Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8: Terbang ke London
Perang dingin berlangsung empat hari.
Empat hari Rayhan tidur di Velvet Lounge lebih sering daripada di Hartono Estate. Empat hari pula Steven melihat sahabatnya memegang gelas yang sama selama berjam-jam, bukan karena ingin mabuk, melainkan karena tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan tangan kosong.
Pada hari pertama, Rayhan mengirim bunga putih ke HEALER. Keira menyuruh resepsionis membagikannya ke seluruh divisi.
Pada hari kedua, ia mengirim makan siang dari restoran Jepang terbaik di Senopati. Keira memakannya bersama Tari, lalu mengirim pesan singkat.
Terima kasih. Jangan kirim lagi.
Pada hari ketiga, Rayhan datang sendiri ke lobi HEALER. Keira turun lewat lift barang dan pulang dengan mobil kantor.
Pada hari keempat, Rayhan berhenti berpura-pura tenang.
“Ray, pulang,” kata Steven pada malam keempat.
Rayhan bersandar di sofa, mata merah karena kurang tidur. “Dia angkat telepon?”
“Kalau aku jadi dia, aku juga tidak.”
Rayhan menatapnya.
Steven mengangkat tangan. “Oke. Aku diam.”
Di sofa seberang, Brandon Oei datang dengan senyum yang terlalu bersemangat untuk situasi muram. Sejak Oei Group dihantam skandal, ia lebih sering muncul di lingkaran Rayhan, seperti orang yang berharap kedekatan bisa menambal reputasi.
“Ray,” katanya hati-hati. “Gue bawa orang. Mungkin bisa bikin suasana lo lebih enak.”
Pintu terbuka. Seorang perempuan masuk dengan gaun hitam dan rambut panjang. Di ujung matanya, ada titik merah kecil yang jelas digambar dengan makeup.
Ruang VIP langsung hening.
Rayhan menatap perempuan itu.
Perempuan itu mencoba tersenyum. “Pak Rayhan...”
Gelas di tangan Rayhan terbang dan pecah di dekat kaki Brandon.
“Keluar.”
Brandon pucat. “Ray, gue cuma mau bantu.”
Rayhan menendang meja kecil hingga botol di atasnya berjatuhan. “Kamu pikir tahi lalat bisa dipalsukan dan aku tidak tahu bedanya?”
Perempuan itu lari keluar. Brandon mundur cepat, wajahnya kehilangan warna.
Steven berdiri. “Cukup. Semua keluar.”
Namun beberapa orang sudah telanjur berbisik. Ada yang membahas pil KB. Ada yang, dengan suara terlalu pelan untuk disebut sopan, berkata, “Kalau simpanan hamil, biasanya diselesaikan pakai uang, kan?”
Rayhan menoleh. “Siapa yang bicara?”
Tidak ada yang mengaku.
“Sekali lagi ada yang menyebut Keira dengan kata itu,” suara Rayhan turun, “aku buat keluarganya lupa cara berdiri.”
Steven menarik kursi dan duduk di depannya. “Lo sadar masalahnya bukan cuma mereka?”
Rayhan tidak menjawab.
“Lo marah Keira minum pil KB. Gue paham. Tapi lo juga belum bisa jawab pertanyaan dia.”
“Jangan ikut campur.”
“Gue sudah ikut campur sejak lo hampir mematahkan rahang Daniel di restoran hotel.”
Rayhan menutup mata. “Aku tidak tahu harus bilang apa.”
Steven melunak sedikit. “Mulai dari itu. Bilang ke dia.”
Rayhan membuka mata. “Dia tidak mau angkat telepon.”
“Karena setiap lo datang, lo membawa jawaban yang terlalu besar. Bunga satu lobi, makan siang satu kantor, ancaman ke semua orang. Coba sekali saja datang sebagai orang yang salah.”
Rayhan menatap gelas di tangannya. “Aku tidak pernah belajar itu.”
“Kelihatan.”
Malam itu juga, Jessica Liem melakukan panggilan video dengan Vanessa.
“Ray masih kacau,” kata Jessica sambil merapikan rambut. “Tapi jangan senang dulu. Dia menolak perempuan tiruan itu seperti orang kesetanan.”
Vanessa di layar tersenyum tipis. “Semakin dia terobsesi, semakin mudah dia melukai perempuan itu.”
Di tempat lain, Keira berada di London.
Ia datang bersama Kevin Widjaja untuk urusan HEALER, menghadiri pertemuan distributor dan pameran bahan baku parfum. Udara London dingin, kering, dan membuat aroma kulit kota itu terasa seperti batu tua yang basah.
Kevin berjalan di sampingnya setelah rapat terakhir. “Kamu belum makan sejak pagi.”
“Aku makan biskuit di pesawat.”
“Itu bukan makan.”
“Untuk sementara cukup.”
Kevin menatapnya, ingin mengatakan sesuatu, tetapi menahan diri. Ia bukan Rayhan. Ia tahu batas.
Di restoran kecil dekat hotel, Kevin tetap memesan sup hangat untuknya.
“Aku tidak memaksa,” katanya. “Aku hanya menaruh ini di meja. Kalau kamu tidak mau, tidak apa-apa.”
Keira menatap mangkuk sup itu. “Kamu selalu seperti ini?”
“Seperti apa?”
“Memberi jalan keluar.”
Kevin tersenyum samar. “Aku pernah kehilangan seseorang karena terlalu banyak orang menutup jalan keluarnya.”
Keira mengangkat mata.
Kevin tidak melanjutkan. Nama Safira belum keluar dari mulutnya, tetapi ada bayangan yang lewat di wajahnya.
Sore itu, asisten distributor mengunggah Instagram Story. Di sana, Keira berdiri di dekat Kevin, menerima map kontrak, wajahnya setengah terlihat. Namun cukup.
Di Jakarta, seseorang melihat story itu dan menunjukkannya pada Steven.
Steven hampir menjatuhkan ponsel.
“Ray.”
Rayhan mengangkat kepala.
Foto itu hanya tiga detik. Keira. Kevin. London.
Sesuatu yang lebih cepat daripada akal sehat menyambar Rayhan.
Ia menelepon Keira.
Tidak diangkat.
Ia menelepon lagi.
Masih tidak diangkat.
Pada panggilan kelima, nada sambungan berubah pendek. Diblokir.
Steven menutup mata. “Ray, jangan impulsif.”
Rayhan sudah berdiri. “Siapkan jet.”
“Ini tengah malam.”
“London juga punya malam.”
Beberapa jam kemudian, Keira membuka pintu kamar hotelnya dengan kartu akses. Lampu kamar mati. Ia mengira housekeeping lupa menyalakan lampu.
Begitu pintu tertutup, sebuah tangan menarik pergelangan tangannya.
Keira terhuyung ke dalam gelap. Aroma kulit, alkohol samar, dan asap yang ia hafal langsung memenuhi napasnya.
Punggungnya menabrak dada Rayhan.
Suara pria itu turun tepat di telinganya.
“Jadi kamu datang memeluknya?”