.

Tetapi sebagai seseorang yang disukai.

Pikiran itu membuat pipinya kembali memerah.

"Kenapa aku jadi seperti anak kecil begini?"

Retna menggeleng cepat.

Ia sudah pernah menikah.

Ia bahkan pernah mengalami rumah tangga yang membuatnya kehilangan kepercayaan terhadap laki-laki.

Seharusnya ia lebih berhati-hati.

Namun Nathan berbeda.

Itulah yang justru membuat Retna semakin takut.

Karena semakin ia merasa nyaman, semakin besar pula kemungkinan hatinya kembali terluka.

Menjelang sore, suara mobil terdengar memasuki halaman.

Retna yang sedang menyusun pakaian langsung berhenti.

Beberapa saat kemudian pintu terbuka.

Nathan masuk sambil membawa sebuah paper bag.

Begitu melihat Retna, senyum pria itu langsung muncul.

"Hai."

Retna tersenyum canggung.

"Mas sudah pulang?"

"Iya."

Nathan mengangkat paper bag yang dibawanya.

"Aku membawakan sesuatu untukmu."

"Untuk saya?"

"Iya."

Retna terlihat bingung.

Nathan menyerahkan tas tersebut.

"Ambil."

Dengan ragu Retna menerimanya.

Ketika dibuka, ternyata di dalamnya terdapat sebuah kotak kecil.

Retna membuka tutupnya.

Di dalamnya ada sebuah gaun sederhana berwarna lembut.

Retna langsung membelalakkan mata.

"Ini..."

"Untuk kamu."

"Kenapa?"

"Untuk besok malam."

Retna menatap Nathan.

"Mas membelinya?"

Nathan mengangguk.

"Saya bisa pakai pakaian biasa."

"Aku tahu."

"Lalu kenapa..."

"Aku ingin membelikanmu sesuatu."

Retna terdiam.

Nathan kemudian berkata santai,

"Kalau kamu tidak suka, tidak perlu dipakai."

Retna menyentuh kain gaun itu.

"Saya suka."

"Bagus."

Nathan tersenyum puas.

Namun Retna masih terlihat ragu.

"Mas..."

"Hmm?"

"Kenapa Mas melakukan semua ini?"

Nathan terdiam.

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi ia tahu maksud sebenarnya.

Retna ingin memastikan bahwa semua perhatian itu bukan karena rasa kasihan.

Nathan mendekat.

"Karena aku ingin."

Jawaban itu justru membuat Retna semakin bingung.

"Dan karena..." Nathan berhenti sejenak. "Aku ingin melihat kamu tersenyum."

Retna menunduk.

"Saya sering tersenyum."

"Tidak seperti tadi."

Retna mengangkat wajah.

Nathan menunjuk bibirnya.

"Yang tadi."

Retna baru sadar dirinya tersenyum sejak melihat hadiah itu.

Ia langsung memalingkan wajah.

Nathan tertawa kecil.

Keesokan harinya, Retna berdiri cukup lama di depan cermin.

Gaun yang diberikan Nathan sudah dikenakannya.

Sederhana, tidak berlebihan, tetapi membuat Retna terlihat lebih anggun.

Ia merapikan rambutnya.

Untuk beberapa saat, ia menatap dirinya sendiri.

Sudah lama sekali ia tidak berdandan hanya untuk dirinya sendiri.

Dulu, dalam pernikahannya, ia selalu merasa harus memenuhi standar orang lain.

Kini seseorang justru memintanya mengenakan sesuatu karena ingin melihatnya tersenyum.

Retna menarik napas.

"Ini cuma makan malam."

Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

"Cuma makan malam."

Namun ketika turun ke ruang tengah, Retna langsung tahu bahwa Nathan tidak menganggap malam itu sekadar makan malam biasa.

Nathan sudah menunggunya.

Pria itu mengenakan kemeja putih sederhana dengan celana panjang gelap.

Begitu melihat Retna, langkahnya terhenti.

