Raffi adalah anak di luar nikah dari Mahesa Pratama, Presiden Direktur Pratama Group Hotel, hasil hubungannya dengan Maya Indira. Meski lahir tanpa status yang diakui keluarga, Raffi mewarisi kecerdasan, bakat kepemimpinan, dan naluri bisnis yang membuat Mahesa diam-diam berniat menjadikannya penerus kerajaan bisnisnya.
Namun, keputusan itu memicu amarah istri sah Mahesa. Demi memastikan putra kandungnya, Julian, menjadi satu-satunya pewaris Pratama Group Hotel, ia menyusun berbagai rencana licik untuk menyingkirkan Raffi. Berbagai fitnah, pengkhianatan, hingga perebutan hak waris membuat Raffi kehilangan segalanya dan dipaksa memulai hidup dari nol.
Dengan tekad yang tak pernah padam, Raffi membangun kembali kariernya dari bawah. Ia berjuang membuktikan bahwa kesuksesan bukan ditentukan oleh status kelahiran, melainkan kerja keras, kemampuan, dan keteguhan hati. Langkah demi langkah, ia bangkit untuk merebut kembali tempat yang seharusnya menjadi miliknya dan cintanya dengan dewi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
takdir yang mulai bergerak
Naura duduk di depan cermin di sebuah klinik kecantikan. Seorang terapis dengan hati-hati mengoleskan serum ke wajahnya, sementara alunan musik lembut memenuhi ruangan. Namun, setenang apa pun suasana di sekitarnya, pikirannya justru dipenuhi kegelisahan.
Ucapan cenayang beberapa hari lalu kembali terngiang di kepalanya.
"Kau akan memiliki anak laki-laki... tetapi bukan dari suamimu."
Naura memejamkan mata sejenak, berusaha mengusir bayangan itu.
"Lalu... bagaimana kalau justru Mahesa yang memiliki perempuan lain?" gumamnya dalam hati.
Dada Naura mendadak sesak. Selama ini ia terlalu sibuk memikirkan keinginannya memiliki seorang penerus, hingga tak pernah membayangkan kemungkinan lain. Jika Mahesa kehilangan harapan dan memilih menikah lagi demi mendapatkan anak laki-laki, bagaimana nasibnya?
"Tidak... itu tidak boleh terjadi."
Jemarinya mengepal di atas sandaran kursi.
"Aku tidak akan rela dimadu. Aku satu-satunya istri Mahesa."
Meski rumah tangganya sedang diuji, Naura tetap mencintai status dan kehidupan yang dimilikinya sebagai nyonya keluarga Pratama. Membayangkan ada wanita lain yang berbagi tempat di sisi suaminya saja sudah cukup membuat dadanya dipenuhi rasa cemburu dan takut.
Saat itu, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan singkat muncul dari Setyo, asisten pribadi Mahesa.
"Datang ke hotel malam ini. Ada hal penting yang harus kita bicarakan."
Naura menatap layar ponselnya cukup lama. Keningnya langsung berkerut.
"Setyo ini benar-benar..." desisnya kesal. "Kenapa harus menyuruhku datang saat pikiranku sedang kacau begini?"
Ia hampir saja mengabaikan pesan itu. Namun, jemarinya berhenti tepat di atas tombol untuk menutup layar.
Di balik rasa kesalnya, ia tak bisa memungkiri bahwa sudah beberapa hari mereka tidak bertemu. Ada perasaan rumit yang sulit ia jelaskan—antara ingin menjaga jarak karena takut rahasianya terbongkar, dan rasa penasaran terhadap apa yang ingin dibicarakan Setyo.
Naura menghela napas panjang.
"Apa lagi yang akan terjadi setelah ini...?" bisiknya lirih.
Tatapannya kembali kosong. Ia sadar, semakin lama ia mempertahankan rahasia itu, semakin besar pula risiko yang harus ia hadapi. Setiap langkah yang diambil kini terasa seperti berjalan di atas benang tipis yang bisa putus kapan saja.
Maya masih memandangi map di hadapannya. Nominal gaji yang ditawarkan Ratih terus berputar di kepalanya. Semua terasa begitu mendadak hingga sulit ia percaya.
"Bu Ratih..." ucap Maya pelan. "Boleh saya bertanya dengan jujur?"
"Tentu."
"Kenapa harus saya?"
