Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rentetan pertanyaan
Aku mengusap satu tetes cairan bening yang keluar dari mataku ini. Mencoba menguatkan diri untuk berbicara sejujurnya pada Ferdy.
"Gue bingung mau mulai dari mana." Ku tatap langit cerah berwarna biru menenangkan di atas sana.
"Gue bantu, Lo cukup jawab apa yang gue tanya. Hmmm... Lo dan Dheka apa kabar?" Ferdy menarik tubuhku untuk ikut membaringkan tubuh bagian atas kami dan membiarkan kaki kami menjuntai kebawah mengikuti tinggi matras yang kami tempati. Aku melipat satu tangan ku dibelakang kepala untuk dijadikan bantal. Sementara Ferdy dua tangannya telah dijadikan bantal untuk kepalanya dari awal terbaring tadi.
"Aku sama Dheka udah putus Dy, udah selesai. Kemaren siang Dheka udah minta mengakhiri semuanya. Dan sepertinya Dheka pun nggak mau melanjutkan berhubungan dengan gue meski hanya sebagai teman." Aku menjawab tanpa menatapnya. Mataku masih setia menatap langit-langit kanopi diatas sana.
"Lo tau apa alasannya?" Kembali Ferdy melanjutkan pertanyaannya, meski tadi sempat kurasakan pergerakan kaget nya mengetahui kabar yang kusampaikan.
"Tahu."
"Apa alasannya?"
"Alasannya gue nggak punya masa depan." Aku menjawab apa adanya seperti yang Dheka sampaikan kepadaku saat itu.
"Hah?! Lo nggak punya masa depan? Yang ada Lo tuh bisa jadi incaran kampus-kampus ternama. Dan mungkin juga nantinya Lo akan jadi incaran perusahaan-perusahaan besar. Lagian bokap Lo punya perusahaan gede gitu, punya rumah sakit juga. Nggak mungkin lah Lo nggak punya masa depan Dit." Kali ini Ferdy merubah posisi terbaring nya menjadi menyamping dan menumpukan wajah bagian sampingnya menggunakan telapak tangan nya yang tertahan oleh siku. Kurasakan dia menatapku cukup intens. Aku masih bergeming hanya melihat langit-langit kanopi diatasku.
"Ada alasan yang mendasari nya dibalik alasan Dheka itu, tapi gue belum siap ngasih tau Lo. Sorry."
"Oke, gue nggak maksa. Gue lanjutkan pertanyaan gue lagi. Hubungan Lo sama bokap Lo gimana sekarang?" Masih dengan posisi menyamping nya, Ferdy kembali bertanya.
"Hubungan gue sama bokap nggak baik. Bokap gue,,, 3 hari setelah kepulangan gue dari rumah sakit, beliau pergi dari rumah. Ninggalin gue sama mama."
"Hah?! Kok bisa?! Bukannya mereka pasangan super romantis ya. Mereka ada masalah apa dit?" Kembali Ferdy tercengang dengan jawabanku.
"Masalahnya ada gue di rumah itu, jadi bokap pergi." Aku menghela nafas berat mengucapkannya, ya, ini kesimpulan yang bisa kuambil. Papa pasti sangat kecewa padaku dan mungkin menganggap ku bukan anak baik-baik. Dan dengan segala ketenaran nya sebagai pengusaha sukses dengan keluarga harmonisnya, papa pasti merasa sangat takut jika orang lain tahu bagaimna kondisi anak semata wayangnya sekarang. Anak yang katanya sangat sempurna tapi malah mengidap virus mematikan yang sangat memalukan.
"Dit,,, Lo jangan nyalahin diri Lo gini dong. Nggak mungkin adanya Lo membuat mereka berpisah gitu. Gue sangat tau bagaimana sayangnya om Dhika dan Tante Mey ke Lo Dit. Gue aja sampai iri kalau lihat interaksi kalian." Ferdy menatapku lebih intens dari sebelumnya. Aku hanya diam tidak menjawab apapun.
