Andriana Arnova harus menyaksikan pengkhianatan suaminya dengan kakak iparnya sendiri.
Namun bukan marah, minta cerai yang ia lakukan, melainkan membalasnya dengan kegilaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Rasa sakit, kecewa dan dendam di dadanya telah merubah dunianya.
Demi membalas dendam atas pengkhianatan suaminya, ia rela mengorbankan karir yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Baginya setiap kerugian harus ada bayarannya dan setiap rasa sakit harus ada pembalasan yang akan lebih menyakitkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vea Vivie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Pagi ini Andriana merasa tubuhnya tidak pegal semua dan mual terus. Ia sendiri seorang dokter jadi ia bisa memprediksi bahwa dirinya sedang hamil, karena sudah dua bulan ini ia tidak datang bulan.
Andriana bergegas mencari alat tes kehamilan yang ia simpan di kotak obat.
Deg
Deg.
Deg
Dan hasilnya sungguh mengejutkan.
Andriana syok dan kakinya lemas seketika begitu mengetahui kalau hasil testnya ternyata bergaris dua, yang berarti bahwa saat ini ia sedang positif hamil.
Tiba tiba terdengar suara pintu diketuk.
Andriana membeku seketika, ia takut para penjahat itu masih mencarinya sedangkan Devan sudah berangkat dari pagi karena ada rapat penting.
Dengan ragu ragu Andriana pun membuka pintu.
Ceklek
" S-siapa anda?" Tanya Andriana pada sosok wanita cantik yang berdiri di depan pintunya.
Sarah tersenyum tipis lalu menerobos masuk ke dalam begitu saja Andriana juga kesal.
"Siapa anda!'' Tanya Andriana.
Sarah tersenyum tipis lalu duduk di sofa dan meletakkan tas Dior nya di atas meja.
"Namaku Sarah Collin, aku ibu kandungnya Devan!"
Deg
Andriana terdiam dan tanpa sengaja menjatuhkan alat tes kehamilan miliknya.
Sarah bergegas memungutnya dan melihatnya dengan tersenyum tipis.
" Andriana, sepertinya aku punya tawaran menarik untukmu".
"Apa itu?"
"Aku kasih kamu lima miliar tapi kamu tinggalkan putraku!".
Andriana menunduk sambil mengepalkan tangannya.
Sarah berdiri dan berjalan mendekati Andriana lalu kembali berbisik" Kamu bisa pergi dari sini dengan lima miliar cukup untuk biaya kamu dan anakmu nanti".
Andriana menunduk menahan air matanya yang hampir saja terjatuh.
"Kenapa tante?"
"Karena Devan adalah satu satunya pewaris Collin group perusahaan paling besar di kota ini, hanya wanita berkelas yang pantas untuknya. Lagi pula Devan sudah memiliki perjodohan di waktu kecil. Sedangkan kamu, aku tahu semua tentang kamu, wanita hina tukang selingkuh, jangan kamu kira aku tidak tahu skandal perselingkuhanmu di rumah sakit" Jawab Sarah panjang membuat Andriana tak mampu lagi berkata kata selain menunduk dan menangis.
"Tapi tante, Devan dan saya saling mencintai"
Plokk
Sarah melemparkan segebok uang kertas seratus ribuan ke muka Andriana untuk menghentikan ucapannya.
"Cinta apanya, kamu hanya mengincar uang kan? Ini aku berikan dan pergi dari hidup Devan selamanya! Masih kurang?"
Sarah mengeluarkan cek senilai lima miliar dan lagi lagi melemparkannya ke muka Andriana.
"Ini cek senilai lima miliar aku tidak mau alasan apapun darimu, o iya satu lagi pastikan Devan tidak mengetahui tentang kehamilanmu karena toh itu pasti bukan anaknya Devan siapa tahu anak orang lain dan kamu mau mengaku itu anaknya Devan!" Ucap Sarah dengan kejamnya.
Andriana menunduk sejenak lalu kembali menatap Sarah sambil mengusap wajahnya yang basah oleh air mata, ia mencoba kuat dan harus berani mengambil keputusan, karena mulai sekarang ada anak di dalam rahimnya yang harus ia jaga dan perjuangkan.
"Maaf tante, saya tidak bisa menerima uang itu, tapi aku akan tetap pergi meninggalkan Devan.Aku pastikan Devan tidak akan tahu masalah ini! " Jawab Andriana dengan lebih kuat dan berani.
Sarah tersenyum tipis penuh rasa menang karena berhasil menyingkirkan Andriana dari hidup Devan, ke depannya hidup Devan akan berada di dalam genggamannya.
Setelah selesai dengan misinya, Sarah pun pergi meninggalkan Andriana.
Andriana terdiam sejenak lalu duduk bersimpuh menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya, tangisannya pun pecah tanpa ada yang menghibur ataupun menenangkannya karena ia di rumah seorang diri.
***
"Benarkah Tante! Satu minggu lagi Agatha akan bertunangan dengan Devan! Ini berita bagus aku harus mengumumkannya di dunia Maya" Ucap Agatha kegirangan.
"Tunggu Agatha, jangan diumumkan dulu nanti Devan tidak akan setuju, lebih baik tunggu sisa dua hari baru kita umumkan beserta undangan pertunangan kalian" Jawab Sarah.
Agatha pun mengangguk bahagia.
