Enam tahun berpisah dari Nathaniel meninggalkan Elena dalam kehampaan, memikul rahasia besar: seorang anak rahasia bernama Gavin. Di tengah keterpurukannnya, Elena kembali pada sahabat masa kecilnya, Julian. Hubungan mereka kian rumit ketika Julian terikat open marriage dengan wanita lain demi tetap bisa melindungi Elena dan Gavin.
Takdir berputar kejam saat Elena tak sengaja bertemu kembali dengan Nathaniel di pesawat. Penyesalan memuncak ketika wajah Gavin tanpa sengaja terpampang sebagai brand ambassador perusahaan Nathaniel. Terjebak di antara cinta masa lalu, ikatan darah, dan kompromi sunyi sahabatnya, ke mana Elena harus melabuhkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibalik Selimut
Sebelum Elena sempat bangkit atau bersuara dari balik selimut, Julian yang mendengar ketukan tersebut langsung merespons.
Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Julian yang keluar mengenakan celana pendeknya, dengan sisa-sisa air segar yang masih menempel di rambut dan kulitnya.
Langkah cepatnya membawanya ke depan pintu utama.
Dengan sigap, Julian membuka pintu itu hanya separuh cukup lebar untuk menyembunyikan pemandangan di dalam kamar, memastikan staf room service sama sekali tidak bisa melihat Elena yang sedang berbaring di atas ranjang.
"Malam, Pak. Ini pesanan makan malamnya," ucap staf hotel ramah sambil menyodorkan nampan berisi mangkuk salad segar dan piring tenderloin steak yang masih mengepulkan aroma lezat.
"Ya, terima kasih," balas Julian singkat namun sopan, langsung menerima nampan tersebut dari tangan sang staf.
Begitu makanan berpindah tangan, Julian langsung menutup pintu kamar rapat-rapat dan menguncinya kembali. Suasana hening dan intim khas kamar hotel itu seketika bergeser, bercampur dengan aroma makanan hangat yang langsung menguar di dalam ruangan.
Julian membawa nampan tersebut ke meja kecil di dekat tempat tidur. Ia melirik ke arah Elena yang masih terbalut selimut, menatapnya dengan senyum tipis yang hangat.
"Makanan kita sudah datang, El," panggil Julian lembut, menghampiri ranjang dan duduk di tepinya.
"Badanmu pasti butuh asupan setelah energi terkuras habis. Mau makan sekarang, atau mau aku suapi?"
Belum sempat Elena membuka suara untuk menjawab tawarannya, Julian sudah lebih dulu mengambil alih. Pria itu tersenyum kecil melihat raut wajah Elena yang masih menyisakan rona kemerahan dan kelelahan, lantas bergerak membuka kemasan makan malam mereka.
Julian memotong kecil-kecil tenderloin steak yang masih mengepul hangat, menusuknya dengan garpu, lalu mendekatkannya ke bibir Elena.
"Buka mulutnya, princess," bujuk Julian dengan nada lembut dan telaten.
"Jangan dibiarin kosong perutnya, nanti asam lambungmu kambuh lagi."
Elena yang masih merasa salah tingkah dan enggan beranjak dari balik selimut hanya bisa pasrah. Dengan malu-malu, ia membuka mulutnya dan menerima suapan pertama dari Julian. Rasa gurih dan empuk daging steak itu langsung terasa pas di lidahnya, disusul dengan kesegaran salad sayur selada yang disuapkan Julian berikutnya.
Suasana di dalam kamar hotel itu mendadak terasa begitu hangat dan domestik, kontras dengan ketegangan dan badai emosi yang sempat melanda mereka beberapa jam lalu. Di sela-sela aktivitas menyuapi, Julian sama sekali tidak melewatkan kesempatan untuk menunjukkan sisi lembutnya.
Setiap kali Elena selesai mengunyah dan menelan makanannya, Julian dengan sabar mendaratkan kecupan yang lembut dan penuh kasih sayang di kening Elena. Sentuhan bibir hangat itu turun sejenak di pelipis, menyalurkan rasa aman, kepemilikan, dan rasa sayang yang begitu dalam.
Elena membiarkan dirinya terbuai dalam perlakuan manis tersebut. Sisa-sisa kecanggungan yang sempat ada perlahan menguap, tergantikan oleh kenyamanan luar biasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya dari siapa pun bahkan dari pria di masa lalunya.
Sisa-sisa makanan di atas nampan telah disingkirkan ke meja sudut. Begitu mangkuk dan piring kosong, Julian kembali menghampiri tempat tidur, mendapati Elena yang masih meringkuk nyaman di balik selimut putih tebal.
Mengingat kondisi fisik Elena yang sempat drop dan kelelahan setelah badai keintiman tadi malam, Julian tidak membiarkan gadis itu bergerak sendirian. Dengan telaten, ia mengangkat tubuh mungil Elena dalam gendongannya, membawanya melangkah masuk ke kamar mandi yang sudah dihangatkan uap air.
Di dalam sana, Julian memperlakukan Elena layaknya seorang ratu. Dengan penuh kesabaran dan kelembutan, ia membantu Elena membersihkan diri, membasuh tubuh sahabatnya itu dari sisa-sisa peluh dengan air hangat, merawatnya tanpa ada sedikit pun rasa terburu-buru. Sentuhan tangan Julian terasa begitu menenangkan, menyapu bersih rasa lelah dan membuat saraf-saraf Elena yang tadinya tegang seketika rileks.
Setelah keduanya selesai mandi dan berganti pakaian bersih, mereka kembali keluar dari kamar mandi.
Namun, begitu duduk di depan cermin besar kamar hotel, Elena spontan mengerucutkan bibirnya. Ia menatap pantulan wajahnya sendiri dengan isyarat tidak suka, lalu menoleh ke arah Julian sambil merengek pelan.
"Jules... lihat deh, muka aku bareface banget gini pucat banget rasanya," keluh Elena sambil memegang kedua pipinya dengan nada manja. "Malu tahu kelihatan jelek di depan kamu... aku kan nggak bawa pouch makeup ke sini."
Julian yang berdiri tepat di belakangnya langsung tertawa kecil. Sifat gemas yang teramat sangat mendera dadanya melihat tingkah insecure sahabatnya itu. Ia menangkup kedua bahu Elena dari belakang, lalu mencium puncak kepala gadis itu dengan penuh gemas.
"Siapa bilang jelek? Kamu bareface begini juga tetap kelihatan cantik, El. Natural banget," puji Julian lembut.
Namun, melihat raut cemberut Elena yang masih belum terima, Julian tersenyum simpul. Ia melirik jam tangan di pergelangan tangannya, lalu menarik tangan Elena supaya berdiri.
"Udah, jangan cemberut begitu. Kalau kurang makeup, ya tinggal kita beli," ajak Julian santai sembari merapikan jaketnya.
"Yuk, siap-siap. Kita ke mal sekarang. Kamu boleh borong semua makeup yang kamu mau, atau mau belanja apa aja yang lagi kamu pengenin, hari ini semua aku yg traktir."
ayo tor lanjutin update nya