Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu yang datang saat malam
Perjalanan pulang menuju Kampung Ciburial berlangsung tanpa banyak percakapan. Masing-masing larut dalam pikirannya sendiri. Sesekali Arga menoleh ke arah hutan yang perlahan tertutup kabut sore. Entah mengapa, ia merasa seolah ada banyak pasang mata yang memperhatikan mereka dari balik pepohonan. Namun ketika ia memusatkan pandangan, yang terlihat hanyalah batang-batang pohon tua yang berdiri diam. Mereka tiba di desa tepat setelah azan Isya berkumandang.
Lampu-lampu minyak mulai menyala di teras rumah warga. Kedatangan rombongan langsung mengundang perhatian. Warga yang sejak sore menunggu segera berkumpul di balai kampung.
"Ada apa di sana?"
"Ketemu sesuatu?"
"Benarkah ada orang di hutan?"
Pertanyaan datang bertubi-tubi.
Pak Rahman mengangkat tangan, meminta semua orang tenang.
"Kami belum menemukan jawaban."
"Tapi kami menemukan banyak hal yang tidak bisa dijelaskan."
Beliau menceritakan sebagian perjalanan mereka. Tentang jalan setapak yang seolah tidak berujung. Kompas yang kehilangan arah. Jejak kaki yang menghilang. Hingga tas tua berisi barang-barang yang terlihat seolah baru ditinggalkan beberapa saat lalu. Tentu saja tidak semua cerita disampaikan.
Tentang sosok misterius di balik kabut, Pak Rahman memilih menyimpannya.
Beliau khawatir kepanikan justru semakin besar.
Meski begitu, wajah-wajah warga tetap terlihat tegang.
Seorang ibu menggenggam tasbih di tangannya.
"Jangan-jangan memang benar..."
"...orang-orang yang hilang belum pernah keluar dari sana."
Tak ada yang menjawab. Arga hanya duduk di sudut balai sambil memandangi lantai kayu. Pikirannya terus kembali pada ransel yang mereka tinggalkan. Apakah benar ada seseorang yang suatu hari akan menemukannya?
Atau...
Apakah seseorang itu sebenarnya sudah berada di sana ketika mereka pergi?
Malam semakin larut.
Satu per satu warga mulai kembali ke rumah masing-masing. Balai kampung kembali sunyi.
Arga, Pak Rahman, Mang Jaya, Kang Ujang, dan beberapa pemuda masih berbincang pelan.
Hingga tiba-tiba...
Suara mesin kendaraan terdengar dari kejauhan.
Semua spontan menoleh.
"Mobil?"
Kang Ujang berdiri.
"Jam segini?"
Suara mesin semakin dekat. Beberapa menit kemudian, cahaya lampu truk menembus jalan tanah menuju balai desa. Sebuah mobil logistik akhirnya berhenti.
Debu beterbangan.
Mesinnya dimatikan.
Empat orang laki-laki turun dengan wajah pucat dan kelelahan. Melihat mereka, Pak Rahman tampak terkejut.
"Kalian baru sampai?"
Salah seorang sopir mengangguk pelan.
"Iya, Pak..."
"Kami juga bingung."
"Harusnya sudah sampai sejak sore. Kami berangkat pagi seperti biasa nya."
Semua saling berpandangan.
"Ada apa di jalan?"
Sopir itu mengusap wajahnya yang penuh debu.
"Tidak ada longsor."
"Tidak ada pohon tumbang."
"Jalannya juga sama."
"Lalu kenapa?"
Pria itu menarik napas panjang.
"Kami berangkat pagi."
"Seperti biasanya."
"Kecepatan juga normal."
"Tapi..."
"...jalan terasa tidak selesai-selesai."
Temannya ikut menyahut.
"Awalnya kami kira mobil bermasalah."
"Makanya kecepatan kami tambah."
"Tapi tetap saja..."
"...hutannya seperti makin jauh."
Seisi balai menjadi hening.
"Kami sempat khawatir."
"Bensin tinggal sedikit."
"Kalau masih belum ketemu desa..."
"...mungkin kami terpaksa berhenti di tengah hutan."
Sopir itu menggeleng pelan.
"Untung saja..."
"...tiba-tiba desa ini muncul."
Pak Rahman melihat jam dinding tua yang tergantung di balai. Jarumnya hampir menunjukkan pukul sepuluh malam.
Padahal biasanya...
Mobil logistik selalu tiba menjelang waktu Asar.
Selisih hampir enam jam.
Tidak ada seorang pun yang mampu menjelaskan apa yang baru saja terjadi.
Mang Jaya memandang Arga.
Tatapan mereka bertemu.
Tak perlu kata-kata.
Keduanya sama-sama mengingat dugaan tentang hutan yang menyimpan waktu.
Barang-barang logistik mulai diturunkan.
Beras.
