NovelToon NovelToon
DxD : Sebagai Pawn Sona Sitri

DxD : Sebagai Pawn Sona Sitri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyudi0596

Setelah menghadiri pesta pertunangan Rias Gremory sahabat kecilnya yang berakhir digagalkan oleh Sekiryuutei:Issei Hyoudou. Sona sitri di dorong oleh kakaknya Serafall untuk mencari keluarga baru demi menambah kekuatan tempur garis depan.

Menanggapi itu Sona mengamininya, lalu saat kembali ke dunia manusia. Dia menyaksikan seorang pemuda dengan sacred gear [Imperial Tiger Mantle] bertarung dengan malaikat jatuh tingkat tinggi.

Remaja itu mati terbunuh dan Sona membalas kematiannya dengan membunuh malaikat jatuh itu. Lalu mereinkarnasikan remaja itu yang ternyata masih murid akademi Kuoh sekelas dengan Issei sang sekiryuutei.

Inilah kisah Yudi sang Pawn Sitri yang bersumpah untuk selalu menjaga janjinya demi melindungi rekan-rekannya dari berbagai masalah.

Update rutin, kalau mendesak mungkin 1 chapter [Harap Maklum] Janga ragu Subscribe guys, kalau bisa pencet tombol likenya ya👍

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyudi0596, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34

Pemuda itu maju satu langkah, mempersempit jarak antara dirinya dan meja besi. Matanya memancarkan sorot keseriusan yang menusuk. "Lalu, kembali ke masalah utama. Apakah ada petunjuk fisik, barang bukti, atau hal lainnya yang tertinggal di tempat kejadian perkara yang bisa dijadikan pegangan awal untuk melacak pelaku ini?"

​Mendengar tawaran untuk memeriksa bukti, Kazuko langsung menegakkan tubuhnya dengan sentakan cepat. Wajahnya yang pucat terlihat semakin tegang.

​"Sayangnya, nyaris tidak ada sama sekali," Kazuko merespons dengan cepat, kata-katanya berhamburan dari mulutnya. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Tim forensik kami sudah mencari dan menyisir petunjuk apa pun di sekitar lokasi, tapi hasilnya benar-benar nihil. Tidak ada jejak kaki, tidak ada helai rambut, tidak ada apa pun."

​Kazuko berhenti sejenak, matanya bergerak ke arah tumpukan map di dekat siku Tenma. "Mungkin... satu-satunya yang kami temui dan kami anggap sebagai petunjuk adalah dari TKP korban pertama. Ada secarik kertas yang diselipkan dengan rapi di dalam genggaman tangan korban."

​Mendengar kata 'kertas' dan 'tangan korban', mata Yudi memicing seketika. Sebuah kedutan kecil terjadi di ujung alis kirinya. Postur tubuh Yudi condong ke depan. Tangannya secara refleks menyentuh pinggiran meja besi yang dingin. Ini adalah pola klasik, sebuah pesan yang ditinggalkan oleh pelaku untuk menantang atau memberitahu pihak berwenang mengenai identitas atau target selanjutnya.

​"Jika kalian berdua tidak keberatan," suara Yudi terdengar jauh lebih rendah dan intens, tidak ada lagi nada santai di dalamnya. Matanya menatap lurus ke arah map di dekat Tenma. "Boleh aku lihat kertas tersebut?"

​Kazuko segera menoleh ke arah Tenma. Polisi kurus itu memberikan anggukan kecil dan cepat, sebuah gestur isyarat yang mendesak rekannya untuk segera mengeluarkan barang bukti tersebut. Menyadari temannya telah memberikan izin penuh kepada sang remaja iblis untuk mengakses informasi rahasia kepolisian, Tenma menghembuskan napas pelan melalui hidungnya.

​Tenma memutar tubuhnya yang besar, menarik laci paling bawah dari meja kerjanya. Suara gesekan logam yang berkarat terdengar ngilu. Ia merogoh ke dalam laci dan mengeluarkan sebuah plastik klip barang bukti transparan (evidence bag). Di dalam plastik tersebut, terdapat secarik kertas perkamen yang pinggirannya sedikit robek dan kusam.

