Kisah ini mengikuti perjalanan jiwa seorang wanita yang terjebak dalam siklus reinkarnasi lintas zaman demi mengejar satu cinta sejati yang selalu berujung tragis.
Pada kehidupan pertama (Era Romawi), ia adalah wanita dari kasta rendah yang mencintai seorang putra mahkota. Cinta mereka terhalang status sosial dan berakhir tragis dengan kematian.
Terlahir kembali di era kolonial (kehidupan kedua) sebagai putri gangster kaya raya, ia membawa ingatan masa lalunya dan berhasil menemukan kembali cinta pertamanya. Namun, takdir kembali merenggut kebahagiaan mereka akibat permusuhan darah antar keluarga besar.
Merasa lelah dengan takdir yang selalu menyakitkan, pada kehidupan ketiga (Era Modern) ia terlahir di keluarga biasa yang harmonis dan bertekad untuk menyerah serta menghindari cinta masa lalunya. Sialnya, semesta mempertemukannya kembali dengan pria tersebut yang kini menjadi CEO dingin di perusahaannya. Terikat kontrak kerja tiga tahun dengan penalti besar, ia mati-matian menghindar. Namun, tingkah lucunya justru meluluhkan hati sang CEO. Seiring berjalannya waktu, sang pria juga mulai mengingat kembali memori masa lalu mereka. Dan badai tidak di restu itu kembali menghatam cinta mereka, akan mereka kembali berpisah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 : Bisikan Cinta di Bawah Sinar Lampu Minyak
Malam semakin larut di balik dinding-dinding kokoh kompleks Istana Kekaisaran Roma. Suhu udara di luar kian menurun, membawa angin dingin yang menderu melewati celah-celah jendela batu, sementara di dalam paviliun pelayan rendahan, suasana berubah menjadi sunyi senyap. Sebagian besar budak dan pelayan telah tertidur lelap setelah seharian membanting tulang membersihkan aula, menyiapkan perapian, dan melayani para bangsawan. Namun, di sudut ruangan beralaskan jerami itu, mata Callista masih terbuka lebar.
Pikiran gadis itu melayang jauh, mengulang kembali setiap detik kejadian di taman sore tadi. Perjumpuannya dengan Marcus, tatapan mata hazel yang penuh ketulusan, serta cincin perunggu kecil yang kini tersembunyi aman di lipatan bajunya bagaikan bara api yang menghangatkan jiwanya yang selama ini beku. Namun, di balik rasa hangat itu, bayangan peringatan Nenek Rhea terus menghantui kepalanya. Bahwa mencintai seorang putra mahkota adalah sebuah kejahatan terbesar yang hukumannya adalah kematian tanpa ampun.
Saat Callista tengah bergelut dengan rasa bimbang dan debaran di dadanya, sebuah ketukan pelan namun teratur terdengar dari arah pintu kayu paviliun yang sudah reot.
Tok... tok... tok.
Callista terperanjat dari duduknya. Napasnya seketika tercekat. Di tengah malam yang sunyi ini, tidak ada seorang pun dari kalangan pelayan yang akan mengetuk pintu kamarnya dengan cara seperti itu. Dengan tangan gemetar, ia merayap perlahan mendekati pintu kayu, menempelkan telinganya untuk mendengarkan suara di luar.
"Callista..." sebuah bisikan lirih terdengar dari balik celah pintu. Suara bariton yang sangat ia kenal, suara yang baru beberapa jam lalu mengguncang dunianya.
Mata Callista melebar sempurna. Dengan tergesa-gesa, ia membuka gerendel kayu kecil dan menarik daun pintu tersebut. Di sana, berdiri di bawah temaram cahaya lampu minyak dinding koridor yang hampir padam, sesosok pria tinggi berbalut jubah gelap menutupi jubah kebesaran merah tuanya tersenyum tipis ke arahnya. Itu adalah Marcus. Sang Putra Mahkota Kekaisaran berdiri seorang diri di sarang para budak.
"Y... Yang Mulia?" cicit Callista panik, setengah mati menahan suaranya agar tidak membangunkan para pelayan lain yang tidur di ruangan sebelah. Ia segera menarik lengan Marcus, membimbing pangeran itu masuk ke dalam paviliunnya yang sempit dan pengap agar tidak terlihat oleh pengawal patroli malam. "Apa yang Anda lakukan di sini? Tempat ini sangat kotor dan berbahaya bagi Anda! Jika Panglima Decimus atau pengawal istana melihat Anda..."
