NovelToon NovelToon
Kali Ini Aku Memilih Menikahi Adikmu

Kali Ini Aku Memilih Menikahi Adikmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Setelah mengorbankan keluarga kandung, masa muda, dan hidupku demi menjadikan suamiku pewaris Mahendra Group, Sebastian justru memfitnah putra kami, membiarkan menantu dan cucuku meninggal, lalu mendorongku hingga tewas.

Saat kembali membuka mata, aku kembali ke hari Sebastian melamar ku.

Jika dulu aku memilih Sebastian Mahendra...
maka di kehidupan ini, aku akan menikahi adiknya, Stefanus Mahendra.

Aku tidak akan menikahi pria yang menghancurkan hidupku.

Aku akan memilih pria yang ternyata diam-diam mencintaiku sejak awal.

Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah mengganti calon suami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Masih Sama

Kereta ekonomi melaju pelan meninggalkan peron Stasiun Pasar Senen. Gerbong penuh sesak oleh manusia.

Daniel duduk terdiam di dekat kaca jendela. Ransel lusuh berada di pangkuannya. Pria muda itu memeluk erat sebuah map biru berisi seluruh dokumen penelitian kuliahnya.

Untuk pertama kalinya, benda itu tidak lagi membuatnya bangga. Benda itu berubah menjadi sumber rasa malu yang membakar rongga dadanya.

"Kamu dijatuhi skorsing akademik sementara."

Satu kalimat mematikan itu terus bergaung di kepalanya. Daniel menutup matanya rapat-rapat. Satu semester lalu, jajaran dosen memujinya sebagai mahasiswa paling menjanjikan. Hari ini, namanya dibicarakan di seluruh fakultas sebagai mahasiswa yang memanipulasi data.

Fakta paling menyakitkan adalah tidak ada satu orang pun yang mau mendengar penjelasannya di ruang sidang.

"Kuliah, Mas?" tanya seorang bapak tua di sebelahnya.

Daniel membuka mata dan mengangguk pelan. "Iya, Pak."

"Pulang liburan semester, ya?"

Tenggorokan Daniel terasa sangat kering. "Pulang saja, Pak."

Bapak itu tersenyum ramah. "Nggak apa-apa, Mas. Kadang pulang ke rumah memang obat paling murah buat pikiran."

Daniel membalas dengan senyum tipis. Senyum itu menghilang cepat ketika kereta mulai bergerak menjauhi ibu kota.

Kalau saja semuanya sesederhana ucapan bapak tua itu.

Tangan Daniel menggenggam map birunya semakin kuat. Ia tahu persis deretan datanya valid. Metode perhitungannya seratus persen sah. Namun, orang yang memiliki kuasa tidak pernah membutuhkan kebenaran. Mereka hanya butuh orang lain percaya bahwa lawannya bersalah.

"Kemampuanmu justru dipakai sebagai alasan untuk menghancurkanmu," gumam Daniel pelan.

Bapak tua di sampingnya tidak bertanya lagi. Pria itu hanya menepuk pelan bahu Daniel, memberikan kekuatan dalam diam.

Kereta besi itu terus melaju. Pemandangan gedung pencakar langit perlahan memudar, berubah menjadi hamparan sawah dan rumah kecil. Tiba-tiba, ponsel di saku Daniel bergetar panjang.

Layar retak itu menampilkan satu nama. Ratih.

Dada Daniel langsung menghangat sekaligus terasa sangat sesak. Ia segera menekan tombol jawab.

"Halo, Kak?" Suara gadis remaja itu terdengar ceria. "Kakak lagi di mana sekarang?"

"Di kereta."

"Jadi Kakak benar-benar pulang hari ini?"

"Iya, Dek."

Ratih tertawa kecil. "Syukurlah. Aku kangen banget sama Kakak."

Daniel menelan ludah dengan susah payah. Matanya memanas. Ia jauh lebih kangen mendengar suara adiknya daripada harus mengakui kegagalannya di kampus.

"Kamu baru habis cuci darah di rumah sakit?" tanya Daniel mengalihkan topik.

"Iya, Kak. Baru sampai rumah."

"Gimana hasil labnya hari ini?"

"Hemoglobin turun lagi sedikit."

