Sinta Aniswari (23) dulunya adalah mahasiswi kedokteran paling ceria dan cerewet se-FK.
Sampai ayahnya bangkrut dan satu-satunya cara menyelamatkan rumah sakit keluarga adalah dengan menikahi Dean Galang Wijaya (30).
Pengusaha muda, perfeksionis, kaku seperti robot, dan sedingin kulkas dua pintu.
Dua tahun menikah tanpa cinta. Sinta berubah menjadi Nyonya Wijaya yang anggun dan penurut. Dari luar, semua orang mengira ia adalah istri yang tidak disayang. Pernikahan yang kaku seperti dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama.
Sampai mereka tau sisi lainnya.
Bahwa Dean yang kaku itu ternyata menjadwalkan segalanya. Bahkan untuk menyentuh istrinya. Satu bulan empat kali. Setiap tanggal 5, 12, 19, dan 26. Jam 21.00 tepat.
Dan selalu diawali dengan kalimat yang sama, dengan wajah datar yang sama:
"Apa mau main?"
Sinta pikir pernikahan ini hanya soal peran. Sampai Dean yang kaku itu mulai membuatnya bingung, berubah menjadi lebih aktip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISI LAIN SUAMIKU — DEAN GALANG WIJAYA BAB 33 — DIPLOMASI KUE SUS DAN EVALUASI
SISI LAIN SUAMIKU — DEAN GALANG WIJAYA
BAB 33 — DIPLOMASI KUE SUS DAN EVALUASI MODUL DOMESTIK
SUV hitam yang dikemudikan Rian membelah kawasan Kuningan dengan kecepatan konstan. Di kursi belakang, keheningan tegang yang manis mengudara. Sinta duduk sangat tegak, jemarinya bertaut di atas pangkuan dengan gestur Nyonya Wijaya yang sangat teratur, sementara tangan kanan Dean tidak pernah melepaskan genggamannya dari jemari Sinta sejak keluar dari restoran.
Begitu pintu penthouse Kuningan terbuka dan menyajikan suasana sunyi yang privat, Sinta langsung melepas sepatu high heels-nya dengan gerakan anggun yang teratur.
"Mas Dean," panggil Sinta lembut sambil memutar tubuhnya, memasang wajah polos penuh ketundukan. "Mengenai... penyesuaian modul domestik tambahan yang Mas maksud tadi, apakah ada poin operasional rumah tangga yang belum saya penuhi dengan baik?"
[POV Dean]
Tingkat kepatuhan dan kelembutan Nona Sinta dalam mengajukan pertanyaan ini menunjukkan bahwa respon defensifnya berada di angka nol persen. Namun, getaran halus pada jemarinya saat berada di dalam mobil tadi mengindikasikan adanya kecemasan laten terkait istilah 'modul domestik'.
Secara teknis, tidak ada kegagalan operasional yang dilakukan oleh istri saya. Penyesuaian ini murni dirancang untuk mengeliminasi celah interaksi dengan pihak luar, serta meningkatkan durasi skin-to-skin contact bulanan kami yang masih berada di bawah angka efisiensi ideal.
Dean melepaskan jas hitamnya, menyampirkannya di sandaran sofa, lalu melonggarkan ikatan dasinya tanpa melepas pandangan dari Sinta.
"Tidak ada poin yang melanggar," jawab Dean datar, suaranya yang berat memantul halus di ruang tamu yang luas. "Kinerja kamu sebagai istri sah dinilai sempurna. Penyesuaian ini dilakukan untuk memperbarui regulasi proteksi pasca-insiden di Poli Anak."
Sinta menunduk sedikit, mengatupkan bibirnya dengan senyum tipis yang begitu manis dan santun. "Saya lega mendengarnya, Mas."
Namun di dalam kepala Sinta, sirine bahaya "toa masjid"-nya sudah meraung-raung heboh bak ambulans gawat darurat.
