Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?
Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.
Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
Perjalanan kembali dari rumah kusam milik almarhum Hans Sinclair diselimuti keheningan yang jauh lebih pekat dan mencekat dari biasanya.
Nico duduk bersandar di kursi belakang, menyilangkan kakinya dengan tangan yang bertumpu pada lutut. Sepasang mata kelabunya menatap lurus ke depan, namun pikiran pria itu berpusat pada sebuah buku catatan harian kecil yang sempat ia selipkan ke dalam saku dalam jasnya tanpa sepengetahuan Sienna, buku catatan milik Hans Sinclair yang memuat catatan harian sang kurir.
Di sampingnya, Sienna meringkuk lemah. Tubuh gadis itu gemetar pelan, bukan hanya karena hawa dingin dari AC mobil, tetapi juga karena keletihan emosional yang amat sangat setelah kembali ke rumah masa kecilnya.
Pukul satu siang, konvoi kendaraan pribadi itu melaju memasuki area pelataran kediaman utama keluarga Vance, sebuah kompleks bangunan klasik seluas ribuan meter persegi di kawasan elit yang dikelilingi benteng beton tinggi dan taman-taman asri.
Nico tidak membawa Sienna kembali ke penthouse, melainkan membawanya ke mansion utama keluarga besar Vance atas panggilan mendadak dari Sebastian Vance.
"Turun," perintah Nico kaku tanpa memandang Sienna saat pintu mobil dibuka oleh pengawal.
Sienna menyapu pandangannya ke luar jendela. Matanya membelalak pelan tatkala mengenali pilar-pilar marmer putih dan ukiran megah di atas pintu masuk mansion tersebut. mansion tempat pesta ulang tahun berdarah sebelas tahun lalu diadakan, tempat di mana ia pertama kali melihat jasad ayahnya dan ibu Nico tergeletak di atas rumput halaman belakang.
Rasa trauma yang sangat hebat mendadak merayap naik menembus dada Sienna. Lututnya terasa lemas, dan napasnya terdengar patah-patah.
"T-Tuan Vance..." bisik Sienna seraya memegang lengan mantelnya sendiri. "Kenapa... kenapa kita ke sini?"
Nico berhenti melangkah di samping pintu mobil, memutar tubuhnya seraya menatap Sienna dengan pandangan tanpa rasa iba. "Ayahku ingin memverifikasi beberapa hal dari masa lalu sebelum berkas pembekuan aset Liam diselesaikan. Masuk."
Sienna memaksakan kakinya untuk melangkah keluar dari mobil. Setiap jengkal langkah di atas marmer teras mansion terasa bagaikan berjalan di atas hamparan paku.
Mansion utama Vance terasa begitu lengang dan dingin.
Sebastian Vance sedang berada di ruang kerjanya bersama tim hukum keluarga, sementara Matteo mengawal Nico menuju wing barat mansion, area yang dahulu merupakan ruang kerja dan perpustakaan pribadi mendiang Christina Vance.
Ruang perpustakaan tua itu dipenuhi oleh ribuan buku bersampul kulit keras, rak kayu jati setinggi lima meter, dan aroma kertas lapuk yang khas. Sejak peristiwa tragis sebelas tahun lalu, ruangan ini dikunci rapat atas perintah Nico dan hanya dibersihkan secara berkala oleh pengawal terpercaya.
"Bawa gadis itu ke dalam," instruksi Nico pada Matteo. "Biarkan dia menunggu di sofa."
Sienna melangkah masuk dengan ragu. Sepatunya menginjak karpet tebal bergaris merah tua. Matanya menatap sekeliling ruangan yang dipenuhi barang-barang peninggalan Christina Vance, lukisan minyak bernilai tinggi, meja tulis kayu mahoni tua, serta sederet penghargaan seni yang pernah diraih oleh ibu kandung Nico.
Nico melangkah mendekati meja mahoni milik ibunya. Pria itu menaruh buku catatan kusam milik Hans Sinclair di atas meja, lalu menyalakan lampu meja bergaya klasik.
Di balik dinding dingin yang selama ini dibangun Nico, ada sebuah dorongan tak terjelaskan di dalam dadanya. Catatan harian Hans Sinclair yang berisi tulisan tentang pengeluaran sederhana sang kurir membuat keraguan tipis yang muncul tadi pagi terus mengusik pikirannya.
Nico ingin membandingkan tanggal-tanggal pengantaran dalam buku catatan Hans dengan buku agenda kegiatan harian ibunya yang tersimpan di dalam brankas penyimpanan perpustakaan ini.
"Matteo, ambil kunci brankas bawah meja," perintah Nico seraya memijat pelipisnya yang terasa pening.
"Baik, Tuan Nicolas," sahut Matteo seraya membungkuk dan berjalan menuju lemari samping.
