NovelToon NovelToon
PRAJURIT SENGKLEK DAN CEO CANTIK GALAK

PRAJURIT SENGKLEK DAN CEO CANTIK GALAK

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action
Popularitas:725
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Dika Pratama, penjaga baru yang mulutnya nggak pernah diam dan kelakuannya selalu nyeleneh, ditugaskan menjaga kantor milik Vanesha Aurelia — CEO termuda, tercantik, dan paling ditakuti seantero kota. Cantiknya kayak lukisan, tapi kalau ngomel bisa bikin orang langsung kicep sampai lupa napas.

Satu terlalu santai dan sok asik, satu lagi perfeksionis dan gampang meledak. Setiap hari pasti ada aja alasan buat berantem — dari sepatu yang bunyi, senyum yang terlalu lebar, sampai tatapan yang katanya "terlalu lama natap bos".

Tapi di balik omelan dan tatapan tajam itu, perlahan tumbuh rasa yang nggak bisa dijelasin pakai kata. Siapa sangka hati bos yang galak itu akhirnya luluh sama senyum kuda seorang penjaga yang nggak pernah nyerah

"Diamlah, Nona Bos. Ngomel terus nanti kerut lho."
"Kamu... siapa yang kasih izin ngomong gitu sama saya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 : Ide di Beranda dan Joran Bambu yang Mulai Beraksi

Sore itu, langit di atas kota Surabaya tampak kelabu mendung, seakan ikut merasakan beratnya langkah kaki Dika Pratama yang meninggalkan gerbang gedung Vanesha Group untuk terakhir kalinya. Tas kain lusuh tersampir di bahu — isinya tak banyak: pakaian ganti, beberapa kenang-kenangan kecil, dan selembar foto yang tak sempat ia berikan. Ia menoleh sekali ke arah jendela lantai sepuluh yang masih berdiri megah di sana, berharap sosok yang dicintainya akan muncul memanggilnya pulang. Namun tak ada siapa-siapa. Hanya keheningan yang menyambut tatapannya.

Dika menghela napas panjang, lalu berbalik menuju terminal bus antar kota. Di dalam bis yang bergetar pelan membelah jalan raya, ia menatap keluar jendela — deretan gedung tinggi perlahan berganti menjadi sawah membentang dan deretan rumah warga yang mulai ia kenal kembali. Jarak semakin jauh, namun bayang wajah Vanesha justru semakin menancap di kepala.

Sesampainya di terminal Sidoarjo, langkahnya terasa berat namun semakin mantap menuju jalan setapak yang menuju ke kampung halamannya. Jalanan tanah yang dipadatkan, berbau tanah basah, dan suara ayam berkokok di kejauhan — semua menyambutnya kembali ke tempat di mana ia tumbuh, tempat di mana ia selalu diterima apa adanya.

Pintu kayu rumah panggung itu terbuka pelan saat Dika tiba di ambang pintu. Emak Sarni Sari sedang menyapu halaman, lalu berhenti seketika, sapu lidi di tangannya terlepas perlahan ke tanah.

"Dika?" panggil Emak Sarni Sari pelan, tak percaya. "Kamu... pulang?"

Dika menunduk, menelan ludah yang terasa pahit. "Iya, Mak. Dika pulang," jawab Dika lirih, suaranya pecah di kerongkongan.

Emak Sarni Sari mendekat cepat, menatap anak laki-lakinya lekat-lekat — wajahnya pucat, matanya sembab, senyumnya tak lagi secerah dulu. Tanpa banyak tanya, Emak Sarni Sari langsung merangkulnya erat, membiarkan anak itu bersandar di bahunya sambil menahan tangis yang tak bisa lagi dibendung.

"Masuklah, Nak. Sudah sampai di rumah, sudah aman," ucap Emak Sarni Sari lembut, mengusap punggung Dika penuh kasih sayang.

Di ruang tengah, Bapak Joko Pratama baru saja selesai merapikan alat kerjanya. Ia menoleh, lalu berdiri perlahan melihat putranya berdiri di sana.

"Pulang?" tanya Bapak Joko Pratama singkat, namun nadanya bukan marah, melainkan memahami.

Dika mengangguk pelan, meletakkan tasnya di lantai. "Iya, Pak. Dika nggak kerja di sana lagi," jawab Dika jujur, menunduk dalam. "Dika dipermalukan, diusir... dan Vanesha... Vanesha memilih untuk melepaskan saya."

