Update santai sesuai mood Othor 😋
Di rumah dia hanyalah ibu rumah tangga biasa, wanita lembut yang sayang anak dan cekatan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Namun, bagaimana bila ternyata dia menyimpan rahasia yang tak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
#33
Penerbangan yang panjang dan melelahkan itu pun berakhir, Lizie tersenyum saat menarik nafas dan mencium aroma Jakarta yang sangat ia rindukan.
Bukan hanya kotanya, hiruk pikuknya, tapi ada orang-orang yang menantinya, ada orang-orang yang menyayanginya. Dan yang paling penting, kota ini tempat ia membangun hubungan pernikahan harmonis dengan pria pertama yang mampu mencuri hatinya. Pria yang selalu membuatnya merasa lengkap, sebagai wanita, sebagai istri, dan sebagai ibu dari putrinya. Zion Alexander.
Pria itu sedang berjalan di sisinya, tangan kirinya mendorong trolley barang mereka, sementara tangan kanannya menggandeng mesra lengan istrinya. “Masih kuat berjalan sampai ke depan, kan?”
Lizie manyun, “Kamu pikir aku se lemah itu?!” katanya galak.
“Ah, sudah kembali ke setelan awal rupanya,” ledek Zion.
Tak disangka gurauan kecil itu membuat keduanya tertawa bahagia. “Aku tak sabar sampai kembali di rumah kita,” sambung Zion.
“Hmm, sama. Aku juga rindu rutinitas kita setiap hari.”
Sepuluh menit kemudian mereka tiba di pintu keluar, Zion hanya minta dijemput sopir, karena tak ingin membuat kehebohan. Apalagi hari sudah hampir tengah malam saat mereka tiba, pastinya sudah bukan jam yang ramah bagi anak-anak untuk mendatangi airport.
Kedatangan mereka memang dirahasiakan, sebagai kejutan untuk Zea. Sayangnya tak ada oleh-oleh karena negara yang mereka datangi bukanlah tempat wisata, melainkan area yang menyerupai peperangan.
•••
Mereka tak langsung pulang ke rumah, melainkan mendatangi Geraldy Kingdom, karena para tetua sedang menanti kedatangan mereka, guna memastikan sendiri bahwa benar menantu mereka sudah kembali sehat seperti sedia kala.
Dari gerbang utama Geraldy Kingdom, mobil melintasi jalanan lurus menuju ke bangunan utama. Rumah, sekaligus markas besar anak, cucu, dan cicit Alexander Geraldy itu masih berdiri megah, kini halaman semakin diperluas, guna memperbanyak area terbuka hijau, serta menyumbang kelangsungan atmosfer dunia.
“Tempat ini luas dan besar, tapi aku tak pernah bosan memandang dan mendatanginya,” gumam Lizie saat mobil melintasi area berkuda.
“Sama, apalagi aku lahir dan dibesarkan di tempat ini. Kemanapun aku pergi, aku selalu merindukan tempat ini, sayangnya aku belum tak sempat bertemu opa dan oma buyut. Seandainya sudah pernah bertemu, tentu aku akan semakin merindukan mereka,” kenang Zion.
Lizie menggenggam tangan suaminya, dan mengusapnya pelan. “Semoga kita juga bisa menghadirkan kenangan tak terlupakan untuk anak cucu kita kelak.”
Zion mengangguk.
Tak lama kemudian mobil berhenti di ruangan depan, tempat para tamu transit sejenak sebelum masuk ke pintu utama bangunan.
Mommy Dhera segera berdiri saat melihat kedatangan mobil yang menjemput Zion serta istrinya. Saat sudah berhadapan dengan Lizie, wanita itu langsung memeluk sang menantu.
“Kenapa nekat pergi, padahal Mommy sudah melarangmu, apa karena Mommy ini bukan ibu kandungmu, hah?!” omel Mommy Dhera, dan seharusnya Lizie yang menangis setelah mendengar omelan sang mertua. Tapi tidak, saat ini justru Mommy Dhera yang menangis menyesal, karena belum mampu menjaga menantunya dengan baik.
“Maafkan aku, Mom.”
“Ditolak! Permintaan maafmu ditolak! Kecuali—”
Lizie terkejut, “Kecuali apa, Mom?”
“Kasih Mommy banyak cucu, biar kamu tak bisa pergi seenaknya.”
Tak disangka, jawaban asbun itu membuat semua orang tertawa. “Mommy, aku kira kenapa.” Wajah Lizie merah padam.
“Tenang saja, Mom. Sedang diprogram, sayangnya belum jadi.”
Plak!
