Seorang Ceo yang merahasiakan pernikahannya dengan wanita yang di cintainya. Semua itu di lakukan karena keinginan sang istri. Sang istri ingin membuktikan diri ke keluarganya jika ia mampu berdiri sendiri. Bukan tanpa alasan, semua itu terjadi karena selama ini. Sang istri selalu mendapatkan perlakuan tidak adil dari keluarganya sendiri.Sang istri juga tahu jika pernikahan mereka berdua tidak akan di restui oleh keluarga suaminya karena latar belakangnya sangat berbeda jauh. Bagaimana kisah cinta mereka jika tahta dan sosial menjadi penghalang utama hubungan mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armelia Melmel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.10 Berusaha mengambil hati Alex
Cefe.
Alex dan Ana tiba di cafe. Ana bernisiatif memesan makanan.
"Bagaimana menurut mu?"
Ana menatap Alex.
"Tentang apa?"
Ana pura-pura tidak tahu.
"Kakak ku. Kamu tahu bagaimana sifatnya? Jika dia sudah menolak sesuatu maka dia tidak akan menerimanya. Kamu yakin masih mau menerimanya?"
Alex menatap Ana.
Ana terdiam sesaat.
Dia tahu hal itu. Melihat sikap dingin Eldrick membuatnya sedikit ragu. Tapi dia tahu dengan jelas jika dia menjadi istri Eldrick maka apa pun yang dia inginkan akan ia dapatkan.
Kekayaan, kehormatan dan bahkan tahta. Dia akan mendapatkan semua itu saat ia menikah dengan Eldrick.
Urusan Eldrick tidak menyukainya, dia tidak akan peduli dengan hal itu. Ana yakin jika dia akan membuat Eldrick menyukainya.
"Kamu melamun?"
Alex menepuk pundak Ana.
"Maaf, aku hanya memirkan saat kakak mu menindasku." Ujar Ana dengan pelan.
Dia menunjukkan kelembutannya di hadapan Alex.
Alex tersenyum miring.
Dia tidak bodoh. Dia bisa melihat betapa munafiknya Ana.
"Permisi nona dan tuan. Minuman dan makanan anda sudah datang."
Alex mengerutkan keningnya.
"Kamu memesan semua ini?"
"Iya. Mungkin kita bisa mengobrol beberapa menit lagi."
Alex tersenyum kecil.
"Baiklah."
Alex mengangguk-nganggukkan kepalanya.
Ana dan Alex mengobrol kurang lebih tiga puluh menit lamanya.
"Sebaiknya aku pergi. Aku masih ada urusan. Terimah kasih traktirannya."
Alex tersenyum dan meninggalkan Ana di cafe seorang diri.
Lagi-lagi Alex mengirim pesan kepada kakaknya. Tentu saja dia ingin memberitahu tentang pertemuannya dengan Ana.
Di sisi lain. Kakaknya sedang rapat. Mendengar ponselnya berbunyi.
Eldrick meraih ponselnya.
Wajahnya terlihat menahan kesal ketika melihat isi pesan sang adik.
"Bocah tengik itu."Gumam Eldrick penuh kekesalan.
"Ada apa tuan?"
Will mendekat.
"Bukan apa-apa. Lanjutkan saja."
"Baik tuan."
Selesai rapat.
Eldrick meninggalkan ruangan itu begitu saja. Dari raut wajahnya dia terlihat masih kesal.
"Ada apa tuan? Anda tidak setuju dengan usulan mereka?"
Eldrick menoleh.
"Bukan karena hal itu. Alex menemui Lily dan Ana. Entah apa tujuan bocah tengik itu."Ujar Eldrick.
"Apa perlu saya menyelidikinya tuan?"
"Tidak perlu. Alex tidak akan macam-macam. Dia hanya terlalu banyak urusan."
"Saya mengerti tuan."
"Berikan proposal ini. Saya memilih proposal ini."
Will mengerutkan keningnya.
Melihat tatapan Will. Eldrick berdecak kesal.
"Kamu meragukan ku?"
"Bukan begitu. Hanya saja.."
Will tidak melanjutkan ucapannya ketika Eldrick memberikan proposalnya.
"Baca sendiri jika kamu meragukan ku."
"Tidak tuan. Saya tidak akan pernah meragukan pilihan anda."
"Periksa." Perintah Eldrick kembali.
"Tidak tuan."
Eldrick menatap tajam ke arah Will. Tatapan itu membuat nyali Will menciut.
Dengan cepat Will meraih proposal di hadapannya.
"Aku beri waktu 30 menit. Kamu harus punya alasan mengapa kamu memilihnya."
"Baik tuan."
Will mengkrutuki kebodohannya. Dia terlalu banyak tanya sehingga dia mendapatkan masalah.
Eldrick menyeringai kecil melihat kepergian orang kepercayaannya.
Tiga puluh menit berlalu.
Will kembali ke ruangan Eldrick. Wajahnya terlihat tegang
Dia meletakkan proposal di depan Eldrick.
"Saya rasa, saya setuju dengan anda tuan."
Eldrick tersenyum kecil.
