"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Di sudut gelap area parkir bawah tanah, sosok misterius itu mengusap layar ponselnya dengan senyum miring yang penuh dendam. Dua lembar foto Marko yang sedang memangku Luna terpampang jelas.
"Belum cukup," bisiknya dingin, suaranya tenggelam dalam derum mesin mobil yang melintas jauh. "Foto begini cuma bikin skandal kecil. Gue butuh bukti yang jauh lebih panas... bukti yang bisa hancurin reputasi Marko sekaligus meratakan Janitra Group sampai ke tanah."
Tanpa menyadari ada mata iri yang mengintai dari kejauhan, Marko terus melangkah santai menuju mobilnya, membopong tubuh Luna dengan hati-hati.
Di dalam dekapan hangat itu, sebenarnya Luna sama sekali tidak tidur nyenyak. Gadis itu sengaja memejamkan mata rapat-rapat, menikmati sensasi dipangku sang kekasih sambil menyandarkan pipinya dan sesekali jemarinya pura-pura tak sengaja mengelus dada bidang Marko yang kokoh. Rasanya begitu nyaman dan menenangkan.
Hingga mobil akhirnya tiba di garasi rumah dan Marko membopongnya lagi naik ke lantai atas menuju kamar tidur Luna.
Dengan lembut, Marko membaringkan tubuh Luna di atas kasur empuk, lalu melepaskan alas kakinya. Namun, bukannya langsung pergi, Marko justru membungkukkan badannya, mendekatkan bibirnya tepat di samping telinga Luna.
"Akting pura-pura tidurnya bagus banget, Aluna..." bisik Marko dengan suara parau nan jahil. "...tapi tangan kamu dari tadi megang-megang dada saya ketahuan."
Luna seketika membelalak gembira bercampur kaget. Pria tua ini ternyata tahu dari tadi!
Marko tertawa puas, menyunggingkan senyum kemenangan seraya berbalik hendak melangkah keluar kamar.
"Om Marko! Ih, nakal banget!" seru Luna kesal karena dikerjai balik. Dengan gerakan cepat, Luna meraih pergelangan tangan Marko dan menariknya kencang.
Marko yang tak siap kehilangan keseimbangan.
Brak!
Tubuh kokoh Marko ambruk menindih Luna di atas tempat tidur. Refleks, kedua tangan Marko terulur menahan beban tubuhnya di samping kepala Luna. Wajah mereka kini menyisakan jarak hanya beberapa sentimeter. Hembusan napas hangat mereka beradu hebat di remang kamar.
Mata mereka bertaut. Sensasi gairah yang terpendam mendadak meledak. Luna tanpa ragu mengalungkan kedua tangannya di leher Marko, menarik kepala pria itu makin dekat. Ciuman panas pun tak terelakkan. Marko melumat bibir Luna dengan gairah yang kian memuncak, membuat dada mereka bergemuruh liar.
Namun, di tengah gelombang gairah itu, Marko mendadak tersentak kaku. Pria matang itu menyadari ada bagian dari tubuh bagian bawahnya yang mendadak menegang keras dan 'bangun' tepat di antara paha Luna.
Akal sehat Marko mendadak menyengat seperti sengatan listrik.
"S-saya... permisi!" seru Marko terbata-bata, buru-buru menegakkan tubuhnya dan melompat turun dari kasur.
Wajah Marko memerah padam hingga ke telinga. Tanpa berani menatap Luna lagi, pria CEO itu berlari kecil keluar dari kamar Luna dengan langkah serabutan dan menutup pintu dengan keras.
Brak!
Luna yang masih terlentang di kasur memegangi bibirnya yang sedikit bengkak, lalu tertawa lepas tanpa henti. "Lucu banget sih! Pria tua ternyata bisa salting parah begitu!"
Sementara di kamarnya sendiri, Marko mengunci pintu, menyandarkan punggungnya seraya meremas rambutnya frustrasi. Ia mengutuki dirinya sendiri habis-habisan. Begitu menunduk, matanya menatap pasrah ke arah celananya—aset pusakanya sudah berdiri tegak sempurna.
"Gila kamu, Marko... gila!" umpatnya pada diri sendiri, langsung melangkah cepat menuju kamar mandi untuk menyiram kepalanya dengan air dingin.
Saat akhir pekan tiba, Luna memanfaatkan kesempatan untuk menikmati masa kasmarannya. Gadis itu mengajak Marko melakukan double date ke sebuah taman rekreasi outdoor yang cukup luas di luar kota bersama Rania dan Kenan.