Bapak Joko Pratama mendekat, meletakkan tangan berat namun hangat di bahu anak tunggalnya itu. "Kamu pulang bukan karena kalah, Dik. Kamu pulang karena di sana bukan tempatmu untuk dihina," ucap Bapak Joko Pratama tegas namun lembut. "Hati boleh terluka, tapi harga diri jangan pernah dibiarkan diinjak-injak."

Malam itu, Dika tidur di kamar kecilnya yang sederhana — dinding penuh coretan masa kecil, bantal yang masih berbau wangi sabun kesayangannya. Ia menatap langit-langit kamar yang remang, dan air mata akhirnya menetes bebas, membasahi bantal yang selama ini selalu menemaninya.

"Maaf, Pak, Emak..." gumam Dika pelan sendirian. "Dika gagal... Dika nggak bisa membahagiakan siapa-siapa."

Namun di keheningan itu, ia teringat pesan Bapak Joko Pratama tadi — harga diri. Ia bukan orang yang tak berharga. Ia hanya orang yang jatuh cinta pada tempat yang tak bisa ia singgahi.

Keesokan paginya, udara pagi Sidoarjo yang sejuk menyapa Dika saat ia duduk di beranda rumah, memandang hamparan sawah yang menghijau. Emak Sarni Sari datang membawa segelas teh hangat, lalu duduk di sampingnya.

"Masih ingat dulu kamu sering lari ke sungai kalau sedih?" tanya Emak Sarni Sari pelan, tersenyum tipis. "Lalu pulang dengan baju basah, tapi mata sudah berbinar lagi."

Dika tersenyum getir. "Itu dulu, Mak. Sekarang rasanya lebih berat," jawab Dika pelan.

"Berat memang, Nak. Tapi beban itu akan ringan kalau kamu tidak memikulnya sendirian," ucap Emak Sarni Sari lembut. "Kamu di sini. Di rumahmu sendiri. Di sini tidak ada yang memandang jabatan atau harta. Di sini kamu cuma Dika — anak kami yang tulus, baik, dan berharga."

Kata-kata itu menembus hati Dika yang paling perih. Ia menunduk, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Emak Sarni Sari, seperti anak kecil yang mencari perlindungan.

"Terima kasih, Mak..." bisiknya lirih.

Bapak Joko Pratama ikut melangkah mendekat ke beranda, membawa sebatang kretek yang mengepul tipis di jarinya. Ia menatap Dika dengan pandangan teduh khas seorang ayah.

"Sudah, jangan sedih terus, Le. Kalau bosan di rumah, nanti sore ambil saja joran bambu di sudut gudang. Pergi ke kali sebelah, mancing seperti waktu kecil dulu. Siapa tahu dapat ikan kutuk buat lauk makan malam kita," ucap Bapak Joko Pratama menimpali.

Mendengar ajakan sang ayah, sudut bibir Dika perlahan tertarik membentuk senyuman kecil. Ide untuk memegang joran bambu lagi di sungai desa seketika menghadirkan ketenangan asing yang sudah lama hilang dari dadanya.

Percakapan hangat di beranda rumah itu masih berlanjut. Sinar matahari pagi Sidoarjo yang hangat perlahan mengusir sisa-sisa dingin malam. Dika Pratama masih menyandarkan kepalanya di bahu Emak Sarni Sari, meresapi setiap kata menenangkan yang diucapkan sang ibu.

Tidak lama kemudian, dari arah pintu dalam, Bapak Joko Pratama melangkah keluar sambil membawa kain lap kecil di tangannya. Ia melihat istri dan anaknya yang sedang saling menguatkan. Bapak Joko Pratama mendekat, lalu ikut duduk di kursi kayu panjang sebelah mereka.

"Sudah, jangan cengeng terus, Le," ucap Bapak Joko Pratama dengan nada tegas namun penuh kasih. "Laki-laki boleh jatuh, tapi tidak boleh tertelungkup terlalu lama. Kemarin kamu kalah di medan perang orang kota. Sekarang saatnya merapikan strategi di rumah sendiri."

Dika Pratama mengangkat kepalanya, menatap sang ayah dengan mata yang masih sedikit sembab. "Strategi apa, Pak?"

Bapak Joko Pratama tersenyum tipis, menepuk lutut Dika pelan. "Bapak tahu kamu suka bikin video-video iseng waktu di Surabaya dulu. Kenapa nggak dicoba lagi di sini? Bikin konten mancing di kali dekat kampung kita. Hidup ini kalau dinikmati dengan santai, lama-lama jalannya juga ketemu sendiri."

