Cinta pertama seharusnya indah.
Tapi milik Lay Amelty Ranza berubah jadi neraka.
Ahber Mazchar, ketua OSIS paling dingin, bilang dia cinta Lay.
Andkay, si badboy posesif, berteriak "LO HANYA MILIK GUE!"
Eskay, sahabat terbaik Ahber, tiba-tiba mendekati Lay diam-diam.
Tapi di balik senyum mereka... ada darah.
15 tahun lalu, keluarga Ahber membantai satu keluarga di Gudang B-09.
Sekarang balas dendam itu datang. Melalui cincin perak bergambar burung.
Cincin pertama: Milik Burung, si pembunuh.
Cincin kedua: Milik Nayla, adik yang pura-pura mati.
Cincin ketiga: Sekarang ada di tangan Ahber.
Di dalamnya tersimpan 3 Triliun dan rahasia yang bisa menghancurkan 2 keluarga besar.
Keluarga Mahesa dan Keluarga Dirga mengincar mereka.
Dan ada "A"... dalang yang mempermainkan semuanya dari awal.
Lay diculik. Dikhianati. Dipaksa memilih.
Sampai pesan terakhir itu masuk ke HP Ahber:
"Maaf gue salah."
Salah mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Musim hujan sudah lewat. Langit sore di atas taman kota bersih, berwarna biru muda dengan sedikit awan.
Sudah tiga bulan sejak Ahber dan Eskay mulai “jatah taman” jam 4 sore.
Hari Senin, Rabu, Jumat. Tidak pernah absen.
Hari ini giliran Eskay yang datang duluan.
Raka berlari ke ayunan. “Papa, aku duluan ya!”
Eskay mengangguk. “Jangan jauh-jauh.”
Ia duduk di bangku kayu yang sama. Di tangannya ada map cokelat. Di dalamnya ada surat. Surat yang sudah ia tulis 3 bulan lalu, tapi tidak pernah berani diberikan.
10 menit kemudian, mobil hitam Ahber masuk.
Layla turun dengan semangat. “Paman Eskay!”
“Hai, Nona Gambar.” Eskay tersenyum.
Ahber menyusul. Jasnya dilepas, lengan kemejanya digulung.
Mereka duduk. Seperti biasa. Jarak satu meter. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.
Anak-anak di depan sibuk. Layla menunjukkan buku gambar baru. Raka menunjukkan pesawat kertas yang bisa terbang muter.
“Dia pinter.” Kata Ahber pelan.
“Guru dia.” Jawab Eskay sambil menunjuk Layla. “Dia yang ngajarin lipat yang muter itu.”
Mereka diam. Angin sore lewat.
“Aku bawa sesuatu.” Eskay akhirnya membuka map. Mengeluarkan amplop putih. “Buat kamu.”
Ahber menerima. Tidak dibuka. “Apa ini?”
“Surat. Aku tulis malam setelah kita ketemu pertama kali di taman.”
Ahber menatap amplop itu. Tidak ada nama. Hanya tulisan tangan: _Untuk Ahber._
“Aku tidak pernah kirim karena... aku takut kamu sobek.” Eskay tertawa kecil. “Tapi sekarang mungkin sudah waktunya.”
Ahber memasukkan amplop itu ke saku jas. “Aku baca nanti.”
Malamnya.
Rumah Ahber sepi. Layla sudah tidur.
Ahber duduk di teras. Lampu taman menyala. Di tangannya amplop putih itu.
Ia buka pelan. Di dalamnya 3 lembar kertas. Tulisan tangan Eskay. Rapi. Tapi beberapa bagian ada coretan.
_Ahber,_
_Kalau kamu baca ini, berarti aku sudah cukup berani untuk memberikannya langsung._
_15 tahun lalu aku pergi bukan karena benci kamu. Aku pergi karena malu. Karena aku yang salah ambil keputusan di proyek itu. Aku yang tanda tangan. Aku yang ngotot. Dan saat semuanya runtuh, aku lari. Aku pikir kalau aku hilang, kamu tidak akan ikut jatuh._
_Ternyata aku salah. Kamu tetap jatuh. Dan aku tidak ada di sana untuk menahan._
_Aku dengar kamu menikah. Punya Layla. Aku ikut senang. Lalu aku dengar... kamu ditinggal. Aku mau datang. Tapi aku pengecut._
_Sampai aku lihat Layla di taman. Dia ketawa sama Raka. Dan aku lihat kamu, duduk di bangku, menatap dia dengan cara yang sama seperti dulu kamu menatap kami waktu presentasi. Khawatir. Bangga. Takut kehilangan._
_Aku tidak minta kita kembali jadi "sahabat sampai kapan pun". Itu terlalu besar._
_Aku cuma minta satu: bolehkah aku duduk di bangku yang sama denganmu tiap sore? Bolehkan anak-anak kita berteman tanpa kita merusak itu dengan masa lalu?_
_Kalau kamu bilang tidak, aku akan pindah taman._
_Kalau kamu bilang iya... aku janji tidak akan lari lagi._
_-Eskay_
Ahber membaca 2 kali. Tangannya tidak gemetar. Dadanya saja yang terasa penuh.
Ia melipat surat itu lagi. Menatap langit.
Keesokan harinya jam 4.
Eskay datang dengan ragu. Ahber sudah di sana duluan.
“Gimana?” tanya Eskay begitu duduk.
Ahber mengeluarkan surat itu dari tas. Sudah dilipat rapi.
“Aku baca.”
“Lalu?”
“Lalu aku mau jawab.”
Ahber mengeluarkan kertas dan pulpen dari tas Layla. Menulis 3 baris di belakang struk belanja.
Ia serahkan ke Eskay.
Eskay buka.
Isinya:
_Iya. Duduk saja.
Tapi kalau kamu lari lagi, aku yang kejar.
- Ahber_
Eskay tertawa. Kali ini lepas. “Deal.”
Dari kejauhan Layla teriak, “Papa! Paman! Lihat! Kita bikin gambar bareng!”
Di kertas besar, ada gambar: 4 orang di taman. 2 anak di ayunan. 2 dewasa di bangku. Di atasnya tulisan krayon merah: _SAHABAT BARU._
Raka nambahin: _Dan lama._
Ahber dan Eskay saling lihat.
15 tahun kebencian, salah paham, dan luka... kalah sama 3 bulan duduk bareng tiap sore.
“Paman.” Kata Eskay. “Makasih udah kasih aku kesempatan kedua.”
“Jangan sia-siakan.” Jawab Ahber. “Untuk mereka.”
Mereka mengangguk bersamaan.
Matahari mulai turun. Cahaya jingga lagi. Sama seperti hari pertama Layla ketemu Raka.
Layla lari ke Ahber. “Papa, besok kita ke sini lagi ya?”
“Boleh.”
“Paman Eskay juga?”
“Iya. Janji.”
Eskay mengusap kepala Raka. “Dengar itu? Kita punya janji taman.”
Di perjalanan pulang, Ahber simpan surat Eskay di laci. Di samping foto lama 2011.
Ia tulis di post-it kecil lalu tempel di atasnya: _“Mulai hari ini. Bab baru.”_
*DI TEMPAT LAIN*
Raka sebelum tidur berbisik ke pesawat kertasnya, “Besok kita ketemu Layla lagi ya.”
Eskay yang dengar dari luar pintu tersenyum. “Iya, Nak. Besok lagi.”
Takdir tidak selalu datang dengan ledakan besar.
Kadang dia datang lewat ayunan, krayon, dan dua orang dewasa yang akhirnya berani duduk di bangku yang sama.
like + bunga biar semangat deh/Smile/