Di balik hilangnya seorang gadis, tersimpan rahasia yang selama ini disembunyikan. Seorang ibu bertekad mengungkapnya, meski harus melawan kekuasaan yang selama ini tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Lyn yang dulu
Suara riuh dan tawa terdengar di kantin Eldoria International School, diselingi dentingan sendok dan garpu yang saling bersahutan.
Di pojok kantin, tepat di dekat jendela, Lyn duduk sendirian, menikmati makanannya tanpa peduli pada bisik-bisik yang terus mengarah padanya dari berbagai sudut.
"Lyn..."
Lyn mendongak. Ameka menyapanya dengan senyum ramah.
"Aku boleh duduk di sini, nggak? Soalnya yang lain penuh," lanjutnya, sedikit canggung.
Lyn menatap sekeliling sejenak, membenarkan ucapan gadis berkacamata itu, memang hampir semua meja sudah terisi penuh.
"Silakan," balasnya, sedikit menggeser posisi duduknya memberi ruang.
"Makasih, Lyn," Ameka langsung duduk di sampingnya, lalu mulai menyantap hidangannya dengan lahap.
Beberapa saat berlalu dalam diam, hanya suara riuh kantin yang mengisi jeda di antara mereka, sebelum akhirnya Ameka membuka percakapan.
"Eh, Lyn," ucapnya sambil mengunyah pelan, "boleh tanya nggak? Dari tadi aku perhatiin banyak yang ngelihatin kamu terus. Ada apa, ya?"
"Nggak tahu," jawab Lyn singkat, tanpa berniat menjelaskan lebih jauh. Ia lalu menatap Ameka balik, mengalihkan topik. "Lo pindahan dari mana?"
"Aku homeschool sebelumnya," jawab Ameka, tersenyum kecil. "Tapi aku pengen ngerasain punya teman benaran, jadi aku minta ke orang tua buat sekolah formal."
Lyn mengangguk pelan, lalu bertanya. "Lo tau nama gue dari mana? Gue kan belum kasih tau?"
"Oh," Ameka terkekeh kecil, sedikit malu. "Waktu aku pertama masuk kelas, aku sempat duduk di bangku kamu. Tapi terus aku lihat nama kamu di meja, jadi aku pindah deh."
Lyn mengangguk kembali, lalu menyantap makanannya tanpa banyak komentar.
Ameka melirik sekeliling kantin sejenak, sebelum akhirnya bertanya lagi. "Lyn... kenapa ya murid-murid di kelas nggak mau temanan sama aku? Mereka cuekin aku terus."
Lyn menghentikan suapannya, lalu menatap Ameka dari atas ke bawah, mengamati dengan seksama. "Penampilan lo."
"Kenapa emang sama penampilanku?" Ameka mengernyit bingung, menatap pakaiannya sendiri.
"Lo bisa dibilang... gadis cupu," Lyn menjawab santai, tanpa berniat menyakiti. "Jadi menurut mereka, lo nggak selevel."
"Oh, pantesan," Ameka mengangguk, seolah baru menyadari sesuatu. "Jadi ternyata ada sistem pertemanan berdasarkan penampilan, ya, di sini. Baru tahu aku," ia terdiam sejenak, lalu menatap Lyn penasaran. "Terus, kenapa kamu nggak kayak mereka."
"Gue beda sama mereka," jawab Lyn singkat, kembali fokus pada makanannya, seolah topik itu tak lagi menarik untuk dibahas lebih jauh.
Mereka berdua menikmati makanan dalam diam, hingga tak lama.
BYUR!
Seseorang menumpahkan segelas jus dingin tepat ke kepala Lyn.
Kantin yang tadinya riuh seketika hening, semua mata langsung tertuju ke arah kejadian itu.
Ameka terkejut, mendongak cepat. Di depan mereka, berdiri Clarisa, Selena dan Bianca dengan tatapan penuh kemenangan.
"Kalian... kenapa nyiram jus ke Lyn?" Ameka bersuara, tak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan.
"Jangan ikut campur, lo cupu," ketus Bianca, menatap remeh ke arah Ameka.
Lyn mengepalkan tangannya erat, air jus masih menetes dari rambutnya. Ia bangkit perlahan dari kursinya, menatap Geng Aster dengan sorot mata setajam pisau.
"Ups, maaf, kita sengaja," ucap Selena santai, mengibaskan rambutnya dengan gaya angkuh.
Tanpa banyak bicara, Lyn meraih gelas teh hangat milik Ameka yang masih penuh di meja, lalu tanpa ragu menyiramkannya tepat ke wajah Selena.
"ARGB! Panas... panas!" Selena menjerit sambil buru-buru mengusap wajahnya yang memerah.
Clarisa membelalak, geram melihat sahabatnya kesakitan. Ia mengangkat tangan, hendak menampar Lyn, tapi sebelum tangan itu sempat mendarat, Lyn lebih cepat menyodorkan nampan makan siangnya, menekan tepi nampan itu ke leher Clarisa, membuat gadis itu terdorong mundur.
"Kurang ajar!" bentak Bianca, langsung melayangkan pukulan ke arah kepala Lyn.
Namun Lyn menunduk cepat, menghindari pukulan itu dengan gesit, lalu menarik kerah baju Bianca dengan keras, membuat gadis itu kehilangan keseimbangan dan jatuh terjerembab ke lantai kantin.
Lyn kembali menatap Clarisa, tak peduli dengan rambutnya yang masih basah dan lengket oleh jus. Ia mendorong nampan itu lebih dalam ke leher Clarisa, membuat gadis itu meringis menahan sakit.
"Lo pikir gue masih Lyn yang dulu?" desis Lyn dingin.
Seisi kantin terpaku, tak percaya dengan apa yang mereka saksikan. Lyn—gadis pendiam yang dulu selalu jadi bulanan-bulanan Geng Aster, kini berdiri dengan keberanian yang tak pernah mereka duga sebelumnya.
Lyn semakin menekan nampan itu ke leher Clarisa, suaranya dingin dan penuh perhitungan. "Gue bukan Lyn yang dulu lagi."
"Lo pikir malam itu gue udah lupa?" lanjutnya tajam, matanya menyala penuh dendam. "Jangan harap!"
"Gue akan balas kalian satu persatu," desisnya. "Tunggu aja."
Tanpa ampun, Lyn menarik rambut Clarisa dengan kasar, membenamkan kepala gadis itu ke dalam mangkok kuah bakso panas milik salah satu murid di meja terdekat, sebelum menariknya kembali.
"ARGHHH! Panas!" jerit Clarisa, wajahnya memerah menahan amarah.
"Ini belum seberapa dibandingkan apa yang lo lakuin ke gue dulu," desis Lyn dingin, sebelum akhirnya melepaskan tubuh Clarisa begitu saja, membiarkannya terduduk lemas di lantai.
Tanpa menoleh lagi, Lyn melangkah keluar dari kantin, mengabaikan tatapan syok seluruh murid yang masih tercengang menyaksikan kejadian barusan.
Ameka buru-buru bangkit, mengejar langkah Lyn yang semakin menjauh.
"Lyn, tunggu aku!"