Mendengar ucapan Bapak Joko Pratama, secercah ide seketika menyala di dada Dika. Bayangan joran bambu kesayangannya di sudut gudang mendadak terlintas di kepalanya. Kenapa ia tidak merintis kembali hobi lamanya sambil membuat konten YouTube?

"Iya, Pak! Benar kata Bapak," sahut Emak Sarni Sari antusias, matanya berbinar senang melihat anak bujangnya mulai menemukan kembali semangat hidup. "Nanti sore, kalau urusan membantu Emak bungkusin gorengan di dapur sudah beres, kamu langsung saja jalan ke kali. Cari ketenangan di sana."

Dika mengangguk mantap. Hatinya merasa jauh lebih ringan.

Sore menjelang, matahari Sidoarjo mulai condong ke barat, memantulkan cahaya jingga di atas permukaan air sungai desa yang mengalir tenang. Di tepian rimbun rumpun bambu, Dika Pratama tampak sibuk mempersiapkan senjatanya. Kali ini bukan setelan jas rapi atau dokumen kantor yang ia pegang, melainkan sebatang joran bambu kesayangannya yang sudah dirawat dan diberi senar kuat.

Ia mengenakan gaya andalannya saat berpetualang di air: sarung tenun melilit nyaman di pinggang, dipadu jaket hitam kumal yang melindunginya dari angin sore, serta sebatang kretek yang terselip santai di balik telinganya.

"Nah, gini kan asyik. Daripada di kota mukanya ditekuk terus kayak cucian belum disetrika," gumam Dika pada dirinya sendiri sambil mengeluarkan wadah kaleng kecil berisi cacing sawah yang masih menggeliat aktif.

Sebelum memasang umpan, ia mengeluarkan tripod plastik murah dan ponselnya dari dalam tas ransel lusuh. Ponsel itu ia sandarkan pada tumpukan batu kali, membuka aplikasi YouTube, dan mulai mengatur tombol rekam.

"Halo teman-teman semua! Kembali lagi di channel saya. Hari ini, setelah sekian lama bergulat dengan kerasnya beton kota Surabaya, saya kembali ke tempat asal: pinggir kali Sidoarjo," ucap Dika di depan kamera ponselnya dengan nada yang dibuat ceria.

Ia menoleh ke arah kamera, lalu nyengir lebar. "Hari ini kita mau coba mancing, siapa tahu dapat ikan lumayan. Umpannya sederhana saja, cacing sawah hasil cari di tanah belakang rumah. Langsung saja kita coba!"

Setelah menekan tombol rekam, Dika memasang cacing sawah gemuk pada mata kailnya dengan cekatan. Dengan ayunan lembut, joran bambu itu melesatkan umpan tepat ke dekat bayangan rumpun enceng gondok.

Tak butuh waktu lama, belum ada lima menit pelampung gabus kecil di permukaan air bergetar hebat, lalu tenggelam ke dalam air dengan cepat.

"Waduh, langsung disambar ini mah!" seru Dika antusias, tangannya sigap mengangkat joran bambu ke atas.

Seekor ikan berukuran cukup besar tampak mengibas-ngibaskan ekornya di udara sebelum jatuh mendarat mulus di rerumputan pinggir sungai. Dika tertawa lepas — tawa tulus yang sudah lama hilang dari dadanya. Ia mendekati tangkapan itu, mengangkatnya ke dekat kamera ponsel.

"Lihat nih! Baru lemparan pertama, langsung dapat! Tarikannya kuat juga," ucap Dika di depan layar, sementara beberapa penonton mulai bergabung di kolom komentar, memberikan ucapan selamat datang kembali.

Dari kejauhan, terlihat Emak Sarni Sari yang kebetulan lewat membawa sekeranjang cucian kering dari jemuran, menggelengkan kepala sambil tersenyum lebar melihat anak bujangnya sudah kembali sumringah di pinggir sungai. Di sisi lain, Bapak Joko Pratama yang sedang duduk di beranda rumah sambil menyeruput kopi sore hanya bisa tersenyum melihat pemandangan itu.

Dika menarik napas dalam-dalam, menghirup udara sore kampung halamannya yang segar. Luka hatinya karena Vanesha memang belum sembuh total, tapi di bawah langit Sidoarjo ini, ia sadar bahwa hidupnya belum berakhir. Ia punya orang tua yang menyayanginya, punya hobi sederhana yang menenangkan, dan punya semangat yang mulai menyala lagi — pelan-pelan, bersama aliran sungai dan layar ponsel yang merekam perjalanannya kembali ke akar.

1
Davide David
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!