Oca dipaksa menikah dengan pria asing di depan altar—demi memenuhi wasiat sang kakek yang tak bisa ia menolak. dan yang tak terduga, suaminya adalah seorang aktor terkenal yang harus disembunyikan rapat-rapat dari dunia, termasuk dari sahabat-sahabatnya sendiri.
Belum sempat ia membiasakan diri dengan kehidupan barunya, datang seseorang yang perlahan mengisi ruang kosong di hatinya—ruang yang sengaja ditinggalkan oleh suaminya sendiri. Oca pun membuka hati, tanpa pernah menyangka ada yang luput dari pandangannya.
Kini ia terjebak di antara dua hati: satu yang seharusnya ia cintai karena status, dan satu lagi yang ia pilih sendiri karena rasa.
Tapi siapa sangka, tak semua yang terlihat tulus benar-benar seperti itu.
Siapakah yang berhak atas hati Oca? 💍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon avy sulas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesempatan Kedua
Pagi yang cerah untuk memulai hari, Kinan berjalan keluar rumah sambil bersenandung kecil, kali ini wajahnya terlihat lebih cerah karena dalam suasana hatinya cukup baik. Sebenarnya semalam ia cukup kepikiran dengan ucapan Devan, tapi akhirnya ia berusaha untuk tidak terlalu banyak berharap.
Ketika kakinya melangkah keluar gerbang rumah, Kinan terkejut melihat Devan sudah nangkring di atas motornya.
Alisnya mengernyit. Tumben sekali laki-laki itu datang menjemput, padahal biasanya Devan baru akan datang setelah ia menelepon atau mengirim pesan lebih dulu.
Devan yang melihat Kinan keluar rumah langsung menoleh ke arahnya.
"Udah siap?" tanyanya singkat.
Kinan masih memandang Devan dengan bingung.
"Lo... ngapain ke sini?"
"Jemput lo," jawab Devan singkat.
Kinan mengernyit. "Tapi gue nggak bilang minta dijemput."
Devan mengembuskan napas pelan.
"Gue sendiri yang inisiatif buat jemput lo," jawabnya. Ia berhenti sejenak saat melihat Kinan masih menatapnya dengan alis berkerut. "Udah, ayo. Nanti keburu telat."
Setelah mengatakan itu, Devan mengambil helm cadangan dari motornya lalu menyodorkannya ke arah Kinan.
Kinan mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya menerima helm tersebut. Tanpa banyak bicara, ia langsung mengenakannya, lalu naik ke jok belakang motor. Devan pun menyalakan mesin motornya, kemudian perlahan melajukan motor meninggalkan rumah Kinan.
Motor Devan melaju membelah jalan raya. Kinan yang duduk di jok belakang hanya diam sambil memandang jalanan di sisi kanan dan kiri mereka. Suasana di antara mereka masih terasa agak canggung.
Hingga beberapa menit kemudian, Devan sedikit memiringkan kepalanya ke belakang.
"Lo udah sarapan belum?"
"Hah?" sahut Kinan karena suara Devan kalah oleh deru angin.
Devan terkekeh pelan, lalu sedikit meninggikan suaranya. "Gue tanya, lo udah sarapan belum?"
Kinan menggeleng kecil. "Belum."
Devan hanya mengangguk tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Tak lama kemudian, bukannya melaju ke arah sekolah, Devan malah membelokkan motornya ke pinggir jalan.
"Loh... kita mau ke mana?" Tanya Kinan heran.
"Ntar juga tau."
Motor itu akhirnya berhenti di depan sebuah gerobak bubur yang sudah sangat mereka kenal.
"Ngapain berhenti di sini? Nanti kita telat."
Devan mematikan mesin motornya, lalu melepas helm.
"Masih sempat."
Setelah itu Devan turun dari motor, lalu melangkah ke arah gerobak. Sebelum berjalan lebih jauh, ia sempat menoleh ke arah Kinan, seolah memberi isyarat agar gadis itu mengikutinya.
Mang Ojak, tukang bubur yang sedang merapikan mangkuk itu tersenyum melihat pelanggan setianya mampir.
“Neng tumben baru keliatan?” tanya Mang Ojak sambil tetap mempertahankan senyumannya pada Kinan.
Kinan pun membalas senyuman itu. "Iya, Mang. Akhir-akhir ini nggak sempat mampir."
