NovelToon NovelToon
Drummer Cantik, Istri Rahasia Ketos Tampan

Drummer Cantik, Istri Rahasia Ketos Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Ruang tamu itu hening seketika. Hembusan napas dari celah pendingin ruangan bahkan terdengar lebih keras daripada tarikan napas orang-orang di sana.

Di depan smart TV yang menyala terang, Heera menatap Akram dengan sorot mata terluka bercampur amarah. Di sebelahnya, Bastian masih memegang ponselnya dengan wajah kebingungan tingkat dewa. Nama 'Almeera's iPhone' dan 'MacBook Pro Almeera' di layar sebesar 65 inci itu layaknya papan reklame neon yang memamerkan skandal terbesar abad ini.

Sementara itu, di balik pintu kamar jati yang berjarak hanya beberapa langkah dari mereka, Almeera meremas dadanya sendiri. Jantungnya berdetak begitu keras hingga ia merasa tulang rusuknya akan retak. Mati. Mati. Habis sudah riwayat gue.

Akram berdiri mematung. Otaknya yang terkenal memiliki IQ di atas rata-rata itu dipaksa bekerja melampaui batas wajarnya. Ia menatap layar TV, lalu menatap Heera dan Bastian bergantian.

Satu detik. Dua detik.

Tiba-tiba, Akram mendengus kasar. Sangat kasar hingga Heera sedikit terperanjat. Ia melempar botol air mineralnya ke atas meja pantry dengan gerakan frustrasi yang terlihat sangat, sangat natural.

"Lo pikir gue sudi ada nama dia di TV gue?" gerutu Akram dengan nada super menyebalkan, meraup rambutnya ke belakang dengan kasar. Ia melangkah mendekati Bastian dan menunjuk layar TV itu dengan tatapan jijik. "Hapus namanya, Bas. Geli gue lihatnya."

Bastian mengerjapkan mata. "Hah? Terus... kok bisa ada di riwayat pairing lo?"

Akram bersedekap, menatap teman-temannya dengan wajah memelas seolah dialah korban paling menderita di dunia.

"Kalian inget kejadian kemarin siang di ruang OSIS, kan? Pas gue tolak mentah-mentah proposal budget sound system dia?" Akram memulai pertunjukan monolognya. Nada suaranya bergetar menahan kekesalan palsu yang luar biasa meyakinkan.

Bastian dan anggota OSIS lainnya mengangguk serempak.

"Nah, cewek gila itu ternyata nggak nyerah. Kemarin sore, pas gue baru sampai sini dan lagi nurunin barang dari mobil, dia ngintilin gue! Dia tahu-tahu udah berdiri di depan lobi, nyegat gue bawa-bawa laptopnya." Akram memutar bola matanya malas.

Heera mendengarkan dengan saksama, raut curiganya perlahan mulai bergeser. "Terus? Lo biarin dia masuk ke apartemen lo?!"

"Gue usir, Ra! Tapi lo tahu sendiri bar-barnya si Almeera kayak gimana," Akram meninggikan suaranya seolah sedang sangat emosi. "Dia nahan pintu lift, terus ngotot minta gue dengerin sample audio double pedal dari band-nya yang katanya butuh speaker bass mahal. Daripada gue bikin keributan di koridor diliatin tetangga dan Dilaporin ke pihak keamanan, terpaksa gue suruh dia masuk bentar."

"Terus dia connect ke TV lo?" tanya Bastian mulai paham.

"Iya! Layar laptopnya kekecilan, jadi dia maksa nge-cast presentasi layout panggung dan sample audio band-nya ke TV gue ini biar suaranya kedengeran maksimal," Akram menekan pelipisnya, berakting seolah kepalanya berdenyut hanya dengan mengingat kejadian itu. "Lima belas menit kuping gue panas dengerin dia ngoceh dan dengerin suara drum sialannya itu. Habis itu langsung gue tendang keluar."