Marcus membiarkan dirinya ditarik masuk ke dalam ruangan sempit itu. Ia menutup pintu kayu di belakangnya rapat-rapat, lalu menguncinya dengan seadanya. Pria itu menatap sekeliling ruangan paviliun yang hanya berisi tumpukan jerami, meja kayu reyot, dan sebuah pelita minyak kecil yang nyalanya berkelip-kelip lemah. Alih-alih merasa jijik dengan kemiskinan tempat itu, manik mata hazel Marcus justru memancarkan kelembutan yang teramat sangat.
"Aku tidak peduli dengan pengawal, Callista," bisik Marcus lembut. Ia melangkah mendekati gadis itu, membuat Callista mau tidak mau harus mundur hingga punggungnya membentur dinding kayu paviliun yang kasar. "Sejak aku meninggalkanmu di taman sore tadi, bayanganmu tidak mau pergi dari kepalaku. Aku tidak bisa tidur di kamarmu yang luas dan dingin itu, sementara aku tahu kau berada di sini, menangis dalam ketakutan karena ancaman dunia luar."
Kata-kata itu meluncur begitu tulus, membuat air mata Callista kembali menggenang di pelupuk matanya. Ia menengadahkan wajahnya, menatap lurus ke dalam manik mata hazel sang pangeran yang kini tampak begitu dekat di bawah temaram cahaya lampu minyak.
"Kau mengambil risiko yang terlalu besar, Marcus," lirih Callista, jemarinya secara perlahan menyentuh ujung jubah beludru mewah milik pangeran itu, seolah memastikan bahwa pria di hadapannya bukanlah sekadar ilusi atau mimpi buruk. "Dunia kita adalah jurang yang memisahkan langit dan bumi. Jika para senator mengetahui keberadaanmu di sini malam ini, mereka tidak hanya akan menghukumku, tapi mereka juga akan mencari cara untuk menghancurkanmu."
Marcus mengangkat tangan kanannya, dengan penuh kelembutan menyusurkan jemarinya di sepanjang garis pipi Callista, menghapus keraguan yang terukir di wajah gadis itu. "Biarkan mereka mencoba," ucap Marcus penuh ketegasan mutlak. "Selama ini, hidupku dikendalikan oleh aturan Senat, oleh darah bangsawan, dan oleh takhta yang tidak pernah kupinta. Tapi malam ini, di bawah temaram cahaya lampu minyak yang kecil ini, aku menyadari satu hal: aku adalah pangeran dari sebuah kekaisaran besar, namun aku adalah pengemis sejati dalam hal kebahagiaan... sampai aku menemukanmu."
Kalimat itu terdengar begitu puitis sekaligus memilukan. Di ruangan yang sempit dan berbau arang itu, dua jiwa dari kasta yang paling bertolak belakang saling menemukan rumah. Marcus merengkuh tubuh Callista secara perlahan, membawanya ke dalam pelukan hangat yang kokoh. Callista memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan sang putra mahkota, melupakan sejenak segala hukum besi kekaisaran, ancaman hukuman mati, dan perbedaan status sosial yang membentang di antara mereka.
Untuk beberapa saat lamanya, waktu seolah berhenti berputar. Di tengah dunia yang kejam dan penuh intrik politik, di bawah temaram lampu minyak yang hampir habis bahan bakarnya, mereka berbagi bisikan-bisikan cinta yang tulus—sebuah janji diam-diam bahwa di mana pun takdir menempatkan mereka, jiwa mereka telah terikat satu sama lain.
Namun, mereka berdua tidak menyadari bahwa di ujung koridor luar paviliun, sepasang mata tajam sedang mengawasi. Panglima Decimus, yang curiga dengan pergerakan mencurigakan sang pangeran malam itu, berdiri dalam kegelapan malam sambil menyunggingkan senyuman dingin yang mengerikan. Rencana besar untuk menjatuhkan sang pangeran dan melenyapkan sang budak rendahan telah mulai disusun rapi di kepala sang panglima—menandai bahwa kehangatan di bawah lampu minyak itu tidak akan bertahan lama sebelum badai kehancuran benar-benar menghantam hidup mereka di babak-babak berikutnya.
*•*
*•*
*•*
*•*
*•*