Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.
Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28. Tangan Kiri Sang Tabib
Tiga bulan setelah malam di kuil tua Sichuan itu, ketika Tang Hyun memotong telapak tangannya sendiri dan membiarkan darahnya menetes ke "Lonceng Musim Dingin" agar Tang Yue bisa lari, musim dingin datang lebih awal ke Chang'an, dan bersamaan dengan salju pertama turun, rasa sakit di lengan kanan Tang Hyun juga ikut datang setiap malam seperti tamu yang tidak diundang dan tidak pernah mau pulang, karena saraf yang putus tidak bisa disembuhkan dengan obat, dan karena dokter istana sudah bilang sejujurnya bahwa tangan itu tidak akan pernah bisa memegang jarum dengan stabil lagi, sebuah kenyataan yang lebih menyiksa daripada luka itu sendiri, karena selama empat puluh tahun hidupnya Tang Hyun mengenal dirinya melalui ujung jarinya, melalui cara dia memutar botol racun, melalui cara dia menekan titik nadi, dan sekarang semua itu direnggut dalam satu malam demi menyelamatkan putrinya.
Pagi itu di Paviliun Bunga Plum, Xinyue bangun lebih awal dari biasanya, bukan karena ada sidang, melainkan karena dia mendengar suara benda jatuh dari kamar sebelah, suara pelan yang diikuti oleh keheningan yang terlalu lama, dan ketika dia mendorong pintu, dia melihat Tang Hyun duduk di lantai dengan kotak obat tumpah, dengan wajah yang basah bukan oleh air, melainkan oleh keringat dan frustrasi, karena dia baru saja mencoba meracik "Penawar Demam Merah" dengan satu tangan dan gagal untuk ketujuh kalinya, dan botol terakhir pecah di lantai, meninggalkan aroma pahit yang memenuhi ruangan.
"Aku tidak bisa," kata Tang Hyun tanpa menatap istrinya, "aku bahkan tidak bisa membuat obat paling dasar. Apa gunanya aku sekarang?"
Xinyue tidak menjawab dengan kata-kata menghibur yang kosong, dia hanya berjalan, duduk di lantai di samping suaminya, mengabaikan pecahan kaca, lalu mengambil sapu dan mulai membereskan bersama, "Kalau begitu kita belajar lagi," katanya pelan, "dari nol. Seperti dulu waktu kau mengajariku bedakan racun dan obat."
Tang Hyun tertawa pahit, "Dulu aku punya dua tangan."
"Sekarang kau punya aku," jawab Xinyue, "dan kau punya tangan kiri. Dan kau punya murid yang lebih keras kepala daripada kau."
Di ambang pintu, Tang Yue sudah berdiri sejak tadi, membawa nampan berisi teh dan perban baru, dan ketika mendengar itu dia langsung masuk dan berlutut, "Ayah, ajar aku. Ajar aku semua yang bisa Ayah ajar dengan tangan kiri. Biar aku jadi tangan kanan Ayah."
Tang Hyun menatap putrinya, gadis 15 tahun yang dua bulan lalu hampir mati karena namanya, dan sekarang duduk di depannya dengan mata yang tidak mengasihani, melainkan menuntut, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia mengangguk, "Baiklah. Mulai hari ini. Tapi ini akan sakit."
"Lebih sakit daripada ditusuk Lonceng Musim Dingin?" tanya Tang Yue.
"Berbeda," jawab Tang Hyun, "ini sakit karena harus sabar."
Maka dimulailah latihan yang tidak pernah dibayangkan siapa pun di Klan Tang, yaitu seorang legenda racun belajar lagi dari awal dengan tangan yang bukan dominannya, dan setiap hari selama dua bulan, paviliun itu menjadi ruang kelas, Xinyue yang menyiapkan bahan, Tang Yue yang mencatat, dan Tang Hyun yang mencoba, gagal, mencoba lagi, sampai jarinya kapalan di tempat yang baru dan sampai tulisannya yang dulu seperti ukiran sekarang menjadi seperti tulisan anak kecil.
Hari pertama, dia tidak bisa mengikat simpul perban.
Hari kelima, dia menumpahkan setengah panci obat.
Hari kesepuluh, dia berhasil membuat satu jarum masuk ke titik akupuntur boneka kayu, meskipun butuh waktu satu jam.
Hari kedua puluh, dia bisa menulis satu halaman catatan tanpa berhenti.
Dan setiap malam, ketika rasa sakit di bahu kanannya datang, Xinyue akan mengompresnya dengan air hangat, dan Tang Yue akan memijat pelan, dan Tang Hyun akan berbisik, "Kalau dulu aku tahu menyelamatkan anakku berarti harus belajar berjalan lagi, aku tetap akan melakukannya."
