NovelToon NovelToon
Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Putri asli/palsu / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:28.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.

Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.

Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.

Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.

Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.

Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.

Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17

Dua Belas Tahun Piagam

`Hari ini Ko Kevin bilang aku tidak boleh mengganggu Van.`

Kevin membaca baris pertama buku harian itu sekali lagi.

Di bawahnya ada satu kalimat pendek.

`Aku akan lebih baik besok.`

Ia menutup buku sebelum matanya bergerak ke baris ketiga.

Jari-jarinya memutih ketika buku tipis itu ditekan ke dada. Keira tidak menulis bahwa kakaknya kejam. Tidak menyebut dirinya dibenci. Gadis lima belas tahun itu hanya menyimpulkan bahwa besok ia harus menjadi lebih baik agar pantas berada di dekat keluarganya.

Kevin meletakkan buku harian di atas ranjang lipat.

Di lantai gudang, dua belas tahun hidup Keira menunggu untuk dilihat.

Piagam paling tua berasal dari sebuah SD dekat panti asuhan Bogor. Kertasnya murah, sudutnya terlipat, dan nama wali yang hadir adalah pengurus panti.

`Juara 1 Lomba Sains Tingkat Kecamatan.`

Tanggalnya bertepatan dengan ulang tahun Vanessa yang ketujuh.

Kevin mengingat pesta besar di rumah lama. Pesulap, kue berbentuk istana, dan seekor anak anjing kecil yang kemudian diberi nama Fufu. Pada hari yang sama, Keira berdiri di aula sekolah menerima piala plastik tanpa satu anggota keluarga.

Piagam kedua adalah juara umum kelas dua.

Ketiga, matematika tingkat kota.

Keempat, nilai tertinggi ujian sekolah dasar.

Kevin menyusunnya berdasarkan tahun. Setiap lembar mengatakan hal yang sama dengan cara berbeda: Keira selalu berada di posisi pertama, dan tidak ada seorang pun dari keluarga Pratama yang datang untuk melihat.

Piagam masa SMP disimpan lebih rapi. Plastik pelindungnya dijahit tangan di bagian tepi karena Keira mungkin tidak punya uang membeli map baru.

`Juara Umum SMP, Tahun Pertama.`

`Juara Debat Pelajar Bogor.`

`Medali Emas Olimpiade Matematika Regional.`

Di belakang salah satu piagam ada tulisan guru.

`Keira, jangan berhenti sekolah. Kamu bisa pergi jauh.`

Kevin menutup mulut.

Saat Keira berusia lima belas tahun dan dibawa pulang ke Pondok Indah, ia sudah memiliki sembilan tahun bukti bahwa dirinya luar biasa. Keluarga Pratama tidak pernah bertanya. Mereka hanya mempercayai cerita Vanessa bahwa Keira sulit belajar dan suka berbohong.

Tiga piagam terakhir berasal dari SMAN 1 Jakarta.

Peringkat pertama seangkatan kelas sepuluh.

Peringkat pertama seangkatan kelas sebelas.

Peringkat pertama seangkatan kelas dua belas.

Pada bagian undangan penyerahan penghargaan, kolom `orang tua/wali` kosong.

Di dalam map SMA ada salinan empat pesan yang dikirim sekolah ke nomor keluarga. Pesan pertama mengundang wali murid menerima penghargaan semester. Pesan kedua meminta persetujuan Keira mengikuti olimpiade nasional. Pesan ketiga mengabarkan ia mendapat beasiswa penuh. Pesan terakhir memberi selamat atas nilai UTBK sempurna.

Semua pesan telah dibaca.

Tidak ada balasan.

Nomor tujuan itu milik Kevin.

Ia mencari ponsel lama di ingatan. Saat pesan-pesan tersebut datang, ia mungkin menggesernya dari layar karena rapat. Mungkin mengira sekolah salah mengirim nama. Ia bahkan pernah memblokir satu nomor setelah menerima tiga pesan dalam seminggu, menganggapnya spam.

Keira tidak gagal menghubungi keluarga. Keluarga itu menerima kabarnya, lalu memilih diam.

Kevin mencoba mengingat satu acara sekolah Keira yang pernah ia hadiri. Tidak ada.

