NovelToon NovelToon
Melodi Air Mata Samudera

Melodi Air Mata Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:728
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.

Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.

Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?

"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Pria Misterius

"Tampaknya kau benar-benar tidak tahu apa-apa tentang kami, Nona. Eksistensi kami bahkan jauh lebih kuno daripada manusia fana. Tapi baguslah jika kau buta tentang ras kami. Itu akan membuat segalanya menjadi jauh lebih mudah bagi kami," ucap wanita pemberi jaket wol dengan senyuman yang kini tampak begitu kaku dan dipaksakan.

Bulu kuduk Elara seketika meremang hebat. Saraf-saraf di tubuhnya menegang kaku. Ada yang sangat tidak beres dengan tempat ini.

Seiring dengan tawa mereka yang mereda, angin malam mendadak berembus membawa bau busuk yang sangat menyengat. Itu adalah perpaduan pekat antara bau bangkai membusuk, darah kering, dan tanah makam yang basah.

Seketika, Elara menyadari sesuatu yang mengerikan. Daging yang baru saja ia lahap dengan nikmat... jangan-jangan adalah daging mayat.

Insting predator lautan di dalam dirinya berteriak histeris bahwa ia harus segera menyingkir dari sana.

"Emm... Nyonya, Tuan. Terima kasih banyak atas jamuan makanannya," ujar Elara sembari memaksakan diri untuk berdiri tegak. "Saya harus segera melanjutkan perjalanan untuk mencari penginapan."

Elara berbalik dan bergegas melangkah pergi. Namun, baru dua langkah kakinya berayun, embusan angin dingin berdesir cepat melewati bahunya.

Sret!

Tanpa sempat ia sadari bagaimana caranya, si wanita pemilik jaket wol tadi tahu-tahu sudah berdiri tepat di hadapannya, menghadang jalan keluar dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

Elara tersentak hebat hingga terpaksa mundur selangkah. Jantungnya berpacu cepat.

"Mau pergi ke mana, Nona manis? Kenapa kau terburu-buru sekali?" bisik wanita Ghoul itu.

Wajahnya yang semula tampak ramah kini perlahan berubah pucat pasi, dengan sudut bibir yang merobek senyum lebar hingga memperlihatkan deretan gigi yang runcing dan menghitam.

"Menginaplah di sini bersama kami. Malam masih sangat panjang."

"Tapi aku tidak mau merepotkan kalian lebih lama lagi," ucap Elara, berusaha menekan nada paniknya. "Permisi, Nyonya."

Elara membungkuk sedikit demi menjaga kesopanan. Namun, sebelum ia sempat melangkah, wanita Ghoul itu dengan gerakan secepat kilat menyambar kerah jaket wol yang dipinjamkannya. Sentakan kasar itu begitu kuat hingga membuat tubuh lemas Elara terhuyung ke depan.

"Tidak semudah itu kau bisa pergi begitu saja, Nona manis. Ucapan terima kasih saja sama sekali tidak cukup bagi kami," desis wanita itu dengan suara yang mendadak berubah berat dan serak.

Elara langsung mengerti ke mana arah pembicaraan ini. Berusaha menghindari keributan, ia merogoh kantung di pinggangnya, mengeluarkan lima keping koin emas, lalu menyodorkannya.

"Maafkan aku jika aku tidak tahu malu karena telah meminta makanan kalian. Aku hanya memiliki sedikit uang ini, jadi tolong terimalah sebagai gantinya."

PLAK!

Wanita itu menepis kasar tangan Elara hingga kepingan koin emas tersebut terlempar dan berdenting jatuh di atas tanah basah. "Aku tidak butuh uang sialanmu!"

Elara menggertakkan giginya, harga dirinya mulai terusik. "Lalu? Apa sebenarnya yang Anda inginkan, Nyonya?"

"Kau... daging segarmu," bisik wanita itu, sementara air liur kental mulai menetes dari sudut bibirnya yang robek. "Kami semua di sini... membutuhkan hidangan penutup."

Elara tertegun di tempatnya. Belum sempat ia mencerna ancaman tersebut, dalam hitungan detik berikutnya, wujud delapan orang di sekeliling api unggun itu berubah total secara mengerikan.

Kulit ari mereka yang semula mulus mendadak mengerut, melepuh, dan membusuk mengeluarkan cairan hitam berbau anyir.

