NovelToon NovelToon
Fake Lines

Fake Lines

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Angst
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah pendar lampu Los Angeles, hidup Lux Victoria hancur dalam semalam. Maksud hati hanya memeriksa kesehatan, hasil tes justru menyatakan dirinya hamil. Padahal, Lux bersumpah belum pernah tersentuh pria mana pun.

Demi membuktikan kebenarannya, Lux Nekat membeli tes Kehamilan di larut malam.

Takdir konyol justru mempertemukannya dengan Braxton Valerio Desmon, putra kedua dari pengusaha kaya keluarga Desmon.

Demi memenangkan taruhan konyol bersama teman-temannya, Braxton nekat mencium Lux di depan apotek.

Sial bagi mereka, keluarga Lux yang menguntitnya mendapati situasi tersebut dan salah paham.

Kejadian beruntun itu menyeret Lux dan Braxton ke dalam jerat kesalahpahaman, di mana pernikahan paksa menjadi satu-satunya jalan keluar yang disiapkan kedua orang tua Lux.

Happy reading 🌷🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

##12

Suasana di dalam Penthouse kawasan Downtown Los Angeles pagi itu sudah sepenuhnya meluruhkan sisa-sisa canggung yang sempat membentang di antara Lux dan Braxton.

Hawa dingin udara pagi dari balik dinding kaca besar tidak lagi terasa menggigit, tergantikan oleh atmosfer hangat yang begitu intim dan sarat akan percikan asmara yang baru saja mekar.

Di atas sofa empuk ruang keluarga, permainan kecil yang konyol berubah menjadi momen paling mendebarkan dalam hidup mereka.

Berawal dari saling goda mengenai siapa yang paling pandai berakting di kampus, Braxton dan Lux kini malah terjebak dalam posisi bermain peran—sebuah rekayasa skenario kecil di mana Braxton bertindak sebagai pangeran kampus yang sok jual mahal, dan Lux bertindak sebagai mahasiswi Seni yang berpura-pura tidak peduli.

Namun, batas antara akting dan perasaan yang sesungguhnya kini melenyap total.

Lux terbaring di atas sofa kulit hitam itu, rambut panjangnya terurai berantakan di atas bantal. Di atasnya, Braxton terkunci dalam posisi menopang tubuhnya dengan kedua lengan kekarnya di sisi kepala Lux. Jarak di antara wajah mereka begitu dekat—hanya menyisakan beberapa sentimeter udara yang dipenuhi oleh hembusan napas yang hangat dan saling beradu.

Sikap Braxton yang tadinya pura-pura dingin meluruh sepenuhnya saat sepasang mata cokelatnya mengunci tatapan mata abu-abu Lux. Tatapan pria itu tidak lagi mengandung ejekan, melainkan kehangatan murni yang amat dalam, mengamati rona merah di pipi istrinya yang tak lagi mampu disembunyikan.

"Kau payah dalam berpura-pura tidak menyukaiku, Nyonya Desmon," bisik Braxton dengan suara berat yang serak dan seksi, matanya melirik ke bibir merona Lux yang sedikit terbuka.

"Kau yang terlalu percaya diri, Tuan Desmon," balas Lux pelan. Suara galaknya yang biasanya menusuk kini berganti menjadi bisikan lembut yang amat pasrah. Jemari tangan Lux bahkan secara refleks merambat pelan ke atas bahu keras Braxton, mencengkeram kain kaos hitam suaminya tanpa niat sedikit pun untuk mendorongnya menjauh.

Sensasi dada Braxton yang naik-turun beradu pelan dengan dada Lux memicu ketukan jantung yang semakin liar di antara keduanya.

Puncak romantisme yang belum pernah mereka sentuh selama dua bulan terakhir kini berada tepat di depan mata.

Braxton menundukkan kepalanya sedikit demi sedikit, menyapu hembusan napasnya di garis rahang Lux, bersiap untuk mengikis habis sisa jarak yang membentang di antara bibir mereka.

Namun, tepat sebelum kehangatan itu menyatu sempurna—

DZZZT! DZZZT! DZZZT!

Dering nada panggil dari ponsel pintar milik Braxton yang tergeletak di atas meja kaca meledak hebat, memecah keheningan intim yang membungkus ruang keluarga tersebut. Dering panggilan itu bukan nada panggil biasa, melainkan nada panggil darurat bernada tinggi yang terus berulang tanpa henti.

Momen manis di antara mereka terhenti seketika.