Hening sejenak mencerna penjelasan panjang lebar itu.

Tiba-tiba, Bastian tertawa terbahak-bahak sambil memukul pahanya sendiri. "Sumpah! Gila! Si Almeera emang kalau udah urusan NOISE, urat malunya putus! Pantesan kemarin sore pas gue chat lo agak lama balesnya, lagi dijajah rupanya lo, Kram!"

Beberapa anak OSIS lain ikut tertawa membayangkan betapa gilanya drummer galak itu mengejar Ketua OSIS mereka hanya demi sebuah tanda tangan proposal.

Heera yang sedari tadi tegang, akhirnya menghembuskan napas lega. Wajahnya yang pucat kembali bersemu, meski masih ada sisa kekesalan di matanya. "Ya ampun, Kram. Gue kira ada apa. Lagian lo terlalu baik sih, harusnya panggil satpam aja usir cewek urakan kayak dia."

"Nggak bakal gue kasih masuk lagi, Ra. Udah, Bas, disconnect dan forget device. Hapus jejak digital cewek barbar itu dari apartemen suci gue," titah Akram sambil kembali duduk di sofa, menghela napas panjang layaknya aktor pemenang Piala Oscar yang baru saja menyelesaikan adegan paling krusial.

Di dalam kamar, Almeera memerosotkan tubuhnya hingga terbaring di atas karpet. Tangannya masih gemetar. Kelegaan luar biasa mengguyur sekujur tubuhnya, seolah ia baru saja ditarik dari tepi jurang kematian.

Namun, seiring dengan rasa lega itu, bibirnya mengerucut sebal. Cewek gila? Barbar? Urakan? Sialan lo, Akram! Alibi sih alibi, tapi ngatain gue-nya nggak usah pake passion juga kali! rutuk Almeera dalam hati sambil memakan sisa pinggiran pizza-nya dengan gigitan penuh dendam.

Hujan badai di luar akhirnya benar-benar reda tepat pada pukul lima sore.

Di ruang tamu, anak-anak OSIS sibuk membahas revisi proposal dan tertawa-tawa. Namun, Akram sama sekali tidak fokus. Matanya terus melirik ke arah pintu kamar yang tertutup rapat. Sudah hampir empat jam Almeera terjebak di dalam sana. Tidak ada makanan selain dua potong pizza, dan udara AC sentral pasti membuatnya kedinginan.

Akram berdeham, lalu pura-pura terbatuk keras beberapa kali. Ia menyandarkan kepalanya ke sofa sambil memijat pelipisnya.

"Kram? Lo kenapa?" tanya Dika yang sedang mengetik di laptop.

"Kepala gue pusing lagi nih. Obat demam semalam kayaknya udah habis efeknya," keluh Akram dengan suara parau yang sangat meyakinkan.

Heera langsung berdiri dan menghampiri Akram, menempelkan punggung tangannya ke dahi cowok itu. Akram refleks memundurkan kepalanya sedikit untuk menghindari sentuhan langsung, namun Heera terlanjur menyentuhnya.

"Nggak terlalu panas sih, tapi muka lo emang pucet lagi," kata Heera cemas. "Mau gue bikinin teh anget lagi?"

"Nggak usah, Ra. Gue butuh tidur total aja kayaknya." Akram menatap Bastian dengan tatapan meminta maaf. "Sori banget ya, Bas, Guys. Bukannya gue mau ngusir, tapi gue beneran udah nggak kuat duduk. Kalian mau lanjut di sini nggak apa-apa, tapi gue mau tidur di dalem."

"Yah, masa lo tidur, kita yang kerja," Bastian membereskan kertas-kertasnya. "Ya udahlah, kita juga udah kelar setengah jalan. Mending kita balik aja biar lo bisa istirahat. Jangan sampai besok lo tumbeng beneran."

"Sori ya, sumpah ngerepotin," Akram berdiri, berpura-pura agak limbung untuk menyempurnakan perannya.

