NovelToon NovelToon
Jebakan Manis untuk Sang CEO

Jebakan Manis untuk Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Healing / Putri asli/palsu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

### Bab 1

Musik di The Jade Lounge berdentum rendah, cukup keras untuk menelan jeritan kecil, tetapi tidak cukup keras untuk menutupi suara gelas kristal yang pecah di dekat kaki Keira.

Ia mundur setengah langkah.

Hak sepatunya menyentuh pecahan kaca. Bau alkohol mahal, asap tipis dari area smoking room, dan parfum orang-orang kaya yang terlalu manis bercampur di udara. Di balik pintu kaca lounge lantai atas hotel bintang lima itu, Jakarta malam masih menyala, dingin dan jauh, seperti tidak ada hubungannya dengan tiga pria yang sedang mengepungnya.

"Mau ke mana, Non?" Pria pertama tertawa. Tangannya sengaja menutup jalan Keira. "Dari tadi sendirian. Temani kami sebentar."

Keira menelan ludah.

Di luar, ia terlihat seperti gadis muda yang tersesat di tempat yang salah. Wajah pucat, mata berair, bahu mengecil. Gaun hitam sederhana yang ia pilih malam ini membuat kulitnya tampak semakin putih di bawah lampu lounge.

Di dalam kepalanya, ia menghitung.

Tiga puluh detik lagi.

Richard biasanya turun dari private dining room pukul 22.17. Dua minggu terakhir, Keira mencatat pola itu dari jadwal rapat, foto tamu hotel, unggahan samar sosialita di Instagram, sampai obrolan staf valet yang ia bayar dengan uang tunai. Malam ini Rolls-Royce berplat B 1 RIC sudah terparkir di area VIP sejak pukul sembilan lewat dua belas.

Berarti pria itu ada di sini.

Berarti sandiwara ini tidak boleh gagal.

"Tolong, saya mau pulang," ucap Keira lirih.

Suaranya bergetar pas. Tidak terlalu dramatis. Tidak terlalu tenang.

Pria kedua mendekat, tubuhnya sengaja menabrak bahu Keira. "Pulang sama kami saja."

Keira menunduk. Jemarinya meremas clutch kecil di tangannya sampai buku-bukunya memutih. Di bawah kuku yang rapi, telapak tangannya basah oleh keringat. Sebagian karena akting. Sebagian lagi karena kilasan mimpi itu kembali menyayat kepalanya.

Lampu putih rumah sakit.

Bau obat yang menempel di tenggorokan.

Pergelangan tangannya dibalut perban basah. Di balik pintu, suara perempuan tertawa pelan, manis, tetapi membuat kulit Keira merinding.

"Lihat dia. Cucu palsu Keluarga Tan akhirnya tahu tempatnya."

Lalu wajah Kevin yang dingin. Tatapan Engkong yang kosong karena tidak lagi mengenalinya. Pintu kamar rumah sakit jiwa yang terkunci dari luar. Darah merah di lantai kamar mandi.

Keira menarik napas pendek.

Tidak.

Mimpi itu tidak akan menjadi masa depannya.

"Eh, kok bengong?" Pria ketiga menyentuh ujung rambutnya.

Keira menepis dengan gerakan kecil, cukup lemah untuk terlihat tidak berdaya. "Jangan sentuh saya."

Pria itu tersenyum miring. "Galak juga."

Di meja dekat bar, dua wanita bergaun satin melirik sebentar, lalu pura-pura tidak melihat. Seorang staf lounge tampak ragu ingin mendekat, tetapi pria pertama menatapnya tajam. Staf itu berhenti. Tempat seperti ini punya aturan tidak tertulis: jangan ikut campur urusan tamu penting, kecuali ada tamu yang lebih penting lagi merasa terganggu.

Keira membutuhkan tamu yang lebih penting itu.

Sepuluh detik.

Ia mundur lagi sampai punggungnya menyentuh sisi meja. Gelas lain bergetar. Aroma lily of the valley dari pergelangan tangannya naik samar, bersih dan lembut, terlalu tidak cocok dengan sudut lounge yang mulai terasa pengap.

"Saya sudah bilang, saya mau pulang."

"Kami juga sudah bilang, temani dulu."

Pria pertama meraih pergelangan tangan Keira.

Keira membiarkannya setengah detik.

Cukup lama agar terlihat kasar.

Cukup singkat agar ia masih bisa mengendalikan tubuhnya sendiri.

"Lepaskan," katanya, kini suaranya lebih kecil.

Pria itu tertawa. "Kalau tidak?"

Keira mengangkat wajah. Matanya bergerak melewati bahu pria itu, ke lorong marmer yang menghubungkan lounge dengan lift privat.

Di sana, seorang pria baru saja berhenti.

Tidak ada suara keras. Tidak ada langkah terburu-buru. Hanya keheningan kecil yang tiba-tiba turun di beberapa meja sekaligus, seperti udara di ruangan itu diberi perintah untuk diam.

Pria itu mengenakan setelan gelap tanpa dasi. Tinggi, rapi, wajahnya nyaris tanpa ekspresi. Cahaya hangat lounge memantul di sisi kacamata frame emas yang ia pegang, bukan pakai. Tangannya panjang, urat di punggung tangannya terlihat saat ia menyerahkan sebuah map tipis kepada pria di belakangnya.

Keira tahu wajah itu.

Lim Richard.

Kepala Lim Group. Teman lama Papa. Pria yang dalam mimpi tidak pernah sempat ia dekati. Satu-satunya orang di Jakarta yang cukup kuat untuk membuat Keluarga Ong menunduk dan cukup berbahaya untuk membuat keluarga besarnya berpikir dua kali sebelum membuangnya.

