Dikhianati oleh pria yang sangat ia cintai demi sebuah tahta, membuat Ningmas Danastri Kartawidjaja benar-benar terluka.
Dibawah aturan keluarga, Raden Dwipa Soeradiningrat, tak bisa berbuat apa-apa demi tahta sebagai pewaris dari Trah Soeradiningrat. Ia bahkan harus kehilangan Ningmas Danastri yang sangat ia cintai.
Namun, takdir justru membawa Ningmas Danastri ke arah yang tak disangka-sangka. Karena keterpurukannya, ia justru tanpa sadar menghabiskan malam dengan pria yang memiliki hubungan dekat dengan mantan kekasihnya.
Selain itu, satu persatu rahasia dua Trah (Trah Soeradiningrat dan Trah Kartawidjaja) yang tak pernah akur pun terbuka. Hal yang menyebabkan dua generasi terakhir selalu bersitegang itu, ternyata karena ada masa lalu yang masih belum selesai.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Ningmas Danastri Kartawidjaja?
Akankah ia jatuh cinta pada orang yang tepat?
Apakah rahasia masa lalu dari dua keluarga yang masih belum tuntas?
Simak terus keseruan kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Luka
Angin sore bertiup pelan, membelai lembut rambut Ningmas Danastri Kartawidjaja, hingga membuat rambut halusnya sedikit bergerak-gerak. Gadis ayu itu sedang duduk di sebuah taman dengan wajah yang basah karena air mata
Dirinya sedang tidak baik-baik saja. Pria yang selama lima tahun menjadi kekasih sekaligus partner kerjanya, baru saja menorehkan luka yang teramat dalam di hatinya.
"Sayang..." Suara lembut Raden Dwipa Soeradiningrat menyapanya.
Pria keturunan Trah Soeradiningrat itu, memang selalu seperti itu pada gadisnya. Ia selalu bersikap lembut dan penuh kasih sayang pada gadis yang ia cintai.
Langkah yang semula penuh semangat dan bahagia, perlahan memelan ketika Astri -Panggilan dari Ningmas Danastri, sama sekali enggan menoleh ke arahnya.
"Kamu kenapa, Sayang?" Lirih Raden Dwipa sembari berjalan mendekat ke arah gadisnya.
"Apakah benar, berita yang aku dengar, Mas?" Tanya Astri sambil menatap kekasihnya dengan netra yang berembun.
"Maksudnya?" Raden Dwipa balik bertanya.
"Perjodohanmu dengan putri Gubernur." Jawab Astri.
"Mas akan jelaskan semuanya, Sayang." Ujar Raden Dwipa sembari menggenggam lembut bahu gadisnya.
Ia kemudian memutar tubuh Ningmas Danastri hingga kini gadis ayu itu duduk menghadap ke arahnya. Raden Dwipa tampak sangat tenang. Ia menatap ke arah Astri dengan sorot mata yang lembut dan penuh cinta.
"Apa yang kamu dengar itu memang benar, Sayang. Mas menerima perjodohan yang sudah di atur oleh Bapak dan Ibu." Ujar Raden Dwipa.
Air mata yang sedari tadi berusaha di tahan oleh Astri, tiba-tiba jatuh tanpa permisi. Melihat itu, Raden Dwipa berusaha mengusap air mata yang mengaliri pipi gadisnya. Namun, Astri buru-buru menepis tangan pria terkasihnya itu.
"Lanjutkan, Mas." Kata Astri sembari berusaha mengatur pergulatan emosinya.
"Mas menerima itu karena status Mas sebagai pewaris Trah Soeradiningrat." Raden Dwipa kembali melanjutkan penjelasannya.
"Kamu pasti sudah tau kan, Sayang, bagaimana aturan di keluarga Mas?" Tanyanya kemudian, namun sama sekali tak mendapat jawaban dari Astri.
Astri memang sangat mengenal bagaimana keluarga Soeradiningrat. Antara Trah Soeradiningrat dan Trah Kartawidjaja, masih memiliki hubungan kekeluargaan. Mereka berasal dari Canggah yang sama. Kakek buyut Raden Dwipa adalah kakak dari Nenek buyut Astri.
Meski terbilang masih berhubungan darah, namun kedua Trah itu memiliki persaingan yang ketat dalam bidang bisnis dan politik. Keduanya sama-sama memiliki peran besar di wilayah yang sama. Walaupun begitu, kedudukan Trah Soeradiningrat memang berada satu taraf di atas Trah Kartawidjaja.
Trah Soeradiningrat memang masih terkenal kolot. Mereka masih memegang adat turun-temurun yang selama ini mengikat mereka. Salah satunya adalah pernikahan perjodohan untuk mendukung bisnis dan kedudukan untuk sang pewaris tahta.
"Sayang, ini hanya pernikahan untuk mendukung kekuasaan. Bapak calon istriku itu, akan turun lagi dalam pemilihan Gubernur. Kami hanya bekerja sama agar bisa saling menguntungkan saja."
"Hanya tiga tahun, Dek Ayu. Setelah tiga tahun, aku dan Serayu akan berpisah dengan cara Serayu yang mengajukan gugatan, karena pantang bagi Soeradiningrat untuk menceraikan istrinya. Setelah itu, kita bisa hidup bahagia bersama." Imbuh Raden Dwipa.