Sienna berdiri kaku di dekat salah satu rak buku besar dekat meja kerja. Matanya yang redup tak sengaja tertuju pada sebuah kotak kayu berukir mawar yang tergeletak di atas salah satu bagian rak bawah yang agak terbuka.
Kotak mawar itu dilapisi kain beludru hitam yang berdebu.
Entah mengapa, jantung Sienna berdegup kencang saat melihat bentuk kotak tersebut. Bentuk kotak itu begitu familiar, sebuah kotak perhiasan kecil yang sangat mirip dengan kotak hadiah yang pernah ditunjukkan oleh ayahnya beberapa hari sebelum tragedi pembunuhan itu terjadi.
"Ini kotak pesanan khusus yang harus Papa serahkan langsung ke tangan pemesannya di malam pesta nanti, Anna..." Suara lembut Hans Sinclair mendadak terngiang di dalam benak Sienna.
Dengan jemari yang gemetar dan tanpa memikirkan konsekuensinya, Sienna mengulurkan tangannya yang kurus. Ujung jarinya menyentuh permukaan kayu berukir mawar itu, berniat memiringkannya sedikit untuk melihat apakah ada nama ukiran di bagian dasar kotak.
Namun, bagian bawah rak kayu tua yang sudah lapuk itu rupanya tidak stabil.
Saat jemari Sienna menyentuh kotak tersebut, engsel penyangga rak bagian bawah yang lapuk mendadak patah.
KRAK!
"Aaaaa!" Sienna menjerit pelan saat rak bagian bawah itu miring secara mendadak.
Kotak kayu berukir mawar itu tergelincir jatuh, membentur sudut meja kaca dekoratif di sampingnya.
PRANG!
Suara benturan keras memecah kesunyian perpustakaan tua itu. Kotak kayu itu terhempas ke atas karpet, engsel kuncinya terlepas, dan isinya terhambur keluar ke atas lantai.
Sebuah wadah kaca bundar yang berisi cairan pengawet transparan dan sekuntum bunga mawar murni yang dikeringkan, hadiah ulang tahun terakhir yang dibuat khusus oleh Nico kecil untuk ibunya beberapa jam sebelum kematian wanita itu terhempas keras ke atas marmer dan hancur berkeping-keping.
Cairan pengawet beraroma kimia tajam menyebar membasahi karpet, sementara kelopak-kelopak mawar kering yang telah berusia belasan tahun itu hancur menjadi bubuk halus di bawah pecahan kaca.
Sienna membeku total di tempatnya. Wajahnya seketika memucat pasi bagaikan kertas.
"T-Tuan..." desis Matteo yang langsung berbalik dengan mata membelalak lebar.
Nico memutar tubuhnya dengan lambat. Sepasang mata kelabunya memaku lurus pada pecahan kaca dan bubuk mawar kering yang berserakan di atas karpet.
Suasana di dalam perpustakaan tua itu merosot ke titik paling mencekat, paling dingin, dan paling mematikan yang pernah ada.
Mawar kering dalam cairan pengawet itu... adalah satu-satunya peninggalan pribadi yang dibuat Nico dengan tangannya sendiri untuk diberikan kepada ibunya tepat di malam pesta ulang tahun tersebut.
Ibu Nico tewas sebelum sempat melihat hadiah itu dibuka dari kotaknya, dan Nico menyimpannya di perpustakaan ini sebagai simbol kenangan tersuci dari sang ibu yang tak pernah ternoda oleh siapa pun.
Dan kini, peninggalan tersuci itu telah hancur berkeping-keping di bawah kaki anak dari pria yang dituduhnya sebagai pembunuh ibunya.
"Tuan N-Nicolas..." suara Sienna tercekat di tenggorokan, air mata ketakutan murni meluncur deras di pipinya. "S-saya... saya tidak sengaja... Demi Tuhan, saya hanya ingin-"
Nico bergerak.
Pria bertubuh tinggi besar itu melangkah dalam dua hentakan lebar. Aura murka yang sangat dahsyat dan tak terkendali meledak dari dalam jiwanya.
Keraguan tipis yang sempat muncul tadi pagi di rumah tua Hans Sinclair seketika hangus terbakar, tergilas oleh rasa kehilangan dan sakit hati yang meletup kembali dengan intensitas seribu kali lipat.
Sebelum Sienna sempat melangkah mundur, tangan kanan Nico yang besar mencengkeram leher Sienna dengan sangat kasar, mendorong tubuh kurus gadis itu hingga punggungnya menghantam dinding kayu perpustakaan dengan keras.
DUK!
"Ugh..." Sienna merintih kesakitan, matanya terbelalak menatap wajah Nico yang kini membiru oleh kebencian murni.
"Sienna!" suara Nico melengking rendah, begitu sarat akan amarah yang sanggup menghancurkan ruangan itu. "APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN?!"
