NovelToon NovelToon
The Reasons

The Reasons

Status: tamat
Genre:Angst / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di balik gemerlapnya Los Angeles, Lara Giger (24) terjebak dalam neraka pernikahan bersama suaminya yang posesif dan manipulatif, Billy Davidson (29). Setiap malam tubuhnya disiksa, namun Lara memilih pasrah.
Alih-alih melarikan diri, Lara memilih bertahan di bawah siksaan suaminya demi menghindari caci maki keluarga besarnya yang sejak lama melabelinya sebagai "Anak Sial" dan pembawa petaka jika ia bercerai.

Namun, rahasia masa lalu perlahan mengusik belenggu pernikahan itu.

Di universitas tempatnya belajar, Lara harus berhadapan dengan Darion Vale Knight (25), dosen hukum muda sekaligus pria masa lalu yang memegang komitmen dengannya.

Darion, yang menyadari luka-luka fisik dan batin Lara, bertekad menggunakan keadilan hukum untuk membebaskannya. Sementara itu, Lara terus berjuang mendorong Darion menjauh demi melindunginya dari "kesialan" dirinya.

Di antara jeratan obsesi kejam sang suami dan perlindungan tulus sang mantan kekasih, mampukah Lara merobek sangkar emas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#22

Malam di Beverly Hills bertolak belakang dengan gemuruh yang tersimpan di dalam pikiran Lara Giger.

Di luar, angin berhembus lembut menyapu dedaunan mawar, namun di dalam kamar tidur utama yang serba putih dan hangat, atmosfer mendadak berubah menjadi dingin dan mencekam.

Lara terbaring di atas tempat tidur berukuran king-size yang dilapisi sprei sutra abu-abu. Di sudut ruangan, sebuah lampu tidur memancarkan cahaya temaram berwarna keemasan. Di atas sofa panjang tak jauh dari ranjang, Darion awalnya tertidur lelap dengan satu lengan menutupi matanya, siap siaga jika wanita yang dicintainya itu membutuhkan sesuatu di tengah malam.

Namun, di dalam tidur Lara, kegelapan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Alam bawah sadar Lara tidak peduli pada fakta bahwa Billy Davidson telah mendekam di balik jeruji besi.

Di dalam dunia mimpi yang kelam dan pekat, ingatan trauma yang mengendap dalam sarafnya bangkit secara brutal, memutar kembali rekaman paling mengerikan dari dua tahun neraka yang pernah menghancurkannya.

Di dalam mimpinya, Lara terbangun di atas lantai marmer dingin kondominium lama mereka.

Udara di sekitarnya pengap, berbau alkohol dan kepalsuan.

"Kau pikir kau bisa lari dariku, Lara?!"

Suara erangan gaib yang teramat dihafalnya bergema menghantam dinding. Lara mendongak dengan napas terengah-engah. Dari balik bayang-bayang kegelapan, sosok Billy Davidson melangkah maju. Matanya merah membara, wajahnya dipenuhi raut kegilaan yang membabi buta, dan tubuhnya menjulang bagaikan iblis pemangsa.

"Billy... jangan... tolong..." jerit Lara, mencoba merangkak mundur. Namun, kedua kakinya terasa sangat berat, seolah-olah semen membelenggu pergelangan kakinya.

"Kau milikku! Sampai kau mati, kau milikku!" teriak Billy menggelegar.

Pria itu melompat maju, menyambar rambut panjang Lara dengan kasar dan menariknya berdiri. Lara menjerit kesakitan saat kulit kepalanya terasa hendak terkelupas. Tanpa sedikit pun iba, Billy mengangkat tubuh mungil Lara lalu membantingnya dengan sangat keras ke atas lantai marmer.

BRAK!

Rasa sakit yang membakar menjalar ke seluruh tulang rusuk Lara dalam mimpi itu. Napasnya terputus seketika. Belum sempat Lara menghirup udara, Billy telah menindih tubuhnya, mengunci kedua tangan Lara di atas kepala dengan satu cengkeraman tangan besi yang tak tergoyahkan.

