ZONA DEWASA‼️
Luna seorang mahasiswa yang berkuliah di universitas elite di ibukota menyembunyikan identitasnya yang seorang putri tunggal dari pengusaha yang diambang kebangkrutan, dia pun melarikan diri dari rumahnya karna hendak di jodohkan.
Di kampusnya ia jatuh cinta dengan Adrian Xander Mahasiswa terpopuler di universitas Legacy.
Namun secara tidak sengaja Luna mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya terikat dengan Moreno Xander yang juga merupakan saudara tiri Adrian
Apa yang akan terjadi pada kehidupan Luna setelah dia dihadapkan dengan dua Xander bersaudara???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Pria glamor itu tersungkur keras di lantai dingin club, meringis kesakitan seraya mengusap sudut bibirnya yang pecah dan mengucurkan darah segar. Dengan napas memburu dan amarah membakar, ia menengadah menatap Moreno.
"Bangsat! Siapa lo?! Kenapa tiba-tiba mukul gue, anjing?!" teriak pria itu murka, sama sekali tidak mengenali anak muda di hadapannya.
Bukannya gentar, Moreno justru kembali melangkah maju. Ia mencengkeram kasar kerah kemeja mahal pria itu hingga sang korban terangkat paksa.
"Pukulan itu hadiah buat lo," desis Moreno dengan nada mengancam, mata abu-abunya menyala penuh aura membunuh.
"Karena otak kotor lo udah lancang menginginkan Luna Damaris!"
Pria itu membelalak, mencoba melepaskan cengkeraman kokoh Moreno.
"Gila lo ya! Gue bakal laporin lo ke polisi atas penganiayaan ini! Biar lo membusuk di penjara!"
Moreno menyunggingkan senyum miring yang meremehkan.
"Coba aja kalau lo berani. Sebelum laporan lo sampai ke meja polisi, gue yang bakal bikin seluruh bisnis dan hidup lo hancur lebur malam ini juga."
Mendengar nada bicara yang begitu sarkastik, nyali pria paruh baya itu seketika menciut. Ia sadar betul, pemuda berwajah blasteran di hadapannya ini bukanlah orang sembarangan yang bisa ia gertak.
Melihat bos mereka dipojokkan, dua rekan pria itu mencoba mengambil ancang-ancang untuk menolong. Salah satu dari mereka yang berdiri di belakang Moreno menyambar sebuah botol wiski kaca yang tebal, lalu memukulkannya secara mendadak ke arah kepala Moreno!
Brak!
Sebelum botol itu mendarat di kepalanya, Moreno refleks mengangkat lengan kirinya untuk menangkis. Botol kaca itu menghantam keras mengenai lengan Moreno hingga pecah berkeping-keping. Kain kemejanya robek, meninggalkan goresan luka dan cairan wiski yang bercampur darah.
Di saat yang sama, seorang pelayan club berlari panik menuju area VIP lounge untuk memberitahukan keributan tersebut pada rombongan Moreno.
"Mas! Maaf, Mas! Teman Mas yang tadi... Mas Moreno, dia terlibat perkelahian hebat di dekat bar!"
seru sang pelayan terengah-engah.
"Apa?!" Dimas terperanjat kaget dari sofanya.
Tanpa membuang waktu, Dimas berlari cepat keluar dari VIP lounge. Namun, saat ia sampai di lokasi, pemandangan di depannya sukses membuat matanya melotot. Tiga pria paruh baya yang bertubuh kekar sudah terkapar tak berdaya di lantai, mengerang kesakitan dengan wajah babak belur.
Moreno yang seperti kerasukan tampak belum puas. Ia kemudian berbalik arah, mengepalkan tangannya kembali untuk mengincar sang bos yang merangkak ketakutan di lantai.
"Ren! Tahan, Ren! Stop!"
Dengan sigap, Dimas langsung menerjang maju dan mencengkeram kuat kedua lengan Moreno, menahan sahabatnya.
