NovelToon NovelToon
Keliru Mengenal Sang Kapten

Keliru Mengenal Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:427
Nilai: 5
Nama Author: Madelyn_Sa

Amira tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Dirgantara akan mempertemukannya dengan Alfian—sang kapten basket arogan yang wajah dan suaranya sangat mirip dengan "Sky", teman masa kecil yang memberinya kalung bintang sebelum pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Sayangnya, Alfian bersikap seolah tidak pernah mengenal Amira dan menganggapnya sebagai cewek aneh yang sengaja mencari perhatian, membuat hari-hari sekolah Amira penuh dengan perdebatan sengit dan emosi yang naik turun.
Di balik dingin dan marahnya sang kapten, tersimpan rahasia besar serta memori masa lalu yang terkunci rapat, memaksa Amira terjebak dalam dilema antara rasa rindu pada masa lalu atau membenci kenyataan pahit di hadapannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Air Mata di Taman dan Retaknya Sang Kapten

Amira masih duduk mematung di bangku batu taman belakang perpustakaan.

Jejak air mata belum sepenuhnya mengering di pipinya.

Angin siang yang berhembus pelan sama sekali tidak membantu mendinginkan kepalanya yang terasa mau pecah.

Bagaimana aku bisa milih? batin Amira frustrasi, mengacak-acak rambutnya sendiri.

Sret!

Suara langkah kaki yang menginjak dedaunan kering membuat Amira buru-buru mendongak, refleks mengusap sisa air matanya dengan punggung tangan.

Alfian berdiri beberapa langkah darinya.

Cowok itu masih memakai seragam OSIS-nya dengan lengan digulung rapi, namun wajahnya memancarkan kepanikan yang tak bisa disembunyikan.

"Lo ngapain di sini? Temen-temen lo bilang lo ke perpus, tapi gue cari muter-muter nggak ada," omel Alfian dengan napas sedikit memburu.

Namun, teguran itu terhenti seketika saat mata elang Alfian menangkap hidung Amira yang memerah dan mata gadis itu yang sembab.

Aura Alfian berubah gelap dalam hitungan detik.

Rahangnya mengeras, dan langkah kakinya melebar menghampiri Amira.

"Kenapa lo nangis?" tanya Alfian, suaranya turun satu oktaf menjadi geraman rendah.

Amira menggeleng pelan, memalingkan wajahnya.

"Nggak apa-apa. Kelilipan debu aja."

Alfian berjongkok tepat di depan Amira, meraih dagu gadis itu dengan lembut dan memaksanya menatap lurus ke matanya.

"Gue bukan cowok bodoh yang bisa lo kibulin pakai alasan debu," desis Alfian tajam.

Ibu jari Alfian mengusap pelan sisa air mata di sudut mata Amira, sentuhannya berbanding terbalik dengan nada suaranya yang marah.

"Siapa yang bikin lo nangis? Sisca lagi? Atau ada cowok brengsek yang berani gangguin lo?" cecar Alfian, auranya benar-benar seperti predator yang siap menerkam.

Amira menelan ludah. Hatinya mencelos melihat betapa protektifnya cowok ini.

"Alfian... udahlah," cicit Amira, berusaha menyingkirkan tangan cowok itu dari wajahnya.

"Jawab gue, Amira. Siapa?" paksa Alfian tak mau menyerah.

"Fino," ucap Amira akhirnya, suaranya nyaris seperti bisikan putus asa.

Deg.

Tangan Alfian yang berada di wajah Amira seketika membeku.

Nama itu seperti mantra kutukan yang mematikan seluruh fungsi saraf di tubuh sang kapten.

Alfian menarik tangannya perlahan, mundur satu langkah dengan tatapan kosong.

"Dia... ngapain lo?" tanya Alfian dengan suara yang tiba-tiba terdengar sangat rapuh.

Amira menunduk, meremas roknya kuat-kuat.

"Dia nggak ngapa-ngapain aku, Al. Dia cuma... cerita semuanya," isak Amira kembali pecah.

"Cerita soal kecelakaan itu. Soal koma bertahun-tahun. Dan soal... kamu yang kehilangan ingatan."

Dunia Alfian seakan runtuh menimpanya saat itu juga.

Rasa bersalah yang selama ini menggerogotinya kembali bangkit menjadi monster yang menyeramkan.

Fino koma

Fino kesakitan

Fino hancur

Sementara ia? Ia hidup normal, bermain basket, menjadi kapten, dan... mencuri gadis yang menjadi alasan saudara kembarnya bertahan hidup.

"Gue... gue nggak tahu, Al. Aku ngerasa jadi orang paling jahat di dunia," tangis Amira sesenggukan.

"Dia bertahan hidup cuma buat nepatin janjinya ke aku. Terus sekarang... gimana aku bisa ninggalin dia gitu aja?"

Kata-kata itu menghujam jantung Alfian tanpa ampun.

Bukan salah Amira. Gadis itu hanya korban dari masa lalu yang kejam.

Tapi menyadari bahwa Fino memiliki hak yang jauh lebih besar atas Amira membuat ego Alfian hancur berkeping-keping.

Alfian membuang muka, menatap kosong ke arah batang pohon.

"Jadi... lo mau narik omongan lo yang di atap kemarin?" tanya Alfian, memaksakan suaranya agar terdengar dingin dan datar, mengaktifkan kembali mode kulkasnya sebagai bentuk pertahanan diri.

Amira mendongak, menatap Alfian dengan mata membelalak.

"Bukan gitu maksudku, Al! Aku cuma... aku bingung! Aku merasa bersalah sama Fino!" bantah Amira panik melihat tembok es itu kembali terbangun di mata Alfian.

Alfian tersenyum sinis. Senyum getir yang penuh dengan luka.

