Miskin seumur hidup, ia bahkan harus mengakhiri hidupnya karena penyakit yang tak mampu ia obati.
Namun, ketika membuka mata, ia justru mendapati dirinya telah masuk ke dalam novel sebagai seorang wanita yang baru saja melompat dari sebuah gedung demi melarikan diri dari pernikahan perjodohan.
Seharusnya ia ikut kabur.
Tapi setelah mengetahui bahwa pria yang akan menjadi suaminya adalah seorang pewaris kaya raya, pikirannya berubah.
“Melarikan diri? Untuk apa? Bukankah lebih baik aku menikah dan hidup nyaman?”
Kini, ia bertekad mempertahankan pernikahan yang bahkan tidak diinginkan oleh pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari setiap inci tubuhnya, menyusup ke tulang dan membuatnya nyaris tak mampu bergerak. Kepalanya terasa berat seolah baru saja dihantam benda keras, dan setiap detak jantung membawa denyutan perih yang tajam.
Perlahan, dengan susah payah, matanya terbuka. Cahaya biru yang jernih menyambut pandangannya, membentang luas tanpa batas di atas sana.
Ia mengerang pelan, suara itu keluar tanpa sadar, dan tubuhnya terasa begitu berat saat ia mencoba sedikit saja mengubah posisi.
Di sekelilingnya, suara-suara mulai terdengar, berdesakan dan saling tumpang tindih, penuh kepanikan.
Orang-orang berteriak, memanggil-manggil, memberi perintah dengan nada cemas.
“Nona!”
"Cepat panggil ambulans!"
"Jangan dipindahkan, biarkan saja dulu!"
"Ya Tuhan… dia jatuh dari lantai dua puluh!"
Kalimat terakhir itu menusuk kesadarannya, membuatnya tertegun.
'Lantai dua puluh?' Ia mengerjapkan mata berkali-kali, berusaha menyusun kembali apa yang terjadi.
Bayangan-bayangan masa lalu mulai bermunculan, samar namun jelas. Kamar kecil yang sempit, dinding yang lembap dan berbau apek, kasur tipis yang hampir tak empuk lagi, meja reyot yang penuh dengan botol obat yang bahkan tak sempat ia habiskan.
Ia ingat rasa sakit yang terus-menerus menyergap dadanya, detik-detik ketika napasnya berhenti, ketika kesadaran perlahan memudar, dan ia tahu pasti bahwa ia telah meninggal dunia.
Namun sekarang.. kenapa ia berada di luar, di halaman gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, dengan tubuh yang masih terasa nyeri namun tetap bernapas?
Saat ia mencoba memproses kenyataan itu, kepalanya terasa semakin berat, seolah ada sesuatu yang baru saja merambah ke dalam pikirannya, menyusup dan menggantikan sebagian ingatannya.
Berbagai hal asing bermunculan satu per satu, mulai dari nama, keluarga, rumah yang megah, sekolah yang bergengsi, sebuah pertunangan, dan sebuah pernikahan yang sudah disiapkan sejak lama.
Bersama semua itu, muncul pula sosok seorang pria yang namanya terngiang jelas di benaknya: Sebastian Hale.
Ia mulai menyadari siapa dirinya sekarang. Tubuh yang kini ia tempati milik Elena Arvienne, putri tunggal keluarga kaya yang terpandang, berusia dua puluh tiga tahun, hidup dalam kemewahan yang tak pernah bisa ia bayangkan sebelumnya.
Namun Elena membenci perjodohannya dengan Sebastian—CEO muda yang dingin, cerdas, dan sangat kaya raya, pemilik kekaisaran bisnis Hale Group yang namanya dikagumi seantero negeri.
Karena tak ingin menikah tanpa cinta, Elena mencoba melarikan diri, dikejar hingga ke lantai atas gedung itu, dan dalam kepanikan, ia melompat dari balkon dan kehilangan nyawanya.
Dan di saat yang sama, jiwanya berpindah ke dalam tubuh itu.
Ia terdiam, mencerna semua informasi yang mengalir deras di benaknya.
'Ah.. sepertinya aku tau kisah ini.. aku pasti masuk ke novel The CEO’s Unwanted Bride dan menjadi Elena yang bukan tokoh utama itu..'
Dalam ceritanya, Elena hanyalah karakter pendukung yang berakhir tragis, kematiannya yang justru membuka jalan bagi kisah cinta Adrian dan wanita yang kelak menjadi istrinya dalam cerita itu.
Namun sekarang, Elena yang asli sudah tiada, dan dialah yang berdiri di posisinya.
Alih-alih takut atau bingung, sesuatu yang lain justru tumbuh di dalam hatinya. Senyum perlahan terukir di bibirnya, melebar semakin lebar.
Ia tahu betul siapa pria itu, kekayaan yang tak terbayangkan, bisnis yang menjangkau berbagai kota, rumah-rumah mewah, vila pribadi, mobil-mobil mahal.. dan semua itu, kelak akan menjadi milik istrinya. Miliknya..
Ia melihat ke bawah, menatap kedua tangannya yang kini putih, halus, dan terawat baik. Pakaian yang dikenakannya pun terbuat dari bahan yang lembut dan mahal, jauh berbeda dari pakaian lusuh yang biasa ia pakai sehari-hari.
Rasa bahagia yang meluap-luap menyapu seluruh dirinya. Tidak ada lagi kelaparan, tidak ada lagi obat yang tak terjangkau, tidak ada lagi kesepian dan ketakutan akan hari esok. Semua penderitaan masa lalunya kini berakhir.
“Kalau aku kabur, aku pasti bodoh,” gumamnya pelan, dan petugas medis di dekatnya yang mendengar itu menatap bingung.
Ia segera menggeleng, menyembunyikan kegembiraannya yang meluap, dan berusaha berdiri tegak. Ia harus menjaga sikap, tidak boleh ada yang curiga, terutama setelah apa yang baru saja dialami Elena.
Dengan tegas ia menolak dibawa ke rumah sakit, lalu..
"Ayo kembali.. bukankah pertunangan akan segera dilaksanakan?"
'Benar.. ayo bertunangan.. lalu 3 hari lagi pasti pernikahannya akan dilaksanakan..'
Semua orang menatap tak percaya, bahkan dengan kepala yang masih mengeluarkan darah, Elena malah tersenyum manis.
...tp trus lanjuuut💪💪😘😘