"Bujur buset!"
Bukan sulap, bukan sihir. Dinda yang seharusnya sudah 'metong' dihantam mobil tronton, nyatanya masih bernapas. Alih-alih terbangun di rumah sakit dengan tubuh hancur, ia justru mendapati dirinya terduduk di tengah rimbunnya hutan belantara.
Ia masih mengenakan setelan santai jalan-jalannya lengkap dengan sling bag yang masih tersampir di bahu. Isinya pun masih lengkap: ponsel, uang tunai, set peralatan make-up, hingga parfum sweet vanilla kesukaannya.
"Gila, gue di mana? Masa iya ketabrak mobil, terus kelemparnya sejauh ini?" gumamnya panik.
Dinda merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berharap bisa menghubungi seseorang. Namun, saat layar menyala, ia justru mematung. Ponselnya terasa asing—seolah baru keluar dari kotak—kosong, bersih tanpa jejak data, tanpa sinyal, tanpa sisa.
Tiba-tiba, suara dedaunan kering yang terinjak dari balik semak membuatnya tersentak. Dinda menoleh cepat ke belakang.
Di sana, ia terpaku. Seorang pria berbadan tegap berdiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
"Mbok, di sekitar sini ada pasar tidak?" tanya Dinda membuka obrolan dengan Mbok Ginem setelah menyatakan komitmennya tadi.
"Pasar? Apa itu, Nduk?" Mbok Ginem balik bertanya dengan dahi berkerut, benar-benar asing dengan istilah tersebut.
Dinda mengerutkan dahinya heran. "Pasar, Mbok! Masa tidak tahu, sih...?" ujar Dinda merasa agak aneh. Masa Si Mbok sama sekali tidak tahu apa itu pasar? batinnya berkata bingung.
"Lah, betul Si Mbok tidak mengerti benda apa yang kau maksud itu," ucap Mbok Ginem jujur tanpa berniat bercanda. "Coba kau tanyakan pada Wirandu bawah, barangkali bocah itu tahu."
"Benar juga. Kalau begitu aku akan tanya Kanda Wira dulu, Mbok," ucap Dinda lekas berpamitan untuk menemui prianya.
Gadis itu melangkah ringan menuruni satu-per-satu anak tangga kayu rumah pohon. Sesampainya di halaman bawah, ia mencelingukkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan sang pemburu. Pandangan Dinda akhirnya terhenti pada satu sosok pria tegap yang sedang asyik duduk beristirahat di bawah pohon sengon yang cukup rindang.
"Kanda...!" panggil Dinda sembari berjalan mendekat.
Wira menoleh, mendapati Dinda yang tengah melangkah manis ke arahnya. "Ada apa, Dinda?" tanyanya lembut, sedikit bingung melihat wanitanya sudah menyusul ke bawah.
Dinda tidak langsung menjawab. Ia memilih mengambil posisi duduk di atas rumput, tepat di sebelah Wira. "Kanda capek, ya?" tanya Dinda lembut. Matanya menatap lekat pada tubuh kokoh Wira yang tampak berkilau dipenuhi cucuran keringat pasca membelah kayu.
"Tidak," sahut Wira singkat. "Ada apa datang mencariku?"
"Kanda... Kanda tahu tidak di mana ada pasar di sekitar sini?" ucap Dinda membuka inti tujuannya.
"Pasar...? Tempat apa itu?" tanya Wira dengan raut wajah yang sama bingungnya dengan Mbok Ginem. Rupanya Wirandu pun tidak familier dengan kata itu.
"Pasar itu tempat orang melakukan jual beli, Kanda. Tempat berkumpulnya banyak pedagang yang menjual berbagai macam barang dagangan mereka," jelas Dinda mencoba memahamkan pria zaman dulu di sampingnya ini.
Wira mengernyitkan dahinya, tampak berpikir keras mencerna penjelasan Dinda. "Apa maksudmu... Pasa'?" tanya Wira memastikan dialek lokalnya.
