Gavin Dewantara adalah pewaris tunggal Dewantara Group, salah satu keluarga old money terpandang di negeri ini. Bosan dengan kepalsuan kelas atas dan kekangan keluarganya, Gavin memilih kuliah di universitas negeri di luar kota, tinggal di kosan sederhana, dan menyembunyikan identitas aslinya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa teknik yang slengean, ugal-ugalan, hobi naik motor tua, dan sering terlibat perkelahian jalanan menggunakan teknik bela diri praktis yang ia pelajari dari jalanan. Meski terlihat berandalan, Gavin memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kesetiaan tanpa batas kepada teman-temannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 Dana Usaha Mahasiswa
Krisis finansial terbesar dalam sejarah kepengurusan Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia resmi mencapai titik nadir pada hari Senin pagi. Ruang sekretariat himpunan yang berukuran empat kali empat meter dan berbau apek itu berubah menjadi ruang berkabung nasional. Kertas-kertas proposal berserakan di atas meja, ditemani beberapa cangkir kopi yang sudah dingin dan kaleng biskuit yang isinya tinggal remah-remahnya saja.
Kirana Putri duduk di kursi ketua dengan kedua tangan menopang dagu, matanya menatap kosong ke arah papan tulis putih yang memuat rincian anggaran Kegiatan Bakti Sosial Tahunan di desa terpencil bulan depan. Di bagian bawah papan tulis, terdapat angka minus besar berwarna merah: Rp 50.000.000,-.
"Gak bisa, Ran. Tiga perusahaan kosmetik sama dua pabrik kelapa sawit yang kita ajuin kemarin resmi menolak," lapor Rian dengan wajah lesu, kacamata tebalnya melorot sampai ke ujung hidung. "Alasannya sama: prosedur birokrasi internal mereka lagi ketat karena akhir tahun anggaran. Kalau dalam tiga hari ini kita gak dapet dana segar, acara bakti sosial terancam batal total."
Beberapa staf panitia lain langsung menghela napas panjang, sebagian bersandar pasrah pada lemari arsip. Pembatalan acara ini bukan cuma soal corengan di nama baik himpunan, tapi juga berarti hilangnya kesempatan pengabdian masyarakat yang sudah mereka persiapkan selama tiga bulan penuh.
Di pojok ruangan, di atas sebuah sofa kulit sintetis yang busanya sudah keluar, Gavin Dewantara sedang tertidur telentang dengan posisi yang sangat tidak estetik. Kaki kirinya yang mengenakan sandal jepit karet bertengger di atas sandaran tangan sofa, sementara sebuah topi pet kanvas lusuh menutupi seluruh wajahnya. Telinganya disumpal oleh earphone kabel murah yang memutarkan lagu punk rock.
Meskipun terlihat seperti gembel yang sedang menumpang tidur di ruang ber-AC, Gavin sebenarnya mendengarkan setiap detail keluhan panitia dari balik topinya.
Kirana melirik Gavin dengan sisa-sisa energinya yang tipis, lalu melempar sebuah penghapus papan tulis busa tepat ke arah perut cowok itu.
PLOP.
Gavin langsung tersentak duduk, mencopot earphone-nya dengan gaya linglung yang dibuat-buat. "Eh, copot! Ayam bakarnya mana, Cak?" latah Gavin ugal-ugalan, membuat beberapa panitia yang sedang stres sempat terkekeh pelan.
"Jangan tidur terus, Gavin! Kita ini lagi kena musibah nasional!" ketus Kirana, meskipun matanya memancarkan rasa lelah yang amat sangat. "Proposal kita ditolak semua. Dana usaha mahasiswa dari jualan makaroni pedas sama kaos angkatan cuma dapet tiga juta rupiah. Kita kurang lima puluh juta lagi dalam tiga hari!"
Gavin menggaruk kepalanya, lalu berjalan santai mendekati papan tulis sambil mengunyah permen karet. Ia menatap angka minus merah tersebut dengan senyum miring khasnya. "Ya elah, Kirana sayang... baru kurang lima puluh juta aja mukanya udah kayak abis nelan kaustik soda gitu. Santai aja, jalan menuju Roma itu banyak, kalau ketutup ya kita tinggal lewat jalur tikus."
"Jalur tikus apa, Gav? Lu mau kita ngerampok bank pake motor Astrea lu?" cibir Rian frustrasi.
"Ide bagus, Yan. Tapi masalahnya ban belakang Astrea gue lagi botak, takutnya pas dikejar intel kita malah slip di tikungan pasar," balas Gavin santai, memicu tawa renyah dari seisi ruangan sekretariat.
