NovelToon NovelToon
INVESTASI CINTA YANG SALAH

INVESTASI CINTA YANG SALAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Fantasi
Popularitas:681
Nilai: 5
Nama Author: AwandaMw

INVESTASI CINTA YANG SALAH

Oleh: AwandaMw

"Dia mengira aku cuma pelengkap, sampai dia sadar seluruh kerajaannya berdiri atas namaku."

Sinopsis:

Demi mendukung impian Reno, Nadia rela menyembunyikan kejeniusannya dan menyerahkan seluruh asetnya untuk membangun Apex Media dari nol. Namun, begitu bisnis bernilai puluhan miliar itu berada di puncak kejayaan, Reno justru berpaling pada Sella—seorang wanita glamor yang menghasutnya bahwa Nadia hanyalah beban.

Dicampakkan dan dihina tanpa harta gono-gini, Nadia memilih pergi tanpa sepatah kata dendam. Reno merasa menang, tanpa tahu satu rahasia besar: Nadia adalah pemilik tunggal PT Cakrawala Capital, pemegang saham mayoritas 60% yang memegang leher bisnisnya.

Saat Reno dan Sella sibuk merayakan kesuksesan semu, Nadia siap melancarkan takeover dingin dan menagih kembali setiap sen yang telah dicuri darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwandaMw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

***Bab 23 Tamparan dibalik jeruji

🌸🌸🌸

Sinar matahari pagi yang menerobos celah ventilasi Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Cipinang terasa begitu kusam.

Di ruang kunjungan khusus bertembok beton tebal, Reno Pratama duduk menunggu dengan gelisah.

Wajahnya yang tirus dipenuhi bayang-bayang ekspektasi tinggi.

Pagi ini, ia yakin Pengacara Lukman akan datang membawa kabar gembira: berita pengajuan Peninjauan Kembali (PK) dan konfirmasi transferan dana lima puluh miliar rupiah dari Julian Thorne atas penyerahan kode enkripsi rahasia tersebut.

Langkah kaki sepatu berhak tinggi yang konstan dan bergema di koridor beton membubarkan lamunan Reno.

Pintu besi terbuka.

Bukan Pengacara Lukman yang melangkah masuk, melainkan sosok wanita yang paling ia takuti sekaligus ia benci.

Nadia Kirana melangkah anggun ke dalam ruang kunjungan yang dingin.

Ia mengenakan setelan blazer berwarna merah anggur berpotongan tegas, dipadukan dengan celana kain hitam bergaris rapi.

Penampilannya begitu dominan, memancarkan wibawa pimpinan tertinggi yang tak tersentuh.

Di belakangnya, Pak Hendra dan dua petugas sipir berpakaian dinas mendampingi dengan wajah dingin.

Reno membelalak panik. Tubuhnya refleks mundur hingga punggungnya menempel pada sandaran kursi besi.

"Nadia...?" bisik Reno terbata-bata, suaranya tercekat di tenggorokan.

"Mau apa kamu ke sini?!"

Nadia tidak membuang kata untuk menjawab kepanikan itu.

Ia menduduki kursi kayu di seberang Reno dengan gerakan yang sangat halus dan anggun.

Pak Hendra menyusul duduk di sampingnya seraya membentangkan sebuah map kulit berwarna hitam.

Nadia menatap Reno lurus dari jarak dekat. Pandangan matanya begitu jernih, dingin, dan menelanjangi seluruh rencana busuk yang coba disusun mantan suaminya itu.

"Bagaimana rasanya bekerjasama dengan Julian Thorne, Reno?" tanya Nadia pelan, suaranya mengalun bening memecah kesunyian ruangan.

Wajah Reno mendadak pucat pasi. "K-kamu... kamu bicara apa?!"

"Kamu menjual kode dasar enkripsi proyek Cakrawala Cloud Stream kepada Julian Thorne dengan imbalan bantuan Peninjauan Kembali dan uang lima puluh miliar rupiah," pangkas Nadia tanpa memberikan ruang untuk Reno mengelak.

Reno menelan ludah pait, tangannya yang kurus gemetar hebat di atas meja besi.

"Nggak! Kamu nggak punya bukti! Saya nggak pernah berhubungan sama Julian Thorne!"

Pak Hendra mengetuk map hitam di meja, lalu menggeser beberapa lembar dokumen foto dan cetakan data digital ke hadapan Reno.

"Terdakwa Reno Pratama," ujar Pak Hendra dengan intonasi hukum yang sangat berat.

"Tadi malam pukul dua puluh tiga nol nol, tim Siber Mabes Polri telah menangkap Julian Thorne di kediamannya di Menteng. Kami menangkap tangan peretas mereka yang sedang mencoba menyuntikkan kode enkripsi yang Anda berikan dari dalam sel ini."

Foto-foto saat Julian Thorne diborgol oleh petugas kepolisian serta bukti obrolan enkripsi antara Pengacara Lukman dan utusan Helios Corp terpampang nyata di depan mata Reno.

"Selain itu," lanjut Pak Hendra, "Pengacara Lukman saat ini sedang menjalani pemeriksaan intensif atas tuduhan perintangan penyidikan dan persekongkolan jahat pencurian rahasia dagang. Seluruh izin praktiknya telah dibekukan secara permanen."

DEGG.

Dunia Reno serasa berputar dan runtuh seketika. Harapan akan kebebasan semu, impian mendapatkan rumah baru, dan bayangan uang lima puluh miliar rupiah hancur tak berbekas dalam hitungan detik.

