Serafina Olivia mencintai Ravin Haryaka Arthadipa sejak ia berusia 17 tahun. Pria yang setahun lebih tua darinya itu, merupakan anak dari rekan bisnis sang papa. Tumbuh dan besar di lingkungan yang sama, membuat Sera semakin menyukai Ravin. Hingga suatu hari, rencana perjodohan dua keluarga pun terdengar. Tanpa berpikir dua kali, Sera pun menerima perjodohan itu demi bisa hidup bersama pria pujaan hatinya. Bahagia hanya terasa di awal cerita. Semuanya berubah, saat rahasia hati Ravin terungkap. Pria itu tidak pernah mencintai Sera. Hatinya hanya untuk wanita lain. Di tengah lelah menanti cinta Ravin yang tak kunjung berlabuh padanya. Sera pun di hadapkan pada dua pilihan. Bertahan dalam ketidakpastian dan sakit hati. Atau pergi untuk membebaskan hati dengan cinta yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Kehilangan Jejak.
Sera kehilangan jejak Rania di dalam gedung pusat perbelanjaan. Entah kemana perginya wanita muda itu?
Sera sudah berusaha untuk mengejarnya. Namun Rania justru berlari dengan cepat. Dan entah masuk ke dalam toko yang mana?
“Non. Siapa gadis itu?” Tanya Wira saat langkahnya sejajar dengan gadis itu.
Sera tak menjawab pertanyaan pria itu. Ia tetap mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Rania.
“Kenapa di menghindari aku? Kenapa dia seperti ketakutan saat melihat aku?” Gumam Sera.
“Nona mengatakan sesuatu?” Tanya Wira.
Sera kembali tak menjawab. Ia terus melangkah tanpa arah.
“Non. Awas.” Wira menarik lengan gadis itu.
Sera sampai tak menyadari jika ia hampir saja membentur sebuah pintu kaca.
Gadis itu terkejut karena tangannya di tarik oleh Wira.
“Nona tidak apa - apa?” Tanya Wira kemudian.
“I-iya, mas. Saya tidak apa - apa.” Sera kembali mengedarkan pandangannya. Namun sama sekali tak melihat keberadaan Rania.
Wira menghela nafas pelan. Ia kemudian menuntun Sera untuk duduk di atas sebuah kursi.
“Non. Sebenarnya, siapa wanita itu? Kenapa nona terus mengejarnya?” Tanya Wira.
Sera menghela nafas kasar. “Mantan kekasih kak Ravin.” Ia kemudian bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan Wira begitu saja.
Pria itu pun mengikuti langkah Sera dari belakang.
‘Aku akan membuat kamu terus mencari tau rahasia suami kamu, Sera.’
Wira pun menyunggingkan sudut bibirnya.
“Non. Sudah saatnya makan siang. Apa nona mau mampir untuk membeli sesuatu?” Tanya Wira saat mereka sudah sampai di dekat mobil.
“Kita makan siang di rumah saja, mas.” Ucap gadis itu tanpa melihat lawan bicaranya.
Ia masuk ke dalam mobil, dan membanting pintu dengan sedikit keras.
Wira kemudian ikut masuk di balik kemudi.
“Non.” Pria itu melirik Sera dari kaca sepion di tengah mobil.
“Sepertinya, nona tidak baik - baik saja. Maaf jika saya lancang. Tetapi, saya tidak bisa melihat nona gelisah seperti ini.” Imbuh pria itu.
Sera menatap pria itu dari belakang.
Haruskah ia juga menceritakan kisah pernikahannya dengan Ravin pada Wira, seperti ia bercerita pada bi Sari?
Sera menghela nafas kasar. Ia tidak memiliki teman untuk berbagi cerita selain dengan asisten rumah tangganya.
Tidak mungkin bercerita pada mama Safina, karena wanita paruh baya itu mencurigai Ravin.
Tunggu!
Apa jangan - jangan kecurigaan sang mama selama ini benar? Kalau Ravin ternyata berhubungan dengan wanita lain di luar sana.
Dan Wanita itu adalah Rania.
“Non. Baiklah, jika nona tidak ingin bercerita. Tetapi, setidaknya saya tau kalau wanita tadi adalah mantan kekasih pak Ravin. Jadi, kalau nanti kita bertemu lagi, saya akan menjauhkannya dari nona.” Wira kembali bersuara.
“Apa mas Wira masih mengingat wajahnya?” Sera akhirnya bersuara.
“Hmm.. saya memiliki kemampuan untuk mengingat wajah seseorang, meski hanya baru sekali bertemu.”
Dan Wira telah menghafal, wajah orang - orang yang menjadi target balas dendamnya.
“Kalau mas Wira melihatnya, beritahu saya. Saya harus berbicara dengan wanita itu.” Ucap Sera kemudian.
“Jadi nona tidak ingin menghindarinya?”
“Ada hal yang harus perlu di pertanyakan, dan di selesaikan, mas.” Sera berucap pelan.
