Sungguh tidak menyangka bagi dokter Rembulan. Ia akan mendengar permintaan aneh dari Mentari sahabat sekaligus pasiennya yang sudah dia tangani selama satu tahun. Mentari meminta untuk menjadi ibu bagi Talita. Menjadi ibu tiri anak Mentari berarti Rembulan harus menikah dengan Bintang suami sahabatnya.
Jelas Bintang suami Mentari menolak dengan tegas.
"Tolonglah Mas, Demi anak kita, aku sudah tidak kuat lagi."
"Sayang... jangan berpikir yang aneh-aneh, kamu akan sembuh dan kita akan hidup bahagia selamanya."
Apakah Bulan akhirnya menyanggupi permintaan Mentari? Lalu bagaimana tanggapan Bintang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Tanpa mengalirkan satu kata pun sebagai pembuka, Mega memperlihatkan handphone yang pagi tadi Bintang belikan, untuknya.
"Apa ini Mah? Handphone yang aku beli tadi tidak bagus?" Tanya Bintang masih belum menyadari.
"Lihat baik-baik Bintang!" Sentak Megawati, meletakkan handphone di ranjang sebelahnya dengan sedikit membanting, tepat di hadapan Bintang.
Bintang mengangkat benda yang sudah mati dengan sendirinya, kemudian aktifkan lagi. Video dirinya saat tidur siang tadi berputar dengan jelas.
"Maulana Aiden Bintang, seorang pengusaha tertangkap sedang selingkuh dengan seorang wanita yang diduga dokter pribadi istrinya yang sedang sakit keras. Bahkan perbuatan tersebut dilakukan di rumah itu juga."
Begitu tulisan dalam video tersebut.
Bintang lantas menatap Mega di hadapannya, tangis kecil sang mama terdengar, karena video itu mampu membakar habis rasa bangganya sebagai seorang ibu yang ia kira berhasil mendidik putra satu-satunya. Tapi Mega merasa dibohongi dan dilempar kotoran oleh anaknya sendiri.
Bintang melanjutkan menonton video dirinya yang tengah tidur memeluk Bulan telah beredar dan dibanjiri komentar negatif dari nitizen. Video tersebut telah diunggah oleh akun yang bernama "Venus" tentu saja Bintang sudah tahu siapa pelakunya..
"Spil wajah pelakor itu dong!"
"Pelakor tidak tahu diri."
"Ih, kasihan istri Bintang ya, mana lagi sakit pula!"
Begitulah dari sekian ribuan komentar, untung saja wajah Rembulan tidak terlihat, setidaknya istrinya itu tidak akan semakin marah kepadanya.
"Apa yang kamu lakukan di belakang Mentari, Bintang?!" Tanya Mega menatap Bintang gusar. Dadanya panas menjaga emosi yang berusaha ia tahan agar tidak meledak di ruang rumah sakit itu.
"Anu, Mah," Bintang bingung untuk memulai menjelaskan yang sebenarnya.
"Mama tidak pernah mengajarimu untuk menjadi laki-laki yang tidak bertanggung jawab Bintang! Kamu curangi Mentari saat dia sedang tidak berdaya," ucap Megawati sambil menyusut air mata. Rasa kecewa dan syok tampak di wajah tuanya.
Bintang tertegun, bibirnya terbuka hendak mulai bicara setelah matikan handphone, tetapi Mega tidak memberinya ruang untuk bersuara.
"Kamu punya istri! Mentari itu istri sahmu, wanita yang sudah menyerahkan seluruh hidupnya untuk kamu, bahkan dengan tulus merawat dan mendampingi kamu!" Mega menunjuk dada Bintang dengan telunjuknya yang gemetar. "Tega-teganya kamu mengkhianati Mentari hanya demi wanita lain? Di mana otak dan hatimu, Bintang?!" sarkas Megawati.
Rasa kecewa itu merebak menjadi usapan kasar di wajah Mega. Mengingat bagaimana Bintang dulu melamar Mentari, wanita lembut yang bukan hanya sayang kepada Bintang, tapi juga menyayangi dirinya lebih dari Ratih, tapi kenapa Bintang tega?
