Tiyas adalah seorang istri yang setia dan penuh cinta, namun dunianya hancur seketika saat ia mendapati suaminya, Gio, berselingkuh dengan Mia—yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Pengkhianatan berlapis ini meremukkan hatinya, memaksa Tiyas untuk menelan kepahitan dan mengumpulkan serpihan harga dirinya yang tersisa.
Di tengah badai kekecewaan tersebut, takdir mempertemukannya dengan Narendra, yang bernasib serupa sebagai suami Mia yang juga dikhianati. Berawal dari rasa sakit dan luka yang sama, Tiyas dan Narendra perlahan menemukan ruang aman untuk saling menguatkan, menumbuhkan kenyamanan, serta merajut harapan baru di atas reruntuhan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Di sebuah vila mewah di kawasan Lembang, Bandung, suasana terasa hangat dan penuh kemesraan.
Udara dingin pegunungan di luar seolah tak menyentuh ruangan yang dipenuhi oleh hasrat terlarang itu.
Suara desahan mereka terdengar jelas di dalam kamar. Gio dan Mia saling berpelukan tanpa menyadari bahwa seluruh tindakan menjijikkan mereka tak lagi menjadi rahasia.
Di balik tawa dan bisikan mesra Mia yang merasa telah berhasil merebut kebahagiaan sepupunya, perangkap besar sedang mengintai mereka dari balik bayang-bayang.
Di samping kamar, di sebuah sudut tersembunyi yang berbatasan langsung dengan area balkon, Wildan berdiri dengan tenang.
Pria kepercayaan Tiyas itu memasang perangkat alat perekam audiovisual canggih berspesifikasi tinggi.
Dari gawai di tangannya, kamera mikro bersudut lebar dan mikrofon terarah (shotgun microphone) menangkap setiap visual, gerakan, serta percakapan di dalam kamar dengan sangat jernih dan tajam.
Wildan menatap layar monitor kecil di genggamannya tanpa ekspresi.
Dengan wajah yang dingin, ia memastikan setiap detik adegan perselingkuhan itu terekam sempurna dan langsung tersimpan secara otomatis ke dalam peladen aman (secure server).
Tak berhenti di situ, Wildan juga merekam percakapan Gio dan Mia saat pria itu berjanji akan menyerahkan sisa aset usaha Tiyas untuk memanjakan Mia.
"Semua bukti sudah terkunci," gumam Wildan pelan sembari menyunggingkan senyum tipis.
Rekaman berdurasi panjang yang menjadi kehancuran bagi Gio dan Mia itu siap dikirimkan kepada Tiyas—sang pemilik senyum elegan yang sebentar lagi akan menjatuhkan vonis telak atas pengkhianatan mereka.
Setelah menuntaskan penyatuan terlarang itu, Gio tertawa terbahak-bahak, kekehannya menggema sombong di dalam kamar vila yang hangat.
Mia menatapnya heran sembari membetulkan posisi selimut yang menutupi dadanya.
"Kenapa kamu tertawa?”
Gio mengusap dagunya dengan ekspresi sinis dan pandangan meremehkan.
"Istriku, Tiyas itu sangat bodoh. Aku cuma minta lima puluh juta, tanpa curiga sedikit pun langsung dikirim. Mudah sekali membodohi wanita sok sibuk seperti dia."
“Kita benar-benar dapat untung besar dari dia,” sahut Mia dengan tawa kecil yang terdengar culas.
Gio mengangguk puas, sorot matanya dipenuhi kesombongan.
“Ini baru permulaan, Mia. Kita bakal terus menikmati hidup seperti ini—tanpa beban, pakai uang dan fasilitas dari Tiyas.”
Mereka berdua kembali merapat dan saling berpelukan mesra, merasa di atas angin, tanpa menyadari bahwa alat perekam milik Wildan di luar dinding telah mendokumentasikan setiap kata dan pengakuan keji itu.
Waktu dan kebenaran sedang mengejar mereka dari belakang.
"Kapan kamu menceraikan Tiyas?" tanya Mia tiba-tiba, menatap tajam manik mata Gio.
"Aku sudah tidak sabar untuk memilikimu seutuhnya, Gio."
Gio mengusap rambut Mia, mencoba menenangkan.
“Sabar dulu, Mia. Aku tahu,.kamu ingin semuanya cepat, tapi kita harus tunggu waktu yang tepat.”
Mia mengerutkan dahi, raut wajahnya menyiratkan rasa tidak puas atas jawaban tersebut.
“Waktu yang tepat? Sampai kapan kamu mau menunggu? Tiyas itu semakin hari makin kuat posisinya di perusahaan.”
Gio bangkit dari peraduan, berjalan menuju jendela kaca besar dan menatap keluar ke arah lembah Lembang yang diselimuti kabut malam dengan ekspresi penuh perhitungan.
“Aku butuh strategi, bukan sikap terburu-buru. Kalau aku ceraikan Tiyas sekarang tanpa persiapan, semua aset dan posisiku bisa terancam balik menyerang kita. Aku harus pastikan seluruh dokumen dan uang yang bisa kuambil dari Tiyas beres dulu.”
Mia menghela napas panjang, memutar matanya seraya bersedekap.
Meski agak jengkel, ia tahu betul bahwa Gio selalu bersikap licik dan penuh perhitungan untuk mengamankan keuntungan mereka.
Sementara itu, di luar vila, Wildan yang menempelkan earphone monitor di telinganya tersenyum dingin.
Setiap kalimat, setiap niat busuk, dan rencana perampasan aset yang dilontarkan Gio telah terekam sempurna.