Lux tersentak pelan, matanya membelalak kaget. Braxton memejamkan matanya rapat-rapat, menghembuskan napas berat yang sarat akan rasa jengkel karena momen sempurnanya terganggu. Namun, saat mendengar dering ponselnya berbunyi untuk kelima kalinya tanpa jeda, Braxton tahu itu bukanlah telepon sembarangan.

Dengan gerakan enggan yang amat berat, Braxton mengangkat satu tangannya, merengkuh ponselnya di atas meja tanpa mengubah posisinya yang masih mengurung Lux di bawah tubuhnya.

Ia menggeser tombol hijau, menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"Ya, Desmon di sini," ucap Braxton, suaranya masih berat dan sedikit tertahan.

Hanya butuh waktu tiga detik bagi raut wajah Braxton untuk berubah total.

Semua kehangatan, kejahilan, dan godaan romantis di wajah tampan pria itu melenyap seketika, berganti dengan ketegangan murni yang amat pekat. Rahangnya mengeras rapat, matanya membelalak kecil, dan aliran napasnya mendadak tertahan di tenggorokan.

Suara di seberang telepon—sebuah suara bernada formal khas otoritas medis—terdengar menyampaikan pesan singkat, padat, dan sangat jelas:

"Tuan Desmon, kami dari Rumah Hospital Saint Jude. Pasien di ruang perawatan intensif lantai empat... beliau baru saja sadar dari komanya."

Deg!

Kata-kata singkat dari seberang telepon itu bagaikan dentuman gundukan es yang menghantam dada Braxton. Pegangan tangannya pada ponselnya mengencang hingga buku-buku jarinya memutih.

Lux, yang berada tepat di bawah tubuh Braxton, dapat merasakan secara nyata bagaimana seluruh otot tubuh suaminya mendadak tegang luar biasa.

Mata abu-abu Lux menatap perubahan drastis di wajah Braxton dengan rasa bingung dan cemas yang membuncah seketika. Siapa yang baru saja sadar? Rahasia besar apa lagi yang tersembunyi di balik Rumah Sakit Saint Jude sampai bisa membuat sosok Braxton Desmon yang selalu tenang tampak begitu terguncang?

Braxton menurunkan ponselnya perlahan, mematikan sambungan telepon tanpa mengucapkan sepatah kata pun balasan. Matanya menatap lurus ke dinding kaca, seolah-olah pikirannya mendadak terlempar jauh ke sebuah pusaran masa lalu yang amat rumit.

"Braxton?" panggil Lux pelan, jemarinya mengusap bahu Braxton dengan rasa khawatir yang jujur. "Ada apa? Siapa yang menelepon?"

Braxton mengerjapkan matanya, perlahan menunduk menatap Lux yang terbaring di bawahnya dengan pandangan penuh teka-teki yang sulit diartikan.

"Aku harus segera ke hospital," ujar Braxton dengan suara rendah yang terdengar amat mendesak.

"Hospital? Siapa yang sakit? Apa yang terjadi—"

Sebelum Lux sempat menyelesaikan pertanyaan bertubi-tubinya, Braxton mendadak merendahkan tubuhnya kembali. Tanpa peringatan, pria itu mendaratkan sebuah kecupan yang amat dalam, hangat, dan penuh perasaan di pipi kanan Lux.

Kecupan itu bertahan selama beberapa detik—sebuah sentuhan bibir yang begitu protektif, sarat akan emosi yang campur aduk, seolah-olah Braxton sedang menyalurkan seluruh rasa terima kasih dan rasa takutnya ke kulit pipi mulus istrinya.

Braxton menarik wajahnya sedikit, menatap langsung ke dalam mata abu-abu Lux yang membeku kaku.

"I love you, Lux," bisik Braxton tulus, suaranya bergema begitu bening dan jujur di telinga gadis itu.

Jantung Lux seakan berhenti berdetak seketika.

Tiga kata itu... ungkapan paling sakral yang selama ini selalu ditakuti dan dihindari oleh Lux, kini meluncur mulus dari bibir pria yang mengikatnya dalam pernikahan rahasia ini.

Lux terpaku total. Otaknya mendadak macet, terbakar oleh sensasi hangat yang meluap hebat di dalam dadanya. Namun, di balik rasa terkejutnya, ada gejolak wanita di dalam diri Lux yang merindukan kepastian—sebuah dorongan emosional dari seorang gadis yang baru saja disadarkan bahwa hatinya telah sepenuhnya jatuh dan luluh pada pria ini. Ia butuh mendengar kata-kata itu lagi untuk memastikan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi di tengah trauma masa lalunya.

