Zara — gadis sederhana, polos, dan hidup dalam keterbatasan, namun tetap memancarkan keanggunan yang tak dimiliki siapa pun. Dipermainkan takdir, ia dipersatukan dengan Adrian Romanov, pria dingin, berkuasa, dan menjadi sumber segala penderitaannya. Dituduh, disakiti, dan dikucilkan, Zara harus menelan semua kepahitan sendirian. Namun ketika sebutir nyawa tumbuh di dalam rahimnya, semangatnya bangkit kembali. Demi bayi yang dikandungnya, ia berjanji akan bertahan, melewati badai, dan membuktikan bahwa ketabahan akan mengalahkan segala kepalsuan. Akankah takdir berubah, atau justru luka yang semakin dalam menantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cincin, Masakan Sederhana Dan Awal Yang Baru
Tepat pukul enam lewat sepuluh pagi, aku perlahan membuka mata dan melihat sekeliling kamar. Tidak ada tanda-tanda Adrian ada di sana. Segera aku memeriksa diriku sendiri, memastikan semalam tidak terjadi hal yang aneh atau menyakitkan. Setelah merasa aman, aku bangkit, merapikan kasur dan melipat selimut seadanya saja, cukup agar terlihat bersih dan tidak berantakan.
Setelah itu aku bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Baru saja selesai mandi dan hanya melilitkan handuk di tubuh, tiba-tiba terdengar ketukan lembut dari luar pintu. Jantungku langsung berdegup kencang panik — aku belum sempat memakai baju apa pun. Cepat-cepat aku mundur kembali ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya rapat, berharap orang di luar tidak akan sembarangan masuk.
Di luar itu ternyata Yamal, sekretaris Adrian, sedang berdiri sambil membawa sebuah tas kain. Sebenarnya Adrian sudah bangun lebih pagi dan langsung menyuruhnya mengambilkan satu set baju untukku. Karena tidak mendengar jawaban, Yamal membuka pintu sedikit dengan sopan, melihat ruangan kosong, lalu berkata pelan: “Nyonya Zara, saya dikirim Tuan Adrian membawakan pakaian ini. Saya taruh saja di depan pintu ya.” Ia tidak melangkah masuk, hanya meletakkan tas itu dengan hati-hati lalu pergi begitu saja.
Begitu suaranya benar-benar menghilang, aku baru berani keluar, mengambil tas itu, lalu mengunci kembali pintu kamar. Saat kubuka, ternyata isinya baju yang terlihat sangat bagus. Di sudut meja juga sudah tersedia kotak berisi peralatan rias lengkap, jadi aku meluangkan waktu sebentar untuk berdandan secukupnya saja — tidak berlebihan, cukup agar terlihat segar dan rapi.
Setelah siap, aku turun ke lantai satu memakai baju baruku: kemeja putih gading bahannya lembut, kerahnya simpel, lengan sampai siku yang sedikit melebar dan terlihat tembus pandang halus; di luarnya ada rompi berwarna merah muda lembut memudar ke krem, dihias bordir dan butiran kecil yang berkilau tapi tidak mencolok; dipadukan rok lurus pendek sampai lutut dengan motif bunga samar yang warnanya senada. Sebagai pelengkap, aku pakai anting kecil berhias mutiara dan gelang emas tipis yang melingkar pas di pergelangan tangan, cukup membuatnya terlihat anggun saja.
Saat melangkah ke ruang tamu, aku melihat Adrian sudah berdiri di sana. Penampilannya begitu memukau: kemeja putih bersih, dilapisi rompi bergaris halus hitam keabu-abuan dengan kancing klasik, membuat tubuhnya terlihat makin tegap dan bahunya lebar berwibawa. Di pergelangan tangannya tergantung jam tangan mahal berbingkai mengkilap, melengkapi segala sesuatu yang terlihat sempurna.
Melihatku datang, Adrian melirik sekilas dari ujung kepala sampai kaki, lalu bergumam pelan dalam hati: “Hah… ternyata kalau diberi baju yang layak, dia terlihat lumayan juga.” Lalu ia memanggil Yamal yang menunggu di luar, menyuruhnya mengambil sebuah kotak yang sempat tertinggal di dalam mobil.
Begitu kotak itu ada di tangannya, Adrian membukanya perlahan. Di dalamnya terlihat dua pasang cincin: satu untuknya, modelnya tegas dan kokoh dengan berlian kecil berjejer rapi; sedangkan untuk wanita ada satu batu permata besar di tengah yang berkilau terang dikelilingi butiran kecil. Tapi ada yang terasa aneh: untukku disediakan dua ukuran berbeda, sedangkan untuk dia hanya satu saja.
Sambil menungguku, Adrian sempat duduk sebentar membaca dokumen di meja, tapi merasa lama juga tidak melihatku muncul, akhirnya ia berdiri membawa kotak itu dan berjalan menuju dapur. Di luar, Yamal tetap berdiri di dekat pintu sambil sesekali memeriksa jadwal lewat ponselnya.
