azalea menangis di sisi tubuh naima yang terbujur, kematian kakaknya menyisakan duka yang teramat dalam. matanya menatap nanar bayi merah di pangkuan kiano abang iparnya yang juga menangis tanpa suara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua puluh tiga
Azalea menatap telapak tangannya lama, ia masih berdiri di balik pintu, bersandar.
Kesal sekali rasanya tadi, seenak jidatnya saja pria itu menuduhnya seperti itu. Azalea kesal, bagaimana Kiano menuduhnya berciuman dengan Yohan. Dia tidak segampangan itu, kalaupun Kiano merasa Azalea mudah larut dalam hal romantis, itu hanya berlaku pada kiano.
Azalea menyukai Kiano, maka wajar saja rasanya kalau dirinya terlena dalam dekapan pria itu. Namun seenaknya saja Kiano menuduhnya berciuman dengan Yohan, apa menurut Kiano, azalea segampangan itu.
Azalea melemparkan pashminanya ke atas meja rias. Dengan hembusan nafas yang terdengar berat, ia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang yang bergelombang menerimanya.
Hatinya masih kesal, sangat malah. Sebenarnya mau pria itu apa sih. Dia yang meminta Azalea untuk menerima Yohan, tapi dia juga yang marah-marah nggak jelas.
Apa mungkin Kiano memiliki rasa untuknya, seketika mata Azalea membelalak lebar. Mulutnya separuh terbuka.
"ahhh, nggak mungkin" geleng Azalea cepat, kaget sendiri akan apa yang ia pikirkan.
"Mas Kian, nggak mungkin menyukai aku"
Azalea sampai terduduk, masih menggeleng-gelengkan kepalanya tak yakin.
"Mungkin Mas Kian cuman merasa kesal karena aku tidak ijin darinya tadi...yah" angguknya cepat, "pasti karena itu"
Sementara Kiano masih berdiri tertegun di ruang tamu, memegangi pipinya.
Tidak sakit sih, tidak meninggalkan bekas juga. Namun entah mengapa hatinya merasakan keanehan itu lagi.
Bekas tangan Azalea di pipinya tidak meninggalkan bekas, tapi meninggalkan jejak yang aneh di hatinya. Kiano merasa separuh jiwanya terbang tadi, ingin rasanya Kiano merangsek maju, menarik tubuh Azalea dari cengkeraman Yohan.
Ia takut Yohan akan mencium Azalea, tadi rasanya Kiano hampir kehilangan pikiran warasnya. Hampir saja Kiano menghajar Yohan, karena pikirannya sendiri.
"hhhhhhh" desah nafas Kiano terdengar berat, "ini pasti hanya karena aku khawatir, pasti karena khawatir"
Kiano melangkah lambat, setelah mengunci pintu ruang tamu. Benaknya masih berisik, namun Kiano berusaha menenangkan hatinya yang kebingungan.
Ia masih sempat melirik kamar Azalea, hembusan nafasnya kembali terdengar berat. Jangan sampai Azalea berpikir tingkahnya tadi karena Kiano menyukai gadis itu. Tidak, besok ia harus bisa menjelaskan pada Azalea kalau sikap menyebalkannya tadi hanya karena rasa kekhawatirannya saja.
Kiano juga sibuk meyakinkan hatinya, kalau apa yang ia lakukan tadi bukan karena ia menyukai Azalea, sangat tidak mungkin dirinya menyukai gadis itu.
*******
Pagi itu di meja makan, keheningan terasa begitu memerangkap. Azalea yang sibuk menghidangkan semangkuk sup jamur ke dekat piring nasi hangat Kiano, tak berbicara sedikitpun. Sementara Kiano sedang memangku Rania yang minum susu dari botol susunya.
Azalea mengamati meja makan, memastikan semuanya beres, ia meminta Rania dari pangkuan Kiano.
"Mas Kian makan duluan saja. Aku mandiin Rara sebelum mbak Asti datang"
"Tunggu Zaa," tahan Kiano, sebelum Azalea sempat beranjak pergi.
"Duduklah, aku ingin menjelaskan sesuatu padamu"
Azalea mengerutkan keningnya, walau tak urung ia tetap menarik kursi di depan Kiano. Tangannya mengelus lembut punggung Rania yang bersendawa.
"Aku mau minta maaf padamu, Za"
"Minta maaf?untuk apa?, harusnya aku yang minta maaf pada Mas Kian"
Kiano menggeleng cepat, "Wajar kamu marah Za. Aku memang keterlaluan tadi malam, tak seharusnya aku menuduhmu seperti itu"
Azalea tak menjawab, ia hanya diam mengamati Kiano yang terlihat gugup dan gelisah.