​Tenma meletakkan plastik klip itu di atas meja dan mendorongnya perlahan menyeberangi permukaan besi hingga tepat berada di hadapan Yudi.

​"Isinya adalah sebuah puisi," ucap Tenma dengan nada berat dan skeptis. Ia melipat kedua tangannya yang besar di depan dada. "Kami sendiri sama sekali tidak tahu apa maksud dari bait-bait aneh itu. Tapi prediksiku, pesan itu mengarah pada lokasi atau siapa korban selanjutnya."

​Yudi tidak segera menjawab. Ia mengangkat plastik klip tersebut menggunakan kedua tangannya, mengangkatnya hingga sejajar dengan matanya. Cahaya neon dari atas menerangi tinta hitam yang tertulis di atas kertas kusam tersebut. Tulisan tangannya terlihat meliuk-liuk, elegan, namun menyiratkan kesan kuno.

​Mata Yudi bergerak dari kiri ke kanan, menyusuri baris demi baris puisi tersebut dalam keheningan total.

​"Kala lonceng tak lagi mengusir senja,

Mereka yang tak bernapas menjadi saksi.

Di bawah batu yang memanggul nama,

Mawar putih menangis tanpa air mata.

Carilah tempat doa lebih nyaring daripada tangisan,

Di mana langkah manusia selalu lebih pelan.

Sebelum fajar menyentuh nisan ketujuh,

Sang pendosa akan memetik bunga terakhir."

​Udara di dalam ruangan terasa semakin dingin seiring dengan lamanya Yudi membaca bait-bait tersebut. Sipir Kazuko, yang tidak bisa menahan kegugupannya, memecah keheningan.

​"Sudah seharian penuh kami mencoba mencari tahu makna dari puisi ini," jelas Kazuko dengan nada frustrasi, tangannya mengusap wajahnya yang berkeringat. "Kami mengaitkannya dengan teka-teki jalan, nama gedung, hingga nama-nama penduduk, tapi tidak ketemu benang merahnya sama sekali. Apakah kamu bisa memecahkannya... Yudi?"

​Yudi tidak bergeming. Kening pemuda itu berkerut dalam, menciptakan garis-garis lipatan di dahinya. Tangan kirinya secara spontan melepaskan pegangannya dari plastik klip dan terangkat untuk memegang dagunya. Urat halus di pelipis kirinya tampak menonjol kecil, berdenyut pelan seiring dengan detak jantungnya. Otaknya bekerja dengan kecepatan maksimal, memutar ribuan kepingan ingatan dari tumpukan memori tentang literatur, mitologi, sastra kuno, dan buku-buku peninggalan ayah baptisnya.

​Lima detik berlalu. Sepuluh detik berlalu.

​Melihat Yudi yang hanya diam mematung menatap plastik barang bukti tanpa memberikan sepatah kata pun, Tenma menghembuskan napas yang sangat panjang dan kasar dari sela-sela giginya. Polisi gemuk itu menggelengkan kepalanya pelan, raut wajahnya menampilkan kekecewaan yang sudah ia duga sejak awal.

​"Menyerah saja, Kazuko," ucap Tenma, suaranya berat dan sarat akan kepasrahan yang absolut. Ia menepuk pelan bahu rekannya. "Kita yang sudah bertahun-tahun mengabdi sebagai penyidik saja tidak mampu memecahkan sandi aneh ini, apalagi Iblis muda ini. Setidaknya... ikhlaskan saja kalau kau memang akan dimutasi ke bagian deputi pengantar surat besok."

​Ucapan pasrah Tenma bekerja bagaikan pemantik api pada emosi Kazuko. Polisi kurus itu menyentakkan bahunya, menepis tangan Tenma dengan kasar. Matanya melotot lebar, urat-urat di lehernya menegang menahan amarah dan ketakutan yang bercampur aduk.

​"Mana sudi aku menyerah!" bentak Kazuko dengan napas yang memburu. Dada pria itu naik-turun dengan cepat dan tidak beraturan. "Kau tahu betul bagaimana aku berjuang keras, belajar setiap malam untuk mendapatkan jabatan penyidik ini! Aku tidak mau menyerah begitu saja!"