Begitu aku masuk ke dapur, mataku tertegun sejenak melihat betapa luas dan bersihnya tempat itu: lantai marmer putih mengkilap, lemari berukir halus berwarna krem keemasan, jendela besar membiarkan cahaya matahari pagi masuk melimpah, dan meja besar di tengahnya lengkap dengan segala peralatan masak terbaik. Semalam sebenarnya aku ingin ke sini, tapi keberanianku hilang saat listrik mati. Sekarang dengan lampu terang, aku segera membuka lemari es — ternyata isinya tidak banyak: cuma sedikit brokoli, bawang bombai, buncis, dan beberapa ekor udang yang masih segar. Cukup bagiku untuk membuat sesuatu yang sederhana.
Aku mencuci semuanya bersih-bersih, merebus brokoli sampai matang, lalu menumis bawang sampai harum. Masukkan udang, aduk sampai berubah warna, baru tambahkan buncis dan brokoli yang sudah ditiriskan. Cukup diberi garam dan lada secukupnya saja, masakan itu pun jadi. Aku meletakkannya rapi di atas piring cantik, lalu menaruhnya di meja makan.
Belum sempat aku mengangkat sendok, tiba-tiba bayangan tinggi melintas di ambang pintu — Adrian berdiri di sana. Sekali ini aku melihatnya lebih dekat: tubuhnya menjulang tinggi, berotot padat tapi tetap terlihat ramping dan proporsional. Wajahnya tegas dengan garis rahang yang jelas, kulitnya putih halus seperti porselen, matanya berwarna biru jernih seperti es gunung, tajam tapi ada kilatan lembut yang tersembunyi. Rambutnya berwarna pirang keemasan yang sedikit bergelombang dan terlihat jatuh alami begitu saja.
Aku tertegun sebentar sebelum sadar dan segera meletakkan kembali sendokku. Adrian berjalan mendekat, membuka kotak cincin itu, lalu memakai cincin miliknya sendiri di jari manis. Setelah itu ia menyodorkan kotak itu padaku dan berkata dengan nada datar: “Pakai Cincinmu.”
Baru saat itu aku teringat: kemarin saat akad, kami tidak sempat bertukar cincin karena Adrian sibuk sekali sampai lupa membawanya. Aku mencoba memakai yang pertama — terasa agak longgar. Coba ukuran yang kedua, tetap saja tidak pas. Adrian mengerutkan kening sedikit, lalu memanggil: “Yamal, ke sini!”
Sekretarisnya segera datang membungkuk hormat: “Ada perintah apa, Tuan?”
“Bagaimana kamu beli cincin ini? Tidak mengukur jari dia dengan benar?” tanya Adrian dengan nada sedikit kesal.
Yamal menjawab dengan wajah bersalah: “Maafkan saya, Tuan. Tadi saya sempat mengukur untuk Nyonya Fara, tapi keliru mengira ukurannya sama persis dengan Nyonya Zara.”
Mendengar nama itu, kepalaku langsung berputar bingung: Fara? Siapa wanita itu? Berarti cincin ini sebenarnya dibuat untuk orang lain? Mengapa dia bawa-bawa nama orang lain di sini?
Adrian segera melanjutkan: “Segera ukur jari Nyonya Zara dengan tepat, lalu pesan dan buat yang pas ukurannya.”
Namun Yamal menjawab ragu: “Mohon maaf Tuan, model dan desain seperti ini sangat terbatas, stoknya sudah habis di semua toko perhiasan terkenal.”
Adrian terlihat makin kesal, tapi akhirnya menghela napas panjang dan mengusirnya: “Sudahlah, pergi saja.”
Setelah Yamal keluar, Adrian menoleh padaku, nadanya sedikit melunak: “Baiklah, nanti kita pergi bersama saja, pilih yang baru dan ukurannya benar-benar pas untukmu.”
Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba perutku berbunyi pelan: “kruuk…” Wajahku langsung memerah padam menahan malu, hanya bisa menunduk dan bergumam dalam hati: Ya ampun, sungguh memalukan sekali di depannya.
Adrian melihat itu, lalu mengalihkan pandangan ke meja makan yang berisi masakanku. “Makanlah dulu,” katanya lebih tenang. “Saya tunggu di luar.”
Namun hatiku bergerak ingin menawarkannya juga. Dengan suara lembut dan agak gugup, aku berkata: “Tu… maksudku Adrian, kau sudah sarapan belum? Ini cuma masakan sederhana saja, apa adanya dari bahan yang ada.”
Adrian menatapku lama beberapa detik, lalu menjawab singkat: “Baiklah.”
Ia duduk di hadapanku dan menyantap masakan itu bersamaku, meski hanya tumisan sayur dan udang tanpa nasi. Setelah selesai makan, kami bersiap berangkat. Yamal akan langsung melaju ke kantor lebih dulu, sedangkan Adrian sendiri yang akan mengantarku ke toko perhiasan agar kami bisa memilih dan menyesuaikan cincin nikah yang tepat.