NovelToon NovelToon
Menjerat Hati Sang Ceo Dingin

Menjerat Hati Sang Ceo Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Romansa
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

Alexander "Alex" Ar-Rasyid (30 Tahun)

Seorang CEO muda yang dingin, perfeksionis, dan workaholic. Ia memegang kendali penuh atas Ar-Rasyid Group, sebuah konglomerat raksasa di bidang properti dan investasi. Baginya, pernikahan adalah bentuk kerja sama bisnis yang tidak penting, hingga sebuah perjodohan keluarga memaksa hidupnya jungkir balik.

Keisha Azalea Pramesti (25 Tahun)

Seorang fashion designer berbakat, mandiri, dan memiliki idealisme tinggi. Ia pemilik butik haute couture Azalea Label. Di balik senyum lembutnya, Keisha adalah wanita tangguh yang menolak dipandang sebelah mata dan sangat mencintai dunianya—sketsa, kain, dan jarum jahit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

Udara di ruang bawah tanah tingkat tiga gedung utama Ar-Rasyid Tower selalu terasa berbeda—dingin, lembap, dan dipenuhi oleh aroma beton tua serta baja. Tempat itu dirancang khusus sebagai fasilitas keamanan privat kedap suara, jauh dari jangkauan telinga publik maupun hiruk-pikuk dunia korporat di atas sana. Di ruangan bercat dinding abu-abu gelap dengan pencahayaan lampu neon tunggal yang menggantung di tengah ruangan, Jessica Pranata diikat pada sebuah kursi besi dengan tangan terborgol erat ke sandaran belakang.

Pintu besi besar berderit terbuka dengan suara berat yang menggema.

Alexander Ar-Rasyid melangkah masuk perlahan. Langkah kakinya yang mengenakan sepatu pantofel mengkilap menciptakan suara ketukan ritmis yang menusuk keheningan. Di belakangnya, Keisha berjalan anggun dengan tatapan mata setajam silet, sementara Tuan Theodore Vance menyusul dari belakang, memasang ekspresi penasaran seperti seorang penonton yang sedang menyaksikan adegan klimaks dalam sebuah film teater kriminal.

Alex berhenti tepat di depan Jessica. Pria itu tidak mengatakan sepatah kata pun pada detik-detik awal. Ia hanya menatap wanita di hadapannya dengan sorot mata kelam—tatapan seorang predator yang siap merobek mangsanya tanpa ampun. Tekanan psikologis yang diuar dari tubuh Alex saja sudah cukup membuat Jessica menelan kelat ludahnya sendiri, meskipun wanita itu berusaha keras mempertahankan ekspresi menantang di wajahnya yang mulai pucat.

"Kau terlihat sangat berani saat berdiri di seberang jalan tadi, Jessica," suara Alex akhirnya memecah keheningan. Suaranya rendah, datar, namun mengandung ancaman kematian yang mutlak. "Sekarang, mari kita lihat apakah keberanian itu masih tersisa setelah kau menyebutkan nama orang di balik layar yang mendanaimu."

Jessica mendengus pelan, meskipun sudut bibirnya sedikit bergetar. Ia mengangkat dagunya, mencoba melawan rasa takut yang mulai merayap di dadanya. "Silakan bunuh aku jika kalian mau! Kalian pikir dengan menangkapku, rahasia besar itu akan terbongkar? Tidak! Orang itu berada di tempat yang jauh lebih tinggi dari jangkauan tangan kotor kalian!"

Keisha maju selangkah, melewati suaminya. Ia berdiri tepat di hadapan Jessica, menatap wanita yang dulu pernah menjadi rekan seprofesinya di dunia fesyen dengan rasa jijik dan kasihan bercampur aduk.

"Tinggi?" tanya Keisha dengan nada suara yang tenang, dingin, namun menusuk tajam. "Apakah setinggi kedudukan keluarga besar Ar-Rasyid? Atau serendah moralmu yang menjual harga diri demi beberapa lembar uang suap untuk memalsukan laporan uji laboratorium kimia?"

Jessica membelalakkan matanya, terkejut mendengar kalimat Keisha. "Kau... bagaimana kau tahu soal laporan laboratorium itu?!"

"Jangan bodoh, Jessica," balas Keisha sinis. "Pemalsuan dokumen perizinan impor tekstil membutuhkan akses ke sistem data internal dinas perdagangan dan laboratorium sertifikasi resmi. Orang sepertimu tidak mungkin memiliki otoritas sebesar itu tanpa bantuan dari seseorang yang memiliki pengaruh politik dan finansial yang besar di dewan direksi atau lingkaran aristokrasi lama."

