NovelToon NovelToon
SKETSA PUTIH BIRU

SKETSA PUTIH BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:276
Nilai: 5
Nama Author: Aurentina Bulolo

Bagi Auren, kain biru tua yang kaku itu bukan sekadar seragam baru, melainkan awal dari cerita abadi yang akan ia lewati bersama Evan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurentina Bulolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bentakan Pertama

Matahari siang itu terasa membakar, sekencang debaran di dada Evan yang tak juga mereda sejak jam pelajaran pertama. Izin ke toilet yang semula ia jadikan alasan untuk mendinginkan kepala sama sekali tidak berguna. Di balik cermin wastafel, ia hanya melihat sepasang matanya sendiri yang menyala oleh gemuruh asing bernama cemburu. Dada Evan naik turun, menahan dongkol yang kian menggunung.

Saat melangkah kembali ke kelas, tatapan Evan langsung mengunci satu titik: Auren.

Gadis itu masih di sana. Duduk dengan jarak yang menurut Evan terlalu mengikis batas toleransi dengan Fathur, cowok di sebelahnya. Evan bisa melihat bagaimana Fathur tersenyum tipis sambil menunjuk baris angka di buku tulis Auren. Panas di dada Evan kian menyengat. Langkah kaki Evan sengaja diperlambat saat mendekat, namun aura di sekelilingnya mendadak memberat hingga atmosfer kelas terasa mencekam.

Tepat saat tiba di samping meja mereka, Evan mengepalkan jemari, lalu mengetuk permukaan kayu itu dua kali dengan buku jarinya.

Tok.Tok.

Suara itu tidak keras, namun sarat akan penekanan yang mengancam.

Auren tersentak. Pena di tangannya hampir saja terjatuh. Ia mendongak, menjatuhkan fokusnya tepat pada manik mata Evan yang menatapnya tajam tanpa berkedip. Untuk beberapa detik yang terasa membeku, keduanya saling memandangi. Ada tanya dan sedikit rasa bersalah yang tertahan di mata Auren, sementara ada tuntutan yang membara di mata Evan. Di sisi lain, Fathur hanya bisa terdiam, tangannya yang memegang pensil menggantung di udara, merasakan ketegangan hebat yang mendadak merayap di antara mereka.

Hening yang menyesakkan itu baru pecah saat bel istirahat kedua memekakkan telinga.

Kriiiing!

Suara bel seolah menjadi lampu hijau bagi Evan. Tanpa membuang waktu dan tanpa memedulikan sekitar, Evan melangkah lebar menghampiri meja Auren. Sebelum gadis itu sempat merapikan buku matematika yang baru saja dibahas bersama Fathur, pergelangan tangan Auren sudah dicekal erat. Evan menariknya berdiri, memaksa tubuh mungil itu tegak.

"Evan, lepas... Sakit," bisik Auren tertahan, mencoba menarik tangannya.

Namun, genggaman Evan sekeras baja. Ia membawa Auren keluar dari kelas dengan langkah terburu-buru yang tidak bisa dibantah. Beberapa pasang mata di kelas menatap mereka heran, termasuk Fathur yang sempat ingin berdiri namun mengurungkan niatnya karena melihat kilat amarah di mata Evan.

Evan terus menarik Auren menyusuri koridor, mengabaikan tatapan siswa lain, hingga mereka tiba di sudut koridor belakang sekolah yang sepi.

Begitu tautan tangan mereka terlepas, Evan langsung berbalik dengan napas memburu. Ia mencengkeram kedua bahu Auren pelan namun menuntut. "Kan udah aku bilang berkali-kali, Auren! Jangan terlalu dekat sama dia!" ucap Evan, suaranya tertahan di tenggorokan, bergetar hebat oleh frustrasi.

Auren mengusap pergelangan tangannya yang memerah, menatap Evan dengan pandangan tak percaya campur kesal. "Aku gak deket sama dia, Evan! Aku cuman diajari matematika kok! Nilai kalkulus-ku jelek, dan cuma Fathur yang mau bantu jelasin rumus sesabar itu!"

"Kamu bisa tanya aku, Auren!" potong Evan cepat. Rasa cemburunya pada Fathur membuat logikanya mati. Ia enggan mendengar alasan apa pun. "Aku bisa ajarin kamu sampai subuh kalau kamu mau! Kenapa harus cowok itu?!"

Auren terkekeh sumbang. Sebuah tawa getir yang sarat akan kekecewaan mendalam. Ia menggelengkan kepala, menatap Evan dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Tanya kamu? Kamu aja sibuk sama dia, Evan. Mana ada waktu buat aku?"