"Kirain udah bosan sama bubur Mang Ojak," canda Mang Ojak hingga membuat Kinan terkekeh pelan.
Devan yang berdiri di samping Kinan langsung membuka suara. "Dua bubur, Mang. Yang satu jangan pakai daun bawang," ucapnya.
"Oke, siap!" jawab Mang Ojak sambil mulai meracik dua mangkuk bubur.
Kinan menoleh sekilas ke arah Devan. Ternyata laki-laki itu masih ingat kalau ia tidak suka daun bawang. Seketika senyuman kecil terbit di bibir Kinan.
Tak lama kemudian, Mang Ojak meletakkan dua mangkuk bubur di atas meja.
"Hati-hati, masih panas," ujarnya.
"Makasih, Mang," balas Kinan sambil tersenyum kecil.
Keduanya pun mulai menyantap bubur masing-masing. Sesekali Mang Ojak mengobrol ringan dengan mereka, membuat suasana yang sempat canggung perlahan terasa lebih santai.
Setelah bubur mereka habis, Devan dan Kinan kembali menuju motor untuk melanjutkan perjalanan ke sekolah.
_______
Setibanya di parkiran sekolah, Kinan langsung turun dari motor. Ia melepas helm yang dipakainya, lalu menyerahkannya kembali kepada Devan.
"Makasih," ucapnya pelan.
Devan menerima helm itu, lalu menggantungkannya di setang motor. Ia menatap Kinan beberapa saat, sebelum akhirnya berbicara.
"Gue tahu... mungkin lo masih kecewa sama gue," ucap Devan pelan. Tatapannya tidak lepas dari wajah Kinan. "Tapi gue bakal berubah pelan-pelan."
Kinan hanya diam. Tatapan mereka sempat bertemu selama beberapa detik.
"Gue nggak minta lo langsung percaya lagi," lanjut Devan. "Tapi... kasih gue kesempatan buat buktiin."
Kinan menundukkan pandangannya sesaat sebelum kembali menatap Devan.
"Kalau gitu..." ucapnya pelan, "lo harus janji buat berubah."
Devan tersenyum kecil sambil mengangguk. "Gue janji."
Tanpa diduga, Devan mengangkat tangannya lalu mengacak pelan rambut Kinan.
"Yaudah, sana masuk kelas."
Kinan jelas terkejut dengan perlakuan itu. Tapi tanpa mengatakan apa-apa, ia hanya mengangguk pelan sebelum berbalik dan melangkah menuju gedung sekolah.
Baru beberapa langkah masuk ke koridor kelas, tiba-tiba terdengar suara yang sangat ia kenal memanggil.
"Kinan!"
Kinan menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang. Ternyata Oca dan Andira sedang berjalan cepat ke arahnya.
Begitu berhenti di depan Kinan, Oca langsung membuka suara.
"Gue nggak salah lihat, kan?!" seru Oca sambil refleks memegang kedua bahu Kinan. "Lo berangkat bareng Devan?" tanyanya sambil menatap wajah Kinan lekat-lekat.
Kinan tampak sedikit kikuk menghadapi tatapan kedua sahabatnya. Namun beberapa detik kemudian, ia mengangguk pelan.
"Iya."
Mata Andira langsung membulat.
"Wih... udah baikan nih, ceritanya?" godanya sambil menyenggol pelan lengan Kinan.
Kinan menggeleng kecil. "Belum sepenuhnya baikan."
"Lah terus?" tanya Oca penasaran.
Kinan mengembuskan napas pelan sebelum menjawab. "Dia bilang... dia mau berubah."
Oca dan Andira saling berpandangan sejenak.
Andira kemudian menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Ya semoga aja kali ini dia beneran berubah, bukan cuma omongan doang."
"Nah, setuju tuh," timpal Oca cepat. "Kalau dia nggak nepatin janjinya, gue yang maju duluan."
Kinan hanya tersenyum tipis mendengar komentar kedua sahabatnya. Ia sendiri juga belum tahu apakah semua yang dikatakan Devan benar-benar akan dibuktikan atau tidak.
"Udah, ayo masuk. Nanti keburu bel," ucap Oca.
Ketiganya pun kembali berjalan berdampingan menuju kelas sambil mengobrol seperti biasa. Sesekali tawa mereka terdengar memenuhi koridor sekolah hingga akhirnya menghilang di balik pintu kelas.