NovelToon NovelToon
My Favorite Customer

My Favorite Customer

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:780
Nilai: 5
Nama Author: Rygobii_15

Gimana rasanya suka sama customer sendiri?
Kalau customer-nya jomblo, oke lah... masih bisa dideketin pelan-pelan.

Lah, aku?

Aku ajah kerja di toko bunga.

Yang artinya, sebagian besar customer-ku datang buat beli bunga untuk pacarnya, calon istrinya, atau bahkan istrinya beneran.

Sial banget nggak sih?

Gini nih kalau kelamaan jomblo. Sekalinya suka sama cowok, malah suka sama cowok yang kemungkinan besar udah ada yang punya.

Huhuhu.

Tapi tenang, aku tahu diri kok.

Aku cuma mengaguminya dari jauh.

Lagian, mana mungkin ada kisah cinta antara karyawan toko bunga biasa sepertiku dengan customer yang cuma datang sesekali?

...kan?

Atau jangan-jangan, semesta memang sedang menyiapkan sesuatu yang nggak pernah aku duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rygobii_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28 konsep yang disepakati

Langit siang mulai dipenuhi awan tipis ketika mobil Sarah memasuki halaman Ibusya Flower Studio.

Sepanjang perjalanan pulang dari venue, keduanya lebih banyak diam. Sarah beberapa kali memeriksa catatan di tabletnya, sementara Wulan sesekali melihat layar kamera yang berada di pangkuannya.

Ratusan foto hasil survei tersimpan di dalamnya.

Mulai dari area akad, ballroom utama, pintu masuk, hingga taman yang mengelilingi venue.

Entah kenapa, setiap kali melihat beberapa foto tertentu, Wulan kembali teringat ucapan seseorang.

"Yang barusan paling bagus."

Senyum tipis tanpa sadar kembali muncul di wajahnya.

"Wulan." Suara Sarah membuatnya langsung tersadar.

"Hah?"

"Kita udah sampai."

"Oh... iya, Kak." Wulan buru-buru meraih tas kameranya sebelum turun dari mobil.

Papan bertuliskan Tutup Sementara kembali dibalik menjadi Buka.

Tak butuh waktu lama, beberapa pelanggan mulai berdatangan.

Untungnya, sebagian besar pesanan hari itu sudah disiapkan sejak pagi, sehingga Sarah dan Wulan masih sempat mengurus hasil survei sambil bergantian melayani pelanggan.

Di ruang kerja kecil milik Sarah, laptop sudah menyala. "Lan, kameranya."

"Iya, Kak." Wulan menyerahkan kamera, lalu membantu menyambungkan kabel data ke laptop.

Satu per satu foto mulai berpindah ke layar.

Sarah memperhatikan setiap gambar dengan teliti. "Yang ini bagus."

Klik.

"Ini juga."

Klik.

"Sudut ballroom-nya dapet."

Wulan ikut mendekat. "Soalnya tadi ambilnya agak mundur, Kak."

Sarah mengangguk puas."Bagus. Komposisinya enak."

Wulan tersenyum kecil."Yang pintu masuk juga lumayan."

Sarah membuka foto berikutnya.

"Hm..."

"Kenapa, Kak?"

"Ini." Sarah memperbesar salah satu foto pilar ballroom. "Kalau bagian sini dikasih rangkaian bunga gantung kayaknya cantik."

Mata Wulan langsung berbinar.

"Iyakan kakk! tadi Aku juga kepikiran itu."

Sarah menoleh. "Serius?"

"Iya. Tadi pas survei aku sempat ngebayangin kalau pilar ini dikasih rangkaian bunga yang nggak terlalu penuh."

Sarah kembali memperhatikan foto itu. " terus?"

"Terus ditambah lampu-lampu kecil warna warm white."

Beberapa detik Sarah hanya memandang layar, Kemudian perlahan ia tersenyum. " Bagus."

Wulan ikut tersenyum." Jadi dipakai, Kak?"

