Mati karena diabaikan oleh keluarganya, mati karena diabaikan bahkan dikhianati oleh sang suami, lelaki yang paling dicintai, mati akibat fitnah, kebusukan dan kelicikan saudara tiri dan ibu tirinya.
Mati sebagai orang hukuman yang benar-benar hina, mati di ujung pedang tajam sang algojo.
Tapi...
Dia punya kesempatan kedua untuk hidup, punya kesempatan untuk mengubah takdir buruknya di masa lalu.
Maka kesempatan kedua itu dia manfaatkan sebaik-baiknya untuk membalas dendam terhadap semua orang yang telah membuatnya hancur dan sakit hati....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ikri Sa'ati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27. Karma Masa Lalu
"Zheng Huang Tai zi, mohon pengampunannya...," mohon Ling Qingxue penuh hormat dan ketundukan yang dalam. "Sungguh... hamba tidak sengaja melakukannya...."
Hamba...."
Namun, belum juga Ling Qingxue dapat melanjutkan ucapannya yang terputus, sudah terdengar suara tajam dan tegas Jenderal Ling Guojin menggema di ruang jamuan itu.
"Ling Qingxue! Beraninya kau berbuat tidak sopan di hadapan Zheng Huang Tai zi!"
Dengan cepat Ling Qingxue menoleh pada ayahnya, amat berharap lelaki tua itu membelanya. Namun yang dia saksikan hanyalah tatapan dingin Jenderal Ling Guojin yang penuh amarah.
"Die, aku tidak sengaja..., benar-benar tidak sengaja," mohon Ling Qingxue penuh harap. "Tolong... tolong mintakan pengampunan kepada Huang Tai zi....!"
Tetap saja, Jenderal Ling Qingxue benar-benar tidak peduli akan ratapan permohonan putri kandungnya serta nasibnya.
Malah....
"Prajurit!" titah Jenderal Ling Guojin dengan tegas, tanpa belas kasihan. "Bawa anak tidak berguna ini, dan cambuk dengan tongkat papan 10 kali, agar dia cepat menyadari kesalahannya!"
Ling Qingxue semakin gemetar ketakutan. Kembali dia menoleh pada Pangeran Zheng Liang, juga berharap agar pria idolanya itu mau menolongnya.
Akan tetapi Pangeran Zheng Liang sama sekali tidak menghiraukannya, seolah seorang Ling Qingxue tidaklah berarti bagi pangeran mulia seperti dirinya.
Seketika itu juga Ling Qingxue merasa dunianya telah hancur, dikhianati oleh dua sosok yang amat dikagumi dan disayangi –Jenderal Ling Guojin dan Pangeran Zheng Liang–. Hatinya benar-benar kecewa dan sakit.
Maka di hadapan orang-orang; para pelayan dan prajurit penjaga yang berbisik-bisik sambil melirik sinis, kedua kakaknya yang hanya diam menonton, serta ibu anak, Su Yinfei dan Ling Yaofei yang menyembunyikan senyum licik, Ling Qingxue dihukum.
Setiap cambukan yang dia terima menghantam tubuhnya dengan keras tanpa belas kasihan. Meninggalkan bekas luka yang begitu menyakitkan. Namun penghinaan hari itu lebih menyakitkan dari segalanya.
Ketika hari itu, Ling Qingxue belajar satu hal, cinta yang dia suguhkan kepada Pangeran Zheng Liang, kasih sayang yang dia berikan kepada keluarganya, sama sekali tidak berarti apa-apa.
Sama sekali tidak merubah pandangan jika dia adalah orang yang tidak berguna di mata mereka.
Ling Qingxue mengerjapkan matanya saat sampai di depan ruang jamuan, seolah dia baru terbangun dari ingatan masa lalu yang suram.
Dan kali ini amat berbeda, jantungnya tidak lagi berdebar-debar. Di matanya tidak ada lagi harapan kosong yang kerap membodohi pikirannya.
Ling Qingxue bukan lagi gadis bodoh yang mengemis cinta dan perhatian pada pria brengsek yang bahkan tidak melirik padanya.
Dia adalah Ling Qingxue yang baru....
★☆★☆
Ling Qingxue melangkah masuk ke ruang jamuan dengan ringan dan tenang. Sikapnya begitu anggun, menunjukkan aura putri bangsawan yang terpelajar, meski dalam balutan busana yang sederhana.
Begitu dia hadir di ruang jamuan itu, semua mata seketika tertuju kepadanya, terutama Putra Mahkota Zheng Liang dan Jenderal Ling Guojin.
Tanpa menaruh perhatian secara berlebihan, Ling Qingxue segera memberikan penghormatan kepada kedua orang itu. Suaranya terdengar kalem dan sopan, tapi tak ada muatan kekaguman seperti kehidupan lampau.
"Terimalah hormat hamba, Huang Tai zi! Salam hormat kepada Jiang jun Da ren!"
Pangeran Zheng Liang langsung dibuat terkejut heran atas sikap yang begitu tak biasa dari Ling Qingxue itu, kenapa dia begitu formal kepada ayahnya sekarang? Ini tidak biasa dia tunjukkan.
Jenderal Ling Guojin lebih terkejut heran lagi, kenapa putri kandungnya menganggapnya seperti orang lain sekarang? Apa ini trik baru gadis itu untuk menarik perhatiannya?
Tapi dia tidak mau membahasnya sekarang.
Sementara Ling Qingxue segera duduk di kursi tanpa menggubris tatapan heran semua orang. Dan ini yang membuat pikiran Pangeran Zheng Liang agak terganggu.