"Lepas, Dim!" bentak Moreno kasar.
"Gila lo, Ren! Cukup!" teriak Dimas seraya sekuat tenaga menahan tubuh tegap Moreno.
"Mereka udah terkapar semua, kagak berdaya! Lo mau bikin orang mati di sini, hah?!"
Moreno perlahan menurunkan tangannya. Napasnya masih memburu kasar, dada bidangnya naik turun seiring amarah yang berangsur surut.
Melihat situasi mulai terkendali, Dimas segera memberi isyarat kepada para pelayan dan petugas keamanan club untuk membawa tiga pria malang itu pergi serta membersihkan pecahan botol dan noda darah di lantai.
Dimas kemudian menarik paksa lengan Moreno, membawanya duduk di salah satu sofa terdekat yang agak jauh dari kerumunan. Dimas menatap lengan Moreno yang terluka dan bersimbah darah bercampur sisa wiski, lalu menghela napas berat.
"Sebenarnya ada apa sih, Ren? Kenapa lo tiba-tiba ngamuk dan bikin babak belur orang-orang tua itu?" tanya Dimas heran bercampur penasaran.
Moreno menyandarkan punggungnya di sofa, meraih tisu di meja untuk menyapu darah di lengannya asal-asalan.
"Mereka cuma pria-pria brengsek yang emang butuh diberi pelajaran," jawabnya singkat dan acuh tak acuh.
Dimas menyilangkan dada, menatap sahabatnya itu penuh selidik.
"Pasti ada alasannya, kan? Enggak mungkin lo tiba-tiba ngehajar orang tanpa sebab. Memangnya mereka ngelakuin apa?"
Moreno yang enggan membeberkan bahwa emosinya tersulut hanya karena nama Luna diseret-seret oleh pria mesum itu, memilih melemparkan tatapan dingin nan malas.
"Gue cuma lagi bosan," potong Moreno datar.
"Lagian ini bukan urusan lo. Gue mau pulang sekarang."
Dimas hanya bisa menghela napas pasrah, menatap kepergian Moreno dengan gelengan kepala. Ia sama sekali tidak terkejut—ini memang bukan kali pertama Moreno mengamuk dan mengacak-acak tempat hanya karena emosi impulsifnya.
Sesampainya di penthouse, Moreno melangkah masuk ke dalam ruangan yang masih gelap dan sepi. Ia menghempaskan tubuhnya di atas sofa empuk, meluruskan kakinya yang terasa pegal. Jemari tangannya merogoh saku celana, mengambil ponsel lalu mendial sebuah nomor asisten kepercayaannya.
"Bereskan keributan di Club Culture malam ini," instruksi Moreno.
"Tutup mulut semua saksi. Jangan sampai ada polisi yang terlibat, apalagi sampai kabar ini terdengar ke telinga anggota keluarga Xander."
Begitu panggilan ditutup, Moreno melempar ponselnya ke meja kaca.
Cklek.
Tiba-tiba, pintu kamar tamu terbuka pelan. Luna keluar dari kamar dengan mata yang masih setengah terpejam karena haus. Hanya berbalut gaun tidur sleeveless berbahan sutra tipis selutut, gadis itu berjalan gontai menuju dapur tanpa menyadari ada sosok yang sedang mengawasinya di keremangan ruang tengah.
Setelah meneguk segelas air dingin, Luna membalikkan badan berniat kembali ke kamar. Namun, baru berjalan setengah jalan, rasa kantuknya menguap seketika.
Langkahnya terhenti. Di atas sofa, Moreno sedang duduk menyandar, menatapnya lurus dengan iris mata abu-abu yang berkilat di antara remang cahaya kota dari luar jendela.
Luna tersentak, refleks memeluk gelas kosong di tangannya.
"Re-Reno...? Lo... baru pulang?" menyapa gugup.