​Kazuko menoleh kembali ke arah Yudi, menudingkan jarinya ke meja. "Bahkan jika kasus ini hanya bisa diselesaikan oleh seorang iblis dengan bayaran jiwa sekalipun, aku akan memberikan apa saja asal aku tidak dialihkan ke bagian deputi pengantar surat!"

​"Iya, aku sangat mengerti kekesalanmu!" balas Tenma, suaranya naik setengah oktaf untuk mengimbangi kepanikan rekannya. Ia mengangkat kedua tangannya dengan telapak terbuka, mencoba menenangkan Kazuko. "Tapi kamu lihat sendiri 'kan? Iblis muda ini sedari tadi belum memberikan tanggapan apa pun sejak kita menyerahkan surat itu padanya."

​Tenma menunjuk ke arah Yudi dengan dagunya. "Dia hanya diam membeku. Apa lagi artinya kalau bukan dia juga sama sekali tidak mengerti maksud puisi itu, 'kan?"

​Suara gemerisik halus terdengar saat Yudi meletakkan kembali plastik klip tersebut ke atas meja besi. Jari-jemarinya mengetuk perlahan permukaan plastik transparan itu. Kepala pemuda itu terangkat, menatap kedua polisi yang sedang beradu argumen di hadapannya.

​"Hn..." Suara gumaman pelan keluar dari tenggorokan Yudi, memotong perdebatan kedua pria dewasa tersebut.

​Yudi menurunkan tangannya dari dagunya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. Alih-alih menampilkan raut wajah bingung atau putus asa seperti yang dituduhkan oleh Tenma, sebuah senyuman asimetris yang sangat jahil dan penuh perhitungan justru terukir di wajah Yudi.

​"Etto... aku diam tidak menanggapi surat ini bukan berarti aku tidak mengerti artinya, Paman Bulat," ucap Yudi dengan nada ringan dan sedikit mengejek.

​Mendengar panggilan 'Paman Bulat', kelopak mata Tenma berkedut hebat. Mulutnya setengah terbuka, tidak percaya dengan sikap kurang ajar yang baru saja ditunjukkan oleh remaja di hadapannya. Namun sebelum ia bisa membalas, Yudi sudah kembali bicara.

​"Aku hanya sedang mencoba mengingat dengan cermat," lanjut Yudi, nadanya kembali menjadi serius dan analitis. Matanya menyipit, menatap lurus menembus keraguan kedua polisi itu. "Kapan terakhir kali aku membaca struktur puisi yang persis seperti ini."

​Mendengar pernyataan Yudi, amarah di wajah Kazuko seketika menguap, digantikan oleh keterkejutan. Pria kurus itu memajukan tubuhnya, mencondongkan badannya melintasi meja.

​"Eh? Apa maksudmu?" tanya Kazuko cepat, suaranya sedikit mencicit karena antusiasme yang mendadak meledak. "Maksudmu ini bukan puisi asli buatan si pelaku? Atau... ada pelaku lainnya yang pernah menulis ini?"

​Yudi menggelengkan kepalanya pelan, sebuah gerakan lambat yang menegaskan poinnya. Ia mengangkat satu jari telunjuk ke udara, seolah sedang memberikan kuliah di depan kelas.

​"Bukan seperti itu juga konsepnya," jelas Yudi. Ia menurunkan tangannya, menopang sikunya di atas meja. "Aku ingat dengan sangat jelas sekarang. Puisi ini bukan karya orisinil dari pelaku kalian. Puisi ini adalah milik seorang sastrawan era klasik yang sebenarnya kurang terkenal. Namanya Omori Ogu."

​Yudi menatap tajam ke arah puisi di balik plastik klip tersebut. "Dia adalah seorang penulis yang terlalu terobsesi dan mendalami sastra gelap. Secara spesifik, dia sangat terpengaruh oleh novel Ningen Shikaku (No Longer Human) karangan Osamu Dazai. Karya-karyanya selalu mereferensikan keputusasaan, kematian, dan ritual penebusan dosa di tempat-tempat yang sunyi."

​Penjelasan literatur yang mendetail itu membuat Tenma mendengus kasar. Polisi gemuk itu mengusap wajahnya, tidak peduli dengan sejarah sastra yang baru saja dijabarkan.