Daniel memejamkan mata rapat-rapat. Tangannya mencengkeram lutut kuat-kuat. Dokter selalu memakai kata sedikit supaya keluarga pasien tidak merasa putus asa. Padahal, Daniel tahu setiap angka yang turun berarti tubuh adiknya semakin melemah mendekati batas akhir.

"Kak."

"Iya, Ratih?"

"Jangan beli apa-apa di jalan, ya. Uangnya disimpan aja buat kebutuhan kuliah Kakak bulan depan."

Daniel memaksakan diri tersenyum. "Memangnya Kakak pernah dengerin laranganmu?"

Ratih mendengus pelan. "Nggak pernah sama sekali. Makanya aku ingetin, biar Kakak nggak kecapekan kerja sambilan terus."

Daniel menoleh ke luar jendela. Sawah hijau membentang luas. Ia teringat masa kecil mereka saat ayah masih hidup. Ratih sangat suka berlari mengejar capung di pematang sawah. Sekarang, berjalan menuju teras saja membuat napas gadis itu tersengal.

"Aku bikin sop ayam loh nanti sore," ucap Ratih membuyarkan lamunannya.

Daniel tertawa lirih. "Kamu yang lagi sakit malah sibuk masak di dapur. Kamu harusnya istirahat."

"Nggak mau. Kan motong sayurnya sambil duduk juga bisa. Aku cuma pengin masak masakan kesukaan Kakak."

Daniel menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ponsel menempel erat di telinga. Dadanya terasa sangat penuh. Di dunia yang kejam ini, adiknya adalah satu-satunya orang yang menyambutnya tanpa peduli ia baru saja kehilangan harga dirinya.

"Aku tunggu di rumah ya, Kak."

Sambungan telepon terputus. Daniel menyandarkan kepalanya ke kaca jendela. Suara roda kereta beradu dengan rel terdengar berulang-ulang, persis seperti detak jam yang menghitung mundur hidupnya.

Beberapa mahasiswa tidak jauh dari kursinya sedang asyik bercanda.

"Alah, santai saja. Kalau dosennya killer ya kita tinggal ngulang kelas semester depan," ucap salah satu dari mereka tertawa lepas.

Daniel spontan menundukkan kepalanya lebih dalam. Kalimat sederhana itu menusuk jantungnya. Ia bahkan belum tahu apakah dirinya masih memiliki kesempatan mengulang kelas atau namanya sudah dihapus permanen.

Hari mulai sore ketika kereta ekonomi itu tiba di kota kecil tempat Daniel dibesarkan.

Stasiun daerah itu tidak besar. Bangunannya sudah tua dan catnya mengelupas. Namun, aroma gurih gorengan dari warung depan stasiun masih sama seperti belasan tahun lalu.

Daniel melangkah keluar memanggul ransel hitamnya. Seorang tukang ojek segera menghampiri.

"Mau ke mana, Mas?"

"Jalan Melati, Pak."

"Oh, rumah almarhum Pak Surya, ya?"

Daniel mengangguk pelan. Orang-orang di kota kecil ini masih mengingat nama baik mendiang ayahnya.

Perjalanan menggunakan motor tua itu hanya memakan waktu lima belas menit. Sepanjang jalan, Daniel melihat toko kelontong tutup dan anak-anak bermain bola di lapangan. Tidak ada satu pun warga yang tahu bahwa pemuda ini baru saja kehilangan masa depannya.

Rumah sederhana peninggalan orang tuanya akhirnya terlihat di ujung jalan.

Pagar besinya sudah berkarat dimakan usia. Cat dinding luar mulai mengelupas memamerkan semen di baliknya. Namun, halaman kecilnya masih dipenuhi rimbunnya bunga kertas berwarna ungu cerah.

Ratih sudah berdiri menunggu di depan pintu kayu.

Mata Daniel memanas melihat kondisi adiknya. Tubuh gadis itu jauh lebih kurus dibanding terakhir kali ia pulang. Tulang selangkanya menonjol jelas. Kulit Ratih pucat pasi tanpa aliran darah.

Tetapi, senyum gadis itu tetap persis sama. Penuh kehangatan.

"Kak!" panggil Ratih riang.

Daniel langsung melangkah cepat menghampirinya. "Ngapain keluar sampai ke teras begini? Kamu harusnya istirahat di dalam."

Ratih tidak memedulikan teguran itu. Gadis itu maju dan memeluk kakaknya erat-erat. Pelukan itu terasa sangat ringan. Terlalu ringan.