Lux menelan ludah, menatap Braxton dengan mata bergetar yang sarat akan permintaan manis.

"Ulangi..." bisik Lux lirih, suaranya begitu halus dan menuntut.

Braxton, meski dihinggapi rasa terburu-buru yang amat sangat akibat telepon dari rumah sakit, menatap mata istrinya dengan kelembutan yang tak terhingga. Ia menunduk lagi, mendekatkan bibirnya ke telinga Lux.

"I love you, Lux Victoria Desmon," ulang Braxton, hembusan napas hangatnya menyapu leher Lux.

Rona merah di wajah Lux kian membakar hingga ke dada dan telinganya. Namun hatinya masih menuntut lebih—ia seperti seorang wanita yang haus akan pembuktian bahwa rasa dicintai itu nyata dan bukan sandiwara konyol seperti milik orang tuanya.

"Ulangi lagi, Braxton..." bisik Lux kedua kalinya, jemarinya mencengkeram tengkuk kemeja Braxton, menahan pria itu agar tidak pergi sebelum memuaskan dahaga di hatinya.

Braxton menyunggingkan senyum tipis yang amat menawan. Ia menyapukan bibirnya melintasi rahang Lux, lalu berbisik tepat di depan bibir merona istrinya.

"I love you. Sangat mencintaimu, Istri galakku," ucap Braxton untuk ketiga kalinya, menyapukan ibu jarinya mengusap bibir bawah Lux yang gemetar.

Dada Lux naik-turun memburu napas. Sensasi dicintai secara ugal-ugalan dan tulus oleh Braxton merobohkan seluruh sisa pertahanan gengsinya.

Namun, melihat Braxton yang sudah bersiap untuk berdiri dan bergegas pergi, Lux menahan dada Braxton sekali lagi.

Mata abu-abunya menatap lurus ke dalam sepasang mata cokelat Braxton dengan intensitas cinta yang amat membara—klimaks dari seluruh gejolak emosi yang tertahan selama dua bulan.

"Sekali lagi," pinta Lux untuk keempat kalinya, suaranya kini terdengar begitu manja, dalam, dan penuh kepasrahan seorang wanita yang telah menyerahkan seluruh jiwanya. "Ulangi sekali lagi, Braxton... buat aku benar-benar percaya bahwa ini bukan sandiwara."

Braxton tertegun sejenak. Hatinya tersentuh begitu dalam melihat bagaimana wanita yang dulunya begitu galak, dingin, dan membenci cinta, kini bertekuk lutut meminta kepastian perasaannya dengan raut wajah yang amat manis dan rapuh.

Braxton memiringkan kepalanya, menekan dahi mereka berdua hingga saling bersentuhan rapat.

"I love you, Lux," tutur Braxton untuk keempat kalinya, suaranya dipenuhi oleh nada kesungguhan yang tak tergoyahkan. "Aku mencintaimu kemarin, hari ini, dan di setiap sisa hariku. Tidak ada sandiwara, tidak ada kebohongan. Hanya ada aku yang jatuh cinta padamu."

Hening merayapi ruangan itu selama beberapa detik.

Kata-kata keempat dari Braxton meresap sempurna ke dalam relung jiwa Lux, menghancurkan sisa-sisa ketakutan masa lalu dan membasuh semua trauma yang pernah digoreskan oleh pernikahan orang tuanya.

Lux menatap wajah tampan Braxton yang berada begitu dekat dengannya. Ia tidak mengucapkan kalimat 'I love you too'—karena bagi seorang Lux Victoria, kata-kata itu terlalu pasaran untuk menggambarkan betapa besarnya rasa percaya dan rasa memiliki yang baru saja mekar di dalam dadanya.

Perlahan, Lux mengangkat kedua tangannya, membelai halus kedua pipi Braxton. Dengan tatapan mata abu-abu yang memancarkan kejujuran murni yang amat dalam dan menggetarkan jiwa, Lux berbisik lirih—sebuah kalimat penuh perasaan yang jauh lebih kuat dari sekadar ungkapan cinta biasa:

"Kalau begitu... jangan pernah berani-berani bernapas untuk wanita lain selain aku, Braxton Desmon."

Deg!

Kalimat lirih yang terlontar dari bibir Lux itu bagaikan tumpahan minyak yang menyambar api di dalam dada Braxton.

Bukan ungkapan 'I love you', melainkan sebuah klaim kepemilikan mutlak dari seorang istri yang kini secara resmi menyerahkan seluruh hatinya dan mengunci jiwa Braxton hanya untuk dirinya seorang.