Ratih mengangkat alisnya tipis.
"Saya hanya karyawan baru. Pengalaman kerja saya juga belum banyak. Di hotel ini masih banyak karyawan lain yang lebih cantik, lebih berpendidikan, dan lebih berpengalaman daripada saya. Saya benar-benar tidak mengerti kenapa Ibu memilih saya."
Ratih tersenyum tipis mendengar keraguan Maya.
"Kamu menilai dirimu dari penampilan dan ijazah. Sementara aku menilai seseorang dari kejujuran, ketelitian, dan tanggung jawabnya."
Ratih melanjutkan dengan tenang.
"Semalam aku mengamati semua karyawan. Ada yang bekerja hanya ketika diawasi, ada yang sibuk mencari perhatian atasan. Tapi kamu berbeda. Kamu tetap bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa berharap dipuji."
Maya menundukkan kepala, masih belum yakin.
"Itu memang kewajiban saya sebagai karyawan, Bu."
"Justru karena menganggapnya sebagai kewajiban, aku yakin memilihmu."
Ratih lalu mendorong map itu sedikit ke arah Maya.
"Kalau kamu menerima tawaran ini, aku ingin kamu mulai bekerja secepatnya."
"Secepatnya... maksud Ibu?"
"Besok."
Mata Maya langsung membulat.
"Besok?"
Ratih mengangguk.
"Aku juga ingin kamu pindah ke rumahku mulai besok. Akan disediakan kamar khusus untukmu agar lebih mudah menjalankan tugas sebagai asisten pribadiku."
Ucapan itu membuat Maya semakin terkejut.
"Pindah... ke rumah Ibu?"
"Iya."
Maya terdiam beberapa saat sebelum berkata dengan gugup, "Maaf, Bu. Semuanya terjadi terlalu cepat. Baru hari ini saya menerima tawaran ini, besok saya sudah harus pindah. Terus terang saya masih bingung."
Ratih memahami kegelisahan Maya.
"Kontrak awalnya hanya tiga bulan. Anggap saja masa percobaan. Jika setelah tiga bulan kamu merasa tidak cocok, atau aku menilai pekerjaan ini tidak sesuai untukmu, kontrak bisa kita akhiri secara baik-baik."
"Tiga bulan..." gumam Maya lirih.
"Selama masa itu, seluruh kebutuhanmu akan ditanggung. Tempat tinggal, makan, dan fasilitas kerja sudah disiapkan. Kamu hanya perlu fokus bekerja."
Maya masih belum mampu memberikan jawaban. Tawaran itu terdengar seperti kesempatan yang bisa mengubah hidupnya, tetapi semuanya datang begitu mendadak. Ia belum sempat mempersiapkan diri, apalagi membayangkan harus tinggal di rumah keluarga Pratama mulai keesokan harinya.
Ratih kemudian tersenyum lembut.
"Aku tidak memaksamu. Pikirkan baik-baik malam ini. Besok pagi, beri aku keputusanmu."
Maya mengangguk pelan. Ia menggenggam map kontrak itu erat-erat. Dalam perjalanan pulang nanti, ia tahu hanya ada satu pertanyaan yang terus memenuhi pikirannya.
Mengapa Nyonya Ratih begitu yakin memilih dirinya?
Menjelang petang, sebuah mobil hitam perlahan memasuki halaman kediaman keluarga Pratama. Mahesa baru saja menyelesaikan seluruh agenda rapat dan kunjungan bisnisnya. Raut lelah tampak jelas di wajahnya, tetapi ia tetap melangkah masuk ke dalam rumah dengan tenang.
"Permisi..." sapanya singkat kepada beberapa pelayan yang sedang membereskan ruang tamu.
Suasana rumah terasa begitu lengang. Biasanya Ratih sudah duduk di ruang keluarga menikmati teh sore, sementara Naura sering menyambut kepulangannya meski hanya dengan sapaan singkat.
Mahesa mengernyit.
"Ibu belum pulang?" tanyanya kepada salah seorang pelayan.
"Belum, Tuan. Nyonya Ratih ada urusan di hotel sejak siang."
"Kalau Naura?"
Pelayan itu tampak ragu sebelum menjawab, "Nyonya Naura juga keluar rumah sejak siang, Tuan."