Minyak goreng.
Obat-obatan.
Beberapa dus kebutuhan pokok.
Setelah semuanya selesai, sopir menghampiri Pak Rahman.
"Besok pagi kami langsung kembali ke kota."
Pak Rahman mengangguk.
Lalu beliau menoleh kepada Arga.
"Nak..."
"Kamu bisa ikut mobil ini."
Arga terdiam.
"Pulanglah."
"Orang tuamu pasti sedang mencarimu."
Kalimat itu membuat dada Arga sesak. Ia memang ingin menghubungi keluarganya sejak lama. Entah bagaimana keadaan ayah dan ibunya sekarang. Mungkin mereka sudah melapor ke polisi. Mungkin sudah menyebarkan kabar ke mana-mana. Namun ketika ia menoleh ke arah utara, ke arah hutan yang kini hanya terlihat sebagai hamparan gelap...
Hatinya kembali ragu.
Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab.
Tentang rawa.
Tentang sosok tanpa jejak.
Tentang tas tua.
Tentang orang-orang yang hilang.
Ia menatap Pak Rahman.
"Kalau saya tetap tinggal beberapa hari lagi bagaimana, Pak?"
Pak Rahman menghela napas panjang.
"Kamu memang ingin mencari jawaban."
Arga mengangguk.
"Saya merasa semuanya belum selesai."
"Terlalu banyak yang belum kami pahami."
Pak Rahman terdiam cukup lama.
Kemudian beliau berkata pelan,
"Justru karena itulah..."
"...kamu harus pulang."
Arga mengernyit.
"Kesempatan seperti ini belum tentu datang dua kali."
"Mobil logistik kadang baru masuk lagi beberapa minggu lagi. Sementara mobil pengangkut kopi mungkin bulan depan baru datang lagi."
Beliau meletakkan tangan di bahu Arga.
"Bayangkan orang tuamu."
"Mereka tidak tahu kamu masih hidup atau tidak."
"Setiap hari..."
"...mereka pasti menunggu kabar."
Arga menundukkan kepala.
Pak Rahman kembali berkata,
"Kalau kamu benar-benar ingin kembali ke sini..."
"...datanglah lagi setelah memberi tahu keluargamu."
"Jangan biarkan mereka hidup dalam ketidakpastian."
Ucapan itu menusuk hati Arga. Ia akhirnya menghela napas panjang.
"Kalau begitu..."
"...izinkan saya menitip pesan saja."
"Sampaikan kepada ayah saya bahwa saya baik-baik saja."
"Nanti setelah itu saya tetap tinggal."
Pak Rahman langsung menggeleng.
"Tidak."
"Sebuah kabar tidak bisa menggantikan kepulangan seorang anak."
Beliau menatap Arga dengan sorot mata seorang ayah.
"Pesan bisa menenangkan sehari."
"Tapi melihatmu pulang..."
"...akan menghapus keresahan mereka."
Balai kembali sunyi. Di luar, embusan angin malam kembali terdengar dari arah hutan.
Entah mengapa...
Malam itu suara angin terdengar seperti bisikan panjang.
Seolah...
Hutan itu tidak ingin Arga pergi.
Arga hampir tidak bisa memejamkan mata semalaman. Ucapan Pak Rahman terus terngiang di kepalanya.
"Melihatmu pulang akan menghapus keresahan mereka."
Kalimat itu sederhana.
Namun justru itulah yang membuatnya sulit membantah. Ia membayangkan ayahnya. Sosok yang selalu tampak tenang dalam keadaan apa pun. Jika dirinya benar-benar menghilang selama berhari-hari, Arga yakin ayahnya pasti telah berusaha mencari ke mana-mana.
Lalu ibunya. Arga bahkan tidak sanggup membayangkan bagaimana perasaan perempuan itu. Mungkin setiap dering telepon membuatnya berharap ada kabar. Mungkin setiap suara kendaraan yang berhenti di depan rumah membuatnya berlari ke pintu. Memikirkan itu saja membuat dada Arga terasa sesak.
Fajar mulai menyingsing. Kabut tipis masih menggantung di atas persawahan ketika warga mulai berdatangan ke balai desa. Mobil logistik sudah diparkir di halaman sejak subuh. Beberapa karung hasil panen kopi, gula aren, dan sayuran mulai dinaikkan ke bak belakang. Sopir terlihat memeriksa ban dan mesin.
"Kalau berangkat sekarang, sebelum sore sudah keluar hutan," katanya.
Pak Rahman mengangguk pelan. Namun pandangannya sesekali masih tertuju kepada Arga. Beliau tahu pemuda itu belum benar-benar mengambil keputusan.
Arga berdiri di tepi halaman.
Tatapannya mengarah ke utara.
Ke balik pepohonan yang menjadi batas antara desa dan hutan. Kabut pagi menutupi jalur menuju rawa.