Mendengar itu, Astri langsung menatap tajam ke arah pria di hadapannya. Tatapan penuh ketegasan dan menusuk lawan bicaranya.
Tatapan dari gadisnya itu, cukup membuat Raden Dwipa menegang. Pasalnya, Astri sama sekali tak pernah menatap Raden Dwipa seperti itu.
"Astri... Tetaplah bersamaku hingga waktu itu, hm." Pinta Raden Dwipa. Ia kembali mencoba menangkup wajah Astri.
PLAAAAKK!!
Tamparan keras mendarat di wajah pria tampan itu. Ia terkejut bukan main saat Astri menampar wajahnya dengan keras.
"Jadi, kamu mau menjadikan aku gundik, Mas? Kamu mau menjadikan aku pelakor dalam rumah tanggamu?" Tanya Astri.
"Jangan pernah berharap kamu bisa menjadikanku wanita murahan yang menghantui rumah tanggamu." Kata Astri dengan geram.
"Bukan begitu, Sayang-"
"Begitulah yang aku pahami, Mas. Kamu ingin tetap bersamaku di saat kamu sudah menikah. Apa namanya jika bukan menjadikanku gundik?" Tanya Astri. Suaranya terdengar sangat dingin hingga membuat Raden Dwipa yang semula tenang, menjadi sedikit gusar.
"Bagaimanapun juga, aku tidak akan pernah membiarkan martabat keluargaku diinjak-injak. Aku tak akan membiarkan nama Kartawidjaja rusak karena permainanmu yang ingin menjadikan aku sebagai gundik!" Tegas Astri.
Raden Dwipa terdiam, gadis di hadapannya ini tak pernah semarah ini padanya. Cintanya itu -Astri, selalu bersikap lembut padanya selama ini.
"Sayang, Mas gak berniat seperti itu. Tapi, bagaimana lagi? Mas sudah terlanjur menyetujui pernikahan itu dan minggu depan kami akan melakukan pertunangan." Ujar Raden Dwipa. Ia menggenggam kedua tangan Astri yang terasa dingin.
"Mas harus bagaimana, Sayang? Mas gak bisa jauh dari kamu dan Mas gak mungkin membatalkan pertunangan ini. Bapak bisa mengamuk dan melepaskan status Mas sebagai pewaris jika Mas bertindak macam-macam." Lirih Raden Dwipa.
"Jalani saja pernikahanmu, Mas. Aku yang akan mundur." Ujar Astri sambil menghempaskan tangan Raden Dwipa yang menggenggam tangannya.
"Kita selesaikan hubungan kita sampai disini." Imbuhnya sambil mengusap air mata.
"Ningmas Danastri!" Raden Dwipa memanggil Astri dengan suara yang berat dan penuh penekanan.
Sungguh, Raden Dwipa tak terima dengan keputusan Astri barusan. Bagaimana bisa ia jauh dari sosok Astri, sedangkan gadis itulah yang memiliki jiwanya.
Ningmas Danastri adalah gadis yang mengisi hidupnya lima tahun terakhir ini. Selama ini, Astri lah yang selalu membantunya menghandle pekerjaan. Gadis itu, selalu menjadi penghibur dan tumpuannya.
"Tetaplah disisiku, Sayang. Aku tidak akan menyentuh istriku sama sekali, demi kamu. Aku janji..." Bujuk Raden Dwipa.
"Bohong!" Sergah Astri.
"Janjimu untuk menikahiku saja, tak kamu tepati. Selain itu, harga diri dan martabat keluargaku lebih penting disini, Mas. Aku tidak mau di cap sebagai gundik dan keluargaku dihina karena membesarkan seorang gundik." jawab Astri.
"Apa kamu tidak mencintaiku, Astri?" Tanya Raden Dwipa.
"Raden Dwipa Pengarep Soeradiningrat, yang terhormat! Aku sangat mencintaimu, tapi kamu sendiri yang sudah menghancurkan semuanya." Seru Astri dengan gejolak emosi yang meluap-luap.
"Lima tahun aku setia mencintaimu, Mas. Lima tahun mencintaimu tanpa kepastian sudah aku jalani. Aku yang selalu menemanimu mulai dari nol hingga kamu menjadi pewaris Trah Soeradiningrat yang mumpuni. Bagaimana bisa kamu masih menanyakan cintaku?" Ujar Astri dengan emosi yang meluap-luap.
"Aku juga sama setianya denganmu, Astri. Hanya waktunya belum tepat kalau aku harus membuka hubungan kita di depan keluargaku." Kata Raden Dwipa.
"Percuma, Mas! Sekarang kamu sudah di jodohkan dengan orang lain. Tidak mungkin kamu akan memperjuangkanku, kan?" Ujar Astri yang membungkam mulut Raden Dwipa.
"Kamu pria pengecut, Mas!"
"Kamu sendiri yang tak pernah memperjuangkan aku! Dan sekarang, kamu justru menyakitiku dengan cara seperti ini. Ingat, Mas, bukan kamu yang membuangku, tapi aku yang membuangmu!" Kata Astri dengan tegas sebelum meninggalkan Raden Dwipa.
🤔🤔
othor kie...🤣😄