"Rasa bersalah dan rasa kasihan itu beda tipis sama cinta, Amira," desis Alfian tajam.

Cowok itu menegakkan tubuhnya, melangkah mundur menjauhi bangku batu itu.

"Kalau lo emang merasa punya utang budi sama masa lalu lo, pergilah. Gue nggak butuh cewek yang ragu-ragu," ucap Alfian tanpa menatap Amira.

"Alfian! Dengerin aku dulu!" Amira ikut berdiri, berniat mengejar langkah cowok itu.

Namun Alfian mengangkat sebelah tangannya di udara, menghentikan langkah Amira.

"Jangan ikutin gue," titah Alfian mutlak.

Tanpa menoleh lagi, Alfian berbalik dan berjalan cepat meninggalkan taman, meninggalkan Amira yang kembali luruh ke atas bangku dengan tangis yang semakin menjadi-jadi.

...***...

Suasana rumah yang biasanya tenang kini terasa sangat mencekam.

Alfian melangkah masuk ke dalam rumah dengan wajah sekeras batu. Ia mengabaikan sapaan Bi Ijah dan langsung menaiki tangga menuju lantai dua.

Langkahnya tidak menuju ke kamarnya sendiri, melainkan berbelok ke arah kamar tamu yang kini ditempati oleh saudara kembarnya.

Brak!

Pintu kamar itu didorong kasar dari luar tanpa diketuk.

Fino yang sedang duduk di meja belajar menyusun buku-buku barunya menoleh dengan tenang.

Senyum hangat khas Fino terbit di bibirnya, seolah tak terganggu sama sekali dengan gedoran pintu itu.

"Baru pulang, Fian? Kalau mau masuk, ketuk pintu dulu kek," tegur Fino santai.

Alfian melangkah masuk, menutup pintu dengan bantingan keras di belakangnya.

Cowok itu berjalan mendekati meja belajar Fino, lalu mencengkeram kerah kemeja seragam saudara kembarnya itu dengan kedua tangannya.

"Lo apa-apaan, sialan?!" geram Alfian dengan mata memerah.

Fino tidak melawan. Cowok itu hanya menatap tangan Alfian di kerahnya, lalu kembali menatap mata saudara kembarnya dengan sorot teduh yang tak tergoyahkan.

"Gue ngapain? Gue cuma merapikan buku," jawab Fino pura-pura bodoh.

"Jangan main-main sama gue, Fino!" bentak Alfian, menarik kerah Fino hingga cowok itu terpaksa berdiri dari kursinya.

"Kenapa lo harus bawa-bawa cerita kecelakaan itu ke Amira?! Lo sengaja main playing victim buat narik simpati dia?!" cecar Alfian penuh amarah.

Fino menghela napas panjang. Senyum di wajahnya perlahan memudar, berganti dengan raut wajah yang sama seriusnya dengan Alfian.

"Gue nggak playing victim, Fian. Gue cuma menceritakan kebenaran," balas Fino tenang.

Fino melepaskan tangan Alfian dari kerahnya dengan hempasan yang cukup kuat.

"Dia berhak tahu kenapa gue nggak pernah nepatin janji gue. Dia berhak tahu alasan gue balik ke sini," lanjut Fino, merapikan kerah bajunya.

"Dengan cara bikin dia merasa bersalah dan terjebak?!" balas Alfian sengit.

"Lo bikin dia nangis, bajingan!"

Mendengar kata 'nangis', kilatan emosi melintas di mata Fino.

"Gue nggak pernah niat bikin dia nangis. Dan gue nggak nyuruh dia milih gue karena kasihan," ucap Fino tegas.

Fino melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka berdua.

Dua wajah yang sama persis itu saling berhadapan, memancarkan aura dominasi yang setara.

"Tapi asal lo tahu, Fian... gue udah kehilangan masa kecil gue. Gue kehilangan kebebasan gue. Bahkan gue kehilangan ingatan saudara kembar gue sendiri," desis Fino, suaranya bergetar menahan luka lama.

"Dan gue nggak akan ngebiarin lo ngambil satu-satunya alasan gue buat hidup."

Alfian terdiam kaku.

Kata-kata itu bagai belati yang menusuk langsung ke titik terlemahnya.

Rasa bersalah yang selama ini ia coba tekan kembali mencuat ke permukaan.

"Lo ngerasa bersalah kan sama gue?" tebak Fino dengan senyum getir melihat kebungkaman Alfian.

"Kalau lo emang ngerasa bersalah, mundur, Fian. Biarin Lily sama gue. Karena lo tahu persis... lo nggak punya hak apa-apa atas dia selain status kakak kelas yang selalu bentak-bentak dia."

Pernyataan Fino itu begitu telak. Begitu menyakitkan karena mengandung kebenaran yang tak bisa disangkal.

Alfian mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Ia ingin memukul saudara kembarnya ini, tapi ia tahu Fino memiliki kondisi fisik yang belum sepenuhnya kuat.

Dan yang paling menyakitkan, Alfian menyadari bahwa sebagian dari dirinya membenarkan ucapan Fino.

Ia hanyalah orang asing yang datang belakangan.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Alfian membalikkan badannya.

Cowok itu melangkah keluar dari kamar Fino, menutup pintunya dengan pelan, meninggalkan saudara kembarnya sendirian.

Sesampainya di kamarnya sendiri, Alfian menyandarkan punggungnya ke pintu yang tertutup.

Ia memerosotkan tubuhnya hingga terduduk di lantai dingin kamarnya.

Sang kapten yang selalu terlihat tangguh di lapangan itu kini menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya.

Bukan karena takut kalah.

Tapi karena ia tak tahu bagaimana caranya bertarung melawan rasa bersalahnya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!