Gavin menepuk pundak Kirana pelan dengan gaya slengean andalannya. "Udah, daripada kalian pusing di sini bikin polusi udara, mending kalian ke kantin. Makan soto ayam gembira biar otaknya rada segeran dikit. Biar gue yang jaga sekretariat sambil mikirin... kali aja ada keajaiban jatuh dari langit-langit plafon yang bocor ini."
Kirana menatap Gavin dengan tatapan penuh arti—sebuah tatapan yang mengingatkannya pada jam tangan miliaran rupiah dan kejadian di hotel tempo hari. Ia tahu Gavin sedang merencanakan sesuatu, namun ia memilih diam dan mengajak panitia lain keluar demi memberikan ruang bagi cowok misterius itu. "Ya sudah, yuk semua kita ke kantin bentar. Otakku juga udah mau meledak."
Setelah pintu sekretariat tertutup rapat dan hanya menyisakan dirinya sendiri, Gavin langsung mengubah postur tubuhnya. Sikap ugal-ugalan dan senyum bodohnya lenyap seketika. Ia berjalan menuju sudut ruangan yang paling bersih, meraba saku jins robeknya, dan mengeluarkan sebuah ponsel pintar khusus berenkripsi militer yang sangat jarang ia aktifkan di depan umum.
Ia menekan sebuah nomor panggilan cepat. Hanya dalam satu kali nada sambung, sebuah suara bariton yang sangat formal dan tegas menyahut di seberang sana.
"Selamat siang, Tuan Muda Gavin. Ada yang bisa saya bantu?" Itu suara Pak Januar, kepala firma hukum dan penasihat keuangan pribadi keluarga Dewantara yang mengelola dana perwalian (trust fund) milik Gavin secara rahasia.
"Siang, Pak Januar. Tolong transfer dana sebesar seratus juta rupiah sekarang juga," perintah Gavin, suaranya terdengar sangat dingin, berwibawa, dan penuh otoritas mutlak—karakter asli seorang Dewantara yang selama ini ia kunci rapat.
"Baik, Tuan Muda. Dikirim ke rekening atas nama Anda atau rekening korporasi?"
"Bukan ke keduanya. Kirim ke nomor rekening Bank Mandiri atas nama 'Panitia Bakti Sosial Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia'. Saya akan kirimkan nomor rekeningnya lewat pesan teks setelah ini," jawab Gavin sambil melirik secarik proposal di meja. "Dan dengar ini, Pak Januar. Pastikan nama pengirimnya tertulis secara anonim: 'Hamba Allah'. Jangan sampai ada satu pun jejak digital atau nama Dewantara Group yang terafiliasi dengan transaksi ini. Gunakan jalur pencucian dana hibah yayasan kemanusiaan yang bersih."
"Dipahami, Tuan Muda. Proses kliring internasional akan memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Ada instruksi lain?"
"Itu saja. Terima kasih, Pak Januar." Gavin menutup teleponnya. Ia melempar ponsel khususnya kembali ke kantong rahasia tas ransel kanvasnya, lalu berjalan kembali ke sofa dan merebahkan tubuhnya dalam posisi tidur slengean seperti semula, menutup wajahnya kembali dengan topi pet kanvasnya yang lecek.
Tiga puluh lima menit kemudian, pintu sekretariat terbuka dengan kasar. Kirana, Rian, dan beberapa staf panitia masuk kembali dengan wajah yang masih kusut setelah makan soto di kantin. Kirana langsung duduk di mejanya dan membuka laptop untuk memeriksa email himpunan, berharap ada mukjizat kecil dari sisa proposal yang mereka sebar.
Tiba-tiba, ponsel milik bendahara panitia yang diletakkan di atas meja bergetar hebat.
DRRR! DRRR!
Sebuah notifikasi SMS banking masuk. Sang Bendahara—seorang mahasiswi berkacamata bernama Dita—membuka pesan tersebut dengan malas. Namun, detik berikutnya, mata Dita membelalak sempurna hingga hampir melompat dari rongganya. Ponsel di tangannya bergetar parah karena tangannya mendadak lemas.
"K-Kak... Kak Kirana..." suara Dita bergetar hebat, seperti orang yang baru saja melihat penampakan hantu di siang bolong.
"Kenapa, Dit? Ada tagihan utang makaroni yang belum dibayar lagi?" tanya Kirana tanpa mendongak dari laptopnya.
"B-bukan... ini... ada uang masuk ke rekening himpunan kita..." Dita menelan ludah dengan susah payah, suaranya naik dua oktav karena histeris. "Jumlahnya... SERATUS JUTA RUPIAH!!!"