Hutan itu tampak tenang.
Seolah tidak pernah menyimpan misteri apa pun.
Mang Jaya menghampiri sambil membawa dua gelas kopi.
"Sulit meninggalkannya, ya?"
Arga menerima gelas itu.
"Iya."
"Saya merasa belum selesai."
Mang Jaya tersenyum tipis.
"Dulu aku juga begitu."
Arga menoleh.
"Saat pertama kali menemukan mayat di rawa, aku terus kembali ke sana."
"Aku pikir suatu hari akan menemukan jawabannya."
"Lalu?"
Mang Jaya menggeleng pelan.
"Yang kutemukan hanya rasa penasaran yang semakin besar."
Ia menatap ke arah hutan.
"Ada beberapa tempat yang memang tidak memberi jawaban secepat yang kita inginkan."
Arga terdiam.
"Mungkin memang ada waktunya."
Saat matahari mulai naik, seluruh barang akhirnya selesai dimuat. Sopir menghampiri Pak Rahman.
"Pak, kami berangkat sekarang."
Pak Rahman mengangguk. Beliau lalu memanggil Arga.
"Nak."
Arga mendekat.
"Aku tidak akan memaksamu."
"Keputusan tetap di tanganmu."
"Tapi ingat..."
"Hutan ini sudah ada jauh sebelum kita lahir."
"Kalau memang menyimpan rahasia..."
"...rahasia itu tidak akan hilang hanya karena kamu pulang beberapa hari."
Ucapan itu membuat Arga kembali berpikir.
Benar juga.
Jika misteri itu telah bertahan puluhan tahun, beberapa hari tidak akan mengubah apa pun.
Sebaliknya...
Orang tuanya mungkin sedang menghitung setiap detik kepulangannya.
Arga menarik napas panjang.
"Pak..."
"Saya ikut pulang."
Senyum tipis akhirnya muncul di wajah Pak Rahman.
"Itu keputusan yang baik."
Beberapa warga yang mendengar ikut tersenyum lega. Kang Ujang bahkan menepuk bahu Arga.
"Nanti kalau kembali ke sini, jangan lupa bawa kopi kota."
Suasana yang sejak tadi tegang seketika mencair. Arga ikut tertawa kecil.
Sebelum naik ke mobil, Arga meminta izin sebentar. Ia berjalan seorang diri menuju ujung desa. Sampai di tempat papan kayu bertuliskan "Kampung Ciburial", langkahnya berhenti.
Di kejauhan, hutan masih tertutup kabut.
Tidak terlihat apa-apa.
Namun entah mengapa, ia merasa seperti sedang berpamitan dengan seseorang.
"Bentar lagi aku kembali," gumamnya pelan.
"Aku janji."
Angin berembus pelan. Pepohonan bergoyang perlahan.
Lalu...
Di antara kabut putih yang menggantung di batas hutan...
Arga seperti melihat sesosok laki-laki berdiri.
Jaraknya terlalu jauh.
Wajahnya tidak terlihat.
Tubuhnya diam.
Hanya berdiri memandang ke arah desa.
Arga memicingkan mata.
"In... siapa?"
Baru beberapa detik kemudian kabut bergerak.
Sosok itu lenyap.
Begitu saja.
Tak meninggalkan jejak.
Arga berlari beberapa langkah mendekat.
Namun yang tersisa hanyalah deretan pohon.
"Arga!"
Suara Pak Rahman memanggil dari kejauhan. Mobil sudah bersiap berangkat. Arga menoleh sekali lagi ke arah hutan.
Kosong.
Ia akhirnya kembali.
Mobil logistik mulai meninggalkan Kampung Ciburial. Seluruh warga melambaikan tangan.
Pak Rahman berdiri paling depan.
"Jaga dirimu!"
"Kalau sudah bertemu orang tua, sampaikan salam dari kami!"
Arga mengangguk sambil melambaikan tangan dari balik jendela. Mobil perlahan menjauh. Desa itu semakin kecil. Lalu menghilang di balik tikungan. Arga masih terus melihat ke belakang.
Hingga akhirnya hutan kembali menutupi seluruh pandangannya.
Ia mengembuskan napas panjang.
Perjalanan pulang akhirnya dimulai.
Namun baru sekitar lima belas menit meninggalkan desa...
Sopir tiba-tiba menginjak rem.
"Ck!"
Mobil berhenti mendadak.
"Ada apa, Pak?" tanya Arga.
Sopir tidak langsung menjawab. Ia menatap lurus ke depan dengan wajah pucat. Semua penumpang ikut melihat.
Di tengah jalan tanah yang mereka lalui...
Berdiri seorang pria.
Pakaiannya lusuh.
Membawa sebuah ransel cokelat tua di punggungnya.
Ransel...
Yang kemarin ditinggalkan Arga di dalam hutan.