Di tengah semua itu, datang surat dari perbatasan, dari klinik tempat "Tangan Pembalas Desa Ling" bekerja paksa, surat yang ditulis oleh salah satu dari mereka, seorang pria yang dulu meneriaki Tang Hyun sebagai pengkhianat, dan isinya hanya satu kalimat, "Kami melihat anak mati karena demam berhenti bergetar setelah kami beri obat. Kami tidak tahu harus merasa apa. Tapi terima kasih."
Tang Hyun membaca surat itu tiga kali, lalu dia melipatnya dan menyimpannya di dalam laci, "Maka ini sepadan," katanya.
Sebulan kemudian, Kaisar Tang Ming memanggil ayahnya ke istana, bukan untuk sidang, melainkan untuk sesuatu yang lebih penting, yaitu peresmian "Sayap Kiri Akademi Bunga Plum", sebuah sayap baru yang khusus mengajarkan pengobatan dan pembuatan obat untuk orang yang cacat, untuk orang yang kehilangan tangan, kaki, atau mata, sebuah ide yang datang dari Tang Hyun sendiri setelah dia merasakan betapa sulitnya hidup ketika tubuh tidak lagi sempurna.
Di hari peresmian, Tang Hyun berdiri di depan 200 murid, dengan tangan kanan masih diperban dan tangan kiri memegang tongkat, dan dia berkata dengan suara yang tidak sekuat dulu tetapi tetap jelas, "Dulu aku mengajar kalian bahwa racun bisa membunuh. Hari ini aku mengajar kalian bahwa keterbatasan juga bisa mengajar. Aku kehilangan tangan kananku karena aku memilih menyelamatkan anakku. Dan aku tidak menyesal. Karena dari kehilangan itu, aku belajar bahwa penyembuhan tidak selalu datang dari kesempurnaan. Kadang datang dari orang yang tahu rasanya sakit."
Aula itu hening, lalu tepuk tangan, bukan tepuk tangan hormat pada jabatan, melainkan tepuk tangan untuk manusia.
Setelah acara, seorang anak laki-laki berusia sekitar 12 tahun dengan lengan kiri kosong menghampiri Tang Hyun dan bertanya, "Guru, sakit tidak?"
"Sakit," jawab Tang Hyun jujur, "tapi setiap kali aku melihat kalian, sakitnya jadi lebih ringan."
Anak itu mengangguk dan memeluknya, dan Tang Hyun yang dulu tidak pernah suka disentuh, sekarang membalas pelukan itu dengan tangan kirinya.
Malamnya, di rumah, Tang Yue duduk di meja, menyalin resep-resep ayahnya ke dalam buku baru, buku yang diberi judul "Catatan Tangan Kiri", dan Xinyue duduk di samping Tang Hyun, memijat bahunya.
"Kau tahu," kata Xinyue, "dulu aku takut menikah denganmu karena aku pikir kau akan mati di medan perang. Sekarang aku takut karena kau hampir mati karena cinta pada anak kita."
"Dan aku," jawab Tang Hyun, "takut karena aku hampir tidak bisa menepati janji untuk pulang padamu."
Mereka terdiam, dan Tang Yue dari meja sebelah berkata, "Ayah, Ibu, jangan bicara seperti akan mati. Karena aku belum selesai belajar dari kalian."
Tang Hyun dan Xinyue tertawa, dan tawa itu adalah obat terbaik untuk ruangan itu.
Beberapa minggu kemudian, terjadi insiden kecil di pasar, seorang pedagang keracunan karena makan jamur liar, dan dokter yang dipanggil panik karena tidak ada penawar, dan kebetulan Tang Hyun sedang lewat untuk membeli teh, dan tanpa berpikir panjang dia duduk, membuka kotak obatnya dengan tangan kiri, dan dalam waktu sepuluh menit dia berhasil menstabilkan pedagang itu, gerakannya lambat, canggung, tetapi tepat, dan ketika orang-orang bersorak, Tang Hyun hanya berdiri dan berkata, "Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan."
Berita itu menyebar, dan keesokan harinya orang-orang mulai memanggilnya bukan "Tangan yang Menyembuhkan" lagi, melainkan "Tangan Kiri yang Tidak Menyerah", sebuah nama yang dia benci pada awalnya tetapi lama-lama dia terima, karena itu benar.
Di malam yang sama, Tang Hyun duduk di paviliun sendirian, menatap tangannya yang gemetar, dan Xinyue datang membawa dua cangkir teh, "Masih sakit?"