"Kenapa memilihnya? Bukankah kamu meragukan ku?"
"Saya tidak berani tuan." Jawab Will dengan cepat.
Will dengan cepat memberikan alasannya. Eldrick yang mendengar alasan Will tidak berkata apa-apa. Dia jelas sependapat dengan Will.
Eldrick mengibaskan tangannya.
Melihat hal itu. Will segera meninggalkan ruangan itu.
Will berjalan ke ruangan tuan Hartono. Setibanya di sana. Dia menyerahkan proposal itu.
Raut wajah tuan Hartono terlihat berbeda.
"Tuan memilih proposal pengawai baru itu?"
"Iya. Kamu meragukan tuan Eldrick?"
"Saya tidak berani tuan."
"Lakukan saja apa yang aku katakan."
"Baik tuan Will."
Will melangkah pergi meninggalkan ruangannya tuan Hartono. Pria paruh baya itu tersenyum kecut.
"Bagaimana caranya menyingkirkannya? "Gumam tuan Hartono menyeka keringatnya.
Dia berjalan keluar meninggalkan ruangannya. Dia jelas menemui timnya.
Tuan Hartono menghela nafas kasar.
"Perhatian semua."
"Ada apa tuan?"Ana bertanya paling depan.
"Saya datang untuk menyampaikan proposalnya. Tuan Eldrick memilih proposal Lily."
Ana yang mendengarnya terlihat terkejut. Dia sedikit meragukannya.
"Tuan Hartono yakin?"Ana bertanya.
Wanita itu terlihat ragu dengan keputusan itu.
"Apa kamu meragukan tuan Eldrick?"
"Saya tidak berani tuan."
Grace menoleh kepada Lily.
"Kamu dengar itu Lily. Kamu yang menang."
Grace ikut terlihat senang.
"Apa tidak salah? Aku yang menang."
Lily menatap Grace.
"Tentu saja. Kamu yang menang. Tuan Hartono baru saja mengatakannya. Kamu tahu jika siapa pun yang pemenangnya akan mendapatkan hadiah."
Lily tersenyum bahagia.
" Ini hanya kebetulan Lily."Sindir Amber.
"Itu benar sekali."Timpal Jane.
Ana yang duduk di meja kerjanya terlihat menahan rasa kesalnya. Dia hanya tidak ingin menunjukkannya.
"Kamu iri? Terlihat jelas di mata mu." Ujar Grace membela Lily.
"Tutup mulut mu. Sekarang kamu berani kepada ku. "
"Iya."
Grace mulai menantang Amber. Dia tidak ingin membiarkan dirinya di aniaya lagi seperti sebelumnya. Setidaknya sekarang dia punya teman.
Grace menoleh kepada Lily.
"Jangan berdebat karena hal ini Grace." Ujar Lily menoleh kepada Grace.
"Maaf, aku hanya ingin membela mu."
"Terimah kasih. Tapi aku tidak ingin kamu terluka karena diriku. Aku baik-baik saja." Jawaban Lily membuat Grace tenang.
Tapi di dalam hatinya dia sedikit bersalah.
Ana juga memanggil Amber dan Jane. Jika mereka berdebat maka dia juga akan mendapatkan masalah.
"Tidak apa-apa. Ini bukan rezeki kita."Ujar Ana menahan rasa kesalnya.
Jauh dari lubuk hatinya. Dia sangat kesal. Bahkan ingin rasanya dia merobek wajah Lily.
Beberapa jam berlalu.
Tepat jam pulang kantor.
Ana merapikan meja kerjanya. Amber dan Jane lagi-lagi mencari muka di hadapannya dengan membantunya merapikan mejanya.
"Perhatian semua."
Semua karyawan di tim itu menoleh kepada Ana.
"Saya ingin mentraktir kalian. Sebagai karyawan baru. Ini adalah kesempatan saya untuk berkenalan dengan kalian."Ujar Ana.
"Kamu baik sekali Ana. Lily yang menang tapi kamu yang traktir kita."Ujar salah satu karyawan.
"Tentu saja karena Lily tidak punya apa-apa. Beda dengan Ana. Dia itu cucu keluarga Colins."Ujar Amber menyombongkan Ana di depan timnya.
Ana menoleh kepada Lily.
Lily hanya tersenyum kecil.
Grace mendekat.
"Kamu baik-baik saja? Tidak apa-apa. Jika kamu tidak mau pergi. Kita tidak perlu pergi."Ujar Grace.
Lily menoleh kepada Ana.
"Kamu ikut kan Lily?"
Ana menoleh kepada Lily.
"Tentu saja. Malam ini biar aku yang traktir."Ujar Lily.
Wajah Ana tampak syok. Detik berikutnya wanita itu tersenyum kecil.
"Kamu yakin Lily? Aku baik-baik saja. Jangan karena perkataan mereka kamu memaksakan diri untuk traktir kami."Ujar Ana.
Di dalam hatinya dia jelas memandang rendah Lily.
"Tidak, aku baik-baik saja. Pilihlah restoran yang kalian mau."
Ana tersenyum licik.