NovelToon NovelToon
TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:47.8k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Di balik kesuksesan Bian sebagai Manajer, ada Husna istri sah yang anggun, mandiri, dan pemegang kendali finansial keluarga. Saat Bian tergoda Salma, karyawatinya dan meminta izin menikah lagi, Husna tidak mengamuk. Ia memberi satu syarat mutlak 100% gaji resmi Bian wajib ditransfer ke rekeningnya.
Sementara bagi Salma yang menawari cinta ala ABG hanya dinafkahi dari hasil toko swalayan baru yang belum pasti untung.

​Merasa menang, Salma setuju tanpa sadar ia salah lawan. Situasi makin panas saat Devan dan Deka, putra kembar yang saat ini sudah sekolah tingkat SMA, terang-terangan membela sang ibu dan membenci Bian. Siapa pemegang tahta sejati dalam keluarga ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

​Matahari makin meninggi melintasi garis pukul sepuluh pagi, memancarkan hawa menyengat yang membakar atap seng paviliun belakang. Di dalam ruang tamu sempit yang berdebu, Bian duduk membungkuk di pinggir sofa lusuh. Ponsel genggamnya tergenggam erat di tangan yang gemetar hebat, layarnya menyorotkan deretan angka transaksi aplikasi mobile banking yang tak kunjung berubah.

​Nol rupiah. Tidak ada notifikasi dana masuk. Sama sekali tidak ada kredit baru yang mampir ke rekening rahasianya.

​"Mas! Kok diam aja sih?." bentak Salma yang berdiri tepat di depan Bian, menyilangkan kedua tangan di dada dengan napas memburu. "Ini sudah jam sepuluh lewat! Kata kamu tadi bank buka jam sembilan dan uang hasil panen kelapa sawit ratusan juta itu langsung masuk. Mana?, Uang Salma yang dipinjam kemarin buat talangan toko lima puluh persen harus balik dua kali lipat hari ini, Mas! Salma mau uang Salma balik detik ini juga."

​Bian tidak menjawab. Keringat dingin mengucur deras melintasi pelipis hingga menetes ke ujung dagunya. Ia memercet tombol refresh pada layar ponselnya bertubi-tubi. Gagal. Transaksi Tidak Dapat Diproses. Silakan Hubungi Kantor Cabang Terdekat.

​Pesan peringatan sistem berwarna merah menyala itu membuat jantung Bian serasa diikat tali tambang lalu ditarik paksa ke dasar jurang.

​"Tidak mungkin..." bisik Bian dengan suara serak yang kehilangan tenaga. "Ini tidak mungkin! Pihak pengelola kebun sawit di daerah sudah transfer sejak kemarin sore. Mereka kirim bukti resi transfer kliring resmi! Kenapa uangnya ditahan sama pihak bank?,"

​Salma yang mendengar ucapan Bian seketika membelalakkan mata. Wajah cantiknya berubah pucat pasi, lalu dalam sekejap berganti menjadi warna merah padam oleh amarah yang meledak.

​"Apa kamu bilang, Mas?! Uangnya ditahan?!" jerit Salma melengking, menarik paksa kemeja Bian hingga kancing teratasnya terlepas. "Mas Bian! Kamu jangan coba-coba bohongi Salma ya! Kemarin kamu manis banget omongannya di mobil, cerita punya puluhan hektar kebun sawit, janji ganti uang tabungan Salma dua kali lipat. Sekarang saat Salma tagih, kamu bilang uangnya ditahan bank?. Kamu sengaja mau makan uang tabungan Salma, hah?."

​"Salma! Lepas! Mas tidak bohong!" bentak Bian seraya menghentakkan tangan Salma dengan kasar. "Mas punya bukti pengiriman uangnya! Tapi ini sistem banknya yang bermasalah! Ada tulisan Status Rekening Dibekukan Berdasarkan Instruksi Hukum."

​Bian terduduk lemas, matanya menatap kosong pada layar ponselnya. Kalimat Instruksi Hukum itu bagai petir di siang bolong yang menghantam kesadarannya. Siapa lagi di dunia ini yang memiliki akses, daya, dan pengaruh hukum sekuat itu untuk melacak rekening rahasia yang ia sembunyikan rapat-rapat selama dua tahun, kalau bukan Husna?