Kuku-kuku jemari mereka memanjang drastis menjadi cakar hitam yang tajam dan meliuk. Bagian putih dari sepasang mata mereka sepenuhnya lenyap, berganti dengan warna hitam pekat yang memancarkan aura kematian.

'Astaga... wajah-wajah mereka... kenapa berubah menjadi semenakutkan ini? Bahkan wujud asli Siren-ku jauh lebih menawan daripada monster-monster ini!' batin Elara, terkejut sekaligus merasa jijik melihat transformasi menjijikkan di depannya.

Merasa situasi sudah benar-benar tidak aman, Elara berbalik dan langsung berlari tunggang langgang menembus kegelapan hutan. Rasa sakit di telapak kakinya yang berdarah seketika melebur bersama rasa panik yang memuncak.

"Monster! Tolong...! Siapa pun, tolong!" teriaknya histeris, suaranya menggema memecah sunyinya Hutan Luminara.

Namun, di belakangnya, suara desisan lapar dan derap langkah merangkak dari delapan Ghoul terdengar semakin mendekat dengan kecepatan eksponensial. Elara tahu, sepasang kaki barunya yang payah ini tidak akan bisa membawanya lari lebih jauh lagi.

‘Aku tidak bisa terus berlari seperti ini!’ batinnya frustrasi.

Satu-satunya pilihan yang tersisa adalah menggunakan sihir bawaan rasnya. Elara menarik napas dalam-dalam, bersiap melepaskan lengkingan suara Siren yang bisa menghancurkan kesadaran musuh. Ia membuka bibirnya, mencoba melantunkan bait mantra pemikat, "Upon..."

"Arggh!" Elara terbatuk hebat, memegangi lehernya sendiri.

Bukannya nyanyian pemikat atau jeritan ultrasonik yang mematikan, suara yang keluar dari tenggorokannya hanyalah sebuah cicitan serak yang amat pelan dan lemah. Kutukan daratan dan segel sihir pengasingan benar-benar telah merenggut fungsionalitas pita suara magisnya.

"Helios bajingan! Ini semua gara-gara dia!" maki Elara penuh dendam, air matanya nyaris menetes akibat perpaduan rasa takut, marah, dan sakit hati yang teramat sangat.

Jika saja pangeran mermen itu tidak menjebaknya hingga ia diasingkan ke daratan, ia tidak akan berakhir mengenaskan menjadi santapan makhluk pemakan bangkai seperti ini.

Elara terus memacu sepasang kakinya yang gemetar. Rasa perih yang menyengat di telapak kaki kini semakin menjadi-jadi, namun ia mati-matian menggertakkan gigi untuk menahannya. Di belakangnya, sekawanan Ghoul terus merangkak dan berlarian mengejar, memotong jarak dengan sangat cepat.

"Hwaaaa! Siapa saja, tolong aku!!" teriak Elara frustrasi, suaranya parau membelah keheningan hutan.

Tepat saat cakar tajam Ghoul terdepan nyaris merobek punggung kemeja Elara, sebuah embusan angin kencang bertekanan tinggi mendadak berdesir dahsyat dari arah samping.

Gelombang udara itu berputar seperti badai tak kasatmata dan langsung menghempaskan sekawanan Ghoul tersebut dengan kekuatan masif.

BRAKK! BRAKK! BRAKK!

Tubuh-tubuh membusuk para Ghoul terpental jauh, menghantam batang-batang pohon pinus hingga hancur berkeping-keping.

Belum sempat monster-monster kuburan itu bangkit untuk memulihkan diri, sebuah bola api raksasa berwarna merah membara melesat cepat membelah kegelapan malam.

Kobaran api itu menghantam telak sisa-sisa kawanan Ghoul, membakar serta meluluhlantakkan tubuh mereka dalam sekejap hingga hanya menyisakan serpihan abu yang beterbangan.

Elara terengah-engah. Penasaran sekaligus merinding mendengar suara jeritan melengking yang disusul kegaduhan dahsyat itu, ia sontak menghentikan langkah dan menoleh ke belakang.

Kedua mata biru samudera milik sang Siren langsung melebar sempurna. Ia terlonjak kaget saat mendapati sesosok pria jangkung misterius yang mengenakan jubah hitam legam berkerudung panjang sudah berdiri tegak di belakangnya. Sisa-sisa hawa panas dan percikan api magis masih tampak berpijar di sekitar jemari pria tersebut.

"Si... siapa kau?!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!