Wajah Braxton yang biasanya selalu tenang dan penuh percaya diri mendadak memerah padam hingga ke ujung telinganya.

Jantung pria itu menghentak keras, terpesona luar biasa oleh cara Lux mengungkapkan perasaannya yang begitu intens, protektif, dan luar biasa seksi di saat yang bersamaan.

Braxton terpaku kaku selama dua detik, menatap Lux dengan pandangan tak percaya bercampur kebahagiaan yang membuncah hebat.

"Kau... benar-benar tahu caranya membuatku gila, Lux," bisik Braxton dengan suara serak, rona merah di wajahnya kian membakar.

Lux menyunggingkan senyum tipisnya yang amat menawan dan manis—sebuah senyuman penuh kemenangan yang membuat Braxton semakin tak berdaya di hadapannya.

"Sekarang berdirilah," bisik Lux pelan, menepuk dada Braxton. "Pergilah ke hospital. Urusanmu di sana sepertinya sangat penting."

Braxton menarik napas panjang, berusaha keras menguasai detak jantungnya yang masih berdegup liar akibat ucapan Lux tadi. Ia mengecup dahi Lux sekali lagi dengan amat mesra sebelum akhirnya berdiri dari sofa dan merapikan kaos serta kuncinya.

"Aku akan segera kembali begitu urusanku di sana selesai," janji Braxton seraya menyambar jaket dan kunci mobil sport-nya dari meja. "Tunggu aku di rumah, Nyonya Desmon."

"Hmm. Hati-hati di jalan," sahut Lux lembut, duduk di sofa seraya memperhatikan punggung suaminya.

Dengan langkah terburu-buru namun sarat akan tekad yang kuat, Braxton melangkah keluar dari Penthouse, meninggalkan Lux yang kini duduk sendirian di ruang keluarga.

Lux menyandarkan punggungnya di sofa, menyentuh pipi dan bibirnya yang masih terasa hangat oleh bekas sentuhan Braxton.

Senyuman bahagia yang jujur terukir indah di wajah cantiknya. Klimaks percintaan mereka baru saja dimulai dengan begitu indah, meruntuhkan tembok dingin yang selama ini mengurung hatinya.

Namun, di saat yang bersamaan, pandangan mata Lux terlempar ke arah pintu keluar yang baru saja tertutup rapat.

Pertanyaan besar yang sempat tertunda tadi kembali membayangi pikirannya: Siapa pasien di Rumah Sakit Saint Jude yang baru saja sadar dari komanya? Dan mengapa kabar itu sanggup membuat Braxton berubah begitu tegang dalam hitungan detik?

1
Mita Paramita
😍😍😍😍😍
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
Hennyy exo
pengen deh cowok yg kaya braxton🤭
Rosdianah 🌷: hihi🤭
total 1 replies
Hennyy exo
ihh makin suka thor🤭
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Hennyy exo
wow alurnya menarik dan penulisannya bagus
Hennyy exo
ihh greget banget ama braxton🤭
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
nayla tsaqif
Istri AJ / mommy braxy zephir,, knp jd cherry,, 😌??
Rosdianah 🌷: huhuhu author typo 🙏🏻🙏🏻😭😭
total 2 replies
nayla tsaqif
Emg kak, soalnya daddy mommy braxton dulu king dan queen drama,, 😌
Rosdianah 🌷: wkkwk🤣
total 1 replies
Nita Kurniawati
yampun, part ini bikin AQ mewek 😭
semangat ya bang, buat meluluhkan hati Lux
Rosdianah 🌷: huhu ma'aciww komentar nya kak🫶
total 1 replies
Mia Camelia
batu ketemu batu ini mah🤣sama2 keras kepala🤔
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤣
total 1 replies
Feni sang penulis novel
kakak maaf ya tadi aku salah menyebutin novel judul aku maksud aku seperti ini judulnya adalah jalan menuju masa depan itu yang asli judulku
Feni sang penulis novel
assalamualaikum kak maaf ya aku kurang sopan aku izin berkomentar aku sudah membaca semuanya alurnya Saya suka dan saya ingin memberikan bintang 5 kalau boleh kalau kakak mengizinkan saya ingin sekaligus promosi juga di sini Saya mempunyai novel yang berjudul menuju jalan masa depan semoga kakak suka dan babnya juga ada 9 bab terima kasih
Mita Paramita
king drama nih Braxton 🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkwkwk Braxton Sama Braxley anak Daddy AJ ya kak. jangan lupa baca Cerita Braxley dijudul.sebelah🤭
total 1 replies
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Rosdianah 🌷: Happy reading kak 🥳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!