Reno menatap foto Julian Thorne yang terborgol dengan mata membelalak tak percaya. "Nggak... Nggak mungkin... Julian bilang dia punya tim hukum internasional! Dia bilang dia bisa membebaskan saya!"

"Julian Thorne hanyalah pemangsa bisnis yang memanfaatkan keputusasaan dan dendam matimu, Reno," sahut Nadia dingin, menopang dadanya seraya menatap pria menyedihkan di depannya.

"Dan kamu cukup bodoh untuk percaya bahwa kode enkripsi lama itu masih bisa membobol sistem saya."

Reno mendongak, menatap Nadia dengan mata memerah yang dipenuhi rasa frustrasi yang memuncak.

"Kamu sengaja?!" jerit Reno dengan suara parau yang gemetar. "Kamu sudah tahu kalau saya memberikan kode itu ke Julian?!"

"Tentu saja," jawab Nadia tenang. "Kode yang kamu curi dan serahkan itu adalah Kode Umpan. Begitu Julian menyuntikkannya ke server kami, sistem kami langsung melacak balik seluruh lalu lintas data Helios Corp.

Karena kecerobohanmu dan rasa dendammu yang dangkal, Julian Thorne kini terancam hukuman sepuluh tahun penjara di Indonesia atas kejahatan siber internasional."

Nadia melangkah satu tingkat lebih jauh dalam memupuskan sisa-sisa eksistensi Reno.

Pak Hendra mengeluarkan satu lembar surat berkop resmi Kejaksaan Negeri.

"Atas tindakan pengkhianatan rahasia dagang dan persekongkolan tindak pidana baru ini," tegas Pak Hendra, "Kejaksaan Negeri telah menambahkan berkas perkara baru atas nama Reno Pratama di bawah Pasal 362 KUHP jo UU ITE. Hukuman pidana Anda dipastikan akan bertambah sekurang-kurangnya tiga tahun penjara akumulatif dari vonis awal."

"Tiga tahun...?" bisik Reno serak, napasnya tersengal-sengal seolah pasokan udara di dalam ruangan itu mendadak habis. "Jadi... totalnya saya harus dipenjara hampir delapan tahun?!"

"Tujuh tahun delapan bulan," rincikan Pak Hendra tanpa ampun.

Reno memegangi kepalanya dengan kedua tangan, meremas rambut kusamnya seraya meratapi nasibnya yang kian terkunci rapat di dalam kegelapan. Air mata penyesalan dan keputusasaan menetes keras membahasi meja kayu.

Nadia berdiri dari kursinya, merapikan blazer merah anggurnya yang tampak memukau di balik keremangan ruang kunjungan. Ia menatap pria yang dulu pernah membuangnya dan menghina keluarganya itu untuk terakhir kalinya.

"Dulu, kamu berpikir bahwa dengan membuang saya, kamu akan menjadi raja di Apex Media," ujar Nadia pelan, suaranya mengalun seperti lonceng keadilan yang mengetuk takdir.

"Tapi kenyataannya, tanpa saya, kamu hanyalah pria amatir yang mudah dimanfaatkan dan dihancurkan oleh siapapun."

Reno mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata, menatap Nadia dengan tatapan memohon yang sangat menyedihkan.

"Nadia... tolong..." rintih Reno dengan suara yang pecah. "Aku mohon... cabut laporan perkara baru ini... Aku bisa gila kalau harus delapan tahun di sini, Nadia... Ibu dan Maya gimana...?"

Nadia menatap Reno tanpa kebencian, namun dengan keteguhan yang tak tergoyahkan oleh tangisan palsu mana pun.

"Ibu Risma dan Maya sedang belajar menerima konsekuensi dari kesombongan yang dulu kalian pupuk bersama," jawab Nadia datar.

"Jalani hari-harimu di sini dengan baik, Reno. Jangan lagi mencoba bermain catur dengan saya... karena setiap kali kamu melangkah, kamu hanya sedang mempercepat kehancuranmu sendiri."

Nadia membalikkan badannya dengan anggun, melangkah keluar dari ruang kunjungan penjara.

"NADIAAA! NADIAAAAA!" teriak Reno histeris dari balik meja, memukul-mukul meja besi seraya ditahan oleh dua petugas sipir yang dengan sigap memegang bahunya.

Teriakan frustrasi dan tangisan histeris Reno menggema memantul di dinding beton koridor penjara yang dingin, namun langkah kaki Nadia tetap konstan, tegap, dan penuh kemenangan mutlak.

Di luar gedung Lembaga Pemasyarakatan, angin segar menyapa wajah Nadia. Bimo sudah menunggu di samping pintu mobil sedan mewah yang terbuka

.

"Nadia, semua berkas perkara baru Reno sudah resmi dilimpahkan," Bimo melaporkan seraya tersenyum puas.

"Helios Corp juga baru saja merilis pernyataan pembekuan aset di Singapura."

Nadia melangkah masuk ke dalam mobil, menatap langit Jakarta yang kian cerah setelah diterpa hujan semalam.

"Satu pintu pengkhianatan masa lalu telah terkunci rapat," kata Nadia pelan. "Sekarang, fokuskan seluruh energi Cakrawala Capital untuk mengambil alih aset Helios di pasar Asia Pasifik."

Mobil mewah itu melaju tenang membelah jalanan ibu kota, membawa Sang Ratu Bisnis menuju puncak kekuasaan baru yang tak tersentuh.

🌸🌸🌸🌸

1
falea sezi
lanjut
Arieee
laki" mokondo yang terlalu percaya diri🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!