Dila harus menjadi pendamping Azam dan merahasiakan hubungan mereka dari siapa pun.
Awalnya Dila mengira semuanya hanya tentang uang. Namun, semakin ia mengenal Azam, semakin banyak kejanggalan yang muncul.
Mengapa Azam memilih dirinya?
Dari mana pria itu mengetahui kehidupan Dila?
Dan mengapa ia memiliki foto masa lalu Dila?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 — Gudang Tempat Ayah Disekap
Perjalanan ke gudang penggilingan padi tua itu hanya memakan waktu dua puluh menit, tapi bagi Jatmiko rasanya seperti kembali ditarik 28 tahun ke belakang.
Mobil Azam berhenti di pematang terakhir. Dari sana, mereka harus jalan kaki melewati pematang sempit yang licin oleh embun.
Di depan mereka, berdiri sebuah bangunan tua yang hampir roboh. Dinding sengnya berkarat, atapnya banyak yang hilang, ditumbuhi semak dan akar beringin yang menjalar masuk ke dalam. Tidak ada suara. Hanya suara angin yang masuk melalui celah-celah seng.
Jatmiko berhenti. Kakinya gemetar. Napasnya memburu.
"Ayah?" Dilla yang melihat itu langsung memegang lengan Jatmiko.
Jatmiko menatap gudang itu dengan mata yang kosong dan penuh trauma. "Tempat ini... persis seperti dulu... bau padi busuknya masih sama... di sinilah Ayah disekap 11 tahun, Dilla... dirantai di tiang tengah itu... tidak dikasih makan tiga hari sekali..."
Fadil langsung memegang bahu Jatmiko yang lain, meski bahunya sendiri masih memar. "Pak, tarik napas. Kita di sini sekarang bukan sebagai korban. Kita di sini untuk jemput Arif."
Kalimat Arif membuat Jatmiko tersadar. Ia mengangguk dan menguatkan diri.
Azam berbisik sambil melihat dari balik semak, "Ada satu mobil pick-up di dalam. Mobil yang semalam. Berarti mereka masih di dalam."
Sekar yang sejak tadi diam, memeluk tas berisi buku palsu yang sudah disiapkan Laras — buku hitam fotocopy — melangkah maju.
"Biar aku masuk duluan, Pak Azam. Sesuai rencana. Aku bilang aku bawa buku yang asli. Suryanto kenal aku, dia tidak akan curiga."
"Jangan, Sekar. Bahaya," cegah Dilla.
Sekar tersenyum tipis, senyum pertama yang tulus pada Dilla. "Anggap ini... permintaan maafku yang sebenarnya, Kak. Bukan cuma kata-kata di ruang tamu kemarin."
Sebelum ada yang sempat mencegah, Sekar berjalan ke arah pintu gudang yang terbuka sedikit, dengan tas di tangan.
"Suryanto! Paman Suryanto! Ini Sekar!" teriaknya.
Dari dalam gudang yang gelap, terdengar suara serak yang familiar.
"Sekar? Ngapain kamu ke sini?"
Suryanto muncul di ambang pintu. Wajahnya jauh lebih tua dari foto, keriput dan kumisnya memutih. Di belakangnya, samar-samar terlihat sosok kecil yang duduk di atas karung padi — Arif.
Dilla yang melihat siluet anaknya langsung ingin berlari, tapi Fadil menahan pinggangnya dengan erat.
"Arif..." bisik Dilla, air matanya langsung tumpah.
Arif yang mendengar suara ibunya langsung mendongak. "Ibu! Ayah!"
Suryanto langsung menarik Arif ke belakangnya.
"Jangan mendekat! Mana bukunya?"
Sekar mengangkat tasnya. "Ini! Buku hitam Larasati yang asli! Ayahku, Bagaskara, suruh aku ambil dan bawa ke Jakarta! Dia bilang kamu gagal!"
Suryanto mengerutkan kening. "Bagaskara? Anak itu nyuruh kamu?"
"Iya! Dia bilang kamu sudah tua dan lambat! Makanya aku yang disuruh!"
Suryanto terpancing emosinya. Kesetiaannya pada keluarga Wiratama lama membuatnya benci diremehkan oleh Bagaskara.
"Bocah kemarin sore itu berani meremehkan aku?" Suryanto melangkah maju hendak merebut tas Sekar.
Itulah kesempatan yang ditunggu Azam.
"SEKARANG!"
Azam dan Jatmiko langsung berlari dari samping. Fadil juga ikut, meski tertatih.
Suryanto kaget dan mundur, menarik Arif sebagai tameng.
"Jangan mendekat atau anak ini saya —"
"Sur!"
Teriakan Jatmiko menghentikan Suryanto.
Jatmiko berdiri tepat di bawah tiang tengah gudang itu — tiang yang dulu tempat ia dirantai 11 tahun. Matanya merah menyala karena amarah dan trauma yang meledak.
"Kamu rantai aku di tiang ini 11 tahun, Sur! 11 tahun aku tidak lihat anak dan istriku! Dan sekarang kamu mau rantai cucuku juga di tiang yang sama?!"
