NovelToon NovelToon
Diantara Dua Bayangan

Diantara Dua Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:831
Nilai: 5
Nama Author: Fazry Fazriyah

Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Kafe Serande

Siang menjelang sore itu, suasana rumah terasa jauh lebih hidup. Sinar matahari pukul tiga yang hangat menerobos masuk melewati jendela kaca besar di ruang tamu, memantulkan bayangan dedaunan dari pekarangan samping.

Nara baru saja selesai merapikan kamar saat mendengar langkah kaki yang berwibawa dari arah tangga.

Zaid turun dengan setelan yang lebih formal dibandingkan tadi pagi, jas hitam terpasang rapi di atas kemeja putihnya yang kini terkancing sempurna sampai leher, lengkap dengan jam tangan berplat hitam yang melingkar elegan di pergelangan tangannya.

Pria itu tampak siap untuk rapat pentingnya.

"Sudah siap?" suara Zaid memecah keheningan lantai satu.

Nara yang sedang mengancingkan manset tunik warna sage green kesayangannya buru-buru membalikkan badan.

Ia mengambil tas selempang kecil di atas sofa lalu tersenyum canggung. "Sudah, Zaid. Aku tidak bikin kamu terlambat, kan?"

"Masih ada waktu dua puluh menit dari jadwal," jawab Zaid singkat sambil melangkah ke pintu depan, memutar kunci, dan membukanya untuk Nara. "Ayo!."

Perjalanan menuju Kafe Serenade diwarnai keheningan yang berbeda dari kemarin. Jika kemarin malam udara di antara mereka terasa berat oleh kecanggungan, kini keheningan itu lebih mirip ketenangan yang tidak membebani.

Suara alunan musik instrumental bernuansa jazz mengalun pelan dari head unit mobil Zaid, bercampur dengan deru halus mesin yang membelah kemacetan sore kota.

Nara sesekali mencuri pandang ke arah samping. Jemari Zaid yang kokoh menempel santai di kemudi, matanya fokus menatap jalanan di depan.

Ada aura ketegasan yang sangat kuat dari cara pria itu membawa diri, tetapi entah mengapa, Nara kini tidak lagi merasa terintimidasi.

"Jalanan agak padat di lampu merah depan," ucap Zaid membuka suara tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan. "Tapi kita akan sampai tepat pukul empat kurang sepuluh menit."

"Terima kasih ya, Zaid. Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot memutar arah seperti ini," ujar Nara pelan.

Zaid menatap kaca spion tengah sebelum berpindah jalur. "Sudah saya katakan tadi pagi, jalur rapat saya searah dengan kafe itu. Tidak ada yang direpotkan."

Jawabannya selalu logis, singkat, dan lugas. Nara hanya bisa mengulum senyum tipis.

"Pria ini memang tidak suka basa-basi.", batin Nara.

.

.

Tepat seperti perhitungan Zaid, mobil hitam itu berhenti halus di depan area parkir Kafe Serenade pada pukul 15.52. Tempat itu masih persis sama seperti ingatan Nara, bangunan bergaya vintage dengan batuan bata ekspos, dikelilingi pepohonan rimbun yang rindang.

"Sudah sampai," ujar Zaid sembari menetralkan gigi mobil.

"Terima kasih banyak, Zaid. Hati-hati di jalan untuk rapatnya nanti," Nara membuka sabuk pengamannya. Baru saja jemarinya menyentuh gagang pintu mobil, suara Zaid kembali menghentikan langkahnya.

"Nara."

Nara menoleh, sedikit terkejut karena ini pertama kalinya Zaid memanggil namanya secara langsung dengan intonasi yang begitu jelas.

"Nanti pulangnya bagaimana?" tanya Zaid. Matanya menatap Nara lurus, menanti jawaban.

"Oh, aku bisa pesan taksi online atau mungkin minta diantar Laras kalau searah," jawab Nara cepat.

Zaid tampak berpikir sejenak. Tangannya mengetuk kemudi pelan sebelum akhirnya ia berucap.

"Kalau acara kamu sudah selesai dan saya sudah selesai rapat, saya jemput. Kirim pesan saja kalau kamu mau pulang!"

Nara terpaku sejenak, dadanya mendadak berdesir hangat.

"Tapi... kalau rapatmu sampai malam, tidak usah dipaksakan, Zaid. Aku bisa pulang sendiri kok."

"Kirim pesan saja dulu," tegas Zaid tanpa melempar ruang untuk perdebatan. "Saya berangkat sekarang."