Sebaliknya, ia hadir ketika Vanessa menari di pentas SD. Ia membatalkan rapat untuk wisuda SMP Vanessa, memesan restoran setelah presentasi SPH, dan mengunggah foto setiap kali Vanessa menerima sertifikat partisipasi. Album ponselnya penuh bukti bahwa ia sebenarnya mampu menyediakan waktu.

Ia hanya tidak pernah menyediakannya untuk Keira.

Di salah satu undangan, Keira menulis catatan kecil dengan pensil: `Tidak apa-apa kalau tidak ada yang datang. Aku tetap akan naik panggung.` Tulisan itu ditekan begitu kuat sampai bekasnya terlihat pada lembar di bawah.

Kevin menyentuh lekukan tersebut. Gadis itu terus naik panggung sendirian dan pulang ke gudang, sementara kakaknya menganggap diamnya sebagai bukti tidak membutuhkan siapa pun.

Kevin teringat satu pagi ketika Keira berdiri di samping meja makan dengan selembar undangan.

"Ko Kevin, hari Jumat ada acara sekolah."

Ia sedang membantu Vanessa memilih hadiah kelulusan SPH. Tanpa membaca kertas itu, Kevin berkata, "Jangan ganggu. Minta sopirmu saja."

Keira tidak punya sopir.

Ia juga tidak meminta kendaraan. Ia meminta seseorang duduk di kursi wali selama tiga puluh menit.

Kevin menekan telapak ke ulu hati. Rasa panas yang sejak tadi ada di perut berubah menjadi nyeri tajam.

Ia tetap mengambil amplop berlogo Universitas Indonesia.

Surat penerimaan itu resmi. Nomor peserta, hasil UTBK, dan nama program tercetak jelas. Di halaman kedua, nilai sempurna Keira berada pada baris paling atas.

Tidak ada kesalahan.

Tidak ada kebohongan.

Keira seharusnya menjadi mahasiswa UI.

Sebaliknya, pada minggu orientasi mahasiswa baru, ia mengenakan seragam tahanan.

Kevin membaca tanggal surat tersebut. Tiga hari sebelum Evelyn jatuh dari tangga.

Mungkin Keira pulang hari itu membawa amplop dan ingin menunjukkan kepada keluarga. Mungkin ia menyimpannya di gudang karena semua orang sibuk menyiapkan pesta kelulusan Vanessa. Mungkin ia menunggu makan malam yang tidak pernah menyediakan kursi untuknya.

Di bawah surat UI ada sebuah foto keluarga.

Edmond dan Yolanda duduk di tengah. Kevin berdiri di belakang Vanessa. Fufu, anjing putih dengan pita merah, berada di pangkuan Yolanda tepat di pusat gambar.

Keira berdiri di ujung paling kanan, setengah langkah terpisah dari semua orang. Bahunya bahkan terpotong bingkai.

Di belakang foto tertulis tanggal.

Hari itu Kevin ingat pernah marah karena Keira datang terlambat setelah perjalanan dua jam dari sekolah. Ia menyuruh fotografer mulai tanpa menunggu. Ketika Keira tiba, Kevin berkata ia boleh berdiri di tepi asal tidak membuat Vanessa mengulang riasan.

Anjing keluarga mendapat tempat lebih dekat kepada Mama daripada putri kandung mereka.

Kevin membalik foto sekali lagi. Di sudut bawah ada bekas sidik jari kecil pada wajah Fufu, mungkin milik Vanessa ketika memilih cetakan. Wajah Keira hampir bersih dari sentuhan, seolah tidak ada seorang pun pernah menunjuknya sambil berkata, `Ini adikku.`

Ia membuka ponsel dan mencari album digital keluarga pada tanggal yang sama. Ada dua puluh tujuh foto. Fufu muncul dalam dua belas. Vanessa dalam semuanya.

Keira hanya ada dalam satu foto yang dicetak dan disembunyikan di gudang.

Nyeri di perut Kevin makin kuat.

Ia menarik napas, tetapi udara tidak mencapai paru-paru. Keringat dingin membasahi tengkuk. Buku harian, foto, dan surat UI berputar di depan mata.

"Kei..."

Kevin merangkak ke sisi ranjang lipat dan muntah ke lantai.

Tidak banyak makanan keluar. Seharian ia hanya minum kopi dan menelan obat maag tanpa makan. Cairan pahit berubah merah gelap.

Ia menatap darah itu dengan tubuh gemetar.