Dinda sempat tertegun, namun kemudian mengangguk cepat dengan binar mata cerah. "Ah, iya! Benar, Kanda! Itu dia, ternyata hanya beda penyebutannya saja di ujung kata!" ucap Dinda senang karena misinya mulai menemui titik terang. "Apakah tempatnya ada dekat sini, Kanda?"
Wirandu mengangguk pelan. "Ada. Memangnya ada apa?"
"Kanda, aku ingin pergi ke tempat itu," ucap Dinda cepat tanpa basa-basi.
"Mau pergi ke sana? Jangan, Nduk... Tempatnya jauh," larang Wira pada akhirnya, mencemaskan keselamatan Dinda.
Dinda seketika mengerucutkan bibirnya manja. "Tapi aku ingin sekali pergi ke sana. Ada sesuatu yang ingin kujual," kata Dinda berterus terang mengenai niat bisnisnya.
"Tapi kota letaknya sangat jauh, Dinda. Bisa memakan waktu sampai satu hari penuh perjalanan," kata Wira lembut. Tangannya yang besar terulur untuk membelai pelan rambut halus Dinda, mencoba memberi pengertian. "Apakah tidak ada pasa' yang lebih dekat di sekitar desa ini?" tanyanya kemudian.
"Ada, sebuah pasa' kecil di wilayah perbatasan antara Desa Rejo dengan desa sebelah," jawab Wira. Pria itu kemudian menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya pada helaian rambut Dinda yang mengembuskan aroma manis buah stroberi, lalu menghirupnya dalam-dalam.
"Kalau begitu, kita ke pasa' yang itu saja! Maukah Kanda membawaku ke sana?" tanya Dinda cepat sembari menampilkan senyuman manis yang begitu menawan.
Wira tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu hanya memberikan anggukan samar. Perlahan, lengan kekarnya bergerak merengkuh posesif pinggang ramping Dinda, menariknya mendekat. Wira menundukkan kepalanya, lalu... Cup. Wirandu mendaratkan sebuah kecupan hangat di bibir Dinda.
Dinda sempat terdiam sesaat menerima sentuhan mendadak itu. Namun, entah mendapat gelombang keberanian dari mana pagi ini, gadis kota itu dengan gerakan lincah justru melepaskan diri dari kecupan singkat tersebut. Detik berikutnya, ia langsung merangkak naik dan duduk dengan berani di atas pangkuan Wira.
Posisi tubuh mereka kini begitu rapat tanpa celah, di mana area inti Dinda tepat menduduki bagian sensitif milik Wira yang seketika bereaksi hebat dan menegang sempurna di balik celana panjangnya akibat provokasi tersebut.
Sebelum Wira sempat memproses keterkejutannya, Dinda sudah lebih dulu menangkup wajah pria itu dan melayangkan ciuman yang dalam. Ia mulai melumat bibir Wira dengan penuh jalinan gairah yang menuntut. Wira tersentak hebat, sama sekali tidak menyangka akan mendapat serangan seberani dan seagresif ini dari Dinda yang biasanya selalu malu-malu.
Dinda kian tenggelam dalam sensasi itu; lidahnya dengan lincah bergerak mencari celah, mencoba menerobos barisan gigi Wirandu yang masih terkatup rapat karena syok.
Pertahanan sang pemburu terkuat itu akhirnya runtuh total menghadapi pesona wanitanya. Dengan pasrah dan sisa akal sehat yang kian mengabur, Wira membuka mulutnya, membalas pagutan ciuman panas itu dengan tidak kalah intens sembari meremas pinggang Dinda kuat-kuat.
Di bawah rindangnya pohon sengon, kedua insan itu benar-benar terbuai dalam lautan gairah pagi yang membakar, sepenuhnya tidak menyadari dan tidak memedulikan lagi bahwa saat ini mereka tengah berada di tempat terbuka yang bisa saja dilewati oleh warga desa kapan saja...
semangat ya up trus 😍😍😍
awal yg bagus cerita nya.. apalagi s MC cewek berpikir idola Korea dan cina😄😄😄 suka aku...
semangat up sampai tamat ya thor😍😍😍😍