Pria IT itu mengemas peralatannya tanpa suara, lalu melangkah mundur menembus kegelapan malam Lembang.
Ia menekan satu pesan singkat pada ponselnya yang ditujukan langsung ke Tiyas:
[Bu Tiyas, bukan cuma rekaman fisik. Saya dapat rekaman suara pengakuan Gio yang berencana memeras aset Ibu sebelum menceraikan Ibu. Semua bukti pengkhianatan dan motif kejahatannya sudah lengkap.]
Di Magelang, Tiyas yang sedang terbangun di kamar masa kecilnya melihat layar ponsel yang menyala.
Saat membaca pesan dari Wildan, tidak ada lagi air mata yang menetes.
Hanya ada tatapan dingin yang tajam dan keteguhan hati yang tak tergoyahkan.
"Kamu ingin main strategi, Gio?" bisik Tiyas pada kegelapan malam.
"Mari kita lihat, siapa yang akan hancur lebih dulu."
Tok... tok... tok.
"Nduk, boleh Ayah masuk?" suara Ayah terdengar dari balik pintu kamar.
Tiyas segera menutup ponselnya, bangkit dari tempat tidur, lalu melangkah untuk membuka pintu.
"Dalem, Ayah. Ada apa?" jawab Tiyas lembut dengan senyuman hangat.
"Ayo kita jalan-jalan sambil mencari makan malam di luar. Dari tadi siang kamu di kamar terus," ajak Ayah.
Tiyas menganggukkan kepalanya antusias. "Iya, Ayah. Tiyas siap-siap sebentar, ya."
Sudah lama sekali Tiyas tidak menikmati waktu luang bersama kedua orang tuanya.
Kehidupan rumah tangganya yang penuh tekanan serta kesibukan mengurus bisnis selama ini seolah menyita seluruh perhatiannya.
Setelah mandi dan bersiap-siap rapi, Tiyas melajukan mobilnya membelah jalanan kota Magelang.
Namun, bukan mengarah ke pusat kuliner atau area alun-alun, Tiyas justru membelokkan kemudinya memasuki area parkir sebuah showroom mobil mewah.
"Lho, Nak. Kenapa kita ke sini? Bukan ke alun-alun?" tanya Ayah heran sambil menatap deretan mobil berkilat di balik kaca gedung showroom.
"Ayo, Ayah, Ibu, kita turun dulu," ujar Tiyas penuh rahasia.
Tiyas menggandeng tangan Ayah dan Ibunya dengan erat, melangkah masuk ke dalam area showroom yang megah dan ber-AC sejuk.
"Sekarang, Ayah pilih mobil mana yang Ayah suka," ucap Tiyas tenang.
"Lho, nduk? Buat apa?" Ayah terbelalak, kaget dengan ucapan putrinya.
Ibu yang berada di sebelahnya pun ikut menatap Tiyas dengan raut tak percaya.
Tiyas hanya tersenyum manis dan mengajak Ayahnya berjalan melintasi deretan mobil keluaran terbaru.
Seorang petugas sales yang sigap langsung menyambut mereka dengan ramah, menjelaskan berbagai fitur canggih dan keunggulan dari mobil SUV hitam nan gagah yang menarik perhatian Ayah.
Ayah mengelus bodi mobil tersebut dengan cermat.
Matanya berbinar, namun tak lama kemudian ia melirik papan harga yang tertera di dekatnya.
"Bagus, nduk. Tapi, ini mahal sekali," bisik Ayah ragu, merasa tidak enak.
Tiyas merangkul lengan Ayahnya erat-erat, menatap mata pria tua yang sangat dicintainya itu dengan penuh rasa bangga.
"Ayah, putri Ayah ini mampu membelikan ini untuk Ayah. Apapun buat Ayah dan Ibu," tutur Tiyas mantap tanpa keraguan sedikit pun.
Ia lalu menoleh ke arah petugas sales yang berdiri di dekat mereka.
"Mas, saya mau pesan yang ini satu, pembayaran tunai."
Sales tersebut mengangguk penuh semangat. "Baik, Bu Tiyas! Silakan lewat sini untuk pengurusan berkasnya."
Kemudian mereka bertiga duduk nyaman di sofa ruang tunggu VIP sambil menunggu surat-surat kendaraan dan proses administrasi diselesaikan.
Ibu mengusap lembut jemari Tiyas, matanya berkaca-kaca menatap putri tunggalnya.
"Nduk, kamu tidak perlu membuang uang sebanyak ini untuk Ayah dan Ibu."
"Ini bukan membuang uang, Bu," sela Tiyas lembut namun tegas.
"Selama ini Tiyas terlalu sibuk membiayai orang yang salah dan tidak tahu diri. Sekarang saatnya Tiyas membahagiakan orang tua Tiyas sendiri. Semua aset, kerja keras, dan rezeki Tiyas hanya untuk Ayah dan Ibu."
Ayah menatap Tiyas dalam-dalam, dadanya bergemuruh penuh keharuan.
Pria paruh baya itu menyadari bahwa putrinya yang dulu polos kini telah menjelma menjadi wanita yang teramat kuat, mandiri, dan tak tergoyahkan oleh pengkhianatan suami yang tak tahu berterima kasih.
udh jgain tiyas,posesif bgt smp ga bleh ngpa2in slain istrhat...sm clon mrtua pun ga pelit.....😀😀😀
sokooorrr.....😛😛😛
udh dpt rstu dr shbt n ortumu...mga kali ni klian bhgia,ga ada pngkhianatan lg sprti msa lalu....
aku udh mmpir...slm knal.....
crtanya seru,suka sm tiyas yg tegas dn tngguh....mga bhgia trs sm naren....😘😘😘