NovelToon NovelToon
PELET LAKNAT 2

PELET LAKNAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.

Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.

Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.

PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CAKARAN DAN PELARIAN

# PELET LAKNAT 2

## Bab 23: Cakaran dan Pelarian

Sepanjang sore hingga petang, Jaka mengurung diri di kamar, menghitung mundur waktu sambil sesekali mengintip dari jendela memastikan langit benar-benar gelap. Rencana mencuri ayam cemani itu terus berputar di kepalanya—kali ini ia bertekad tidak boleh gagal lagi.

Begitu jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam, Jaka menyudahi mantra malam itu seperti biasa. Ia melipat kertas kain hitam pemberian Mbah Usman, menyelipkannya ke bawah bantal, lalu duduk diam sesaat di tepi ranjang sambil menatap jendela kamarnya yang gelap.

Satu jam lagi.

Ia berganti pakaian serba hitam—kaus lengan panjang lusuh dan celana training yang sudah luntur warnanya—lalu menyambar karung goni bekas dari balik lemari. Tangannya sempat berhenti di gagang pintu, menimbang sesaat, sebelum akhirnya menghela napas dan melangkah keluar tanpa menyalakan lampu.

Pukul sebelas malam, Jaka sudah berdiri di balik pagar bambu rumah panggung tua itu, jantungnya berdegup kencang mengikuti tiap embusan angin yang menggoyang dedaunan. Ia mengintip dari sela pagar—ayam cemani itu masih di sana, bertengger diam di atas dahan kecil dekat kandang, kepalanya terselip di bawah sayap.

"Ayo, Yam... jangan berisik," bisik Jaka nyaris tanpa suara, tangannya perlahan mendorong pagar bambu yang sedikit renggang.

Ia menyelinap masuk pelan-pelan, tubuhnya membungkuk rendah, tiap langkah ia uji dulu sebelum menapak penuh—takut ranting kecil berbunyi. Karung di tangan kirinya ia buka lebar, tangan kanannya terulur pelan ke arah ayam yang masih terlelap.

Dalam satu gerakan cepat, tangannya menyambar tubuh ayam itu dan langsung membekap paruhnya erat-erat dengan telapak tangan kirinya sebelum sempat berkotek.

"Diam... diam, jangan berisik," desis Jaka, jantungnya berdegup kencang menahan ayam yang meronta-ronta di dekapannya. Ia buru-buru memasukkan tubuh ayam itu ke dalam karung, namun tangannya tetap mencengkeram bagian leher lewat kain karung, tak berani melepas bekapan sedikit pun.

Baru saja ia hendak berbalik, sikunya tanpa sengaja menyenggol ember logam di sudut pekarangan.

PRANG!

"Ada orang! Maling! Maling ayam!" teriak suara dari dalam rumah, disusul suara langkah kaki terburu-buru dan pintu yang dibanting terbuka.

Jaka tak sempat berpikir dua kali. Ia mendekap karung berisi ayam itu erat-erat ke dadanya dan lari sekencang-kencangnya menembus gelapnya pekarangan, melompati pagar bambu dengan sekali gerakan kasar hingga celananya robek di bagian lutut.

"Di sana! Kejar!" teriak suara lain, disusul suara peluit tanda bahaya yang ditiup nyaring, membangunkan seisi kampung.

Jaka berlari membabi buta menembus kebun singkong, tak peduli daun dan ranting yang menyabet wajah dan lengannya. satu tangan tetap memeluk erat karung ke dadanya yang berguncang-guncang, jari-jarinya tetap menahan paruh ayam itu lewat kain agar tak sempat berkotek. Suara obor dan senter mulai bermunculan dari berbagai arah di belakangnya, teriakan warga saling bersahutan memecah malam.

"Ke arah sana! Aku lihat bayangannya lari ke selatan!"

Napas Jaka memburu putus-putus, dadanya seperti terbakar, namun kakinya terus memaksa berlari. Di tengah kepanikan itu, matanya menangkap sebuah parit selebar dua meter di ujung kebun, dipenuhi semak belukar liar yang tumbuh rimbun menutupi permukaannya.

tanpa sempat berpikir dua kali, Jaka melompat ke dalamnya.

BYUR!

Tubuhnya tenggelam setengah badan ke dalam air parit yang keruh dan dingin, bau lumpur busuk langsung menyeruak masuk ke hidungnya. Ia menahan napas, merunduk serendah mungkin di antara rimbunnya semak, satu tangan tetap mendekap karung ke dadanya, jari-jarinya tak berani mengendurkan cengkeraman pada paruh ayam yang masih meronta lemah di dalam sana.

Suara langkah kaki dan cahaya senter mulai mendekat, menyapu ke kanan dan kiri tepat di atas kepalanya.

"Ke mana perginya? Tadi jelas ke arah sini!"

"Coba periksa parit itu!"

Jantung Jaka serasa berhenti. Ia menahan setiap tarikan napasnya, matanya terpejam setengah, berdoa dalam hati agar rimbunnya semak cukup untuk menyembunyikan tubuhnya sekaligus karung di dekapannya. Cahaya senter menyapu tepat di atas rimbunan daun tempatnya bersembunyi, sesaat, dua saat—lalu bergerak menjauh.