Suryanto terdiam. Ada rasa bersalah di matanya yang tua, tapi juga ketakutan pada orang yang menyuruhnya.
"Jatmiko... aku hanya jalankan perintah..."
"Perintah siapa lagi? Ayahku sudah mati! Bagaskara sudah di penjara!"
"Bukan Bagaskara!" Suryanto berteriak balik, panik. "Bukan Bagaskara yang suruh culik anak ini! Ada orang lain! Orang dari Jakarta! Orang yang bayar aku lebih besar dari Bagaskara! Dia yang punya Mahendra Holding!"
Semua orang membeku.
Dilla yang sejak tadi ditahan Fadil, akhirnya lepas dan berlari. Bukan ke arah Suryanto, tapi langsung memeluk Arif yang menangis ketakutan di belakang Suryanto.
"Arif! Anak Ibu! Ya Allah..."
Arif memeluk ibunya erat, menangis kencang. "Ibu... Arif takut... dikurung..."
Fadil langsung menyusul dan memeluk keduanya, melindungi istri dan anaknya dengan tubuhnya. Bahunya yang memar kembali berdenyut, tapi ia tidak peduli.
"Maafin Ayah lama jemputnya ya, Nak... Maafin Ayah..."
Melihat Dilla dan Fadil dan Arif berpelukan di lantai gudang yang kotor itu, Suryanto menurunkan tangannya. Ia tidak jadi menarik Arif lagi. Ada sesuatu yang luluh di hatinya yang sudah mengeras 28 tahun.
Azam memanfaatkan itu untuk menarik tas berisi buku palsu dari tangan Sekar dan membuangnya jauh.
"Bukunya bukan di sini, Suryanto. Buku aslinya ada di tempat aman," kata Azam dingin.
Suryanto tertawa pahit. "Kalian pikir... kalian menang kalau dapat anak ini kembali?"
Ia menatap Dilla yang masih memeluk Arif di lantai.
"Kalian baru mulai, Dilla. Yang di Jakarta itu bukan Bagaskara. Dia jauh lebih berbahaya. Dia tahu kamu masih hidup. Dia tahu Mahendra masih hidup. Dan dia sudah kirim orang lain, bukan cuma aku. Orang yang bahkan aku tidak tahu siapa."
Jatmiko maju dan mencengkeram kerah baju Suryanto. "Siapa? Siapa orang Jakarta itu? Sebut namanya!"
Suryanto menatap Jatmiko dan tersenyum miris.
"Dia yang selama ini kalian kira sudah mati 28 tahun lalu bersama Larasati. Dia yang menulis surat palsu bahwa Dilla bukan anak Mahendra."
Sebelum Jatmiko sempat bertanya lagi, dari luar gudang terdengar suara sirine polisi yang mendekat pelan.
Azam dan Jatmiko menoleh. Laras pasti yang menelepon.
Suryanto mendengar sirine itu langsung panik dan mendorong Jatmiko, lalu berlari ke pintu belakang gudang yang tersembunyi di balik tumpukan karung — pintu yang hanya Jatmiko yang tahu.
"Jangan biarin dia lolos!" teriak Azam, mengejar.
Tapi Suryanto sudah menghilang ke dalam semak bambu yang lebat.
Di lantai, Dilla masih memeluk Arif yang masih terisak. Fadil memeluk keduanya.
Arif, di sela tangisnya, merogoh saku celananya yang kotor dan memberikan sesuatu pada Dilla.
"Ibu... ini... waktu Arif dikurung... ada kakek-kakek yang kasih ini lewat jendela... dia bilang kasih ke Ibu..."
Dilla membuka tangan Arif. Di sana ada selembar kertas kecil yang sudah kusut, sobekan dari buku. Kertas yang pinggirannya bergerigi — persis seperti sobekan halaman terakhir buku hitam Larasati.
Fadil dan Dilla saling pandang.
Itu adalah setengah dari halaman terakhir yang hilang.
Dan di atas kertas kusut itu, tertulis dengan tinta yang hampir hilang, hanya satu baris yang masih terbaca jelas:
...ayah kandungmu yang sebenarnya adalah Rangga, tapi Rangga bukan ayahmu. Ayahmu adalah...
Tulisan selanjutnya hilang tertutup noda lumpur.
Dilla membeku. Jadi ada dua versi? Satu bilang Mahendra, satu bilang Rangga?
Dari kejauhan, di pematang sawah, mobil sedan hitam semalam masih terparkir, melihat semua kejadian itu dari jauh. Di dalamnya, Mahendra mengepalkan setirnya dengan keras saat melihat Dilla memeluk Arif.
Ia ingin turun dan memeluk cucunya itu. Tapi ia tahu, jika ia turun sekarang, orang Jakarta yang dimaksud Suryanto akan tahu ia ada di sini.
Ia menyalakan mesin mobilnya dan pergi lagi, meninggalkan jejak ban baru di tanah basah.
Bersambung...