Hari itu, suasana begitu cerah. Keempatnya menikmati waktu bermain berbagai wahana dengan tawa yang tak hentinya mengalir. Kenan yang kini sudah tahu rahasia Luna tampak benar-benar ikhlas dan santai melihat Luna bergandengan tangan dengan bos besarnya, sementara ia sendiri mulai menikmati kedekatannya dengan Rania.
Saat Luna dan Rania sedang membeli es krim di kedai dekat danau, Marko dan Kenan berdiri berdua di bawah rindangnya pohon pinus.
Kenan menyesap minuman kalengnya, lalu menoleh ke arah Marko dengan sopan. "Pak Marko... jujur, awal-awal saya sempat kaget waktu tahu soal hubungan Bapak sama Aluna."
Marko menatap pemuda di sampingnya, tersenyum tipis. "Saya ngerti, Kenan. Di mata kamu—dan mungkin orang luar—hubungan ini kelihatan aneh atau salah."
"Enggak kok, Pak," potong Kenan cepat seraya tertawa kaku. "Maksud saya... Aluna itu orangnya polos tapi nekat. Dari dulu dia cuma cerita soal satu cowok yang bikin dia penasaran. Saya baru sadar kalau cowok itu ternyata Bapak. Tolong jagain Aluna ya, Pak. Dia anak yang baik banget."
Marko menepuk bahu Kenan pelan, merasa respek dengan kedewasaan pemuda itu. "Pasti. Makasih ya, Kenan. Dan... saya liat kamu sama Rania juga kelihatan cocok banget."
Kenan terkekeh sambil menggaruk tengkuknya, matanya melirik ke arah Rania yang sedang tertawa dari kejauhan. "Iya, Pak. Rania beda banget sama Aluna. Dia lebih tenang... dan jujur, saya mulai nyaman banget sama dia."
Sementara itu di kedai es krim, Luna menyenggol lengan Rania jahil.
"Gimana, Ran? Momen kencan pertama lu sama Kenan?" goda Luna seraya menikmati es krim cokelatnya.
Rania menutupi pipinya yang memerah. "Senang banget, Lun... makasih ya udah dorong gue dari kemarin. Kenan tuh perhatian banget, tadi pas gue hampir kepeleset di wahana permainan, dia langsung megangin tangan gue."
"Tuh kan! Apa gue bilang!" seru Luna antusias. "Kenan tuh peka kalau kita kasih kode. Pokoknya lu harus terus pepet, jangan kasih kendor!"
"Iya, iya, Mbak Aluna yang paling ahli," tawa Rania lepas, memeluk lengan sahabatnya itu hangat.
Matahari mulai terbenam di ufuk barat, memancarkan warna jingga yang cantik di atas danau tempat rekreasi.
Rania dan Kenan pamit lebih dulu untuk mencari tempat makan malam berdua, memberi ruang penuh bagi Marko dan Luna untuk menikmati sisa sore. Marko merangkul pundak Luna dari samping saat mereka berjalan menyusuri pinggir danau yang tenang.
"Senang hari ini, Aluna?" tanyanya lembut, mendaratkan ciuman singkat di puncak kepala Luna.
"Senang banget, Om," jawab Luna dengan binar mata bahagia, menyandarkan kepalanya di dada bidang Marko. "Bisa kencan tanpa harus mikirin kerjaan kantor."
"Tapi ingat ya," Marko berhenti melangkah, memutar tubuh Luna agar menghadapnya. Tangannya merapikan helai rambut Luna yang tertiup angin sore. "Mulai besok di kantor, kita tetap harus profesional. Nggak boleh ada adegan nyosor di jam kerja."
Luna mengerucutkan bibirnya gemas. "Dikit doang juga nggak boleh, Om?"
Marko terkekeh rendah, mencubit pelan hidung bangir Luna. "Nanti saya yang nggak bisa fokus kerja, Sayang."
Panggilan 'Sayang' yang lolos begitu alami dari mulut Marko membuat jantung Luna melompat kegirangan. Ia menyunggingkan senyum manisnya yang paling menawan, menjinjitkan kaki lalu mengecup kilat pipi Marko hingga pria matang itu hanya bisa menggeleng pasrah seraya tersenyum lebar.
Di balik kebahagiaan dan kehangatan kasmaran mereka yang membuncah di tepi danau sore itu, sosok misterius yang sejak awal mengawasi mereka menyunggingkan senyum licik dari balik kegelapan deretan pohon.
Foto-foto baru momen mesra mereka di taman rekreasi sudah tersimpan rapi di galeri ponsel. Sebuah rencana jahat tengah disusun matang untuk mempublikasikan bukti rahasia itu tepat di saat yang paling menghancurkan bagi Marko dan Luna.