Mahesa mengangguk pelan. Ia tidak bertanya lebih jauh. Setelah meletakkan tas kerjanya, ia duduk di ruang keluarga sambil membuka beberapa berkas yang masih harus diperiksa.
Tak lama kemudian terdengar suara mobil berhenti di halaman.
Mahesa menoleh ke arah pintu utama.
"Ibu sudah pulang rupanya."
Ratih melangkah masuk dengan wajah yang tampak lelah, tetapi tetap memancarkan wibawa. Begitu melihat putranya telah berada di rumah, senyum tipis menghiasi bibirnya.
"Kamu sudah pulang lebih dulu?"
"Iya, Bu. Baru sekitar lima belas menit."
Ratih menyerahkan tas tangannya kepada pelayan sebelum duduk di hadapan Mahesa.
"Hari ini rapatnya bagaimana?"
"Cukup melelahkan, tapi berjalan lancar."
Ratih mengangguk puas.
"Itu yang terpenting."
Mahesa memperhatikan wajah ibunya sejenak.
"Ibu sendiri dari hotel? Sepertinya ada urusan penting."
Ratih tersenyum kecil.
"Hanya menemui seseorang."
Mahesa tidak bertanya lebih jauh. Namun, ia sempat menangkap sorot mata ibunya yang seolah sedang menyimpan sesuatu. Ratih tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri, seakan baru saja mengambil sebuah keputusan besar yang belum siap ia ceritakan kepada siapa pun.
Di kamar kontrakannya yang sederhana, Maya membuka lemari pakaian dengan langkah pelan. Beberapa potong baju mulai ia lipat dan masukkan ke dalam koper kecil yang sudah lama menemaninya.
Namun, setiap kali hendak melanjutkan, tangannya selalu berhenti.
Tatapannya kembali tertuju pada map berisi kontrak kerja yang diberikan Ratih.
"Lima puluh juta..." gumamnya lirih.
Nominal itu terasa begitu besar hingga sulit ia percaya. Selama ini ia bekerja keras hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kini, seseorang yang baru dikenalnya menawarkan pekerjaan dengan gaji yang bahkan tak pernah ia bayangkan.
"Kenapa harus aku?" bisiknya.
Maya menghela napas panjang. Tawaran itu memang bisa mengubah hidupnya, tetapi semuanya datang terlalu mendadak. Besok ia harus pindah ke rumah keluarga Pratama dan tinggal bersama orang-orang yang nyaris tidak dikenalnya.
"Jangan-jangan ini terlalu bagus untuk menjadi kenyataan," pikirnya.
Ia kembali menutup koper yang belum terisi penuh. Keraguan memenuhi benaknya. Di satu sisi, ia takut kehilangan kesempatan besar. Di sisi lain, ia khawatir mengambil keputusan yang salah.
"Apa sebaiknya aku menolak... atau justru ini kesempatan yang tidak akan datang dua kali?"
---
Sementara itu, di sebuah restoran elegan di Hotel Sunni, Naura melangkah memasuki ruangan privat yang telah dipesan sebelumnya. Tempat itu sudah beberapa kali menjadi lokasi pertemuannya dengan Setyo, jauh dari keramaian dan pandangan orang-orang yang mengenalnya.
Setyo telah menunggu lebih dulu.
Begitu melihat Naura datang, ia berdiri sambil membawa setangkai bunga mawar putih yang telah disiapkannya.
"Untukmu," ucap Setyo sambil tersenyum.
Naura tertegun. Tanpa sadar ia menerima bunga itu.
"Untuk apa semua ini?"
"Tidak harus menunggu hari istimewa untuk memberikan bunga kepada seseorang yang istimewa."
Naura menatap bunga di tangannya beberapa saat. Di atas meja telah tersaji makan malam yang ditata dengan cahaya lilin dan hidangan hangat.
Ia tak mampu menyembunyikan rasa kagumnya.
Selama bertahun-tahun menikah dengan Mahesa, kehidupan mereka lebih banyak dipenuhi urusan pekerjaan dan bisnis. Mahesa selalu bertanggung jawab dan memperlakukannya dengan baik, tetapi momen-momen romantis seperti ini hampir tidak pernah ia rasakan.
"Semua ini... kamu yang menyiapkan?" tanya Naura pelan.
Setyo mengangguk.
"Aku hanya ingin kita bisa berbicara dengan tenang."