Daniel membalas pelukan itu dalam diam. Tangannya merasakan tekstur tulang rusuk adiknya di balik pakaian. Gadis ini semakin menyusut.

"Ayo masuk, Kak."

Begitu melangkah masuk, aroma gurih sop ayam memenuhi ruang makan kecil itu. Ratih tersenyum sangat bangga.

"Aku bilang juga apa, aku masih bisa masak sendiri."

Daniel melihat panci kecil di atas kompor gas. Isinya sangat sederhana. Irisan wortel, kentang, dan sedikit suwiran daging ayam. Mungkin hanya bahan itu yang mampu Ratih beli minggu ini.

Ratih dengan cekatan menuangkan kuah sop ke dalam dua mangkuk. "Cobain dulu, Kak."

Daniel duduk dan menyuapkan sesendok kuah hangat ke mulutnya. Rasanya sedikit keasinan. Namun, ia tetap menghabiskan satu sendok penuh lagi dengan wajah tenang.

"Gimana rasanya?" tanya Ratih penuh harap.

"Enak banget."

Ratih menyipitkan mata curiga. "Bohong."

Daniel tertawa kecil. "Sedikit asin, sih."

"Tuh kan, aku tahu pasti keasinan." Ratih ikut tertawa lepas.

Setelah makan, Ratih sibuk membereskan mangkuk kotor ke dapur. Daniel berusaha melarang, tetapi gadis kurus itu tetap keras kepala beralasan hanya memindahkan mangkuk.

Daniel akhirnya mengalah dan berjalan keluar menuju teras depan. Udara sore terasa jauh lebih dingin dan bersih dibanding Jakarta.

Ia berdiri memandangi halaman kecil sambil mengingat bayangan ayah dan ibunya. Rumah ini dibangun sedikit demi sedikit. Ayahnya rela mencicil batu bata, dan ibunya begadang menjahit gorden jendela. Semua kenangan berharga keluarga Prasetyo tertanam di sini.

Tiba-tiba, pandangan Daniel jatuh pada sebuah amplop putih tebal. Amplop itu terselip di bawah celah pintu utama.

"Aneh," gumam Daniel pelan.

Ia membungkuk dan mengambilnya. Logo sebuah bank swasta besar tercetak sangat jelas di bagian kiri atas amplop.

Daniel merobek ujung amplop perlahan. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Senyum tenang di wajahnya menghilang tanpa sisa seketika.

Matanya bergerak sangat cepat, membaca setiap baris ketikan komputer di atas kertas berlogo resmi tersebut. Lembar pertama dibalik. Lembar kedua dibaca.

Kedua tangan Daniel mulai gemetar hebat.

Ratih berjalan keluar membawa nampan berisi dua gelas teh manis hangat.

"Kak, itu surat dari siapa?" tanya Ratih bingung melihat punggung kakaknya kaku.

Daniel tidak sanggup menjawab. Ia terus membaca sampai ke baris paling bawah surat. Napasnya terasa sangat berat dan mencekik rongga dada.

Ratih meletakkan nampan di meja dan menghampiri kakaknya dengan cemas. "Kak? Kenapa?"

1
watno antonio
lanjut thor
Carisoy
Baca nti ajh tunggu kalau sudah selesai revisi deh👍
DdCantik
Emang bisaan bikin cerita seru, jadi si shqena paling udah gila, mantaplah ayok lanjut
DdCantik
Semangat 💪💪💪💪
Fahreziy
👣👣👣
falea sezi
jd saquena uda gila kali q 😓
falea sezi
baru aja baca😕 uda nyesek😓 air mata keluar sendiir😓
DdCantik
ribet banget jadi orang kaya🤭
Pratiwiajah
kaya gini palingan beneran ada di Konoha sini ya????🤭
Pratiwiajah
ok Fik aku benci si basbas ini
Pratiwiajah
tragis bgt/Sob/
NolaRona
up🙏
Betharia Anggita Dominique
thor, bikin cerita mesti sadis👍
Betharia Anggita Dominique
bagussss👍👍👍👍
Betharia Anggita Dominique
wih, kaga bisa bayangin begimana jadi shaqena duh
Betharia Anggita Dominique
keluarga lucknut
Jitison
ditunggu 🙏
Jitison
kasihan skali
Carisoy
lanjutkan yu
DdCantik
makin seru👍👍👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!