"Bunuh saja Mamamu ini, Bintang. Mama merasa gagal mendidik kamu jadi pria yang bertanggung jawab. Saat kamu berani bermain dengan wanita lain, tidakkah mengingat wanita yang melahirkan kamu? Ibu ini seorang wanita yang tahu seperti apa perasaan menantuku yang kamu khianati. Jika tidak bisa menghargai pernikahanmu sendiri, setidaknya jangan pernah injak-injak harga diri Mentari. Mama tidak akan pernah membela kamu dalam kebejatan ini."
Mega memalingkan wajahnya, enggan menatap putra kandungnya sendiri, meninggalkan Bintang dalam keheningan yang menghimpit di antara dinginnya dinding kamar rawat inap.
Bintang diam sejenak sebelum akhirnya menceritakan kejadian yang sebenarnya. Saat Mentari memaksa dirinya untuk menikah lagi karena merasa sudah tidak sanggup lagi membesarkan Talita.
"Wanita itu, istri aku Mah," lirih nya di akhir cerita.
"Mama tidak percaya, mana ada istri menyuruh suaminya menikah lagi, walau bagaimana keadaannya. Pengakuan kamu itu hanya alasan untuk membela diri di depan Mama!" Mega memotong.
Bintang tidak lagi bicara, jika hati mama sudah lebih dingin nanti, ia akan menceritakan semuanya. Hingga jam terus berjalan dan berganti malam, Bintang menjaga Mega, mencoba memberi perhatian. Namun, Alih-alih menerima Mega justru mendiamkan dirinya. Jika ke kamar mandi memilih di temani perawat daripada Bintang. Bintang hendak menyuapi pun lagi-lagi Mega memilih makan sendiri.
"Ini gara-gara Sherly sialan itu!" Gumamnya lalu memutuskan untuk pulang.
*******
Di tempat yang berbeda, Bulan baru saja menemani Lita belajar, kemudian pindah ke kamar sendiri untuk istirahat. Di tempat tidur, ia memeriksa handphone yang sejak pagi tidak ia lihat. Namun, Betapa terkejutnya saat melihat video dirinya sudah disebarkan.
"Ini pasti kerjaan Sherly!" Dengus Bulan, seketika bangkit dari tempat tidur mengikat rambut panjangnya. Dia semakin marah kepada Bintang, kenapa pria itu tidak bisa bersikap tegas kepada Sherly? Apakah karena Sherly adik wanita yang ia cintai lantas membiarkan saja meskipun berbuat salah?
Dengan dada bergemuruh oleh emosi yang membakar. Langkah kaki Bulan menyusuri koridor rumah yang sudah sepi, menuju pintu kamar Sherly. Dia mengetuk pelan masih menjaga kesopanan karena Sherly bersama ibunya.
Tidak lama kemudian Ratih menyembulkan wajahnya dengan tatapan sinis.
"Mau apa kamu?! Lancang!" Tanyanya membentak.
Bulan tidak menjawab, lalu mendorong pintu tersebut hingga terbuka lebar, mengejutkan Sherly yang sedang santai berkaca di depan meja riasnya.
"Eh, mau apa kamu? Berani masuk ke kamar kami?!"
"Hapus video itu sekarang juga, Sherly!" tegas Bulan tidak takut lagi. Matanya menatap tajam, tidak mampu lagi menyembunyikan kekesalan yang sudah memuncak.
Sherly memutar tubuhnya perlahan, menyunggingkan senyum tipis yang terkesan meremehkan. Tanpa dosa, ia memandangi wajah Bulan yang tampak memerah.
"Seharusnya kamu senang, karena Video kamu sama Bintang Viral? Hahaha Kenapa harus dihapus? Bukannya rekaman itu kelihatan bagus banget?" Sherly melempar pertanyaan bertubi-tubi dengan mimik meledek.
"Terus apa untungnya kamu menyebarkan video ini?!" bentak Bulan seraya melangkah mendekat. Ia mengepalkan tangannya di samping Sherly menahan diri agar tidak lepas kendali.
Sherly menyilangkan kedua tangannya di dada, lalu bersandar santai pada tepi meja. Ia menikmati reaksi emosional dari Bulan yang sudah dia nanti sejak siang. Inilah yang ia harapkan, Bulan merasa tidak betah lalu pergi dari rumah ini.