Naura menarik kursi dan duduk perlahan. Tatapannya masih tertuju pada bunga di tangannya. Di dalam hatinya muncul perasaan yang rumit. Ia menikmati perhatian yang diberikan Setyo, tetapi pada saat yang sama ia sadar bahwa pertemuan mereka menyimpan konsekuensi besar jika sampai diketahui orang lain.
Malam itu, makan malam yang tampak indah justru menjadi awal dari percakapan yang berpotensi mengubah kehidupan mereka berdua.
Naura beberapa kali melirik layar ponselnya. Tidak ada satu pun panggilan ataupun pesan dari Mahesa.
"Apa dia tidak mencariku?" gumamnya pelan.
Setyo yang duduk di hadapannya tersenyum tipis.
"Selama dua tahun ini, kita selalu berhati-hati. Tidak pernah ada yang curiga."
Naura mengembuskan napas lega, meski rasa bersalah sesekali masih menyelinap di hatinya.
"Kita memang tidak boleh lengah," ucapnya pelan. "Sekali saja ada yang mengetahui, semuanya akan berakhir."
Setyo mengangguk. "Karena itu kita selalu bertemu di tempat yang sama, pada waktu yang sudah diperhitungkan. Tidak ada yang boleh mengetahui."
Percakapan mereka berlanjut di ruangan privat hotel, membahas berbagai kekhawatiran yang selama ini mereka pendam. Setelah makan malam usai, mereka meninggalkan restoran menuju area kamar hotel untuk berbincang lebih jauh tanpa gangguan. Malam itu berlalu dalam suasana yang dipenuhi kegelisahan, karena keduanya sadar bahwa rahasia yang mereka simpan tidak mungkin tersembunyi selamanya.
Di saat yang sama, sebuah mobil berhenti di halaman rumah keluarga Pratama.
Ratih telah menunggu kedatangan tamu istimewanya.
Begitu wanita tua itu turun dari mobil, para pelayan langsung menundukkan kepala memberi hormat. Ratih sendiri menyambutnya dengan penuh hormat, lalu mempersilahkannya memasuki sebuah ruang khusus di dalam rumah.
Ruangan itu berbeda dari ruangan lainnya. Selama bertahun-tahun, tidak seorang pun diperbolehkan masuk tanpa izin langsung dari Ratih.
Wanita tua yang dikenal sebagai cenayang kepercayaan keluarga itu duduk perlahan. Pandangannya menyapu seisi ruangan sebelum akhirnya tertuju pada Ratih.
"Kau sudah bertemu gadis itu?" tanyanya.
Ratih mengangguk.
"Namanya Maya."
Cenayang memejamkan mata beberapa saat, seolah merasakan sesuatu yang tak terlihat.
"Lalu... apa yang kau lihat?" tanya Ratih penasaran.
Wanita tua itu membuka matanya perlahan.
"Besok... wanita yang lahir pada Kamis Kliwon itu akan tinggal di rumah ini."
Ratih terdiam. Meski ia sendiri yang mengundang Maya, mendengar kalimat itu diucapkan kembali membuat bulu kuduknya meremang.
"Apakah itu pertanda baik?"
Cenayang tidak langsung menjawab.
"Takdir sedang bergerak. Apa yang selama ini tersembunyi perlahan akan menemukan jalannya."
Ratih menggenggam kedua tangannya.
"Apa yang harus kulakukan?"
Wanita tua itu mengeluarkan sebuah kendi kecil dari tas kain yang dibawanya.
"Isi kendi ini dengan air bersih. Letakkan di kamar yang akan ditempati Maya. Biarkan tetap berada di sana untuk beberapa waktu."
Ratih menerima kendi itu dengan hati-hati.
"Untuk apa?"
"Anggap saja sebagai bagian dari ikhtiar yang menurut keyakinanku dapat membantu menciptakan suasana yang tenang dan selaras. Selebihnya, apa yang akan terjadi tetap berada di tangan Tuhan."
Ratih mengangguk pelan. Meski masih dipenuhi berbagai pertanyaan, ia memilih mengikuti petunjuk tersebut. Sementara itu, jauh di luar dugaannya, Maya sama sekali tidak mengetahui bahwa esok hari kedatangannya ke rumah keluarga Pratama akan menjadi awal dari perubahan besar yang menyentuh kehidupan semua orang di dalamnya.