Kening Evan mengerut dalam. Alisnya bertaut rapat, merasa tidak terima dituduh. "Dia siapa?! Jangan mengalihkan pembicaraan, Auren!"

"Siapa lagi kalau bukan Anaya?!" Auren akhirnya memuntahkan kekesalan yang ia pendam berhari-hari. Ia melempar tatapan menantang, meski air mata sudah menggenang di pelupuknya. "Kalau dilihat-lihat, kalian juga dekat, kok. Kemarin ke kantin bareng, pulang sekolah bareng. Malah kalau dilihat orang lain, kalian kelihatan cocok banget!"

Evan terdiam seketika. Lidahnya mendadak kelu, terkejut setengah mati mendengar nama Anaya keluar dari bibir Auren dengan nada sekecewa itu. Namun, ego masa mudanya dan rasa bersalah yang bercampur aduk justru membuatnya semakin defensif. "Aku gak dekat sama dia, Auren. Itu cuma ngajarin, gak lebih!" gumam Evan, mencoba meredam suaranya yang mulai bergetar.

"Kamu dekat, Evan! Jangan bohong! Aku lihat sendiri gimana kamu ngajarin dia!" cecar Auren, menyudutkan cowok itu dengan kenyataan yang melukai hatinya sendiri.

"Enggak, Auren!!"

Suara itu menggelegar, memantul keras di dinding-dinding koridor yang sunyi.

Napas Evan memburu, dadanya kembang kempis setelah kalimat itu lolos dari tenggorokannya dengan nada yang begitu tinggi, kasar, dan penuh amarah.

Auren langsung mematung. Kata-kata yang sudah siap ia muntahkan kembali tertelan ke dalam kerongkongan. Tubuhnya bergetar kecil. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya sejak mereka saling mengenal ia mendengar Evan membentaknya sekeras itu. Cowok yang biasanya selalu memperlakukannya dengan lembut bak kaca yang rapuh, baru saja meledak di depan wajahnya.

Sudut mata Auren memanas, setitik air mata hangat akhirnya jatuh menuruni pipinya, menyusul titik-titik berikutnya yang tak bisa ia tahan lagi. Rasa kecewa, takut, dan sakit hati bercampur menjadi satu.

Tanpa sepatah kata pun, Auren berbalik. Ia berjalan terburu-buru, setengah berlari kembali ke kelas. Ia mengabaikan panggilan dari hatinya yang baru saja retak berkeping-keping.

Evan terpaku di tempatnya berdiri. Gema suaranya sendiri seolah kembali menampar wajahnya dengan tamparan yang amat keras. Begitu melihat air mata Auren jatuh karena dirinya, kesadaran Evan mendadak pulih. Seluruh amarah dan cemburunya menguap, digantikan oleh kepanikan luar biasa yang mencekik dadanya.

Aku... aku baru aja membentak Auren? batin Evan gemetar.

"Auren! Auren, tunggu! Gak gitu maksud aku!"

Evan langsung berlari kencang mengejar langkah cepat gadis itu. Koridor sekolah yang mulai ramai oleh anak-anak yang berlarian tidak ia pedulikan. Evan berhasil menyamai langkah Auren tepat saat gadis itu hendak masuk ke ambang pintu kelas. Evan mencoba meraih jemari Auren, menahannya agar mau berbalik.

"Auren, maaf... Aku mohon maafin aku. Aku gak maksud membentak kamu, demi Tuhan. Aku cuma emosi, Auren, tolong dengerin penjelasan aku dulu..." bisik Evan dengan nada suara yang kini berubah seratus delapan puluh derajat menjadi penuh permohonan dan keputusasaan.

Namun, langkah Auren sama sekali tidak melambat. Gadis itu menepis tangan Evan dengan sentakan kasar tanpa menoleh. Ia berjalan lurus melewati deretan meja kelas, mengabaikan pandangan bingung dan bisik-bisik dari teman-teman sekelasnya, termasuk Fathur yang langsung berdiri melihat mata Auren yang sembap.

Auren duduk di bangkunya, menenggelamkan wajahnya di antara kedua lipatan tangan di atas meja. Ia menutup rapat-rapat seluruh akses untuk suara Evan.

Evan berdiri di samping meja Auren dengan tubuh lemas. Ia terus berbisik, mengucapkan kata maaf berulang kali seperti orang yang kehilangan arah. " Auren, tolong... lihat aku sebentar aja. Aku minta maaf..."

Namun, tetap tidak ada balasan. Tidak ada tatapan. Hanya ada keheningan sedingin es di antara mereka berdua, memisahkan dua hati yang beberapa menit lalu masih saling memedulikan, kini terhalang oleh dinding ego dan rasa sakit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!