[POV Sinta] Kinerja dinilai sempurna katanya?! Berasa dapet nilai A+ di KKN! Tapi tunggu dulu... regulasi proteksi baru?! Maksudnya gimana nih, Pak Robot?! Jangan bilang aku gak boleh piket malam di rumah sakit lagi, atau malah aku mau dikasih pengawal berjas hitam yang ngintilin aku sampai ke toilet kampus?! Tolong, Papa... CV palsu anggun yang Papa bikin ini makin lama bikin Sinta kejebak dalam aturan korporat suami sendiri!.
Dean melangkah mendekat, mengikis jarak hingga aroma maskulin dari parfum kayu mewahnya menguasai indra penciuman Sinta. Pria kaku itu menarik sebuah dokumen ber-map kulit cokelat dari dalam tas kerjanya dan meletakkannya di meja kaca.
"Poin pertama," ujar Dean lempeng, menatap lurus mata cokelat Sinta. "Jadwal penjemputan oleh Rian di RS Santika diubah menjadi sepuluh menit sebelum jam operasional kamu selesai. Tidak ada toleransi untuk berada di area publik tanpa pengawasan jaringan transportasi resmi Wijaya Group."
Sinta mendongak pelan, mengedipkan matanya dengan pandangan mengerti yang sangat patuh. "Baik, Mas Dean. Saya akan menyesuaikan jam keluar poli."
"Poin kedua," lanjut Dean tanpa jeda, jarinya mengetuk map cokelat itu dengan ritme teratur. "Mengingat adanya paparan stres akibat konfrontasi pihak ketiga hari ini, saya telah menginstruksikan koki pribadi untuk menyediakan kue sus isi krim vanila dengan kadar gula yang telah disesuaikan di dapur."
Sinta mengerjap. Topeng anggunnya nyaris melorot seketika. "Kue... sus?"
"Betul," sahut Dean lempeng tanpa menggeser garis rahangnya yang kaku. "Kue sus adalah jenis kudapan yang kamu konsumsi sebanyak tiga buah saat masa awal perjodohan kita di rumah keluarga Aniswari. Berdasarkan grafik rekaman historis, konsumsi kudapan tersebut meningkatkan kebahagiaan emosional kamu secara signifikan. Itu adalah suplemen regulasi emosi kamu sore ini."
Sinta menahan napasnya. Senyum lembut dan anggun dipaksakan tetap terukir di bibirnya, meski dadanya berdesir begitu hebat oleh rasa hangat yang mendadak meluap.
[POV Sinta] ASTAGA! Pak Robot inget aku suka kue sus dari jaman perjodohan?! Bener-bener ini orang ya! Muka lempeng, omongan kaku kayak ensiklopedia, tapi detail kecil soal makanan favoritku disimpan rapat-rapat di memori otak memorinya! Lucu banget sih suamiku, mau ngasih perhatian aja harus pake bungkus 'evaluasi modul domestik'! Gemas tingkat dewa!
"Terima kasih banyak, Mas Dean," ucap Sinta dengan nada suara yang sangat tulus dan lembut, meremas pelan ujung kemeja suaminya. "Mas Dean selalu tahu apa yang bisa membuat saya merasa lebih baik."
Dean menatap wajah anggun istrinya yang tersenyum manis. Sudut bibir sang CEO terangkat sangat tipis—sebuah deviasi ekspresi yang sangat langka. Pria itu menyusupkan tangannya ke belakang pinggang Sinta, menarik tubuh istrinya merapat tanpa menyisakan celah.
"Kue sus tersebut boleh dikonsumsi setelah poin ketiga selesai dieksekusi," bisik Dean parau di depan bibir Sinta.
Sinta mengerjap halus. "Poin... ketiga?"
"Poin ketiga adalah kompensasi waktu afeksi," kata Dean lempeng, sebelum menundukkan kepalanya dan mendaratkan ciuman dalam yang dominan di bibir istrinya.