‘Dan itu adalah hubungan kamu dengan Ravin.’
Wira menjawabnya dalam hatinya.
Sampai di rumah, Sera masuk lebih dulu dengan membawa barang belanjaannya.
Wira kemudian mencari keberadaan Bi Sari, meminta wanita paruh baya itu untuk membuat makan siang.
“Bibi kira kalian makan di luar.” Ucap bi Sari sembari mengambil bahan makanan di dalam lemari pendingin.
“Tadi nona melihat mantan kekasih pak Ravin di mall. Dan berusaha untuk mengejarnya. Karena ada hal yang mau dibicarakan. Tetapi, wanita itu justru menghilang entah kemana?” Ucap Wira sembari membantu menyiapkan peralatan memasak.
Bi Sari menatap Wira sejenak. Kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.
“Apa nona mengatakan sesuatu?” Tanya bi Sari kemudian.
“Tidak. Nona hanya mengatakan, perlu bicara dengan wanita itu.” Wira mengedikan bahu di akhir kalimatnya.
Tanpa Sera bercerita pun, Wira sudah mengetahui semuanya. Dan ia tinggal menunggu kapan bom waktu itu akan meledak.
.
.
.
Sementara itu di sudut parkir pusat perbelanjaan tadi, Rania berulang kali menghela nafas panjang.
Ia merasa lega setelah melihat Sera pergi meninggalkan gedung itu. Hampir saja dirinya tertangkap. Untung ia bisa menyelinap dan turun ke tempat parkir lebih cepat.
“Bagaimana kalau dia mengatakan tentang keberadaan aku sama mamanya Ravin?” Rania menggigit bibir bagian bawahnya.
Memikirkan kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi pada dirinya, jika orang tua Ravin mengetahui keberadaan dirinya di Jakarta.
“Aku harus segara kembali ke apartemen.” Wanita itu beranjak dari persembunyiannya, pergi ke jalan utama untuk mencari taksi.
Setengah jam kemudian ia pun sampai di apartemen tempat tinggalnya.
“Darimana, Ran?”
Rania terkejut setelah menutup pintu. Ravin berdiri sembari bersedekap dada, di tengah ruangan.
“Aku pergi ke mall untuk membeli beberapa kebutuhan.” Rania menunjukkan kantong belanja di tangannya.
“Ke mall mana? Sera juga pergi berbelanja hari ini.” Ravin memicingkan matanya.
Rania meringis pelan. “K-kami sempat bertemu di mall tadi.” Ucapnya kemudian.
Mata Ravin seketika membulat sempurna. “Ran. Kalian bertemu? Sera melihat kamu?” Ulangnya sekali lagi dan Rania menganggukkan kepalanya.
“Ran. Berapa kali aku katakan hindari tempat umum. Bagaimana kalau Sera mengatakannya pada mama? Apa kamu memikirkan keselamatan kamu?” Delik pria itu.
“Kamu tidak mengatakan kalau Sera akan pergi berbelanja hari ini, Vin.” Potong Rania dengan cepat.
Ia merasa ini bukan salah dirinya sepenuhnya. Ravin bahkan tidak mengirim pesan apapun sejak pagi.
Ravin mengusap wajahnya dengan kasar. Ia baru melihat pesan yang Sera kirim, saat perjalanan menuju apartemen.
Biasanya, Ravin akan memberitahu pada Rania kalau Sera pergi berbelanja agar mereka tidak bertemu di luar sana.
“Jadi jangan menyalahkan aku. Aku juga butuh melihat dunia luar sesekali. Tidak mungkin terus terkurung di dalam apartemen ini.” Ucap Rania lagi.
Suaranya seakan lolos begitu saja dari tenggorokan. Wanita muda itu seakan lelah berada di tempat persembunyiannya.
“Maafkan aku, Ran.” Ucap Ravin kemudian.
“Aku membuat kamu berada di dalam posisi yang sulit.” Imbuh pria itu.
Ravin melangkah ke depan, kemudian mengusap lembut kepala gadis itu.
“Apa Sera juga melihat kamu?” Tanya Ravin melembutkan suaranya.
Rania menjawab dengan anggukan kepala pelan.
“Dia sempat mengejar aku. Tetapi, aku bisa melarikan diri.” Ucap Rania.
Ravin pun menghela nafas kasar.
Apa nanti Sera akan bertanya tentang Rania padanya?
“Aku harus pulang sekarang, Ran. Jangan sampai Sera mencurigai kita.” Ucap Ravin.
Rania kembali menganggukkan kepalanya.
“Kamu hati - hati. Tolong yakinkan Sera, kalau kita tidak berhubungan saat ini.”
Rania masih ingin hidup dengan tenang. Setidaknya, untuk saat ini.
“Untuk sementara, kita jaga jarak dulu. Setidaknya, sampai Sera melupakan hari ini.” Ucap Ravin.
“Baiklah, Vin.”