NovelToon NovelToon
Kepincut Cinta Mas Duda

Kepincut Cinta Mas Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Duda / Bad Boy
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: AzZura02

Kehidupan kampus Sheyra selalu berjalan lancar dan tenang sebelum ia bertemu pria menyebalkan bernama Alvaro. Alvaro adalah seorang duda anak 1 yang tinggal berdua dengan anaknya. Di mata Sheyra, Alvaro merupakan pria berhati dingin, egois, dan jahat. Namun pandangan itu seketika runtuh ketika Sheyra melihat sisi lain Alvaro ketika bersama anaknya.

Takdir seolah membawa mereka untuk terus bertemu dan bertemu. Hingga akhirnya membuat cinta tumbuh di antara keduanya. Namun jatuh cinta tidaklah mudah. Masalah demi masalah selalu datang untuk menguji kekuatan cinta mereka.

Mulai dari Alvaro yang minder dengan statusnya, Sheyra sang pencemburu buta, seseorang dari masa lalu, restu keluarga hingga trauma berat Alvaro atas kematian istrinya.

Akankah keduanya bisa mengatasi permasalahan tersebut demi mempertahankan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzZura02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23 - Memanggilmu

“Apa?! Jadi besok kalian mau ngedate?” tanya Keisha tak bisa menutupi keterkejutannya.

Sheyra mengangguk pelan. Ia merasa lega, syukurlah Keisha berhenti menginterogasinya tentang Alvaro. Tandanya ia berhasil mengalihkan perhatian sahabatnya itu.

“Lo udah nyiapin besok pake baju apa? Sini biar gue bantuin. Pokoknya besok lo harus tampil cantik banget biar Randy terpesona hahaha.” celoteh Keisha antusias.

Sheyra melihat Keisha dengan tatapan heran. Padahal yang mau ngedate adalah dirinya, tapi sepertinya Keisha jauh lebih antusias akan hal ini. Sheyra berjalan menuju lemari pakaiannya. Ia mengambil sebuah baju yang sudah ia persiapkan tadi dan menunjukkannya kepada Keisha agar gadis itu berhenti penasaran.

Keisha memangku dagunya tampak berpikir sebelum kemudian ia berkomentar, “Hmm, kayaknya kurang cocok deh. Cari yang lebih feminim kenapa sih Sheyyy.” keluhnya.

“Feminim gimana? Liat nih sweaternya udah warna pink. Kurang feminim apa coba?!” protes Sheyra.

Keisha memutar bola matanya kesal, “Maksudnya pakai dress atau rok gitu lah. Cowok bakal suka kalo lihat ceweknya berpenampilan feminim. Coba pilih dress yang lucu. Pasti bakal cantik banget.” jelas Keisha panjang lebar.

“Ceweknya? Heyyy gue belum jadian ya sama si Randy.” koreksi Sheyra cepat. “Dan juga, lebih nyaman pakai celana jeans daripada pakai rok atau dress.” sanggah Sheyra.

Sheyra mengangkat baju pilihannya dan menyodorkannya kepada Keisha agar temannya itu melihat bajunya lebih dekat. “Lagipula gue mau pake baju apa aja tetap cantik.” ujar Sheyra sembari terkekeh.

Keisha tertawa kecil, ia mencubit pipi Sheyra gemas. “Iya iya cantikk! Terserah deh mau pakai baju apa.” katanya pasrah.

Sheyra tersenyum melihat respon Keisha. Ia kembali memasukkan bajunya ke dalam lemari kemudian ia duduk di pinggir kasurnya. Keisha ikut menyusul duduk di samping Sheyra.

Keisha menatap Sheyra dengan penuh harap, “gue harap pdkt kali ini berhasil ya. Gue bisa jamin Randy itu cowok baik-baik.” katanya meyakinkan.

Sheyra mengangguk, “Kita lihat nanti aja ya Kei.”