"Aku hanya khawatir Za, kamu jangan berpikir yang aneh-aneh yah"
"Aneh?maksud Mas Kian aku jangan berpikir kalau sikap Mas Kian tadi malam karena Mas Kian menyukaiku?"
Pria itu sedikit tersentak, namun kepalanya mengangguk tipis.
"Aku tahu kok mas, sangatlah tidak mungkin Mas Kian jatuh cinta padaku, jangan takut Mas" ujar Azalea santai, nada suaranya terdengar ringan.
"Lagian aku nggak mungkin juga mengharapkan Mas Kian menyukai aku, bukankah cinta mas Kian habis di Mbak Na"
Kiano menatap lekat gadis itu, yang terlihat begitu tenang dan santai, ada sesuatu yang mengalir aneh di dalam dadanya, mengapa ia tidak menyukai ketenangan Azalea.
Azalea berdiri, dengan mendekap Rania hangat, gadis itu hendak beranjak pergi, namun ia berbalik lagi, menatap Kiano lekat.
"Aku menerima perasaan Mas Yohan, Mas. Seperti yang Mas katakan padaku, mas Yohan pria yang baik, aku akan belajar mencintai mas Yohan"
Kiano terperangah, setelah mengatakannya, Azalea pergi begitu saja meninggalkan Kiano yang terdiam.
Mengapa ini, apa yang terjadi dengan hatinya, mengapa mendadak ada yang sakit di dalam sana, mengapa Kiano merasa hatinya sakit bagai diremas-remas.
Mengapa ia tidak menyukai ucapan Azalea barusan, mengapa ia merasa keberatan. Ada yang aneh di dalam dadanya, ada rasa kosong yang begitu hampa.
Kiano menghela nafas, matanya masih menatap ke arah Azalea pergi. Perlahan tangannya meraba dada, meraba sesuatu yang terasa hilang dari dalam sana.
"arghhhhh" erangnya lembut, "tak mungkin seperti ini"
Kepala Kiano menggeleng tak terima, "nggak mungkin aku menyukai Azalea, aku hanya mencintai Naima."
Kiano masih duduk seperti orang bengong, saat ia mengangkat kepalanya, saat matanya menatap ke arah kamar Azalea, gadis itu berdiri di ambang pintu menatapnya dengan sorot yang tak bisa Kiano pahami.
Sesaat mereka saling menatap, saling berbicara dalam diam, berusaha saling memahami tanpa kata.
"Mas.." panggil Azalea sedikit keras, menyentakkan Kiano dari ketertegunannya.
Kiano menatap lekat, menunggu Azalea berbicara.
"aku ijin keluar nanti yah, mulai hari ini aku bekerja di pub Mas Yohan, pulangnya sekitaran jam 7 malam"
"Apa?" alis Kiano saling tertaut, "bekerja?apa kamu kekurangan uang, apa gaji yang kuberikan kurang?"
Azalea menggeleng, ia masih berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Kamukan sudah menyewa pengasuh untuk Rara, sejujurnya aku sungkan menerima uangmu tanpa bekerja, mulai hari ini aku tak bisa menerima uangmu lagi, Mas"
"Zaa, kamu.." belum sempat kiano berbicara, Azalea sudah menggelengkan kepalanya lagi.
"Aku nggak punya hak apapun untuk menerima uangmu, Mas Kian. Aku bukan keluargamu, aku bukan siapa-siapa kamu, jadi tidak ada alasan aku menerima uang kamu, mas"
Nada suara Azalea yang begitu tenang, sangat mengusik perasaannya, sejujurnya Kiano merasa sedih, mengapa Azalea sengaja menarik garis pembatas di antara mereka. Mengapa gadis ini mengatakan hal seperti itu tanpa ekspresi sama sekali. Apakah Azalea tidak menyadari jika semua ucapannya itu menyakiti hati Kiano.
"Oh yah mas" ujar Azalea kembali memutar berbalik, padahal dia sudah hampir menutup pintu kamarnya.
"Mulai hari ini, mbak Asti setuju untuk tinggal di sini, bagaimanapun aku akan pulang sore, begitu juga dan Mas Kian. Jadi Mbak Asti akan menemani Rara seharian"
Kiano belum menjawab, namun gadis itu sudah berbalik masuk dan menutup pintu kamarnya, meninggalkan Kiano yang terperangah bagai orang bodoh.
Bersambung...
.