"Santai aja. Yuk, Guys, cabut!" komando Bastian.

Heera menatap Akram dengan tatapan berat hati, tapi ia juga tidak punya alasan untuk tinggal. "Lo beneran langsung istirahat ya, Kram. Kalau ada apa-apa, chat gue."

"Iya, Ra. Hati-hati pulangnya."

Sepuluh menit kemudian, setelah memastikan kelima tamu tak diundang itu benar-benar masuk ke dalam lift dan angkat kaki dari area lantai dua puluh lima, Akram mengunci ganda pintu utama apartemennya.

Ia membuang napas yang seolah sudah ia tahan selama empat jam terakhir. Ia berjalan cepat menuju lorong kamarnya, lalu mengetuk pintu itu pelan.

"Al? Aman. Mereka udah cabut."

Terdengar suara putaran kunci dari dalam. Pintu terbuka lambat-lambat.

Almeera berdiri di ambang pintu, masih mengenakan kaos oblong kebesaran dan melilitkan selimut tebal Akram di tubuhnya layaknya jubah. Rambut cepolnya sudah sangat berantakan, dan wajahnya terlihat lelah namun luar biasa lega.

Begitu melihat wajah Akram yang berdiri tegap di depannya tanpa ada siapa pun di belakang cowok itu, pertahanan Almeera seketika jebol. Lututnya lemas, dan tubuhnya limbung ke depan.

Dengan sigap, Akram melangkah maju dan menangkap tubuh Almeera. Kedua tangannya menahan lengan dan pinggang gadis itu agar tidak jatuh ke lantai.

"Hei," panggil Akram pelan, suaranya kini melembut, sangat kontras dengan nada dingin yang ia gunakan untuk memarahi Heera tadi. "Lo nggak apa-apa?"

Almeera menyandarkan keningnya ke dada Akram, membiarkan tubuhnya ditopang oleh cowok itu selama beberapa detik. Aroma mint dan kehangatan tubuh Akram menyapanya, memberinya rasa aman yang membuat matanya entah kenapa memanas.

"Jantung gue mau copot, Kram..." gumam Almeera dengan suara bergetar, teredam oleh dada Akram. "Gue beneran mikir kita bakal tamat hari ini."

Akram terdiam. Tangan kanannya yang berada di pinggang Almeera tanpa sadar mengusap punggung gadis itu dengan gerakan perlahan, menenangkan. Ia membiarkan Almeera bersandar padanya, mengabaikan fakta bahwa ini adalah musuh bebuyutannya yang paling cerewet. Di detik ini, Almeera hanyalah gadis berusia tujuh belas tahun yang sama ketakutannya dengan dirinya.

"Gue kan udah janji bakal beresin semuanya," balas Akram lembut, menempelkan dagunya sesaat di puncak kepala Almeera yang terbungkus selimut. "Nggak ada yang bakal tahu, Al. Gue pastiin itu."

Mereka berdiam dalam posisi seperti itu selama beberapa detik yang terasa menenangkan. Namun, begitu kewarasan Almeera kembali dan ia menyadari posisinya yang sedang memeluk Akram, cewek itu langsung tersentak mundur.

Wajahnya merah padam. Ia merapatkan selimutnya dengan salah tingkah.

"E-eh, sori! Gue... gue oleng gara-gara laper! Iya, kurang gula!" dalih Almeera cepat, membuang pandangannya ke arah lantai marmer.

Akram menarik tangannya kembali ke dalam saku celana, senyum jailnya perlahan terbit melihat wajah panik Almeera.

"Kurang gula apa modus mau meluk gue lagi?" goda Akram, melangkah menyusul Almeera yang kini berjalan menghentak menuju dapur.

"Modus dari Hong Kong! Lo utang makan malam enak sama gue gara-gara gue dikurung empat jam sama nyamuk!" seru Almeera dari arah dapur, membuka kulkas dengan brutal meski ia tahu isinya hanya ada beberapa botol air mineral dan telur.

