NovelToon NovelToon
SANG PEMBURU KEGELAPAN

SANG PEMBURU KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:424
Nilai: 5
Nama Author: AL

Mengerahkan segenap kekuatannya, Arya menyerang Alam Dewa!

Awalnya Arya ditugaskan para dewa untuk memburu Pangeran Kegelapan yang telah menciptakan berbagai teror di dunia. Namun, di balik tugas ini, ada konspirasi yang busuk!

Para dewa rupanya berusaha melenyapkan keabadian dan kekuatan sang ayah yang ada di dalam dirinya. Kelak Arya akan memimpin perang melawan para dewa. Di perang besar ini dia akan menunjukkan kehebatan dan kesaktiannya yang tiada tara!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SPK 7

Pemuda itu menguap lebar sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Diakuinya, tidur di atas pohon membuat tubuhnya menjadi kaku dan terasa sakit. Semua urat yang saling berhubungan di sekujur tubuhnya seperti menegang parah. Dia dipaksa untuk menyeimbangkan tubuhnya sepanjang waktu, jika tidak ingin jatuh ke bawah.

Arya menatap jauh ke arah terjadinya suara pertarungan yang di dengarnya. Posisinya yang berada di atas pohon membuatnya bisa sedikit leluasa untuk melihat lebih jauh, meski beberapa pohon besar lain sedikit menutupi pandangannya.

Sebenarnya bukan sifat Arya ingin ikut campur urusan orang lain, tapi entah kenapa hati kecilnya seolah menyuruhnya untuk mendekati tempat terjadinya pertarungan tersebut.

Arya dengan ringan melompat turun dan berjalan sedikit cepat mendekati tempat yang ditujunya. Ayunan langkahnya terasa begitu mantap menjejak bumi yang beralaskan tebaran dedaunan kering dan juga rumput subur menghijau.

Dalam jarak sekitar 30 meter dari tempat pertarungan, Arya berhenti dan bersandar di sebuah batang pohon. Pandangannya tajam tertuju kepada puluhan orang yang sedang bertarung satu sama lain, sambil lidahnya bergerak-gerak memainkan sebatang rumput yang terselip di bibirnya.

Arya melihat pertarungan yang tidak seimbang sedang terjadi di depannya. Belasan lelaki harus berjibaku melawan sekitar 30 orang yang kesemuanya memakai pakaian berwarna hitam. Namun anehnya, 30 orang itu semuanya memaki topeng yang terbuat dari kulit kayu untuk menutupi wajah.

10 menit berlalu, 30 orang bertopeng dan berpakaian hitam tersebut berhasil membuat jumlah lawannya berkurang hampir separuh. Serangan mereka terlihat begitu terorganisir dengan rapi, seperti sudah sering melakukan pertarungan bersama-sama.

Dua orang dari mereka menyadari jika ada orang lain selain mereka yang sedang mengawasi jalannya pertarungan di tempat itu. Keduanya keluar dari formasi dan bergerak cepat mendekati Arya yang sedikit terkejut melihat keduanya berlari ke arahnya.

"Apa yang sedang kau lakukan di tempat ini, Anak muda?" tanya seorang dari mereka berdua.

Meskipun tertutup topeng, tapi Arya bisa melihat jika tatapan mata kedua orang tersebut menunjukkan rasa ketidak senangan mereka atas kehadirannya.

"Aku hanya kebetulan lewat di tempat ini." Arya dengan begitu tenang menjawab pertanyaan manusia bertopeng di depannya.

"Lalu kenapa kau berhenti dan melihat pertarungan kami? Kenapa kau tidak meneruskan perjalananmu?"

Arya menggaruk kepalanya pelan, lalu mematahkan lehernya ke kanan dan ke kiri hingga timbul suara pergeseran dari persendian tulang lehernya.

"Setahuku aku tidak perlu membayar jika ada tontonan seperti ini, bukan? Selain itu, apa ada larangan jika aku ingin berhenti dan beristirahat di sini?" Senyum tipis tercetak di bibirnya.

"Dasar kunyuk! Kau meremehkan kami, ya? Apa kau tidak tahu kami siapa?"

"Bagaimana aku tahu kalian siapa, sedangkan kita saja belum pernah berkenalan," sahut Arya.

"Bajingan tengik! Kau sudah bosan hidup rupanya!" hardik sosok bertopeng satunya lalu menyabetkan pedangnya menuju Arya.

"Eh, kenapa kalian menyerangku? Bukankah kita tidak punya permasalahan sama sekali?" ucap Arya sembari menghindari serangan yang tertuju kepadanya.