"T-Tuan Vance... ampun... s-saya tidak sengaja..." bisik Sienna seraya memegang pergelangan tangan Nico yang mencengkeram rahangnya begitu kuat, mengancam akan meretakkan tulangnya.
"Kau menghancurkannya!" desis Nico kaku di depan wajah Sienna, napasnya yang panas dan memburu berembus tajam. Sepasang mata kelabunya kini dipenuhi oleh kilatan api dendam yang luar biasa pekat.
"Belasan tahun aku menjaga benda itu. Itu adalah hadiah terakhir yang kubuat untuk ibuku sebelum kau dan ayahmu membantainya di halaman belakang. Dan kau berani mencemarkan dan menghancurkannya dengan tangan kotor ini?!"
Cengkeraman Nico di leher Sienna makin mengencang. Sienna meringis hebat, air matanya menetes mengenai punggung tangan Nico. Napas gadis itu mulai tersendat-sendat saat oksigen sulit masuk ke tenggorokannya.
"Tuan Nicolas. Tolong tahan diri Anda," seru Matteo panik seraya melangkah maju, khawatir Nico akan mematahkan leher Sienna di tempat. "Nona Sienna sedang dalam masa pemulihan fisik."
"DIAM, MATTEO!" gertak Nico tanpa memalingkan pandangannya dari mata Sienna yang redup. "Jangan ada yang berani mencampuri urusanku!"
Nico menatap mata Sienna yang dipenuhi oleh keputusasaan dan rasa sakit yang amat sangat. Di dalam benak Nico, bayangan Hans Sinclair yang tergeletak di rumput bersimbah darah dan Sienna kecil yang memegang pistol hitam kini bersatu dengan kejahatan Sienna yang baru saja menghancurkan barang peninggalan ibunya.
Pikiran Nico benar-benar tertutup oleh kegelapan dendam. Segala rasa simpati, segala keraguan atas kebenaran masa lalu, dan keputusan untuk memindahkannya ke kamar utama tadi malam seketika menguap tanpa sisa.
Bagi Nico, darah Sinclair akan selamanya menjadi pembawa kutukan dan kehancuran bagi hidupnya.
"Aku salah," desis Nico dengan suara serendah guruh di tengah malam, begitu dingin dan penuh kejam. "Aku salah karena sempat berpikir kau hanya anak polos yang menjadi korban. Kau dan ayahmu... kalian berdua sama-sama racun yang datang untuk menghancurkan keluargaku!"
Nico melepaskan leher Sienna dengan sentakan kasar, membuat tubuh Sienna yang lemah tersungkur jatuh ke atas lantai marmer, tepat beberapa sentimeter dari pecahan kaca dan bubuk mawar kering yang hancur.
UHUK! UHUK!
Sienna terbatuk-batuk histeris, memegangi lehernya yang memerah seraya menahan dada kirinya yang terasa bagaikan ditusuk ribuan jarum. Perban di dadanya mulai terasa panas, akibat jahitan luka infeksi yang meregang kembali akibat benturan keras di dinding tadi.
Nico berdiri menatap Sienna dari atas. Wajahnya yang kaku memancarkan kebencian murni tanpa ada sedikit pun celah ampunan.
"Matteo!" perintah Nico tajam.
"Y-ya, Tuan Nicolas?"
"Seret dia kembali ke mobil," desis Nico kaku. "Kita kembali ke penthouse sekarang juga."
Sienna mendongak kaku dari lantai, menatap Nico dengan mata yang memerah dan dipenuhi air mata keputusasaan. "T-Tuan Vance... tolong dengarkan saya... saya tidak bermaksud-"
"Tutup mulutmu sebelum aku sendiri yang mengunci bibirmu selamanya," potong Nico dengan bentakan mematikan yang membungkam seluruh kata-kata Sienna.
Nico membalikkan tubuhnya, melangkah kasar menuju pintu perpustakaan. Namun sebelum keluar, pria itu berhenti sejenak dan menoleh sedikit ke arah Sienna yang terbaring lemas di lantai.
"Kamar utama di lantai atas bukan lagi tempatmu," kata Nico, setiap kalimat yang keluar dari bibirnya menancap tajam bagaikan sembilu.
"Mulai malam ini, kau akan kembali ke kamar bawah tanah. Tanpa perawat, tanpa tempat tidur empuk, dan tanpa hak untuk melihat cahaya matahari. Kau akan membusuk di sana sampai seluruh dosa keluarga Sinclair terbayar lunas!"
Nico melangkah keluar dari perpustakaan tua itu, membanting pintu kayu mahoni dengan suara menggelegar yang membahana di seluruh lorong mansion.
BANG!
Sienna terbaring kaku di atas marmer dingin. Jemarinya yang gemetar menyentuh bubuk mawar kering yang berserakan di dekat mukanya. Di dalam kegelapan perpustakaan yang remang itu, Sienna menangis tanpa suara.
...Bersambung......