"APA?!"
Kirana langsung melompat berdiri dari kursinya hingga kursi kerjanya terbalik ke belakang dengan bunyi BRAK! yang keras. Rian yang sedang minum es teh manis langsung tersedak gila-gilaan—Uhuk! Uhuk!—hingga air tehnya menyembur keluar mengenai lembar proposal di depannya. Seluruh panitia di dalam ruangan langsung mengerumuni meja bendahara, berebut melihat layar ponsel kecil tersebut.
Di layar berukuran empat inci itu, tertulis pesan resmi dari bank: [Mandiri SMS] Transfer Masuk Rp 100.000.000,- dari: HAMBA ALLAH. Berita: Dana Dukungan Baksos Teknik Kimia. Saldo Akhir: Rp 103.520.000,-
Ruangan sekretariat yang tadinya sunyi seperti kuburan mendadak meledak dalam histeria massal. Para mahasiswi panitia langsung berpelukan sambil menangis histeris kegirangan. Beberapa staf cowok melompat-lompat gila-gilaan sambil memukul-mukul lemari arsip besi hingga menimbulkan suara gaduh seperti suporter bola yang memenangkan piala dunia.
"Gila! Ini mukjizat! Siapa 'Hamba Allah' kaya raya yang gabut ini?!" teriak Rian gila-gilaan sambil menari-nari kecil di tengah ruangan. "Seratus juta! Kita bukan cuma bisa jalan baksos, kita bahkan bisa beli kambing guling buat seluruh warga desa perbatasan!"
Kirana menatap layar ponsel bendahara dengan perasaan yang campur aduk antara lega yang luar biasa dan rasa syok yang mendalam. Di tengah kekacauan euforia seisi ruangan, pandangan mata Kirana perlahan bergeser, menatap lurus ke arah pojok ruangan tempat sofa kulit berada.
Di sana, Gavin Dewantara masih tertidur dengan posisi telentang ugal-ugalan. Namun, jika dilihat lebih teliti di bawah sorot lampu ruangan, tubuh tegap cowok itu tampak sedikit bergetar. Gavin sedang menahan tawa mati-matian di balik topi pet kanvas yang menutupi wajahnya. Ia sangat menikmati situasi komedi slapstik di mana teman-temannya sedang menari-nari memuja sosok fiktif bernama 'Hamba Allah', tanpa pernah mereka sadari bahwa 'Hamba Allah' yang mereka sebut-sebut sedang tiduran memakai kaos singlet bolong dan sandal jepit karet tepat tiga meter di depan mereka.
Kirana melangkah perlahan melewati kerumunan panitia yang masih heboh, lalu berdiri tepat di samping sofa Gavin. Ia menundukkan tubuhnya, lalu dengan sengaja menyentak ujung topi pet Gavin hingga wajah cowok itu terekspos.
Gavin membuka matanya, langsung memasang cengiran konyol andalannya. "Wah, ada apa nih, Bos? Kok pada ribut kayak pasar kaget gini? Ada pembagian sembako gratis ya?"
Kirana melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Gavin dengan senyuman miring yang penuh arti dan tatapan mata yang seolah berkata: “Aku tahu itu ulahmu, Tuan Muda.” Kirana berbisik sangat pelan di dekat telinga Gavin agar tidak terdengar oleh panitia lain yang masih sibuk bersorak. "Seratus juta rupiah dari 'Hamba Allah' berbaju singlet, huh? Alibi anonim yang sangat dermawan, Gavin Dewantara. Tapi sayangnya... kuota kecurigaanku hari ini resmi habis gara-gara kedermawanan ugal-ugalanmu."
Gavin hanya terkekeh renyah, merebut kembali topinya dari tangan Kirana lalu memakainya secara terbalik. "Lah, alhamdulillah dong, Ran. Berarti doa orang gembel kayak gue di pojokan sofa ini langsung diijabah sama langit. Yuk ah, karena kita udah kaya mendadak, lu kudu traktir gue makan mie instan double pake telor di tempat Cak Min sekarang juga!"
Di bawah riuh rendah sorak-sorai anak-anak himpunan yang masih merayakan mukjizat finansial mereka, Gavin melangkah keluar dari ruang sekretariat dengan gaya santai dan siulan ugal-ugalannya, diikuti oleh Kirana yang berjalan di sampingnya sambil menggeleng-gelengkan kepala penuh kagum sekaligus geli melihat bagaimana seorang pewaris triliuner bisa menyelesaikan krisis kampus lewat jalur anonimitas yang penuh komedi.