Sosok bertopeng itu berdecak kesal setelah serangan awalnya bisa dengan begitu mudah dihindari pemuda tersebut. Serangan susulan kembali dilancarkannya berulang kali, tapi tetap saja Arya bisa berkelit menghindar tanpa kesulitan yang berarti.

Melihat temannya kesulitan mendaratkan serangan, sosok bertopeng satunya gusar dan ikut bergerak menyerang memberi bantuan. Tebasan demi tebasan dilepaskannya menyokong serangan yang sudah dilakukan temannya

Melawan dua sosok bertopeng nyatanya tidak membuat Arya kebingungan. Pemuda itu melenting tinggi meraih lalu mematahkan sebuah ranting yang tergantung di atasnya.

"Kalian bertanya dan aku sudah menjawab baik-baik. Tapi kenapa kalian malah menyerangku?" tanya Arya sambil tangannya membersihkan daun menempel di ranting yang dipegangnya.

"Jangan banyak bertanya!" bentak salah satu dari keduanya dengan napas yang memburu terengah-engah.

Kedua sosok bertopeng tersebut kembali menyerang dengan ganasnya. Pedang di tangan mereka bergerak kuat menebas setiap bagian tubuh Arya yang terbuka. Tapi kali ini Arya tidak lagi menghindar seperti tadi. Dia menggunakan ranting di tangannya untuk menangkis setiap serangan yang mereka lancarkan.

"Tidak mungkin!" pekik seorang dari kedua sisi bertopeng yang menyerang Arya. Pedang di tangannya bergetar hebat setiap kali berbenturan dengan ranting yang digunakan lawannya sebagai senjata. Matanya melotot melihat ranting tersebut dalam keadaan baik-baik saja meski sudah belasan kali beradu dengan pedangnya.

"Hati-hati. Tampaknya dia bukan pendekar sembarangan. Kita akan kesulitan jika hanya berdua saja melawannya," kata temannya pelan sambil melirik ke arah tempat pertarungan yang lain.

"Sebaiknya kau pergi dari tempat ini, Anak muda. Kami berdua tidak akan memperpanjang masalah ini lagi!"

"Huh ... enak saja kau berbicara! Setelah kalian berdua menyerangku terlebih dulu, kini kalian ingin aku pergi?" sahut Arya cepat.

"Jika kau tidak pergi, maka kau akan berhadapan dengan perguruan Topeng Sesat!"

Arya terkekeh pelan. Dia mengarahkan ujung ranting yang dipegangnya ke depan. "Mau topeng sesat ataupun topeng monyet, aku tidak peduli! Kalian sudah mencari masalah denganku dan harus membayarnya!"

Pemuda berambut kemerahan itu sadar jika dua sosok yang dihadapinya tersebut berasal dari perguruan aliran hitam. Jadi kini dia sudah mempunyai alasan yang kuat untuk membunuh mereka berdua.

Kedua sosok bertopeng itu menelan ludahnya. Tampaknya ancaman tentang perguruan mereka yang akan ikut campur tidak membuat pemuda itu ketakutan. Mereka paham jika berdua saja akan kesulitan untuk melawan Arya, tapi teman-teman mereka nyatanya sejauh ini masih belum berhasil menghabisi lawan yang tersisa.

"Mati kalian!" Arya berinisiatif menyerang terlebih dahulu. Tenaga dalamnya kembali di tambahkan untuk memperkuat daya tebasan ranting di tangannya.

Kedua sosok bertopeng itu semakin terkejut dengan kecepatan Arya yang terus meningkat. Setelah kedua pedang yang mereka pegang terjatuh, giliran tubuh mereka berdua yang tergeletak di tanah dengan leher patah.

Pemuda berambut kemerahan itu meraih dua pedang yang tergeletak tidak jauh darinya. Setelah itu Arya melesat untuk membantu orang-orang yang sedang dikeroyok anggota perguruan Topeng Sesat.

Tanpa memilih siapa dari anggota perguruan Topeng Sesat yang harus di lawannya, Arya terjun ke dalam kancah pertarungan.

Kedua pedang di tangannya berkelebat cepat tanpa berhenti. Kecepatannya yang jelas lebih unggul dari pada lawannya, membuatnya dengan leluasa bergerak menyerang.

Kedatangan Arya membuat peta pertarungan berubah drastis. Anggota perguruan Topeng Sesat bergerak mundur setelah pemuda itu dalam waktu relatif singkat membunuh 8 temannya dengan begitu mudah.

1
anggita
like👍, 2x☝☝iklan. untuk dukung novel laga nusantara
anggita
bocah kuckuk🤔🤭😅
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
🚬🗿☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!