Seolah rasa bersalah yang tidak sanggup ditampung akhirnya menemukan jalan keluar dari tubuhnya.

Nyeri tajam menusuk sisi atas perut. Kevin mencoba berdiri, tetapi lututnya ambruk.

Ponselnya berada di saku. Ia menekan nomor Sekretaris Nia dengan tangan yang licin oleh keringat.

"Pak Kevin?"

"Gudang... rumah..."

Hanya itu yang sanggup ia katakan.

Panggilan terputus ketika ponsel jatuh.

Sekretaris Nia tiba bersama petugas medis kurang dari dua puluh menit kemudian. Mereka menemukan Kevin meringkuk di antara dua belas piagam, satu tangan memegang perut dan tangan lain masih menggenggam surat UI.

"Pak, lepaskan kertasnya dulu."

Kevin menggeleng.

Petugas memasang infus dan membawanya ke ambulans. Surat itu ikut masuk, terjepit di antara jari yang tidak mau terbuka.

"Kei..." gumam Kevin di bawah masker oksigen. "Maafkan aku... maafkan aku..."

Di IGD, pemeriksaan menunjukkan Kevin memiliki ulkus lambung lama yang memburuk karena pola makan, stres, dan penggunaan obat tanpa pengawasan. Kini dinding lambungnya berlubang dan terjadi perdarahan.

CT memperlihatkan udara bebas di rongga perut. Dokter menjelaskan bahwa ini bukan penyakit yang tercipta dalam satu malam; Kevin telah mengabaikan nyeri berbulan-bulan, menutupnya dengan kopi dan obat bebas. Tekanan malam itu hanya menjadi pemicu terakhir.

Ia dibawa ke operasi darurat.

Tim bedah membersihkan rongga perut, menutup lubang, dan menghentikan perdarahan. Sekretaris Nia menandatangani dokumen sebagai penanggung jawab perusahaan setelah rumah sakit gagal menghubungi Edmond yang sedang menolak panggilan media.

Beberapa jam kemudian, Kevin sadar di ruang perawatan dengan wajah pucat dan selang infus di tangan. Surat UI sudah dimasukkan Sekretaris Nia ke map bening, tetap berada di meja samping ranjang.

"Piagamnya?" tanya Kevin begitu mampu bicara.

"Sudah saya masukkan ke map bebas asam dan simpan di lemari terkunci, Pak. Buku hariannya tidak saya buka."

"Jangan biarkan siapa pun menyentuhnya. Terutama Papa dan Mama."

"Baik."

Kevin menatap surat penerimaan di meja. "Aku selalu mengira aku mengenalnya. Ternyata aku bahkan tidak tahu di mana dia sekolah."

Nia tidak menawarkan penghiburan. Ia adalah orang yang membaca laporan lapas dan mengerti beberapa penyesalan tidak perlu diperingan.

"Semua undangan sekolah dikirim ke nomorku," lanjut Kevin. "Aku membacanya. Tidak satu pun kubalas."

"Apa yang ingin Bapak lakukan sekarang?"

"Berhenti bicara seolah permintaan maafku akan memperbaiki sesuatu." Kevin menutup mata sesaat. "Lalu cari tahu apa yang dia butuhkan tanpa memaksanya menerimanya."

Hal pertama yang Kevin cari bukan ponsel.

"Kei," bisiknya. "Sekarang dia di mana?"

Sekretaris Nia ragu. "Nona Keira hari ini pergi ke Menteng."

Kevin berusaha bangun. Luka operasi membuat wajahnya menegang.

"Untuk apa?"

"Katanya... mau bertemu dengan keluarga Hartono."

1
Intan Marliah
mewekkk banget... ceritanya disusun seepik ini.
Iba Sa Iba Daud
apa ginjal tu tuk bokapnya ato evelyn
Iba Sa Iba Daud
Kluarga bangat iblis... si kevin ni ga bs apa" klo udh depan bokapny.. bilang priksa CCTV tp bentakn bokap diam..
Iba Sa Iba Daud
sungguh orgtua yg pling kejam.. tunggu sj katmamu tua bngka
Iba Sa Iba Daud
kavin klo lo sayg kaira cari tau ksuus 5 thn llu dn sobeknya baju adk tiri manja lo tu
Rina Arie
good book
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!