Beberapa detik kemudian terdengar suara dering dari handphone milik Keisha. Suara itu berhasil memecahkan fokus mereka berdua. Keisha segera mengambil handphonenya untuk menerima panggilan telepon. Keisha berjalan agak menjauh dari Sheyra untuk menerima panggilan telepon tersebut. Ia terlihat sedang berbicara dengan serius tapi sesekali tertawa kecil.

Sheyra sesekali memperhatikan Keisha dari kejauhan sambil sibuk dengan handphone yang ada di tangannya. Ia membalas chat yang dikirimkan oleh Randy. Sejauh ini Sheyra memandang Randy sebagai cowok yang baik dan menyenangkan. Ia sama sekali tidak memiliki kesan buruk terhadap cowok itu. Oleh karena itu Sheyra tidak berpikir panjang saat Randy mengajaknya bertemu untuk kedua kalinya.

Keisha menghampiri Sheyra. Ia mengambil tasnya dan berkata, “Shey, tadi orang tua gue telepon. Katanya mereka udah di rumah. Gue pamit mau pulang dulu ya.” pamit Keisha.

“Oh gitu yaa. Gue pesenin ojek online ya biar ga jalan kaki.” ujar Sheyra inisiatif.

Keisha segera menolak cepat, “Gak perlu Shey. Lagipula deket kok. Tinggal jalan doang. Makasih ya buat malam ini.”

“Gue juga makasih banyak. Mana udah di bawain makanan jugaaa. Yaudah, gue antar lo turun ke bawah.” Sheyra segera berjalan menyusul Keisha.

Saat sampai di ruang keluarga, Keisha tidak lupa berpamitan kepada Bunda Sheyra. Lalu Sheyra mengantar Keisha sampai di depan rumah. Ia memperhatikan punggung Keisha yang semakin menjauh sampai gadis itu benar-benar hilang dari pandangannya. Setelah itu Sheyra kembali masuk ke dalam rumahnya. Ia berencana untuk langsung tidur mengingat besok ia akan pergi menonton dengan Randy.

***

“Pa pa pa papa.”

Alvaro terbangun dari tidurnya ketika suara gadis kecil memanggilnya. Ia merasakan tangan mungil yang hangat sedang mengusap pipinya dengan lembut. Alvaro mengucek matanya pelan, ia melihat jam dinding yang tergantung di kamarnya sambil menyipitkan mata berharap bisa melihatnya dengan jelas. Waktu menunjukkan pukul 08.00 pagi. Tidak biasanya ia bangun kesiangan seperti ini.

Alvaro tersenyum melihat Lyra yang berbaring di sebelahnya. Sudah saatnya ia bangun dan menyiapkan sarapan untuk Lyra. Alvaro hendak bangkit dari tempat tidurnya. Namun saat kepalanya terangkat, ia merasakan pusing. Matanya terasa berkunang-kunang. Ia memegangi kepalanya sambil kembali berbaring di tempat tidur.

“Apa ini?” gumam Alvaro lirih. Ia merasa tubuhnya lemas. Alvaro menyentuh keningnya dengan telapak tangannya. Terasa panas.

Melihat respon Papanya membuat Lyra langsung menyentuh kening Alvaro. “Papa sakit? Papa anas.” (Papa panas)

Suara Lyra terdengar khawatir. Alvaro segera menggeleng. Ia berpura-pura tidak apa-apa dan tersenyum manis kepada anaknya. “Papa gapapa sayang. Sebentar ya. Abis ini kita turun, Papa bikinin sarapan buat Ira.” Alvaro tetap berada di posisinya tanpa bergerak. Ia merasa harus berbaring sebentar kurang lebih lima menit agar tidak terlalu pusing lagi ketika beranjak dari tempat tidur.

Lyra mengangguk mengikuti ucapan Alvaro. Gadis kecil itu memeluk Papanya dengan erat. “Ira sayang Papa.”

Alvaro mengelus rambut Lyra lembut. Matanya terlihat berkaca-kaca, “Papa juga.”

Setelah dirasa keadaannya lebih baik daripada tadi, Alvaro bangun dari tidurnya pelan. Ia merasa kepalanya masih pusing tapi ia masih bisa menahannya. Alvaro menggendong Lyra dalam dekapannya. Tubuhnya terasa lemas dan panas, namun alih-alih beristirahat Alvaro malah memaksa untuk beraktivitas seperti biasa.