"Hapus video itu, atau saya akan laporkan kamu karena sudah melanggar undang-undang ITE," ancam Bulan.
"Berani-beraninya kamu! Mengancam anak saya, keluar kamu!" usir Ratih mendorong tubuh Bulan keluar kamar.
Bulan tetap berdiri berpegangan kusen pintu, belum mau keluar sebelum urusannya dengan Sherly selesai.
"Ibu jangan membela Sherly, anak ibu sudah menyebarkan video tanpa izin," Bulan menahan kesal. Orang tua mana yang membiarkan anaknya berbuat jahat seperti wanita di hadapannya.
"Biar dunia tahu, kalau kamu itu dokter gadungan yang merusak rumah tangga orang!" Tuduh Ratih menunjuk wajah Bulan.
"Saya bukan perusak rumah tangga orang Bu, tapi perlu Ibu tahu. Saya istri Bintang, bahkan Mentari sendiri yang menjodohkan kami," Bulan akhirnya mengakui karena tidak mau dicap wanita penggoda suami orang.
"Hahaha..." Ratih dan Sherly tertawa lebar, ia pikir Bulan terobsesi ingin menjadi istri Bintang hingga halu.
"Keluar...!" Paksa Ratih, tapi Bulan justru mengeratkan berpegangan.
"Saya tidak akan keluar sebelum Sherly menghapus Video, Bu!"
"Gue akan menghapus Video ini asal loe pergi dari sini malam ini juga!" Usir Sherly.
"Baik, saya akan pergi, tapi saya harus pastikan dulu, kamu benar-benar hapus video di depan saya saat ini juga. Satu lagi, kamu juga harus klasifikasi bahwa saya bukan wanita seperti yang kamu tuduhkan!" Bulan diam di tempat, memastikan bahwa Sherly benar-benar melakukan yang ia perintahkan.
"Hapus Sherly!" Ratih mengedipkan mata, berharap Sherly melakukan itu, ia tidak ingin Bulan tinggal di rumah ini lebih lama, dengan begitu akan lebih mudah menguasai Bintang dan hartanya.
Sherly akhirnya menghapus Video tersebut, selanjutnya membuat klasifikasi. Tangannya mengetik dengan cepat, yang terakhir menghapus Video di galeri sesuai permintaan Bulan.
"Sherly sudah menepati janji bukan? Sekarang giliran kamu angkat kaki dari rumah ini!" Desak Ratih.
Bulan balik badan hendak pergi dari rumah itu. Namun, belum sempat melangkah, tubuh tinggi menghalangi.
"Tidak ada yang bisa mengusir Bulan dari rumah ini, karena Dia istriku. Sebaliknya, kalian yang seharusnya pergi!" Bintang menatap mertua dan adiknya tajam.
...~Bersambung~...
hrus nya mentari juga jujur dari awal klau bulan istri ke dua binta⭐biar tu mulut duo keong racun diem 😡
Gak abis² beritanya sampe sekarang juga, udah berapa bulan itu berlangsung
Kamu jangan meremehkan jagat maya Bintang karena efek psikologisnya mengena pisan terutama ke korban
Meremehkan netizen, menganggap sepele udah dihapus, selesai dalam pikiran Bintang yang masa bodo
Gak mikir efek psikologis Bulan, Mentari, anaknya & ibu kandung Bintang sendiri
Pret lah Bintang, kau anggap remeh kekuatan nitezen tanpa memikirkan psikologisnya
Secara Bintang tuan rumah, mudah baginya untuk mengusir mertua & afik ipar meski masih berstatus suami Mentari
Tapi gimana lagi 🤷♀️
memang dibuat bodoh & masa bodo agar tetep salah paham antara mertua, ipar, istri kedua & orang tua kandung Bintang sendiri
Sabar aja nunggu episode selanjutnya yang bikin viral nama Bulan ancur karena narasi kejelekan² dari Sherly & Ratih
dimata siapapun bukan diposisi yg salah. orang awam gk akan percaya kalo semua itu istri pertama yg meminta.. mau dijelaskan gimanapun dimata netizen Bulan seorang pelakor..
kasian juga sich sebenarnya.. 😌😌