"Baik... Hati-hati di jalan."

Nara akhirnya turun dari mobil dengan perasaan yang sulit diartikan. Ia berdiri di trotoar, melambaikan tangan kecil saat mobil sedan hitam itu perlahan perlahan menghilang di balik tikungan jalan utama.

Begitu melangkah masuk ke dalam Kafe Serenade, aroma khas biji kopi panggang dan roti kayu manis langsung menyambut indra penciuman Nara.

Kenangan masa-masa akhir perkuliahan mendadak berhamburan di benaknya. Tanpa perlu bertanya pada pelayan, kaki Nara melangkah mantap menuju sudut favorit mereka.

Area outdoor bersuasana taman kecil dengan meja-meja kayu berdinding tanaman merambat.

Di sana, di meja paling ujung dekat kolam ikan kecil, seorang wanita berpakaian stelan kantor serba hitam melambaikan tangannya dengan heboh.

"Naraaaa!"

Belum sempat Nara menarik kursi, Laras sudah berdiri dan menghambur memeluk sahabatnya itu dengan sangat erat. Suara kekehannya memenuhi sudut taman yang tenang itu.

"Aduh, Laras! Sesak, tahu!" gelak Nara sambil membalas pelukan hangat sahabat kecilnya itu.

"Biarin! Aku kangen banget sama kamu, Pengantin Baru!" Laras melepaskan pelukannya, memegang kedua bahu Nara, lalu memperhatikannya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Cakep banget sahabatku satu ini. Auranya beda ya, makin bersinar!"

"Sembarangan," sergah Nara sambil mendudukkan diri di kursi kayu, menyembunyikan pipinya yang mendadak terasa hangat. "Kamu sendiri bagaimana? Urusan dinas di Surabaya lancar?"

"Lancar jaya, walau bikin kepala mau pecah!" Laras menghempaskan tubuhnya ke kursi di hadapan Nara, lalu memanggil pelayan untuk memesan dua porsi waffle cokelat dengan es krim vanila dan dua cangkir cappuccino panas, pesanan wajib mereka sejak zaman mahasiswa.

Setelah pelayan berlalu, Laras langsung menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Nara dengan pandangan penuh rasa ingin tahu yang tak bisa ditutupi.

"Oke, sekarang cerita! Cerita semuanya dari A sampai Z!" tuntut Laras dengan mata berbinar. "Gimana rasanya tinggal satu rumah sama Mas Zaid yang kata kamu kaku kaya kanebo kering itu?"

Nara tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya yang tidak pernah berubah. Ia meraih cangkir air putih yang sudah disediakan di meja dan meminumnya sedikit untuk menetralkan rasa gugup.

"Ya... tidak ada yang aneh-aneh, Ras. Kami baru tinggal bertiga belas jam di rumah itu," ujar Nara jujur.

"Dia memang diam, bicaranya irit banget. Tapi dia menghargai keberadaanku. Tadi pagi dia bahkan sudah menyiapkan sarapan roti panggang dan kopi sebelum aku bangun."

Mata Laras membelalak lebar. "Demi apa?! Seorang Zaid yang katanya dingin kayak kutub utara itu bikin sarapan buat kamu?"

"Iya. Terus... tadi yang mengantar aku ke sini juga dia," tambah Nara pelan, hampir bersuara seperti bisikan.

Laras makin melotot tak percaya. "Seriusan?! Waduh, Ra... itu tanda-tanda bagus! Artinya tembok es yang kamu takutin kemarin itu sebenarnya tidak setebal yang kita bayangkan. Pria dingin kalau sudah mulai perhatian kecil begitu, biasanya bahaya tahu tidak?"

"Bahaya bagaimana maksudmu?" alis Nara bertaut heran.

"Bahaya buat hati kamu! Bisa-bisa kamu yang makin cepat jatuh cinta duluan sama dia, dan dengan mudah kamu bisa move on dari Devino." goda Laras seraya tertawa geli melihat pipi Nara yang merona merah.

"Laras, jangan ngaco ah," potong Nara cepat, walau di dalam hatinya ia tahu ucapan Laras ada benarnya. Sikap Zaid yang tidak banyak bicara tetapi selalu bertindak cepat memang perlahan mulai menggoyahkan pertahanan dirinya.

Namun saat mendengar nama Devino, wajah Nara seketika berubah. Wajah Devino melintas, dimana saat terakhir pertemuannya dengan Zaid sudah membuat amarah Devino mendidih. Seketika Nara menepis angannya.

