NovelToon NovelToon
Begin Again

Begin Again

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mantan / Cintapertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

📍Update 🚥 16 : 16 WIB


Duabelas tahun lalu, Elfiana Putri (Elle) dikhianati oleh taruhan konyol cinta pertamanya, William Adinata (Liam). Kini, takdir membawa mereka kembali dalam sebuah pernikahan pura-pura demi sang Papa.
Di antara luka masa lalu yang belum sembuh dan kebenaran yang perlahan terkuak, bisakah Elle menjaga hatinya agar tidak hancur untuk kedua kalinya?


❣️ I write what I want to write. ❣️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23 - Shock

Akhir pekan akhirnya tiba.

Sesuai kesepakatan kami, aku dan Liam akan pergi ke Semarang untuk menemui orang tuaku dan meminta restu atas pernikahan kami.

Kami akan pergi ke Semarang menggunakan pesawat. Kata Liam, cara ini lebih cepat. Dan tentu saja, biaya tiketnya Liam yang menanggung.

Sekarang, kami sedang duduk menunggu waktu boarding.

"Elle..." panggil Liam.

"Hm?" sahutku.

"Besok kita ke makam nenekku, ya. Kita kasih tahu tentang kita," ucap Liam.

Aku mengangguk. "Ya."

Beberapa saat kemudian, terdengar pengumuman bahwa pesawat tujuan Jakarta-Semarang siap melakukan boarding. Aku dan Liam pun berjalan menuju pesawat.

Di dalam pesawat, kami berjalan sambil mencari nomor kursi.

"Ini kursi kita," ucap Liam.

Kursi kami berada di sisi kiri pesawat, dekat jendela.

"Aku yang di dekat jendela, ya," ucapku.

Liam mengangguk.

Aku tersenyum lalu duduk di kursi dekat jendela. Liam duduk di sampingku.

Beberapa saat kemudian, setelah semua penumpang masuk, pramugari memberikan instruksi untuk memasang sabuk pengaman. Kami semua pun memasang sabuk pengaman.

Tak lama setelah itu, pesawat mulai lepas landas. Saat pesawat bergoyang, refleks aku memegang kursi sekaligus tangan Liam.

Ini bukan pertama kalinya aku naik pesawat, tetapi setiap kali pesawat lepas landas, aku selalu merasa takut.

Kulihat Liam terkejut. Mungkin dia tidak menyangka aku akan memegang tangannya.

Setelah pesawat mulai terbang dan tidak lagi bergoyang, aku langsung menghela napas lega lalu melepaskan tanganku.

"Maaf... tadi aku takut," ucapku.

Liam tidak mengatakan apa-apa. Namun, dia justru meraih tanganku kembali dan menggenggamnya erat.

"Liam..." panggilku.

"Aku juga takut," ucap Liam.

"Tapi sekarang pesawatnya udah tenang."

"Aku takut kamu pergi lagi."

Eh?

"Liam... apa mak—" ucapku.

"Biarin aku kayak gini sampai pesawatnya landing," ucap Liam.

Aku diam.

Kenapa Liam seperti ini?

"Aku mohon, Elle," lanjut Liam.

Aku menghela napas.

"Ya," ucapku akhirnya.

Liam tersenyum. "Makasih, Elle."

Aku mengangguk lalu menatap keluar jendela.

Rasanya aneh Liam menggenggam tanganku seperti itu.

Dulu, dia sering melakukan hal yang sama, tetapi sekarang rasanya berbeda.

Mungkin karena sekarang hubungan kami tidak seperti dulu lagi.

Selama pesawat terbang, kami tidak banyak bicara.

Setelah cukup lama terbang, pesawat akhirnya mendarat di Bandara Semarang.

Kami semua pun turun dari pesawat.

Begitu menginjakkan kaki di area bandara, aku bisa mencium udara khas Semarang yang terasa berbeda dengan udara Jakarta.

Setelah itu, aku dan Liam masuk ke dalam terminal lalu keluar dari bandara.

Begitu keluar dari bandara, Liam langsung membuka aplikasi transportasi online.

“Kamu tahu alamat rumahku?” tanyaku.

“Spesifik alamat rumah kamu, aku nggak tahu,” ucap Liam.

“Ya udah, sini biar aku yang masukin alamat tujuannya,” ucapku.

Liam lalu menyerahkan ponselnya kepadaku.

Aku pun memasukkan alamat rumahku sebagai alamat tujuan, lalu memesan taksi online.

“Nih,” ucapku sambil menyerahkan ponsel Liam.

Tak lama kemudian, taksi yang kami pesan akhirnya datang. Kami pun masuk ke dalam taksi dan duduk di kursi belakang.

Begitu taksi meninggalkan bandara, aku menatap keluar jendela. Meskipun aku sudah lama tinggal di ibu kota, Semarang tetaplah istimewa bagiku.

“Elle...” panggil Liam.

Aku menoleh.

Liam membuka tas ransel yang dibawanya lalu mengeluarkan sebuah paper bag.

“Aku nggak tahu mau bawa apa buat orang tua kamu, jadi aku bawa ini,” ucap Liam sambil menunjukkan isi paper bag itu.

Isinya beberapa kotak teh dari Adinata Food. Dan teh itu memang sering diminum orang tuaku.

Menurut Ayah, teh dari Adinata Food rasanya enak karena tidak terasa seperti teh yang terlalu lama disangrai.

“Sebenarnya kamu nggak perlu bawa apa-apa,” ucapku.

“Ya masa mau ketemu calon mertua nggak bawa apa-apa sih?” ucap Liam.