Akram menyandarkan sikunya di meja pantry, menatap punggung Almeera dengan senyum yang sulit diartikan. "Sana ganti baju yang bener. Gue pesenin makanan yang enak."

"Pizza lagi?!"

"Bukan. Seafood saus Padang kesukaan lo. Biar energi lo buat marah-marah besok balik lagi."

Almeera menghentikan gerakannya menutup kulkas. Ia menoleh perlahan, menatap Akram dengan kening berkerut. "Sejak kapan lo tahu gue suka seafood saus Padang?"

Pertanyaan itu membuat gerakan Akram saat mengeluarkan ponsel terhenti. Matanya bertemu dengan mata cokelat Almeera yang penuh selidik. Ya, dari mana ia tahu? Mungkin ia memperhatikannya saat makan malam keluarga tempo hari, atau mungkin... ia diam-diam selalu memperhatikan gadis galak ini lebih dari yang mau ia akui.

"Gue Ketos, Al," kilah Akram lancar, memasang tampang arogan andalannya. "Gue tahu semua hal di sekolah ini, termasuk makanan favorit drummer cerewet yang hobi bikin masalah."

"Stalker," cibir Almeera, meski ada senyum kecil yang berusaha ia sembunyikan saat ia melangkah kembali ke kamarnya.

Saat pintu tertutup, Akram menatap layar ponselnya tanpa benar-benar membukanya. Ia mengusap belakang lehernya sambil menghela napas pelan.

Hari ini mereka berhasil selamat dari jurang kehancuran. Tapi, ada masalah baru yang jauh lebih berbahaya sedang mengintai Akram. Saat ia menatap layar ponselnya yang memantulkan wajahnya sendiri, ia sadar... benteng pertahanannya untuk tidak jatuh cinta pada cewek urakan itu, perlahan-lahan mulai retak.

1
Aidil Kenzie Zie
kok Shopia tau tentang Riwayat Bluetooth di Apartemennya mereka 🤔🤔kan dia bukan anak Osis🤔🤔🤔
Enz99
bagus
Aidil Kenzie Zie
kok bisa Shopia masuk ke apartemen mereka 🤔🤔
Moora: Jawabannya ada di bab selanjutnya 🤭
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
si Reyhan gangguin aja 🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
maaf tor Almeera sama Akram kelas berapa y
Aidil Kenzie Zie: oalah kirain kls 12 jadi kan nggak perlu lama backstreet nya 🤣🤣🥰🥰
total 2 replies
Aidil Kenzie Zie
ngaku nggak ya🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
akhirnya semua kupu-kupu 🦋🦋 terbang dari jantung 💓💓 mereka 🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
dig dig dig dig apa Akram akhirnya keceplosan bilang kalau Almeera istrinya 🤔🤔🤔🤔🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
si mbak mantan sok berkuasa 😏😏
Aidil Kenzie Zie
si Mama gimana sih 😡😡 pengen hub anaknya terbongkar apa nggak sadar kalo Akram udah nikah dan tinggal disana sama istrinya 🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
si Shopia udah dibilangin nyokap Al ganti parfum loundry masih aja kepo🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
si mama kok ember sich 🤭🤭🤭
Dara Sari
blm menarik banget alur cerita nya masih sedikit kaku dan kurang greget...maaf yaa Thor sedikit keritik semoga BS lbh baik kedepannya...
Moora: Makasiih tapi loh ya koreksiny... "gue suka gaya lo". Hehe jdi pelajaran kedepanny buat aku... 😊 makasiih
total 1 replies
Khusnul Khotimah
💪💪baru baca lihat bab terakhir dulu KLO menarik lanjut
Aidil Kenzie Zie
udah ngaku aja lagi PDKT 🥰🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
jantung mereka langsung dig dug dig dig🤣🤣🤣
Aidil Kenzie Zie
siap -siap makin panas dingin Akram
Aidil Kenzie Zie
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!