"Oke,, mungkin ini masih menjadi batasan privasi Lo. Gue lanjut nanya. Gimana kondisi Lo sekarang? Lo udah sehat?" Pertanyaan Ferdy selanjutnya mampu membuat mata ku berkaca-kaca kembali. Rasanya dada ini sesak setiap memikirkan bagaimana kondisi tubuhku sekarang.
"Gue... Gue sakit. Tubuh gue nggak baik-baik aja Dy." Aku menjawabnya dengan kembali meloloskan satu tetes cairan bening yang keluar dari mataku tanpa kuminta.
"Lambung Lo bermasalah? Apakah harus dilakukan operasi biar Lo sembuh?" Kali ini Ferdy bertanya dengan suara yang mulai melunak. Mungkin dia menyadari kerapuhanku ketika membahas kondisi tubuhku sekarang.
"Bukan lambung, dan... Nggak harus operasi." Aku menjawab cepat kekeliruan kesimpulan yang Ferdy utarakan.
"Jadi? Lo sakit apa?"
"Gue takut Lo ngejauhin gue pas Lo tau. Dan gue belum siap kehilangan sahabat kayak Lo Dy." Kali ini aku berusaha menatap wajahnya. Wajah tegas dengan alis tebal dan hidung yang cukup mancung. Terlihat darah keturunan Arab di wajah itu.
"Gue pribadi si, kalau gue tau sahabat gue lagi sakit, pastinya gue akan selalu suport, akan selalu mendukung kesembuhannya. Bukan malah jauhin. Lo bisa pegang ucapan gue yang ini" Ferdy kali ini mengalihkan pandangannya pada kanopi diatas dan memutar tubuhnya menjadi terbaring sempurna.
"Gue mau lanjut beresin laporan pensi ini. Lo tidur aja." Ferdy meraih laptop dibawahnya dan mulai membukanya kembali. Mungkin ada rasa kecewa yang menghampiri hatinya. Tapi aku benar-benar belum siap mengungkapkan semuanya. Aku pun berniat memejamkan mata ini kembali, meski tidak terlalu mengantuk tapi aku berniat mempersiapkan diri untuk malam nanti. Ya, aku akan melanjutkan meminum obat berikutnya malam nanti. Tekadku sudah bulat untuk meneruskan semua ini.
Beberapa jam kemudian, Suara adzan di masjid sekolah kami berkumandang, aku masih bisa mendengar dengan jelas karena sedari tadi aku memang hanya terpejam tanpa bisa tertidur.
Kulirik Ferdy yang terlihat kelelahan dan memijat keningnya sendiri.
"Bangun Dit, ayo turun." Aku hanya merespon dengan gumaman kecil dan segera mengikutinya turun dari tumpukan matras ini.
" Siang ini Lo istirahat dulu Dy, kecapean banget kayaknya." Aku berusah senormal mungkin berinteraksi dengannya, meski sebelumnya obrolan cukup sensitif terjadi diantara kami.
"Iya nih gue pusing, masa di acara puncak pensi si vokalis mengundurkan diri? Mana belum ada gantinya lagi." Aku tertawa kecil menanggapinya. Bisa-bisa nya dia menggerutu langsung di depan sasarannya.
"Siang ini gue mau tidur aja, tapi Lo bantuin rekap ini ya dit. Bahan udah ada semua, tinggal Lo salin aja kok." Ucapnya kemudian sambil menyerahkan laptop berlogo apel tergigit itu.
"Siap!" Aku mengangguk mantap menanggapinya. Lumayan untuk mengisi waktu menunggu kunci motorku bisa diambil.
Kami menuruni tangga putar ini dengan perlahan. Aku berada di depan dan Ferdy di belakangku. Tepat di anak tangga terakhir, tiba-tiba kurasakan dorongan kuat dari belakangku. Jika saja aku tidak sigap menapak dan menumpukan tangan ini pada salah satu tiang besi yang ada, mungkin tubuh ini akan terjerembab ke lantai. Hampir saja laptop ini terlepas dari tanganku yang lain.