"Tidak! Lepaskan aku, Billy! LEPASKAN!" jerit Lara histeris, memutar tubuhnya dan memberontak dengan sisa tenaga yang ada.

Namun, kekuatan fisik pria itu terlalu dominan. Dengan raut wajah penuh penghinaan, Billy merobek gaun yang dikenakan Lara hingga terdengar suara kain koyak yang memekakkan telinga.

Pria itu memaksa masuk, melakukan aksi pemerkosaan yang brutal tanpa memedulikan jeritan, tangisan, dan rasa sakit yang dialami istrinya. Billy memaksakan kehendaknya, menghancurkan sisa-sisa martabat Lara dengan pukulan dan hantaman telapak tangan ke wajah Lara setiap kali wanita itu mencoba melawan.

"Kau wanita tak berguna! Kau harus melayaniku!" bisik Billy tepat di depan wajah Lara yang basah oleh air mata dan darah, memaksakan aksi kejamnya secara bertubi-tubi hingga jiwa Lara merasa mati dan hancur berkeping-keping di dasar jurang kegelapan.

"TIDAK! JANGAN! AMPUN, BILLY! JANGAN SENTUH AKU!"

Jeritan melengking dan histeris memecahkan keheningan kamar tidur di kediaman Vale-Knight.

Darion tersentak bangun dari sofa. Dalam hitungan detik, seluruh kesadarannya terkumpul penuh. Pria itu melompat berdiri, matanya membelalak melihat kondisi Lara di atas ranjang.

Lara merontak secara liar di atas kasur. Kedua tangannya mengayun-ayun menghantam udara kosong seolah sedang berusaha memukul mundur sosok tak terlihat yang menindihnya. Matanya terpejam rapat, dadanya naik-turun dengan frekuensi napas yang teramat cepat dan tidak teratur. Keringat dingin membasahi seluruh wajah, leher, dan gaun tidurnya.

"Lara!" jerit Darion panik.

Pria itu berlari mendekati ranjang dan berlutut di sisinya. Saat Darion hendak menyentuh bahu Lara untuk membangunkannya, Lara justru berteriak semakin histeris, melayangkan pukulan tangan kanannya yang mengenai dada Darion.

"PERGI! JANGAN SENTUH TUBUHKU! LEPAS, BRENGSEK! JANGAN PERKOSA AKU!" jerit Lara dengan suara parau yang memutus hati. Tubuhnya bersetegang keras, kakinya menendang-nendang selimut hingga terlempar ke lantai.

Mendengar kata 'pemerkosaan' yang keluar dari mulut Lara di tengah jerit histerisnya, dada Darion terasa dihantam oleh beban tonan besi.

Rasa iba, amarah, dan keharuan yang meluap-luap membakar jiwanya. Ia sadar, ini adalah serangan PTSD berat—malam di mana alam bawah sadar Lara memuntahkan seluruh sisa-sisa trauma kekerasan seksual dan fisik yang dialaminya selama pernikahan busuk itu.

"Sayang... hey... ini aku! Dengar suaraku, Lara!" panggil Darion dengan suara yang bergetar penuh rasa cemas.

Darion tidak memaksakan diri untuk memeluknya secara mendadak, sesuai arahan terapi dari Dokter Elena untuk tidak memicu refleks panik korban trauma.

Pria itu secara perlahan menahan kedua pergelangan tangan Lara yang mengayun liar, menggenggamnya dengan kehangatan yang amat lembut namun stabil.

"Lara, buka matamu, sweetheart... Dengar suaraku. Ini Darion... Ini Darion-mu," bisik Darion tepat di samping telinga Lara dengan nada bariton yang paling menenangkan yang bisa ia keluarkan.

Perlahan, gerakan histeris tubuh Lara mulai mereda, meski gemetar hebat masih menguasai setiap inci sarafnya. Kelopak matanya yang terpejam rapat bergoyang-goyang sebelum akhirnya terkuak lebar.