​Rasa panik yang luar biasa mendadak menjalar ke seluruh tulang belulang Bian. Rekening rahasia itu adalah benteng pertahanan terakhirnya. Tanpa uang sawit itu, ia tidak punya dana untuk menutup sisa utang toko, tidak punya modal untuk bertahan hidup, dan yang paling parah, ia terancam tenggelam dalam jeratan utang pada Salma.

​"Husna..." gumam Bian dengan bibir bergetar. "Ini pasti ulah Husna! Dia yang membuat rekening sawitku dibekukan!"

​Salma yang mendengar nama Husna disebut langsung menggeram penuh kedengkian. "Husna lagi?. Kenapa semua-semuanya harus wanita itu yang megang kendali?. Kalau memang dia yang meblokir uang kamu, ayo kita temui dia sekarang, Mas! Salma gak mau tahu, uang Salma harus kembali hari ini juga. Salma ikut kamu ke rumah utama."

​Tanpa menunggu persetujuan Bian, Salma mencengkeram lengan Bian dan menarik laki-laki itu paksa keluar dari paviliun. Bian yang sudah kehilangan arah dan diliputi rasa panik setengah mati hanya bisa menurut, melangkah terseok-seok menyeberangi jalanan samping menuju bangunan utama rumah yang megah.

​Di dalam ruang kerja lantai satu rumah utama, suasana terasa begitu damai dan berkelas. Husna duduk tenang di balik meja kerja kayunya yang besar, menikmati semilir angin dari jendela besar yang menghadap ke taman. Di atas mejanya, terhampar dokumen-dokumen legal, ditemani sebuah cangkir teh chamomile yang masih mengepulkan uap harum.

​Brak!

​Pintu ruang kerja terdorong kasar tanpa ketukan. Bian melangkah masuk dengan raut wajah panik berantakan, disusul Salma yang mengekor ketat di belakangnya dengan tatapan mata menuntut.

​Husna sama sekali tidak tersentak oleh kedatangan mereka yang brutal. Ia hanya mengangkat pandangannya secara perlahan, meletakkan cangkir tehnya ke atas tatakan dengan ketukan halus yang teratur, lalu menatap suami dan istri mudanya itu dengan keanggunan yang dingin.

​"Tidak ada tata krama sama sekali," tegur Husna halus namun mematikan. "Langsung menerobos masuk ke ruang kerja pemilik rumah. Mau apa kalian kemari?"

​Bian mengepalkan tangannya rapat-rapat, melangkah mendekati meja kerja Husna dengan dada naik turun. "Husna! Jangan pura-pura tidak tahu. Apa yang sudah kamu lakukan pada rekening bank rahasia milik saya?."

​Husna menyunggingkan senyuman tipis yang sangat anggun. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi kerja empuknya, menyilangkan jemari tangannya di atas meja.

"Rekening rahasia yang mana, Mas Bian? Bukankah selama bertahun-tahun ini kamu selalu bersumpah bahwa kamu tidak punya simpanan apa pun selain gaji dan kas toko swalayan?"

​"Jangan memutar balikkan kata-kata, Husna!" potong Bian dengan nada tinggi, pelipisnya menegang. "Rekening penampungan hasil panen kebun kelapa sawit saya di luar kota! Pagi ini transferan masuk bernilai ratusan juta gagal dicairkan karena status rekening saya mendadak dibekukan oleh instruksi hukum! Kamu kan yang menyuruh pengacaramu memblokir rekening itu?! Jawab, Husna!"

​Mendengar konfirmasi langsung dari mulut Bian tentang keberadaan uang ratusan juta tersebut, Salma di belakangnya langsung membelalakkan mata. Emosi Salma makin membakar.

​"Mbak Husna! Kamu jangan sewenang-wenang ya!" cerceh Salma ikut berteriak, menunjuk wajah Husna dengan jari telunjuknya. "Uang di rekening itu ada hak Mas Bian! Dan di dalam uang itu, ada utang Mas Bian ke saya. Mas Bian pinjam uang tabungan saya kemarin buat talangi toko, dan janji mau balikin hari ini pakai uang pencairan sawit itu! Gara-gara kamu memblokir rekeningnya, uang tabungan saya jadi nyangkut! Kembalikan hak uang saya!"