Alvaro menuruni tangga rumahnya dengan pelan dan hati-hati agar tidak terjatuh. Ia berjalan menuju dapur. Saat sampai di meja makan, Alvaro mendudukkan Lyra di sana. Semalam Alvaro berencana untuk membuatkan Lyra bubur ayam untuk sarapan. Namun karena saat ini keadaannya tidak memungkinkan, akhirnya Alvaro memutuskan untuk membuatkan makanan yang simple saja.

Alvaro membuka kulkas. Ia melihat ada beberapa buah alpukat dan yoghurt di sana lalu ia mengambilnya. Alvaro memotong alpukat menjadi dua bagian. Setelah itu ia mengambil isi alpukat kemudian meletakkannya di piringnya dan Lyra. Tak lupa juga menambahkan banyak yoghurt di samping buah alpukat. Menu sarapan yang simple dan mudah untuk hari ini.

Alvaro memberikan makanan itu kepada Lyra. Dengan pintar, gadis kecil itu langsung memakannya dengan lahap. Tak lupa juga Alvaro menyiapkan segelas susu untuk Lyra. Sambil melihat Lyra makan, Alvaro juga ikut memakan makanannya.

Alvaro memegangi kepalanya. Sakit di kepalanya masih belum hilang. Sekarang ia juga merasa perutnya sedikit mual. Setelah dua sendok suapan, Alvaro menghentikan makannya.

“Papa, sakit?” tanya Lyra lagi. Gadis kecil itu menatap Alvaro khawatir. Tatapannya seperti ingin menangis ketika melihat wajah Papanya yang kini terlihat pucat.

Alvaro segera menggeleng, “Ira habiskan makanannya dulu ya. Papa ke toilet sebentar.”

Lyra mengangguk pelan. Ia dengan cepat langsung menghabiskan makanannya dan meneguk segelas susu yang ada di depannya. “Lyra akan jadi anak yang penurut.. Papa jangan sakit.” gumam Lyra pelan.

Alvaro menatap Lyra dengan tatapan sendu. Ia sangat menyayangi anaknya melebihi apapun. Alvaro kembali tersenyum meyakinkan Lyra, “Papa bakal baik-baik aja. Ira jangan khawatir yaa.” kata Alvaro sebelum ia pergi meninggalkan Lyra dan menuju toilet.

Di dalam toilet, Alvaro memuntahkan semua isi dalam perutnya. Ia merasa sangat pusing dan mual. Tubuhnya terasa lemas. “Please jangan sakit. Jangan sakit.” Gumam Alvaro sambil memegangi perutnya.

Beberapa menit kemudian Alvaro keluar dari toilet dan kembali ke meja makan. Setelah melihat makanan Lyra sudah habis, ia menurunkan Lyra dari kursinya. Kemudian ia menggandeng tangan Lyra dan membiarkan gadis kecil itu berjalan di sebelahnya. Alvaro berpikir untuk kembali ke kamar untuk memandikan Lyra.

Namun ketika sampai di depan ruang keluarga, Alvaro berhenti. Lalu ia terduduk di sofa karena merasakan pandangannya kembali buram.

“Papa! Papa kenapa??” seru Lyra khawatir. Ia menahan tangisnya.

Menyadari keadaannya yang tidak memungkinkan untuk menjaga Lyra membuat Alvaro langsung mengambil handphonenya yang ada di dalam saku celana. Entah mengapa saat itu hanya ada satu nama yang terpikirkan di dalam kepalanya. Tak butuh waktu lama, ia segera menelepon orang itu.

Setelah beberapa detik menunggu. Akhirnya telepon Alvaro mendapatkan jawaban dari seberang sana. Terdengar suara seorang gadis, “Halo? Al??”

“Shey….” Lirih Alvaro menahan sakitnya.

^^^Bersambung…^^^

1
Cici Sri Yunita
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!