Pupil mata Lara membesar, memancarkan ketakutan murni yang teramat kelam. Pandangannya liar dan linglung, memandangi langit-langit kamar, lalu beralih menatap wajah pria yang berlutut di sampingnya.

"Da... Darion...?" bisik Lara, suaranya serak dan nyaris habis akibat jeritan histerisnya tadi.

"Ya, ini aku, sayang. Ini Darion," sahut Darion lembut. Pria itu menyapu helai-helai rambut basah yang menempel di dahi Lara dengan jemarinya yang hangat. "Kau ada di rumahku. Di Beverly Hills. Tidak ada Billy di sini... Pria itu sudah di penjara. Kau aman, Lara. Kau sangat aman denganku."

Realitas perlahan-lahan merayap kembali ke dalam kesadaran Lara. Bayangan kejam Billy yang membanting, merobek pakaiannya, dan memaksanya dalam mimpi buruk itu mendadak memudar, berganti dengan tatapan mata cokelat gelap Darion yang penuh dengan air mata keharuan dan cinta murni.

"Darion... dia... dia kembali..." tangis Lara meledak seketika.

Wanita itu melingkarkan kedua tangannya di leher Darion, menarik pria itu ke dalam pelukan histerisnya. Lara menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Darion, menangis sesenggukan hingga seluruh tubuhnya terguncang hebat oleh trauma alam bawah sadarnya.

"Dia menyiksaku lagi, Darion... Dia membantingku... Dia memaksaku..." terisak Lara di dalam dekapan Darion, meluapkan seluruh ketakutan tergelap yang selama ini ia pendam di dalam benaknya.

Darion merengkuh tubuh mungil Lara dengan teramat sangat erat, seolah-olah ingin menyerap seluruh rasa sakit dan ketakutan itu ke dalam tubuhnya sendiri.

Pria perkasa itu menahan air matanya agar tidak luruh, mengusap punggung Lara yang gemetar secara berulang-ulang, dan mengecup puncak kepala Lara dengan kepenuhan kasih sayang yang tak bertepi.

"Dia tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi, Lara. Aku bersumpah..." bisik Darion dengan suara gemetar di dalam keheningan malam. "Mimpi itu bohong. Kejadian itu sudah berlalu. Kau sudah bebas, Lara... Aku ada di sini untuk menjagamu."

Di dalam kamar yang temaram itu, di dalam pelukan hangat pria yang mencintainya tulus, Lara terus menangis meluapkan racun trauma dari jiwanya, menyadari bahwa perjalanan pemulihannya mungkin masih panjang... namun ia tidak akan pernah lagi melewatinya sendirian.

1
Mita Paramita
jangan seneng dan bahagia dulu lara🫣 mungkin aja nanti Billy kabur dari penjara terus menculik dan memisahkan lara & dorian🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: kak reader paling bisa deh🤭🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Takut banget billy kabur, trus menyakiti lara,, 😬
FoxVault
Cerita nya sangat seru kak 😁
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak🥰
total 1 replies
Mia Camelia
kenapa kisah cinta keluarga knight selalu ber liku liku berkelok kelok meliuk liuk🤔🤔🤔
jadi gemes nih baca nya thor
Rosdianah 🌷: hihihi maaf ya kak🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
keluarga knight , sukses semua ya thor...
ada pebinis, pembalap, doesen muda🥰🥰🥰kalo ini ada di dunia nyata, pasti sempurna banget nih🤔😄
Rosdianah 🌷: Lancar halu Author 🤣
total 1 replies
Mia Camelia
jangan2 billy punya 2 kepribadian kali nih🤔🤔🤔masa gampang banget berubah2 nya🤣🤣🤣haduh kasian lara😔
Rosdianah 🌷: huhuhu🥲
total 1 replies
Mia Camelia
ya ampun ini kejam sekali billy😂😂😂
Rosdianah 🌷: Modal gampar🥲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!