Biasanya, Ling Qingxue selalu berusaha mencari cara agar bisa duduk di dekatnya. Namun kali ini, bukan saja gadis itu duduk menjauh darinya, bahkan seperti tidak menghiraukannya, seolah-olah dia tidak penting, atau bahkan tidak dianggap.
Ada apa dengan gadis ini? Apakah dia marah atas peristiwa kecelakaan di danau tempo hari?
Namun Pangeran Zheng Liang segera menarik dirinya, tidak mau memikirkan tentang keanehan yang ditunjukkan Ling Qingxue kali ini terlalu lama, bisa jadi ini hanya trik murahannya untuk menarik perhatiannya.
Tak lama, orang-orang yang berada di meja makan menikmati hidangan mereka masing-masing, dengan pikiran yang sedikit terganggu dengan keanehan yang ditunjukkan Ling Qingxue.
Sedangkan Ling Qingxue tetap makan dengan tenang, menyuapi makanannya dari balik cadarnya, tanpa peduli jika orang-orang itu terkadang masih meliriknya.
Meski Jenderal Ling Guojin maupun Pangeran Zheng Liang mengalihkan perhatian dengan berbincang ringan, kadang-kadang.
Sedangkan Ling Yaofei dan ibunya, Su Yinfei terpaksa memendam kekesalan dan kebencian atas fenomena ini. Terpaksa menelan makanan masing-masing meski bagai menelan benda keras.
Dan Ling Yaofei sendiri, tentu saja dia amat tidak senang melihat Ling Qingxue duduk tenang seperti itu. Jelas-jelas sikap gadis itu sama sekali tidak menghiraukan kehadiran Pangeran Zheng Liang.
Ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, dia harus berbuat sesuatu. Tercetuslah ide licik dalam benaknya yang kotor, dengan maksud agar Ling Qingxue cemburu. Senyum licik yang tidak kentara tersungging di bibir merahnya.
Dengan senyum yang dibuat selembut mungkin, Ling Yaofei berdiri dari kurdinya, lalu meraih mangkuk sup yang ada di depannya dengan gaya anggun.
"Huang Tai zi," ucapnya penuh sopan santun tapi terkesan manja, "sup ini dibuat dengan bahan terbaik dari keluarga kami, sangat cocok untuk kesehatan dan kebugaran...."
"Izinkan hamba menuangkannya buat Anda!"
Semua orang mengalihkan tatapannya pada Ling Yaofei yang tampak penuh perhatian.
Ling Qingxue yang juga melihat hal itu, langsung tersenyum menyeringai dari balik cadarnya.
Akhirnya kau menggantikan posisiku di masa lalu! Kalau begitu aku juga akan menggantikan posisimu dengan senang hati!
Begitu Pangeran Zheng Liang mengangguk pelan sebagai tanda setuju, Ling Yaofei segera bangkit membawa mangkuk sup ke hadapan Pangeran Zheng Liang dengan penuh semangat.
Namun belum juga mangkuk sup dan Ling Yaofei sampai ke hadapan Putra Mahkota Zheng, Ling Qingxue sudah memainkan elemen anginnya, tanpa seorang pun yang menyadari.
Elemen angin padat tak terlihat itu seperti menjegal kaki belakang Ling Yaofei. Maka tanpa ampun dia langsung oleng ke depan, ke hadapan Pangeran Zheng Liang dengan terkejut.
Selanjutnya, terjadilah apa yang tidak diinginkan terjadi.
Mangkuk sup itu langsung terlepas dari tangan, melayang sedikit terbalik. Lalu kejap berikut, air sup yang masih cukup panas langsung menimpa jubah mewah nan mahal Pangeran Zheng Liang tanpa dapat dicegah.
Sedangkan mangkuk yang sudah kosong itu jatuh di meja depan Pangeran Zheng Liang dengan menimbulkan suara yang hampir mencopotkan jantung. Sementara Ling Yaofei jatuh terduduk ke lantai dengan amat menyedihkan.
Saat itu juga seisi ruangan langsung terpendam dalam ketegangan yang tinggi. Semua orang menatap Ling Yaofei dengan ekspresi rumit.
Jenderal Ling Guojin menatap tajam pada Ling Yaofei dengan ekspresi mengeras. Ling Yujian dan Ling Yuchen menatap tidak percaya pada adik mereka, kenapa bisa seceroboh itu. Su Yinfei memandang panik dan gelisah pada anaknya, tidak tahu nasib apa yang akan menimpanya nanti.
Sedangkan Ling Yaofei, wajahnya tentu saja sudah pucat. Kepura-puraannya seketika runtuh saat itu juga, kepalanya tertunduk dalam seolah tak sanggup memandang Putra Mahkota Zheng.
Sementara Ling Qingxue, tampak hanya duduk tenang di tempatnya sambil menikmati hidangan dengan elegan. Tapi di balik cadarnya tersungging senyum kecil, senyum kepuasan atas kesialan yang menimpa Ling Yaofei.
Lalu bagaimana dengan reaksi sang Putra Mahkota Zheng, Pangeran Zheng Liang?
★☆★☆★
luph byk2 buat km Ling er ,,
pgen tak HI'IH tuh guru Bing ,,
awas jgn melongo yx kalo nanti Ling qingxue menang😏😏😏😏😏
kak kalau berkarya jangan jiplak dong😡
Author; Yulianti Aziz.
Dari banyaknya ide di dunia ini, coba deh kamu kreatif, jangan plagiat punya orang, terus kamu modifikasi.
Uang yang didapat gak akan berkah pun hasilnya gak seberapa, apa gak takut ke makan keturunan mu?
udh pada iri dan heboh ,, gmn nanti kalo Ling quexue nunjukin kekuatan elemen ny ,,