Melihat kehadiran gadis itu di dalam rumahnya—bukan melarikan diri seperti prasangka buruknya tadi—sudut bibir Moreno terangkat, mengukir senyum tipis yang sarat kepuasan. Suasana hatinya yang sempat buruk seketika membaik.
"Kesini," perintah Moreno rendah namun penuh penekanan.
"Duduk di pangkuan gue."
Sadar betul dirinya sudah membuat kesalahan besar karena mematikan ponsel seharian ini, Luna memilih untuk bersikap kooperatif. Memicu amarah pria ini di tengah malam bukanlah pilihan bijak. Tanpa bantahan, Luna berjalan mendekat dengan langkah ragu.
Dengan pelan dan hati-hati, Luna menaiki sofa lalu mendudukkan dirinya di atas pangkuan Moreno.
"Tumben lo penurut banget malam ini...gue suka." puji Moreno lirih seraya melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Luna.
Luna menahan napasnya. Dalam posisi sedekat ini, ia bisa mencium dengan jelas aroma maskulin yang bercampur deru napas berbau alkohol tajam dari mulut Moreno.
"Lo... habis minum? Lo mabuk ya, Ren?" tanya Luna pelan, mencoba mengalihkan ketegangan.
Moreno tidak langsung menjawab. Jemari tangannya yang hangat terulur, membelai lembut pipi mulus Luna sebelum turun menyusuri garis leher dan berhenti mengusap bibir ranum gadis itu dengan ibu jarinya.
"Gue gak mabuk," bisik Moreno tepat di depan telinga Luna, suaranya yang berat memunculkan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh saraf tubuh gadis itu.
"Tapi ngeliat lo cuma pakai gaun tidur kayak gini... bikin gairah gue naik."
Deg!
Jantung Luna berdegup kencang. Kalimat blak-blakan itu terdengar sangat tidak sopan di telinganya, namun di saat yang bersamaan, sentuhan dan bisikan pria itu berhasil menggetarkan sudut terdalam hatinya .
"Cium gue," bisik Moreno rendah, menatap lurus ke dalam iris mata Luna tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.
Luna menghembuskan napas panjang, berusaha menetralkan gemuruh di dadanya.
"Cuma cium aja, kan? Enggak lebih?"
Moreno menyunggingkan senyum miring yang terlihat berbahaya.
"Terus kenapa kalau gue mau lebih? Lo lupa, ya? Dari ujung rambut sampai ujung kaki lo... semuanya punya gue. Jadi sekarang, cium gue. Pakai gairah lo."
Luna menggigit bibir bawahnya erat-erat. Jantungnya berdegup makin gila-gilaan. Entah karena pengaruh remang lampu atau tatanan rambut Moreno yang sedikit berantakan malam ini, pria bule di hadapannya terlihat jauh lebih tampan dan maskulin dari biasanya.
"Seriously... otak gue beneran udah bermasalah kayaknya," maki Luna dalam hati, merutuki pikirannya sendiri yang mendadak terpesona pada sosok yang paling ia benci.
"Mau nunggu apa lagi, hm?" desak Moreno seraya makin mempererat cengkeraman tangannya di pinggang mungil Luna.
Melawan ego dan gengsinya sendiri, Luna menatap mata Moreno dengan menantang.
"Oke. Gue bakal kabulin apa yang lo mau."
Tanpa membuang waktu lagi, Luna memangkas jarak di antara mereka. Kedua tangannya merambat naik, menyusup ke sela-sela rambut tebal Moreno, lalu menyatukan bibir mereka tanpa ragu.
Mm...
Moreno tersentak sesaat oleh inisiatif berani gadisnya, tetapi seketika itu juga insting liarnya mengambil alih. Ia menyambut ciuman itu dengan hangat dan intens.
Pagutan mereka berubah menjadi begitu liar, menyalurkan tumpukan emosi, hasrat, dan keposesifan yang saling membelit di antara keheningan malam penthouse.
Visual of Luna Damaris