Tatapannya tidak langsung berpaling.

Retna menjadi gugup.

"Kenapa?"

Nathan tersenyum.

"Kamu cantik."

Wajah Retna langsung memerah.

"Mas..."

"Aku cuma mengatakan apa yang kulihat."

Retna menunduk.

"Terima kasih."

Nathan mengambil kunci mobil.

"Siap?"

Retna mengangguk.

"Siap."

Mereka kemudian pergi.

Sepanjang perjalanan, suasananya jauh lebih santai daripada biasanya.

Nathan beberapa kali membuat Retna tertawa dengan cerita-cerita kecil mengenai pekerjaannya.

Sampai akhirnya mobil berhenti di sebuah restoran yang cukup tenang.

Retna melihat sekeliling.

"Mas membawa saya ke sini?"

"Iya."

"Tempatnya bagus sekali."

"Aku ingin kita bisa bicara tanpa banyak orang."

Mereka duduk berhadapan.

Malam itu terasa seperti sesuatu yang belum pernah Retna alami.

Tidak ada Arman.

Tidak ada masa lalu.

Tidak ada orang yang membandingkannya dengan perempuan lain.

Hanya dirinya dan Nathan.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Saat seorang pelayan datang membawa menu tambahan, ia sempat memandang Nathan dengan wajah terkejut.

"Mr. Nathan?"

Nathan mengangkat wajah.

"Yes?"

Pelayan itu tersenyum.

"I didn't know you were here."

Nathan tampak mengenalinya.

"Oh, Sarah. How are you?"

"Saya baik."

Retna memperhatikan percakapan mereka dalam diam.

Tidak ada yang aneh sebenarnya.

Namun ketika Sarah bertanya kepada Nathan apakah ia datang bersama istrinya, Nathan langsung menjawab,

"No. She's..."

Nathan berhenti sejenak.

Matanya beralih kepada Retna.

"...someone very special to me."

Retna langsung menunduk.

Sarah tersenyum lalu pergi.

Namun Retna justru semakin salah tingkah.

"Kenapa Mas tidak bilang saja saya teman?"

Nathan mengerutkan kening.

"Kenapa harus?"

"Karena saya memang belum menjadi siapa-siapa."

Nathan terdiam.

"Aku sudah bilang aku menyukaimu."

"Tapi saya belum menjawab."

"Aku tahu."

"Jadi jangan terlalu cepat mengatakan saya seseorang yang spesial."

Nathan menatapnya cukup lama.

"Aku tidak mengatakan kamu kekasihku."

Retna terdiam.

"Aku hanya mengatakan apa yang kurasakan."

Retna memainkan ujung serbet.

"Saya takut."

Nathan langsung berubah serius.

"Takut apa?"

"Takut semuanya hanya sementara."

Nathan tidak menjawab.

Retna melanjutkan dengan suara pelan,

"Mas sekarang perhatian. Mas bilang suka. Mas membawakan saya pakaian. Mengajak saya makan."

Ia menatap Nathan.

"Tapi bagaimana kalau nanti Mas bosan?"

Pertanyaan itu membuat Nathan terdiam cukup lama.

"Aku bukan Arman."

Retna tersentak.

Nathan langsung menyadari bahwa kalimatnya terlalu tajam.

"Maaf."

Retna menunduk.

"Aku tidak bermaksud menyamakan."

Namun justru nama itu sudah telanjur disebut.

Suasana di meja mereka berubah.

Retna terdiam.

Nathan pun tidak langsung berbicara.

Beberapa menit kemudian makanan datang, tetapi keduanya tidak langsung menyentuhnya.

Akhirnya Nathan meletakkan sendoknya.

"Retna."

"Hmm?"

"Aku tidak bisa menjamin masa depan."

Retna menatapnya.

"Tapi aku bisa menjamin satu hal."

"Apa?"

"Aku tidak akan mempermainkanmu."

Nathan menarik napas.