“Kita kan mau minta restu. Kalau kamu bawa sesuatu, malah terkesan kayak mau nyogok biar direstui.”

“Ya nggak dong. Ini cuma hadiah,” ucap Liam.

Aku menghela napas. “Iya deh. Terserah kamu lah.”

Setelah itu, aku kembali menatap keluar jendela. Kami tidak bicara lagi hingga akhirnya sampai di rumahku.

Setelah membayar taksi, aku dan Liam keluar dari taksi.

Tiba-tiba, pintu rumahku terbuka.

Ibu keluar.

“Elle?” panggil Ibu.

“Ibu...” ucapku seraya berlari kecil menghampirinya.

Liam berjalan di belakangku.

Aku langsung memeluk Ibu.

“Aku kangen, Bu.”

“Iya, Ibu juga. Tapi siapa laki-laki yang sama kamu ini?” tanya Ibu.

Aku langsung melepaskan pelukanku.

Liam akhirnya mendekat.

“Selamat siang, Tante,” ucap Liam.

“Siang. Kamu itu siapa, ya?” Ibu langsung menoleh ke arahku. “Elle... apa ini...?”

Aku mengangguk.

Ibu kembali menatap Liam.

“Jadi kamu pacarnya Elle?” tanya Ibu.

“Iya, Tante. Saya pacarnya Elle,” jawab Liam.

“Ya ampun, Elle... Ibu nggak nyangka kamu beneran punya pacar. Dan pacar kamu seganteng ini.”

Liam tertawa kecil. “Ah, tidak, Tante. Saya biasa saja.”

“Ah, kamu bisa saja merendahnya,” ucap Ibu. “Ya sudah, ayo masuk. Masuk.”

Liam mengangguk.

Kami bertiga pun masuk ke dalam rumah.

“Ayo, silakan duduk. Tante panggil ayahnya Elle dulu,” ucap Ibu.

Liam mengangguk.

Ibu masuk ke dalam.

Aku dan Liam duduk di kursi.

“Ayah kamu bakal restui kita nggak, ya?” tanya Liam.

“Nggak tahu,” jawabku.

“Lho, kok gitu sih? Kalau ayah kamu nggak merestui kita, kita nggak bisa nikah,” ucap Liam.

“Bagus dong,” jawabku santai.

“Elle... kamu...” Liam menatapku.

Tiba-tiba, Ayah dan Ibu muncul.

“Ayah...” ucapku seraya berdiri, menghampiri, lalu memeluk Ayah.

“Siapa laki-laki ini, Elle?” tanya Ayah.

Aku langsung melepaskan pelukanku.

“Ini pacarnya Elle, Yah,” ucap Ibu.

Liam mengangguk dan tersenyum.

Ayah langsung duduk di depan Liam.

Aku juga kembali duduk di samping Liam. Sementara Ibu duduk di samping Ayah.

“Siapa nama kamu?” tanya Ayah.

“Liam, Om,” jawab Liam.

“Kata Elle, kalian bekerja di perusahaan yang berbeda. Kamu kerja di perusahaan mana?” tanya Ayah.

“Adinata Food.”

“Adinata Food? Wah, itu kan perusahaan besar. Kami sering, lho, beli produk dari Adinata Food,” ucap Ibu.

Liam tersenyum. “Terima kasih sudah membeli produk kami.”

“Kamu di Adinata Food kerja di bagian apa?” tanya Ayah.

“Tidak di bagian mana pun, Om,” jawab Liam.

“Tidak di bagian mana pun? Bukannya di perusahaan seperti itu ada bagiannya? Misalnya marketing, R&D, dan kamu tidak di bagian mana pun?”

“Iya, Om.”

“Lalu kamu di sana kerja apa? Nggak mungkin, kan, kamu jadi OB.”

“Ayah...” tegur Ibu.

Aku menahan tawa.

Liam hanya tersenyum.

“Ayah jangan seolah-olah membeda-bedakan orang seperti itu. Apa pun pekerjaan pacar Elle, kita harus terima. Yang penting dia sayang sama Elle. Lagi pula, laki-laki seganteng ini masa jadi OB sih, Yah?” lanjut Ibu.

“Ayah cuma tidak ingin Elle punya pacar yang pekerjaannya nggak jelas,” ucap Ayah.

“Tenang saja, Om. Saya bukan laki-laki seperti itu,” ucap Liam.

“Lalu kamu di perusahaan itu kerja di bagian apa?” tanya Ayah lagi.

“Saya tidak di bagian mana pun, Om.”

“Tidak mungkin. Kalau kamu tidak di bagian mana pun, terus kamu ngapain?”

“Saya yang memimpin perusahaan.”

“Apa? Memimpin perusahaan?” Ayah terlihat terkejut.

“Maksud kamu... kamu CEO-nya?” tanya Ibu.

“Betul. Saya CEO Adinata Food,” jawab Liam.

Ayah dan Ibu langsung terkejut.

Lalu, mereka berdua menatapku.

Aku hanya bisa tersenyum.

Sepertinya, sekarang aku tahu kenapa Ayah dan Ibu terlihat begitu terkejut. Mereka mungkin tidak pernah menyangka kalau pacar yang kubawa pulang ternyata adalah orang yang selama ini memimpin salah satu perusahaan makanan terbesar yang produknya bahkan sering mereka beli.

Dan entah kenapa, melihat ekspresi mereka seperti itu membuatku ingin tertawa.

1
Srie Wahyuni
nezt thor , like this 👍
사기타
Tidak akan? 😄 lihat aja nanti gimana. 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!