"Masih," jawab Tang Hyun, "tapi hari ini aku menyelamatkan orang. Dengan tangan ini. Tangan yang kau bilang tidak berguna."
Xinyue duduk di sampingnya, "Aku tidak pernah bilang tidak berguna. Aku bilang kau lebih dari tanganmu."
Tang Hyun menatap istrinya, "Terima kasih karena tidak menyerah padaku, bahkan ketika aku menyerah pada diriku sendiri."
"Aku istrimu," jawab Xinyue, "menyerah bukan pilihan."
Mereka minum teh dalam diam, dan kelopak bunga plum musim dingin jatuh ke dalam cangkir mereka, dingin, tetapi tidak membekukan.
Beberapa hari kemudian, Tang Yue datang dengan ide, "Ayah, bagaimana kalau kita buat alat bantu? Sesuatu yang bisa dipasang di tangan Ayah agar bisa menahan jarum?"
Tang Hyun mengernyit, "Itu ide gila."
"Maka kita coba," kata Tang Yue, "karena Klan Tang tidak takut pada hal gila."
Dan begitu, selama sebulan, ayah dan anak itu menghabiskan waktu di bengkel, mencoba kayu, bambu, besi, gagal berkali-kali, sampai akhirnya mereka membuat alat sederhana dari kulit dan kawat yang bisa mengunci jarum di telapak tangan kiri Tang Hyun, tidak sempurna, tetapi cukup untuk membuat dia bisa bekerja lagi, meskipun hanya untuk kasus darurat.
Ketika alat itu pertama kali digunakan untuk menjahit luka seorang anak yang jatuh dari pohon, anak itu berhenti menangis dan berkata, "Kakek hebat!", dan Tang Hyun yang mendengar itu hampir menangis, karena itu pertama kalinya setelah sekian lama dia merasa dirinya berguna lagi.
Di akhir musim dingin, ketika salju mulai mencair, Tang Hyun dipanggil lagi ke perbatasan, bukan untuk bertarung, melainkan untuk mengajar, untuk mengajari para mantan "Tangan Pembalas Desa Ling" cara membuat obat dengan alat bantu, karena beberapa dari mereka juga kehilangan jari atau tangan dalam hidup mereka, dan ketika dia melihat mereka mencoba, gagal, lalu mencoba lagi, dia melihat dirinya sendiri dua bulan lalu.
Malam terakhir di perbatasan, salah satu dari mereka, pria dengan bekas luka di pipi yang dulu memimpin penculikan, datang ke tenda Tang Hyun dan berlutut, "Aku minta maaf," katanya, "karena kami hampir membunuhmu. Dan karena kami hampir membunuh anakmu."
Tang Hyun menatapnya lama, "Bangun. Dan besok ajari yang lain cara membalut luka. Itu permintaan maaf yang aku mau."
Pria itu mengangguk dan pergi, dan Tang Hyun duduk di luar tenda, menatap langit, dan berbisik, "Xinyue, aku merindukanmu."
Ketika dia kembali ke Chang'an, Xinyue dan anak-anak menyambutnya di gerbang, dan Tang Yue langsung memeriksa tangannya, "Bagaimana? Sakit?"
"Sakit," jawab Tang Hyun, "tapi sakit yang bagus."
Malam itu, keluarga mereka makan bersama, dan setelah makan, Tang Hyun mengeluarkan buku baru, "Catatan Tangan Kiri Jilid 1", dan dia menyerahkannya kepada Tang Yue, "Ini untukmu. Karena kau yang mengajari aku cara menulisnya."
Tang Yue membuka buku itu dan menangis, karena di halaman pertama tertulis, "Untuk Yue. Yang mengajariku bahwa menjadi kuat bukan tentang tidak jatuh. Tapi tentang bangun dengan tangan yang berbeda."
Xinyue memeluk suaminya dari belakang, "Aku bangga padamu."
"Aku juga bangga pada kita," jawab Tang Hyun, "karena kita melewati ini bersama."
Di luar, bulan purnama bersinar, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Tang Hyun tidak merasa dirinya cacat, dia merasa dirinya lengkap, karena dia punya tangan kiri yang bisa bekerja, dia punya istri yang tidak pernah lepas, dia punya anak yang menjadi kekuatannya, dan dia punya alasan untuk bangun setiap pagi.
Dan di dalam hatinya, dia bersumpah bahwa selama dia masih bisa menggerakkan satu jari, dia akan terus menyembuhkan, terus mengajar, dan terus melindungi, karena itu satu-satunya cara dia menghormati harga yang sudah dia bayar untuk menyelamatkan putrinya.