"Lo apaan si Dy! ..." Baru saja aku ingin membalikkan badan mengajukan protes pada tindakan berbahaya yang Ferdy lakukan, aku terperangah kaget saat tahu ternyata tubuh Ferdy lah yang terkulai menubrukku.
"Astaghfirullah... Lo kenapa Dy?" Kuraih tubuh yang terlihat lemas itu dan menuntunnya menuruni satu anak tangga terakhir.
"Kepala gue pusing banget Dit." Ucapnya mengaduh dengan mata yang terpejam. Aku menariknya berdiri dan memapah nya duduk di kursi panjang yang biasanya menjadi tempat pak anggit dan beberapa penjaga yang lain duduk sambil ngopi atau makan siang.
"Gu...gue cariin minum dulu ya. Lo gue tinggal dulu nggak apa-apa?" Aku bingung bisa membantu apa.
"Nggak usah dit, sebentar... Gue butuh merem bentar kayaknya"
Aku memperhatikan Ferdy yang sudah menenggelamkan kepalanya di meja. Baru kali ini aku melihat Ferdy sampai hampir pingsan seperti tadi. Apakah persiapan acara pensi ini begitu berat sampai menguras pikiran dan tenaganya?
Ku putuskan membuka laptop Ferdy dan menyibukkan diri dengan merekap smua data yang Ferdy siapkan tadi. Ku coba Spill laporan dari tiap bagian. Ada kejanggalan disini, Ferdy yang kutahu sebagai ketua kenapa bisa merangkap sekretaris juga?! Langsung ku gulir laporan dari atas dan mencari susunan panitia dan PJ acara ini. Kulihat nama Dheka tertulis sebagai sekretaris.
Hmmm,,, sepertinya aku mulai paham disini. Mungkin Dheka melepas semua tanggung jawabnya, dan Ferdy sebagai ketua yang akhirnya mengorbankan diri untuk menghandle tugas sekretaris.
Dheka... Belum cukupkah kamu bersikap acuh terhadapku saja?! Kenapa Ferdy sampai ikut terseret juga?!
Segera kuselesaikan rekapan masing-masing bagian yang seharusnya proposal nya sudah naik ke kepala sekolah tiga hari sebelum acara. Tapi ini, dua hari sebelum acara pun masih harus merekap. Benar-benar kacau kepanitiaan pensi kali ini.
Baru dua laporan kuselesaikan, kurasakan tepukan kecil pada lenganku.
"Thanks Dit, udah aja. Nanti biar gue lanjutin. Sorry ya, gue drop banget hari ini." Ucapnya sambil membuat gerakan peregangan untuk merelax-an badannya, yang mungkin sekarang terasa kaku karena posisi tidur dengan duduk nya tadi.
"Kok bisa Lo yang ngerjain ini? Dheka kemana?" Aku bertanya heran padanya.
"Itu lah yang bikin gue begadang semaleman. Sampai kepala rasanya mau pecah. Dheka tiba-tiba ngabarin kemaren sore, dia nggak bisa lanjut jadi sekre di kepanitiaan ini. Gue oke-in aja karena seharusnya sudah sekitar delapan puluh persen proposal ini jadi. Ternyata dia ngasih file laporan tiap bagian aja Dit. Belum ada proposal sama sekali. Dan gue coba protes, nomor nya tiba-tiba nggak bisa dihubungi, sampai sekarang."
Aku hanya mampu tersenyum miris, entah apa alasan Dheka melepas tanggung jawabnya ini. Terlintas di pikiranku untuk membantu Ferdy, tapi kira-kira bagaimna aku bisa membantunya? Jika menawarkan diri untuk menyelesaikan proposal ini, jelas aku nggak akan sanggup.
Atau...
"Gue bisa bantuin Lo, kita bagi tugas aja. Ada laptop lagi nggak?" Sebuah ide tiba-tiba muncul di kepalaku. Ya, aku bisa membantunya merekap bersama dengan berbagi tugas. Semoga sebelum waktu pulang nanti proposal ini segera siap naik ke bapak kepala sekolah.
semangatt juga kak 💪