Mommy Dhera tiba-tiba memukul lengan Zion.
“Karena kamu juga, sih!”
Zion meringis mengusap bahunya yang terasa pedas. “Kok, aku, sih?”
“Ya coba kamu gak sibuk, dan gak sering pulang malam, pasti kecebongmu sudah jadi berudu.”
Tawa semua orang kembali meledak. “Sudah, sudah, ayo masuk, dan segera istirahat, angin malam tak baik untuk kesehatan,” ajak Papi Daniel, menggiring semua orang untuk masuk ke kamar masing-masing.
•••
Setelah mandi dan bersih bersih, Zion kembali mengoles obat ke bekas luka Lizie, sudah kering, tapi obat harus tetap diberikan agar luka benar-benar sembuh maksimal. Baru kemudian mereka berbaring dengan Zea berada diantara mereka, tadi saat Lizie membersihkan diri, Zion memindahkan Zea dari kamar orang tuanya.
Lizie menciumi wajah dan pipi Zea yang terlihat agak tirus, “Maafkan Mama, Sayang,” bisiknya pelan, takut membangunkan Zea yang sudah terlelap dalam mimpinya.
“Papa juga minta maaf, ya,” ucap Zion yang juga sama-sama merasa bersalah pada putrinya. Tangannya mengusap dan membelai pipi lembut Zea, lalu beralih mengusap kepala Lizie.
“Tidurlah, kita sudah aman, jangan memikirkan apa-apa lagi.”
“Hmm, terima kasih, Sayang, karena sudah memberi kami rasa aman,” ucap Lizie, lalu merebahkan kepalanya di lengan Zion, dengan begini, Zion bisa memeluk dua wanita yang paling ia cintai setelah Mommy Dhera.
Malam semakin larut, mengistirahatkan jiwa-jiwa yang lelah setelah berjibaku sepanjang siang. Esok pasti datang, membawa suasana baru, harapan baru, dan rezeki yang baru pula.
•••
Disisi lain, terdengar suara lengkingan suara sirine mobil pemadam kebakaran, rescue team 919 sedang berlomba dengan sang waktu, menuju lokasi kebakaran. Di belakang mobil pemadam kebakaran, mobil ambulance dan mobil patroli polisi sedang mengikuti.
Seseorang menelpon, melaporkan kebakaran yang kini sedang menghanguskan sebuah bangunan rumah. Belum diketahui apakah ada unsur kesengajaan atau tidak, yang jelas terdengar suara gaduh pertengkaran sepasang suami istri sesaat sebelum api mulai membesar.
Jalan utama dan rumah cukup jauh, hingga petugas pemadam kebakaran harus mengulur selang panjang mereka hingga tiba di lokasi kebakaran.
Zira membawa tas perlengkapan medis untuk pertolongan pertama, berjalan cepat mengikuti langkah kaki Nagara. Sementara Zain masih membantu petugas damkar mengulur selang pemancar air.
Para warga sudah berkerumun di luar rumah, mereka membawa barang-barang berharga untuk berjaga-jaga, khawatir api akan merembet ke rumah warga yang lain. Disisi lain, banyak pula warga yang mulai bergotong royong melakukan upaya pemadaman secara manual, demi mencegah api menyebar.
Setelah selang mencapai sumber api, Nagara mulai menyemprotkan air, sementara Zira mengevakuasi para korban yang terdampak kepulan asap. “Apakah ada lagi yang butuh pertolongan?” tanya Zira memastikan tak ada lagi yang membutuhkan pertolongan.
Syukurlah tak ada korban jiwa, tapi Zira melihat wanita pemilik rumah yang sedang duduk memandangi bangunan rumah yang kini telah hangus terbakar. “Kenapa, Bu? Apakah Ibu tahu dari mana api berasal?”
Wanita paruh baya itu menggeleng, “Aku dan suamiku sedang bertengkar, namun, tak lama kemudian api sudah membakar atap rumah kami.”
“Jadi api itu datang secara tiba-tiba?” tanya Zira.
Wanita itu kembali mengangguk. Dari tempat Zira berdiri, ia melihat Zain sedang berbincang serius pada beberapa warga.
Beberapa saat sesudahnya, salah seorang tetangga pemilik rumah mendekati Zira. “Bu, kalau saya boleh bilang, jangan mudah percaya dengan omongan wanita itu,” bisiknya, cukup mengherankan memang, namun kemudian wanita orang itu menambahkan.
“Suaminya pecandu alkohol, dan pertengkaran mereka bukan hanya terjadi kali ini. Tapi sudah terlampau sering.”