Obrolan mereka berlanjut mengalir deras. Dari nostalgia masa-masa sulit mengerjakan skripsi di meja yang sama, berlanjut ke curhatan Laras tentang bos kantornya yang menyebalkan, hingga perkembangan kecil tentang rumah tangga baru Nara.

Kehadiran Laras berhasil mengembalikan keceriaan alami Nara yang sempat terpendam oleh rasa cemas beberapa hari terakhir.

.

.

Jam menunjukkan pukul setengah enam sore ketika langit berubah warna menjadi jingga keemasan. Makanan dan minuman di meja mereka sudah habis.

Saat Laras sedang berpamitan hendak ke kamar mandi sebentar, ponsel Nara yang tergeletak di atas meja bergetar pendek. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang baru saja disimpannya tadi pagi.

Zaid:

[Saya sudah selesai rapat. Sekarang sedang berada di sekitar jalan utama dekat kafenya. Kamu sudah mau pulang?]

Jantung Nara berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia segera mengetik balasan.

Nara:

[ Iya, Zaid. Aku juga sudah selesai mengobrol dengan Laras.]

Zaid:

[Tunggu di depan. Lima menit lagi saya sampai.]

Nara tersenyum tipis tanpa sadar, mematikan layar ponselnya, lalu merapikan tasnya.

Saat Laras kembali dari kamar mandi, Nara memberitahu bahwa Zaid sudah berada di perjalanan untuk menjemputnya.

"Wah, gercep banget suami kamu!" ledek Laras sambil menepuk bahu Nara pelan. "Ayo, aku antarkan sampai depan. Aku juga mau lihat wajah suamimu dari dekat secara langsung."

Keduanya melangkah keluar kafe menuju area penjemputan. Tak lama kemudian, mobil sedan hitam milik Zaid berhenti tepat di depan trotoar. Kaca mobil bagian kemudi diturunkan perlahan, memperlihatkan Zaid yang menatap ke arah mereka.

"Sore, Mas Zaid! Saya Laras, sahabatnya Nara," sapa Laras ramah sambil melempar senyum formal.

Zaid mengangguk sopan dari dalam mobil, memberikan senyum tipis yang amat formal namun sangat menghargai. "Sore, Laras. Terimakasih!"

"Sama-sama, Mas! Tolong jaga sahabat terbaik saya ini ya," goda Laras berani. Nara langsung mencubit pelan pinggang Laras untuk menghentikannya.

Nara segera berpamitan pada Laras, lalu membuka pintu samping dan duduk di kursi penumpang. Begitu pintu tertutup, kehangatan pendingin udara mobil langsung menyelimuti tubuhnya.

"Sudah semua? Tidak ada barang yang ketinggalan?" tanya Zaid memastikan sebelum memasukkan gigi mobil.

"Sudah, Zaid. Semuanya lengkap," jawab Nara lembut.

.

.

Mobil perlahan bergerak menyusuri jalanan kota yang mulai diterangi lampu-lampu jalanan. Di dalam kendaraan yang melaju tenang itu, Nara menatap ke luar jendela dengan perasaan yang jauh lebih hangat dari kemarin sore.

Ia tidak tahu bagaimana akhir dari babak pernikahan dijodohkan ini. Namun satu hal yang pasti, malam ini, langkah kaki yang menuntunnya pulang tidak lagi terasa menakutkan. Ada rasa aman yang perlahan tapi pasti, mulai berakar di hatinya.

1
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
knp kamu gak jujur SM Zaid nar
Apriyanti
semoga butir² cinta muncul di hati mereka berdua
Apriyanti: siaap thor🥰🙏
total 2 replies
Apriyanti
thor jgn lama² ya bikin mereka bersatu nya,, lanjut thor 🙏
Apriyanti
semoga lama² mereka bisa bersatu🙏💪🥰
Apriyanti
udalah Zaid buang ego mu Ayuk dekat kan dirimu ke nara🤣
Apriyanti
semoga kalian berdua secepat nya timbul perasaan cinta
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
Alhamdulillah dah jg akhirnya
selamat ya Nara dan Zaid semoga samawa ya🙏
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
nah gitu dong Nara ,,mending jamu pilih Zaid drpd devino
Apriyanti
di situbkanu harus SDH bisa melihat Nara kesengguhan Zaid sm kamu di banding kan devino yg pengecut itu
Apriyanti
bodoh kamu Nara KLO sampe menolak Zaid,, lanjut thor 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!