NovelToon NovelToon
Gulungan Dewa Naga

Gulungan Dewa Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:22.8k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Setelah tewas dalam invasi brutal yang meluluhlantakkan kotanya, Yang Zhen tiba-tiba terbangun kembali ke masa remaja saat ia masih menjadi murid akademi yang selalu dicap sebagai pecundang.

Namun, berbekal ingatan masa depan dan pusaka kuno Gulungan Dewa Naga yang memberinya kekuatan, ia kini bersumpah untuk memutarbalikkan takdir dan menginjak-injak siapa pun yang berani meremehkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Kabut tebal berwarna abu-abu terus menyelimuti rombongan ekspedisi saat mereka bergerak semakin dalam ke jantung hutan. Suasana sangat sunyi, hanya terdengar suara ranting patah yang terinjak sepatu bot baja para prajurit.

"Berhenti, mundur tiga langkah sekarang juga." perintah Yang Zhen yang berjalan paling depan dengan santai.

Kapten Liu dan para prajurit elit langsung mundur secara serentak tanpa banyak bertanya. Mereka sudah sepenuhnya tunduk pada komando pemuda berusia lima belas tahun itu.

Syuut! Crak!

Tepat di tempat Kapten Liu berdiri sedetik yang lalu, sebuah tanaman merambat berduri tiba-tiba melesat dari atas dahan dan menancap keras ke tanah. Jika ia tidak mundur, tanaman pemakan daging itu pasti sudah melubangi tengkoraknya.

"Matamu benar-benar lebih tajam dari elang, Yang Zhen." puji Chen Fei sambil menyeka keringat dingin di dahinya. "Peta warisan keluargaku sama sekali tidak menyebutkan adanya area Tumbuhan Iblis ini."

"Peta milikmu itu mungkin digambar oleh kakek buyutmu saat dia sedang mabuk." ejek Yang Zhen dengan senyum menyebalkan.

Chen Fei hanya bisa tertawa canggung mendengar ejekan yang menyinggung leluhurnya itu. Ia tidak berani marah karena nyawanya dan seluruh pasukannya bergantung pada Yang Zhen.

"Kita sudah hampir sampai, Tuan Muda Chen." ucap Yang Zhen sambil menunjuk ke arah depan. "Lihatlah tebing batu di balik kabut itu."

Semua orang menyipitkan mata dan perlahan kabut di depan mereka mulai menipis. Sebuah gerbang batu raksasa setinggi belasan meter yang dipenuhi ukiran kuno berdiri kokoh menyatu dengan tebing gunung.

Ukiran di gerbang itu berbentuk dua ekor naga yang saling melilit sebuah pedang besar.

"Ini dia... Reruntuhan Jenderal Naga Hitam." gumam Chen Fei dengan mata berbinar-binar penuh ambisi. "Keluarga militer kami telah mencari tempat ini selama puluhan tahun."

Rombongan itu segera mendekati gerbang raksasa tersebut. Terdapat sebuah celah yang cukup lebar di antara kedua daun pintu batu yang terbuat dari granit itu.

Begitu mereka melangkah masuk, hawa dingin yang sangat kuno menyambut kulit mereka. Di dalam sana terdapat sebuah aula bawah tanah yang sangat luas dan diterangi oleh batu-batu luminesensi yang menempel di dinding.

Di ujung aula tersebut, jalan terbagi menjadi tiga lorong besar yang mengarah ke bagian dalam reruntuhan.

"Tuan Muda Chen, pedang leluhurmu ada di ujung lorong tengah itu." ucap Yang Zhen sambil menunjuk jalan utama.

"Kau tidak ikut bersama kami ke aula utama?" tanya Chen Fei sedikit terkejut.

"Tidak, aku akan membawa kedua temanku untuk memeriksa lorong sebelah kanan." jawab Yang Zhen santai. "Ada sedikit barang rongsokan yang ingin aku kumpulkan di sana."

"Selain itu, jika kita bergerak bersama, akan ada terlalu banyak pemicu jebakan." tambah Yang Zhen memberikan alasan yang logis.

Chen Fei menganggukkan kepalanya tanda mengerti dan setuju dengan keputusan taktis tersebut.

"Baiklah, kita berpisah di sini." ucap Chen Fei sambil menghunus pedangnya. "Aku berhutang nyawa padamu hari ini, Yang Zhen."

"Ah, satu hal lagi sebelum kau pergi." panggil Yang Zhen menghentikan langkah Chen Fei. "Saat kau berjalan menyusuri lorong tengah, merunduklah setiap kali kau menginjak ubin batu berwarna hitam."