​"Lalu apa hubungannya sejarah penulis mati itu dengan kasus kita?!" sergah Tenma, nada suaranya dipenuhi oleh rasa frustrasi yang logis. Ia menepuk meja dengan telapak tangannya yang tebal. Brak! "Kita harus menemukan dan menangkap pelaku pembunuhan berantai ini secepatnya! Bukan menyelidiki menjurus pada siapa penulis asli pembuat puisi tersebut!"

​Menghadapi bantahan kasar dari Tenma, Yudi tidak tersulut emosi. Pemuda itu justru menghela napas panjang dan pelan, membiarkan dadanya turun perlahan. Ia berdiri tegak, melepaskan tumpuannya dari meja, dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeansnya. Gestur tubuhnya memancarkan otoritas dan dominasi intelektual mutlak di dalam ruangan tersebut.

​"Memang benar," ujar Yudi membalas dengan artikulasi yang sangat lambat dan jelas. Matanya menatap lurus mengunci bola mata Tenma. "Mengetahui siapa nama penulis aslinya secara harfiah tidak akan mengubah apa pun dari kondisi mayat yang sudah jatuh."

​Yudi menarik tangan kanannya dari saku, menunjuk tepat ke arah bait-bait puisi di atas meja dengan gerakan tajam.

​"Tapi setidaknya... kita jadi tahu dengan pasti apa yang menjadi motif utamanya," tegas Yudi. Suaranya bergema memenuhi seluruh sudut ruangan kepolisian yang sempit itu, memaksa kedua polisi tersebut untuk terdiam dan mendengarkan. "Dan jika kita sudah tahu motif dan dasar obsesinya, kita hanya perlu menelaah dan membedah alasannya. Kenapa pembunuh ini repot-repot menuliskan ulang karya Omori Ogu sebagai pesan pembunuhan untuk kalian."

​Ujung bibir Yudi kembali melengkung, membentuk senyuman misterius seorang predator yang baru saja menemukan jejak mangsanya.

1
Bayuon So7
Lagi dan lagi saji blunder di sini cok
Bayuon So7
wedeh jadi MC punya hubungan sama Irina menarik untuk di tunggu hubungan seperti apa ya
Bayuon So7
Irina lawak orang lagi perang malah perkenalan diri,, emang beneran julukan dari si Milicas. Malaikat yang memproklamirkan diri
Bayuon So7
Si Imut koneko🤭
Bayuon So7
Weh mau gelut kayaknya nih, semogaa author senantiasa sehat deh
Bayuon So7
Debatnya asyik cuy, mantap lanjutkan💪
Zuta Huda
Kurang ngerti min, aku disuruh sepupuku buat like
Tessar Wahyudi: Terima kasih likenya dan salam untuk sepupunya ya👍
total 1 replies
Bayuon So7
Gak ekspektasi kalau dari pertanyaan simple bisa ambil kesimpulan seperti itu.
Paolo Maldini
Bang gw mau lempar 💣 nih
Fans Real Madrid
Semangat author
Tessar Wahyudi: makasih, semoga gak kapok ya
total 1 replies
Bayuon So7
sudah kuduga emang Kiba
Bayuon So7
Hoah udah mau masuk ke arc kiba kah?
Bayuon So7
Ada aja kelakuan Sona dan Yudi ini ya 🤣
Bayuon So7
Tutorial memancing keributan 🤭
Bayuon So7
marketing sales gak tuh🤭
Bayuon So7
Aduh Saji, begitu pedenya bilang kalau iblis reinkarnasi awal-awal sulit mendapatkan kontrak🤭
Bayuon So7
Tsubaki Flexing njir🤣
Bayuon So7
beneran juga sih, hasil yang memuaskan. Ini MC diam-diam serakah juga ya, kalau dilihat-lihat 🤭. tapi tetap masuk akal kok Thor.👍
Bayuon So7
Hn jadi ini semacam Cooling down setelah pertarungan sengit, mantap Thor.
Bayuon So7
Gua cuma mau bilang bisa cepetin gak updatenya penasaran njir🤭
Tessar Wahyudi: Sabar dong bang, semua ada waktunya mohon ditunggu dengan sabar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!