Theodore Vance, yang sejak tadi berdiri menyilangkan tangan di sudut ruangan, tiba-tiba bertepuk tangan pelan. Suara tepukan tangannya menggema di ruang bawah tanah yang sempit.

"Luar biasa," puji Theodore sambil melangkah mendekat. "Analisis yang sangat brilian, Nyonya Keisha. Anda memiliki otak seorang detektif kelas dunia." Theodore kemudian menoleh menatap Jessica dengan tatapan merendahkan. "Dan kau, gadis bodoh. Kau benar-benar mengira orang yang membayarmu peduli pada nasibmu? Bagi mereka, kau hanyalah pion sekali pakai yang langsung dibuang begitu rencana busukmu gagal."

Jessica terperanjat mendengar ucapan Theodore. Wajahnya mendadak berubah pias. "T-Tidak... dia berjanji akan melindungiku! Dia bilang setelah Azalea Label hancur, aku akan diberikan posisi direktur utama di perusahaan afiliasi mereka di luar negeri!"

"Siapa namanya?!" bentak Alex dengan suara bariton menggelegar yang membuat sekujur tubuh Jessica bergidik ngeri.

Jessica terdiam beberapa detik, dadanya naik turun dengan cepat. Ketakutan yang luar biasa kini telah mengalahkan rasa setianya kepada sang dalang utama. Ia menundukkan kepalanya, lalu dengan suara gemetar berbisik, "Victor... Victor Ar-Rasyid."

Mendengar nama itu, suasana di ruang bawah tanah seketika membeku secara total.

Nama itu bukanlah nama asing. Victor Ar-Rasyid adalah paman tertua dari Alexander—paman kandung yang sudah lama diasingkan ke luar negeri akibat skandal penggelapan dana keluarga besar satu dekade lalu, namun rumor kepulangannya secara diam-diam ke tanah air baru berhembus samar-samar dalam beberapa minggu terakhir.

Alex mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih sempurna. Rahangnya mengeras sedemikian rupa hingga otot-otot di sekitar rahangnya menonjol keluar. Amarah yang selama ini ia kendalikan kini membara hebat di dalam dadanya. Paman kandungnya sendiri—darah daging keluarga yang seharusnya menjaga kehormatan dinasti—ternyata menjadi dalang utama di balik seluruh upaya kudeta, sabotase, dan fitnah keji yang diarahkan kepadanya dan Keisha.

"Jadi... si tua bangka itu benar-benar sudah kembali ke Jakarta," desis Alex dingin, suaranya terdengar bagaikan bisikan kematian dari neraka.

Keisha menoleh menatap suaminya. Meskipun ia terkejut, ia tahu bahwa pertarungan ini telah memasuki babak penentuan yang sebenarnya. Ini bukan lagi soal persaingan bisnis biasa atau masalah iri hati antardesainer; ini adalah perang terbuka perebutan takhta kekuasaan mutlak atas seluruh imperium keluarga Ar-Rasyid.

"Alexander," porsi suara Keisha terdengar lembut namun tegas, menarik perhatian suaminya. Keisha menyentuh lengan Alex pelan, menyalurkan ketenangan yang berhasil mendinginkan sedikit emosi membara di dada pria itu. "Jangan biarkan amarah mengendalikan langkahmu. Victor sengaja memancing kita keluar dari sarang untuk melihat kita membuat kesalahan di depan para investor."

Alex menarik napas panjang, menatap manik mata cokelat istrinya yang penuh keyakinan. Perlahan-lahan, ketegangan di wajah Alex mereda, digantikan oleh ekspresi dingin, kalkulatif, dan tanpa ampun—ciri khas sang CEO legendaris yang tidak pernah terkalahkan di meja strategi korporat.

Alex menoleh kembali ke arah Jessica, yang kini menangis histeris menyadari bahwa ia telah mengkhianati bos besarnya sendiri.

"Bawa dia ke tahanan kepolisian resmi atas dakwaan pencemaran nama baik, pemalsuan dokumen negara, dan konspirasi kejahatan korporat," perintah Alex kepada pengawalnya tanpa sedikit pun rasa iba. "Dan pastikan dia mendekam di sel isolasi sampai persidangan dimulai."

Setelah Jessica diseret keluar ruangan dengan jeritan histeris yang perlahan memudar di sepanjang koridor, Alex, Keisha, dan Tuan Theodore Vance berjalan kembali ke lantai atas menuju ruang rapat eksekutif.