Chen Fei menautkan alisnya bingung namun ia tetap mengangguk tegas dan memimpin pasukannya masuk ke lorong tengah.

Setelah rombongan militer itu menghilang dari pandangan, Yang Zhen menoleh ke arah Su Lin dan Wang Hao yang masih berdiri di belakangnya.

"Ayo kita pergi mencari harta karun kita sendiri." ajak Yang Zhen dengan senyum rubahnya yang sangat khas.

Mereka bertiga berjalan menyusuri lorong kanan yang terasa jauh lebih gelap dan lembab. Dinding lorong ini dipenuhi oleh lumut yang bersinar redup.

"Zhen, apakah lorong ini benar-benar aman?" bisik Wang Hao sambil menengok ke kanan dan ke kiri dengan cemas.

"Tentu saja aman, Hao." jawab Yang Zhen santai. "Paling-paling hanya ada beberapa jebakan panah beracun dan lubang paku di depan sana."

Wang Hao nyaris pingsan mendengar kata aman versi sahabatnya itu. Ia memeluk tas raksasanya semakin erat.

"Kau sengaja memisahkan diri dari rombongan militer, bukan?" potong Su Lin dengan nada selidik. Gadis jenius ini selalu bisa membaca maksud terselubung dari tindakan Yang Zhen.

Yang Zhen menghentikan langkahnya sejenak dan menatap Su Lin dengan tatapan penuh penghargaan.

"Kau memang yang paling pintar, Su Mbem." puji Yang Zhen sambil mencubit pipi mulus Su Lin dengan cepat.

Plak!

Su Lin menepis tangan Yang Zhen dengan wajah memerah karena kesal dan malu. Ia segera menyiapkan hawa dingin di telapak tangannya.

"Berhenti memanggilku seperti itu atau aku akan membekukan mulutmu!" ancam Su Lin sambil mendelik tajam.

"Hahaha, baiklah, baiklah." Yang Zhen tertawa ringan dan kembali berjalan. "Kau benar, aku sengaja memisahkan diri karena kita punya tiga ekor tikus yang mengikuti kita sejak masuk ke hutan tadi."

Langkah Su Lin dan Wang Hao seketika terhenti. Jantung mereka berdebar kencang mendengar fakta mengerikan itu.

"T-tikus? Maksudmu monster?" tanya Wang Hao dengan suara bergetar.

"Bukan, maksudnya adalah manusia." jawab Su Lin yang wajahnya kembali menjadi sangat dingin dan waspada. "Seseorang mengirim pembunuh bayaran untuk kita."

"Tepat sekali." ucap Yang Zhen tanpa menghentikan langkahnya. "Aku tidak ingin melibatkan pasukan Chen Fei karena itu akan membuat masalah dengan militer menjadi rumit."

"Jadi kau menjadikan kita bertiga sebagai umpan yang terisolasi?!" seru Su Lin tidak percaya dengan rencana nekat tersebut.

"Jangan gunakan kata umpan, itu terdengar sangat menyedihkan." koreksi Yang Zhen sambil tersenyum sinis. "Sebut saja kita sedang mengundang mereka ke liang lahat yang sudah kubuatkan untuk mereka."

Beberapa menit kemudian, lorong sempit itu berujung pada sebuah ruangan batu berbentuk bundar. Ruangan itu kosong melompong tanpa ada hiasan apa pun.

Hanya ada sebuah altar batu kecil di tengah ruangan. Di atas altar tersebut, melayang sebuah kristal berwarna kuning kecoklatan yang memancarkan aura kehidupan yang sangat pekat.

"Itu dia... Relik Jantung Bumi." gumam Yang Zhen dengan mata berbinar-binar penuh kepuasan.

1
Sansalina
Mulai 👍👍👍
Sansalina
Gas Thorrr👍👍👍
Sansalina
Takutnya muridku mati konyol sebelum menguasai es dengan sempurna💪💪💪
alexander
bagus ceritanya
Sansalina
Bantaiii💪💪💪
Sansalina
Buktikan 👍👍👍
Sansalina
Bantai nih keluarganya👍👍👍
Sansalina
Bantaiii💪💪💪
Sansalina
Belum tahu dia👍👍👍
Sansalina
Bantaiii💪💪💪
Sansalina
Lanjuttt💪💪💪
Sansalina
Lanjuttt 👍👍👍
Sansalina
Gas Thprrr💪💪💪
Dianrp
💪💪💪💪💪
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!