"Kalau suatu hari nanti perasaanku berubah, aku akan mengatakannya kepadamu. Aku tidak akan membuatmu menebak-nebak seperti yang pernah kamu alami."

Mata Retna mulai berkaca-kaca.

"Dan selama aku masih ingin bersamamu, aku akan menunjukkannya."

Retna mengusap sudut matanya.

"Mas tidak marah?"

"Kenapa aku harus marah?"

"Karena saya terlalu banyak bertanya."

Nathan tersenyum.

"Justru aku ingin kamu bertanya."

Ia kemudian mendorong piring makanan Retna sedikit lebih dekat.

"Sekarang makan."

Retna tertawa kecil di tengah air matanya.

"Mas ini..."

"Aku serius. Dari tadi kamu belum makan banyak."

"Saya jadi tidak enak."

"Jangan."

Nathan tersenyum.

"Mulai malam ini, jangan selalu merasa tidak enak ketika ada seseorang yang memperhatikanmu."

Retna terdiam.

Kalimat itu sederhana, tetapi terasa begitu dalam.

Setelah makan malam selesai, mereka berjalan keluar restoran.

Udara malam terasa sejuk.

Nathan berdiri di samping Retna.

"Aku tahu kamu masih takut."

Retna diam.

"Aku juga tahu mungkin ada bagian dari dirimu yang masih memikirkan Arman dan apa yang terjadi dulu."

Retna menunduk.

Nathan tidak menyentuhnya.

Ia hanya berdiri di sampingnya.

"Aku tidak akan memaksamu melupakan masa lalu."

Retna perlahan menatapnya.

"Aku juga tidak ingin kamu menerima perasaanku hanya karena merasa berutang padaku."

Mata Retna mulai berkaca-kaca.

"Jadi..."

Nathan tersenyum.

"Kalau suatu hari nanti kamu bisa mengatakan bahwa kamu juga punya perasaan yang sama, aku akan sangat bahagia."

Ia berhenti sejenak.

"Tapi kalau kamu belum siap, aku tetap akan menghargainya."

Retna menggigit bibir.

Selama ini ia selalu mengira cinta berarti harus menyerahkan seluruh dirinya kepada seseorang.

Namun malam ini Nathan justru memberinya pilihan.

Dan justru karena itulah hatinya semakin sulit untuk menolak.

"Mas Nathan."

"Hmm?"

Retna menarik napas.

"Saya belum tahu apakah saya berani."

Nathan mengangguk.

"Tidak apa-apa."

"Tapi..."

Retna menatapnya.

"Saya juga tidak ingin Mas menjauh."

Nathan terdiam.

Kalimat sederhana itu membuat senyum perlahan muncul di wajahnya.

"Aku tidak akan menjauh."

Retna akhirnya tersenyum.

Malam itu, mereka tidak membuat janji besar.

Tidak ada kata-kata tentang pernikahan.

Tidak ada kepastian tentang masa depan.

Namun konflik kecil yang sempat terjadi justru membuat Retna memahami satu hal.

Nathan tidak meminta dirinya untuk langsung percaya.

Ia hanya meminta kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya berbeda.

Dan untuk pertama kalinya, Retna merasa mungkin ia bisa memberi kesempatan itu.

Ketika Nathan membuka pintu mobil untuknya, Retna berhenti sebentar.

"Mas."

"Hmm?"

"Terima kasih."

"Untuk apa?"

"Untuk tidak marah ketika saya takut."

Nathan tersenyum.

"Aku justru akan marah kalau kamu berhenti jujur kepadaku."

Retna tertawa kecil.

Lalu ia masuk ke dalam mobil.

Nathan menutup pintu.

Malam itu memang tidak berjalan sesempurna yang mereka bayangkan.

Namun mungkin, cinta memang tidak selalu dimulai dengan malam yang sempurna.

Kadang, cinta justru tumbuh dari kesalahpahaman kecil, percakapan yang jujur, dan keberanian dua orang untuk tetap tinggal ketika salah satunya mulai merasa takut.

1
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!