Suasana di ruang rapat eksekutif lantai empat puluh terasa begitu tegang. Theodore Vance duduk kembali di kursi tamunya, menyesap secangkir kopi hitam yang disajikan oleh sekretaris, lalu menatap Alexander dengan senyuman penuh arti.

"Victor Ar-Rasyid," ucap Theodore membuka percakapan. "Paman tertua yang ambisius dan haus kekuasaan. Saya mendengar cerita bahwa sepuluh tahun lalu dia diusir dari negeri ini karena mencoba menjual aset strategis perusahaan kepada sindikat asing asal Eropa."

Alex mendudukkan dirinya di kursi utama, menyatukan kedua tangan di atas meja. "Dan sekarang dia kembali, mencoba memanfaatkan celah melalui pihak ketiga dan memanfaatkan rumor murahan untuk menjatuhkan kepemimpinanku, serta menyerang butik istriku."

Theodore tertawa kecil. "Lalu, apa rencana langkah balasanmu, Tuan Ar-Rasyid? Victor dikenal sebagai rubah tua yang licik. Dia pasti sudah menyiapkan langkah cadangan jika rencana razia di butik Nyonya Keisha ini gagal."

Keisha melangkah maju, berdiri di samping suaminya dengan postur tegap dan anggun. "Victor mengira kita akan sibuk memadamkan api di sektor ritel fesyen dan mengabaikan pergerakan saham di pasar modal. Dia salah besar."

Keisha menekan tombol kendali proyektor dinding di ruang rapat. Layar besar di hadapan mereka menyala, menampilkan grafik pergerakan saham harian dari beberapa perusahaan cangkang (shell companies) yang terafiliasi langsung dengan jaringan investasi ilegal milik Victor Ar-Rasyid.

"Selama tiga minggu terakhir, tim audit internal kami tidak tinggal diam," lanjut Keisha dengan suara jernih dan penuh percaya diri. "Kami melacak aliran dana mencurigakan yang masuk ke rekening perusahaan cangkang tersebut. Dan hasilnya... Victor sedang berusaha mengumpulkan suara minoritas dari para pemegang saham lama yang tidak puas dengan kepemimpinan Alex, untuk mengajukan mosi tak percaya pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) minggu depan."

Theodore Vance membelalakkan matanya sedikit, menatap lembar data finansial yang terpampang di layar dengan rasa kagum yang luar biasa. "Luar biasa... Anda berhasil membobol jaringan keuangan rahasia mereka dalam waktu secepat itu?"

Alex tersenyum tipis—senyuman penuh kemenangan yang sangat berbahaya. "Victor lupa bahwa dunia telah berubah. Di bawah kepemimpinan kami, Ar-Rasyid Group bukan lagi perusahaan keluarga yang tertutup, melainkan sebuah benteng digital yang transparan dan tidak bisa ditembus oleh intrik kuno."

Alex menatap Tuan Theodore Vance lekat-lekat. "Tuan Vance, kerja sama investasi triliunan rupiah antara Vance Global Holdings dan Ar-Rasyid Group akan ditandatangani secara resmi hari ini juga, tepat sebelum RUPSLB minggu depan dimulai. Kehadiran dan dukungan penuh dari investor asing sebesar perusahaan Anda di sisi kami akan menjadi pukulan telak yang menghancurkan seluruh sisa pengaruh Victor di mata para pemegang saham."

Theodore terdiam sejenak, menatap pasangan suami istri di hadapannya dengan rasa hormat yang mendalam. Ia menyadari bahwa melawan Alexander dan Keisha adalah sebuah kesalahan fatal; mereka berdua adalah kombinasi kekuatan mutlak—sang singa korporat yang dingin dan sang ratu strategi yang cerdas.

Theodore berdiri dari kursinya, lalu mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Alexander.

"Tuan Ar-Rasyid, Nyonya Keisha," ucap Theodore dengan senyuman tulus. "Merupakan sebuah kehormatan besar bagi saya dan Vance Global Holdings untuk menjadi bagian dari masa depan imperium keluarga Ar-Rasyid. Mari kita tandatangani kontrak kerja sama ini sekarang."

Alexander menyambut uluran tangan tersebut, menjabatnya dengan erat dan penuh wibawa. Di sampingnya, Keisha tersenyum penuh kemenangan. Badai terbesar dalam sejarah keluarga besar mereka telah mencapai titik balik penentuan. Victor Ar-Rasyid mungkin berpikir dirinya adalah pemain catur yang paling pintar, namun ia tidak menyadari bahwa ia sedang bermain di atas papan catur yang dikendalikan sepenuhnya oleh Alexander dan Keisha.

1
Exo L
kakk tulisannya, fashion gak sih?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!