"Kosong, Kang! Mungkin sudah kabur jauh."

"Ya sudah, kita cari ke arah jalan besar saja!"

Langkah dan cahaya itu perlahan menjauh, disusul suara obrolan warga yang mulai memudar ditelan jarak. Jaka masih tak berani bergerak barang sesenti pun, tubuhnya membeku kaku di dalam air dingin selama beberapa menit lagi, memastikan benar-benar aman sebelum akhirnya perlahan bangkit berdiri.

Ia meraba karung di dekapannya—masih ada, masih bergerak lemah di dalam sana. Ada rasa lega yang menjalar di dadanya. Dengan tangan yang masih gemetar sisa lari, ia merogoh ponsel dari saku celananya yang basah kuyup, lalu menyalakan senter kecilnya untuk memastikan keadaan sekelilingnya aman.

Cahaya putih itu menyapu ke bawah, ke arah lengannya sendiri—

Dan seketika tubuhnya membeku kaku.

Sesuatu yang hitam, licin, menggeliat pelan menempel di kulitnya. Bukan satu, bukan dua—belasan lintah gemuk menempel di sekujur lengan, betis, dan lehernya, sebagian sudah membesar penuh darah.

"Sialan... najis banget, anjir!" desis Jaka, suaranya tercekat antara jijik dan geram, tangannya bergerak liar mencabuti satu per satu makhluk licin itu dari kulitnya. Ia meludah berkali-kali menahan mual. Setiap kali satu lintah berhasil dilepas, bekas gigitannya mengucurkan darah tipis yang mengalir turun membasahi kulitnya.

"Kenapa sih, hidup aku harus serepot ini cuma buat dapetin satu cewek..." gerutunya lirih, lebih kepada dirinya sendiri, sambil terus mencabuti lintah terakhir yang menempel di betisnya.

Sementara Jaka berjuang melepaskan diri dari parit itu, di tempat yang tak jauh dari sana, Kiki menghadapi bahaya yang jauh lebih mengerikan, malam itu Kiki tak bisa memejamkan mata sedetik pun.

Ia duduk bersandar di kepala ranjang, lampu kamar sengaja dibiarkan menyala terang, kedua lututnya ditekuk ke dada seperti anak kecil yang ketakutan. Sejak kejadian di dapur beberapa hari lalu, ia tak lagi berani tidur dalam gelap.

Namun malam ini terasa berbeda. Udara di kamarnya terasa lebih berat dari biasanya, seolah menekan dari segala arah.

"Tenang, Ki... tenang. Cuma perasaanmu saja," gumam Kiki pada dirinya sendiri, kedua tangannya mencengkeram ujung selimut erat-erat, jempolnya mengusap kain itu berulang-ulang seperti mencari sesuatu untuk dipegang.

Tiba-tiba, lampu kamar berkedip sekali—lalu padam total.

Kegelapan menelan seisi ruangan.

"L-lampunya...?" bisik Kiki, suaranya nyaris tak terdengar. Ia meraba-raba mencari saklar di dinding, namun jarinya justru menyentuh sesuatu yang dingin dan basah di udara kosong—seperti embusan napas yang bukan miliknya.

Lalu ia merasakannya.

Sebuah sensasi tajam menyayat kulit di dadanya, seperti empat kuku panjang yang ditarik perlahan dari bahu ke arah dada.

"AKH!"

Kiki menjerit, tubuhnya terlempar ke samping ranjang. Ia meraba dadanya sendiri dalam gelap—ada sesuatu yang basah dan hangat merembes di sana, tapi ia tak bisa memastikan apa itu. Tangannya gemetar meraba-raba seprai di sekitarnya, mencari ponsel yang entah terjatuh ke mana.

Jarinya akhirnya menyentuh benda persegi dingin itu di sela bantal. Dengan napas tertahan, ia menekan tombol samping, menyalakan senter kecil di layarnya.

Cahaya biru pucat menyoroti tangannya sendiri lebih dulu—merah, basah, mengkilau.

Darah.

Kiki mengarahkan cahaya itu ke dadanya: tiga goresan panjang membentuk pola cakaran, memerah dan mengucurkan darah tipis dari balik kausnya yang robek. Ia menyoroti lengan dan kakinya sendiri; luka serupa juga ada di sana, seolah sesuatu telah mencakarnya dari berbagai sisi sekaligus.

"Tidak... tidak mungkin..." Kiki terisak, punggungnya menempel erat ke dinding, matanya menyapu liar setiap sudut kamar yang gelap, cahaya ponsel di tangannya bergetar mengikuti napasnya yang tak beraturan.

Di sudut ruangan, tepat di balik lemari pakaiannya, sepasang mata merah menyala perlahan terbuka dari kegelapan—diam, mengawasi, tanpa berkedip.

Kiki tak berani berbalik menatap. Ia hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat, bibirnya bergetar merapal apa pun yang bisa ia ingat—doa, mantra, apa saja—berharap kegelapan itu segera pergi sebelum cakaran berikutnya datang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!