Targetnya.

Penyelamatnya.

Atau, kalau ia gagal, orang pertama yang akan tahu bahwa ia pembohong.

Richard menatap tangan pria yang masih mencengkeram pergelangan Keira.

Hanya itu.

Satu tatapan.

Pria pertama langsung melepaskan tangannya seolah baru menyentuh bara. Senyumnya hilang. Dua temannya ikut mundur, kebingungan melihat perubahan itu, lalu ikut menoleh.

"Pak Lim," ucap pria pertama. Suaranya pecah di tengah. "Kami cuma bercanda."

Richard tidak menjawab.

Pria di belakangnya, yang Keira duga asistennya, melangkah setengah maju. Wajahnya lebih muda, tetapi sorot matanya sama dinginnya. "Bercanda dengan memaksa tamu wanita?"

"Bukan begitu, Pak. Kami..."

"Pergi."

Satu kata dari Richard jatuh lebih berat daripada bentakan.

Tiga pria itu tidak menunggu perintah kedua. Mereka bergerak hampir bersamaan, menunduk kaku, lalu menghilang ke arah pintu samping. Salah satu menabrak kursi, tetapi tidak berani berhenti untuk meminta maaf.

Staf lounge buru-buru mendekat. "Pak Lim, mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Kami akan..."

Richard mengangkat tangan sedikit.

Staf itu langsung diam.

Keira masih berdiri di tempatnya. Pergelangan tangannya terasa panas bekas cengkeraman. Ia bisa saja menarik napas lega sekarang. Bisa juga menangis. Gadis baik yang baru saja diselamatkan seharusnya menangis.

Tapi ia tidak boleh terlalu cepat.

Ia menunggu sampai Richard menoleh padanya.

Tatapan pria itu lebih dingin dari yang ia bayangkan. Bukan dingin yang dibuat-buat, melainkan dingin seseorang yang terbiasa menilai manusia dalam satu pandangan dan membuang yang tidak berguna tanpa penyesalan.

"Kamu terluka?" tanyanya.

Keira menggeleng pelan. "Tidak, Om."

Kata itu keluar dengan sengaja.

Om.

Bukan Pak Lim. Bukan Tuan Lim. Panggilan itu menaruh jarak keluarga di antara mereka, jarak aman yang akan membuat niatnya tampak lebih bersih.

Alis Richard hampir tidak bergerak, tetapi Keira menangkap perubahan kecil di matanya.

"Kamu mengenal saya?"

Keira menunduk lagi. "Saya pernah melihat foto Om di ruang kerja Papa."

Asisten Richard menatapnya lebih tajam.

Richard diam sejenak. "Papa kamu siapa?"

Ini titiknya.

Keira membiarkan bibirnya bergetar. Ia meremas clutch lebih kuat, sampai tampak seperti sedang mencari keberanian dari benda kecil itu. Di bawah lampu lounge, matanya mulai basah. Kali ini tidak sepenuhnya palsu. Nama itu selalu punya cara sendiri untuk membuka luka.

"Papa saya..." Suaranya tersangkut. "Tan Hendra."

Keheningan turun lagi.

Bedanya, kali ini hanya di antara mereka bertiga.

Wajah asisten Richard berubah. Sangat cepat, tetapi cukup untuk Keira tahu ia berhasil menyentuh pintu yang benar.

Richard menatapnya tanpa berkedip.

"Hendra?" katanya pelan.

Keira mengangguk. "Iya, Om. Saya Keira. Tan Keira."

Untuk pertama kalinya malam itu, sesuatu di wajah Richard retak. Bukan kelembutan. Belum. Lebih mirip ingatan lama yang muncul tanpa izin.

Di kejauhan, musik lounge kembali terdengar. Orang-orang mulai bicara lagi, tetapi lebih pelan. Staf membersihkan pecahan kaca di lantai. Dunia bergerak seolah tidak ada yang berubah.

Bagi Keira, semuanya baru saja berubah.

Richard melangkah mendekat. Tidak banyak, hanya satu langkah, tetapi cukup membuat aroma cedarwood dan kopi hitam samar mengalahkan bau alkohol di sekitarnya. Ia menatap wajah Keira lama, terlalu lama untuk sekadar memastikan identitas.

Keira menahan napas.

Kalau ia bertanya terlalu banyak, Keira sudah menyiapkan jawaban.

Kalau ia mencurigai timing pertemuan ini, Keira sudah menyiapkan air mata.

Kalau ia pergi begitu saja, Keira harus memulai rencana kedua yang jauh lebih berisiko.

Namun Richard hanya berkata dengan suara rendah, "Kamu mirip ayahmu."

1
aku
up
aku
🌹🌹 semangat up
aku
jangan smpe nikah key. pas acara tunangan aja ksih bom nya
aku
jelas bukan ko jason 🤣🤣
aku
staf yg bawa troli si jason 🤣🤣🤣
aku
cembokur pak lim 😃😃
aku
wow key, cerdas!!
aku
terharu aku key...😭😭😭 ayo key semangat 😁😁
aku
kei 😭😭 ayo andalkan dirimu sendiri kei. jgn lagi pke perasaan. biar gk sakit lg hatimu 😭😭
aku
pak hasan jawi pundhi?? kulo jawa timur 😁😁
aku
di sinopsis namanya LIM RENATA tor. disini LIM RICHARD 🤔 jd yg mana?? 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!