​Husna mendengarkan teriakan histeris Salma dengan raut wajah tenang, seolah-olah jeritan wanita muda itu hanyalah suara dengung nyamuk yang tidak berarti.

​Husna mengalihkan tatapan mata elangnya kembali tepat ke arah mata Bian.

​"Mas Bian... kamu benar-benar kekanak-kanakan," ujar Husna dengan nada suara yang sangat dalam dan tertata rapi. "Kamu bertanya kenapa rekeningmu dibekukan oleh bank dan pengadilan? Jawabannya sangat sederhana."

​Husna meraih sebuah map berkas tebal berwarna hitam dari samping mejanya, lalu melemparkannya secara perlahan ke tengah meja hingga terdorong ke hadapan Bian.

​"Buka dan baca," perintah Husna dingin.

​Dengan tangan bergetar, Bian meraih map hitam tersebut dan membukanya. Halaman pertama berkas itu menampilkan sertifikat kepemilikan lahan, laporan audit keuangan dua tahun terakhir, serta bukti aliran dana.

​"Kebun kelapa sawit puluhan hektar di luar kota itu..." Husna menjelaskan dengan suara santai namun penuh tekanan hukum yang tak terbantahkan, "kamu beli dua tahun lalu menggunakan dana yang kamu alihkan secara ilegal dari pembukuan harta bersama keluarga kita. Kamu mendaftarkannya atas nama kerabat jauhmu untuk menyembunyikan aset itu dari saya, lalu hasil panennya kamu nikmati sendiri untuk membiayai gaya hidupmu dan wanita di sampingmu itu."

​Wajah Bian seketika pucat pasi bagai mayat. Seluruh persendiannya serasa meloloskan diri.

​"Secara hukum pernikahan kita yang belum resmi bercerai," lanjut Husna dengan senyuman paling memikat dan penuh kemenangan, "seluruh aset yang kamu beli selama masa pernikahan, apalagi yang dibeli menggunakan uang penggelapan harta bersama, secara sah adalah harta milik bersama yang berada di bawah pengawasan hukum. Kemarin sore, pengacara saya sudah mendaftarkan gugatan penyitaan jaminan atas seluruh aset tak tampak milikmu, termasuk rekening penampungan hasil panen sawit tersebut."

Duar!

​Penjelasan Husna bagai hantaman gada besi yang meremukkan seluruh harapan Bian. Bian menyadari betapa bodohnya ia selama ini. Ia merasa telah bermain bersih dan rapi, padahal Husna telah mengintai dan memasang jerat hukum yang siap menerkamnya kapan saja.

​Salma yang berdiri di samping Bian tidak memahami rumitnya istilah hukum perbankan dan penyitaan harta gono-gini. Yang ditangkap oleh otak serakah Salma hanyalah satu kenyataan pahit uang hasil sawit itu tidak akan pernah bisa dicairkan lagi, dan uang tabungannya yang dipakai menalangi toko kemarin terancam lenyap selamanya.

​"Gak bisa gitu dong!" jerit Salma frustrasi, matanya melotot menatap Husna dan Bian bergantian. " Mbak Husna! Mau kamu sita harta Mas Bian itu urusan rumah tangga kalian! Tapi uang tabungan yang dipakai buat talangan toko kemarin itu uang murni milik Salma. Mas Bian utang sama Salma seratus lima puluh juta! Kamu harus ganti uang Salma."

​Husna menoleh perlahan menatap Salma, lalu terkekeh pelan sebuah kekehan dingin yang penuh rasa kepuasan.

​"Uangmu?" tanya Husna dengan nada meremehkan. "Salma... kamu yang memutuskan memberikan uang tabunganmu untuk membantu suami barumu. Hubungan utang-piutang itu terjadi antara kamu dan Mas Bian, bukan dengan saya. Kalau Mas Bian tidak bisa membayar utangnya padamu karena seluruh aset dan rekeningnya sudah dibekukan oleh negara, itu risiko keputusanmu sendiri karena tergiur janji manis laki-laki yang tidak punya harta."