Malamnya di apartemen, Devan pulang dengan raut muka bahagia karena status kedokteran Andriana telah kembali aktif setelah diskors beberapa minggu.
'' Sayang, lihatlah apa yang aku bawa!" Teriak Devan begitu memasuki ruangan.
Devan terus memanggil Andriana tapi tetap tidak ada jawaban, ia mulai panik dan mencari ke setiap sudut ruangan tapi tetap tidak menemukannya.
Devan membulatkan matanya begitu melihat sebuah kertas di atas meja rias.
Devan meraih kertas tersebut kemudian membuka dan membacanya.
(Isi surat)
Devan, begitu kamu membaca surat ini aku sudah pergi jauh. Maafkan aku pergi tanpa pamit padamu.
Van, lupakan aku ya? Lupakan kalau kita pernah menjalin hubungan, percayalah Van hubungan yang kita jalani itu salah.
Tidak ada perselingkuhan yang akan berakhir bahagia. Setiap perselingkuhan adalah luka yang semakin lama akan semakin dalam melukai kita sendiri.
Buang perasaanmu padaku, akupun juga membuang perasaanku padamu. Biarlah semua kenangan hanya milik kita yang akan terkubur jauh dan dalam.
Semangat sayang, jalani hidup dengan sehat!
Andriana.
Devan luruh di sudut dipan sambil meremas surat Andriana, air matanya pun mengalir deras.
"An, kenapa kamu tega padaku! Andriana! Hahhhh...." Devan berteriak histeris menahan sesak di dadanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi An, kenapa kamu tiba tiba pergi meninggalkanku" Ucapnya lirih.
Devan meraih ponselnya untuk menghubungi Andriana tapi tetap tidak bisa. Ia sempat frustasi lalu menghubungi Leo agar mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Andriana.
.
.
.
Tiga bulan kemudian.
Di rumah besar keluarga Collin sedang sibuk mempersiapkan hari pertunangan antara Devan dan Agatha.
Agatha tampak sangat bahagia, tapi berbeda dengan Devan yang saat ini menjadi pendiam, tatapannya sedingin es, pandangannya pun semakin tajam dan nampak menakutkan. Patah hati telah merubah hatinya bahkan hidupnya.
Devan yang dulu seorang dokter yang ramah, murah senyum, kini kebalikannya. Kepintarannya di dunia medis memang tidak diragukan lagi tapi sikapnya yang berubah drastis membuat semua orang yang berada di sisinya terkadang bergidik ngeri saat di dekatnya.
Devan dan Leo mencari keberadaan Andriana ke berbagai kota, bahkan ke luar negeri tapi tetap tidak menemukannya. Andriana seperti lenyap ditelan bumi.
Devan duduk di kursi kebesarannya, ia tidak bisa lagi memikirkan hal lain selain Andriana dan pekerjaan, jadi untuk bisa melupakan pikirannya tentang wanitanya itu ia luapkan dengan bekerja gila gilaan. Tanpa mengenal waktu dan lelah ia tetap menyibukkan dirinya dengan berbagai pekerjaan.
"Tuan, apakah anda sudah makan siang?" Tanya Leo pada Devan yang masih fokus pada layar monitornya.
" Tidak Leo, aku tidak lapar" Jawab Devan tegas tanpa menoleh dan tetap menatap layar monitor di depannya.
"Tapi tuan, anda bisa sakit kalau tidak makan secara teratur, tubuh anda sekarang juga nampak lebih kurus".
Devan menoleh pada Leo, tatapannya sangat menakutkan membuat Leo menunduk seketika.
Tak lama kemudian, Agatha muncul dengan membawa rantang berisi makan siang untuk Devan.
"Maaf tuan Devan, sebaiknya saya keluar " Ucap Leo setelah Agatha datang.
Devan mendengus kesal " Tunggu Leo, kita makan siang di restoran depan!".
"Tapi kak Devan, aku sudah bawakan makan siang untukmu" Rengek Agatha pada Devan.
Devan beranjak dan berjalan tanpa memperdulikan Agatha.
Agatha menarik tangan Devan untuk menghentikan langkahnya " Kak, aku tunanganmu, sampai kapan kamu terus mengacuhkan aku, tiga bulan kita bertunangan tapi kamu tetap seperti ini ".
Devan tersenyum miring " Siapa yang menginginkan pertunangan ini, mamaku kan? Anggap saja dia tunanganmu!".
"Tapi kak Devan! Kamu memang keterlaluan! Aku tidak rela kamu perlakukan aku seperti ini! Kamu tidak pernah menganggapku ada tapi kamu terus memikirkan wanita jalang itu!" Teriak Agatha yang membuat Devan menatapnya tajam.
Devan mencengkram erat leher Agatha dan membuatnya hampir tidak bisa bernafas.
"Sekali lagi aku dengar kamu mengatakan Andriana wanita jalang, bukan hanya kamu yang akan aku habisi tapi seluruh keluargamu bahkan tujuh keturunanmu akan ikut menanggung akibatnya!" Gertak Devan dengan tatapan menakutkan.
"M-maafkan aku kak, I - iya aku tidak akan mengulanginya lagi?" Jawab Agatha dengan wajah pucat.
Devan pun melemparkan tubuh Agatha hingga menabrak meja kerjanya dan rantang berisi makan siang untuknya pun jatuh berserakan, membuat Agatha menangis sesenggukan.