​"Kamu... kamu jahat, Mbak!" jerit Salma dengan air mata kejengkelan yang meleleh di pipinya. Ia berbalik menyambar pundak Bian dan mengguncang tubuh suaminya yang terkulai lemas. "Mas Bian! Kamu dengar sendiri kan?! Uang kamu dibekukan! Sekarang jawab Salma, gimana cara kamu bayar utang seratus lima puluh juta ke Salma hari ini?! Jawab, Mas!"

​Bian tidak mampu menjawab. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menghindari tatapan histeris Salma dan senyuman kemenangan dari Husna. Di dalam ruang kerja yang mewah itu, untuk pertama kalinya Bian merasai kenyataan yang teramat pahit bahwa keserakahan, pengkhianatan, dan kebohongan yang ia pupuk selama dua tahun terakhir ini telah berbalik menghancurkan dirinya sampai tak tersisa.

1
Arieee
bagus 👍👍👍👍👍👍
susi ana
aku geli sama istilah "niat jantan" dr Rafli..... lucu banget 😂
falea sezi
wahh uda end ternyata si bapak durjana
Noey Aprilia
Akhir tragis buat sng pngkhianat....
btw,srius end kk????
mksh crtanya,aku otw crtamu yg lain...💃💃💃
blcak areng: terima kasih Kak
total 1 replies
Muft Smoker
ceritanya seperti biasa ,,
bagus dan banyak pelajaran ny
Muft Smoker
waaah udh tamat kak ,,

yx seburuk-buruk ny kelakuan manusia di saat Dy berpulang tetap harus d lakukan yg terbaik ,,
bian udh menyadari dan menyesali perbuatan ny ,, ,,

terimakasih buat cerita ny kali ini kak ,,
dtggu karya terbaru ny ,,
semangat dan sukses selalu buat kk ,,
Muft Smoker: sama2 kak ,,
karya terbaru ny udh msuk list aq ,,
total 2 replies
Muft Smoker
kn emnk udh jdi ibu ny kak 🤭🤭😁😁🫰
T🥀007
lanjut
Nieta Poedjo
kartu hitam = black card
bukan
kartu hitam black card
Nieta Poedjo
katanya berhijab, kok ada kalimat anak rambut?
katanya sdh nikah, kok ada kalimat calon ibu?
Muft Smoker: 👌👌👌👌😁😁😁😁
total 3 replies
Noey Aprilia
Buah ksbaran husna d msa lalu,akhrnya ktmu jg dgn kbhgiaan...
slain syng sm dia,jg syng sm ank2nya....
Noey Aprilia
Mkin meranalh nnti sng mntan...
smntra mntan istri mkin sukses plus nkah lg sm orng brkuasa,dia msh ttp jd gmbel.....😛😛😛
Muft Smoker
semangat truuus kak ,,

lanjuut kak ,,

akhirnya Bu Husna menemukan org yg tepat ,,
semoga bahagia truss keluarga kalian ,,
Muft Smoker
kak sbnrnya yg kk sypa ,, Dita tita atau Devan deka ,,
kn yg menikah dluan pak Rafli ,,
Rahmawati Amma
awalnya ceritanya menarik tapi setelah aku baca sengaja loncat di bagian bab 38an aku udah malas bacanya pada hal aku ingin melihat bian menderita dan husna walaupun janda tapi berkelas dan tambah sukses tak taunya kawin lagi jadi malas baca soalnya bosan yg cerita cerai tapi kawin lagi😔😮‍💨
Rahmawati Amma
maaf thor saya ke luar dari novelmu paling malas klu ceritanya gini awalnya saya emang suka ceritanya tapi melihat babnya saya langsung berhenti ku kira ngak bakalan kawin lagi soalnya anaknya udah pada remaja tak tahunya malahan kawin lagi sama aja mantan suaminya gila s***n## kukira habis cerai dia akan menjadi lebih sukses dan menjadi janda elegan tak taunya gini ceritanya maaf thor aku keluar maaf tidak beri bintang full😔😢🙏
Muft Smoker
laki2 kayak pak Rafli 1 banding 100000000 ,, bnr2 langka ,,
Rahmawati Amma
pembalasan berkelas🤣🤣🤣
Noey Aprilia
D saat yg lain lbh suka pmer hrta dmi pujian,tp mas rafli lbih mmilih k tnah suci dmi niat yg suci jg....salut plus mkin mnghormati dia krna skapnya...
Nieta Poedjo
ooooo gitu tho
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!