"Kayaknya iya." Sarah mulai membuat catatan baru di tabletnya. "Pilar bunga gantung, tapi jangan terlalu ramai, Supaya ballroom-nya tetap kelihatan luas."

"Iya."Wulan mengangguk puas.

Entah kenapa, ia jadi kembali teringat seseorang yang sempat mengatakan hal yang sama saat mereka berdiri di dekat pilar tadi pagi.

"Kalau tipis-tipis aja lebih enak."

Tanpa sadar, sudut bibirnya kembali terangkat.

"Wulan."

"Iya, Kak?"

Sarah menyipitkan mata sambil menahan senyum. " Dari tadi senyum-senyum sendiri."

Wulan langsung salah tingkah.

" Hah? masa sihh kakk nggak ko."

"Oh ya?"

"Iya."

Sarah terkekeh pelan. "Yaudah deh percaya."

Belum sempat Wulan membalas, bel pintu toko kembali berbunyi.

"Ting... tong..."

Seorang pelanggan masuk membawa pot kecil berisi bunga anggrek."Permisi."

Wulan langsung berdiri. "Selamat siang. Ada yang bisa kami bantu?"

Sementara Wulan melayani pelanggan, sarah kembali melanjutkan pekerjaannya di depan laptop.

Ia mulai mengelompokkan foto-foto berdasarkan area.

Area Akad.

Ballroom.

Pintu Masuk.

Taman.

Sesekali ia memberi nama file agar lebih mudah dicari nanti.

Hampir satu jam berlalu, Pelanggan mulai berkurang Wulan kembali duduk di samping sarah.

"Oke, nanti sore konsep awalnya aku kirim ke Nara."

"Siap, Kak."

"Kalau mereka setuju, minggu depan kita mulai pesan bunga."

"Berarti udah masuk tahap produksi ya?"

"Iya." Wulan mengangguk pelan, Proyek pernikahan Nara dan Rafi akhirnya benar-benar mulai berjalan.

Saat mereka masih membahas beberapa detail dekorasi, bel pintu kembali berbunyi.

"Ting... tong..."

Wulan yang sedang membantu merapikan mapnya sarah langsung menoleh ke arah pintu.

"Selamat siang." Suara ceria yang sudah dikenalnya membuat ia spontan tersenyum.

"eh kak Nara."

Di belakang Nara, Rafi masuk sambil membawa beberapa lembar katalog venue.

Tak lama kemudian, seseorang menyusul masuk dengan langkah tenang.

Kemeja biru tua yang dikenakannya terlihat sederhana, namun tetap rapi.

Saka.

Pandangan mereka bertemu sesaat.

Saka menganggukkan kepala lebih dulu. " Selamat siang."

Wulan membalas dengan senyum kecil. "Selamat siang, Kak."

Entah kenapa, sapaan sederhana itu kini terasa jauh lebih ringan dibandingkan pertemuan-pertemuan mereka sebelumnya.

"Eh, kalian udah datang." ucap Sarah

Nara tersenyum lebar. "Hehe... penasaran aja sama konsep dekorasinya."

"Padahal baru survei tadi pagi," sahut Sarah sambil tertawa kecil.

"Justru itu. Mumpung semuanya masih fresh."

Rafi mengangguk setuju. "Sekalian kalau ada yang perlu direvisi, langsung dibahas."

"Setuju."

Sarah mempersilakan mereka duduk di area konsultasi yang berada di sudut toko.

Meja kayu panjang itu sudah dipenuhi beberapa contoh bunga segar, katalog dekorasi, serta beberapa lembar sketsa yang dibuat Sarah sejak beberapa hari terakhir.

Wulan ikut membantu menata semuanya.

Ia meletakkan vas kecil berisi mawar putih di tengah meja, lalu menyusun beberapa contoh pita satin di sampingnya.

Saat sedang merapikan, tanpa sengaja tangannya hampir menyenggol gunting bunga.

Belum sempat jatuh, seseorang lebih dulu menahannya."Hati-hati."

Wulan menoleh, Saka sudah berdiri di sampingnya sambil memegang gunting itu.

Wulan mengembuskan napas pelan. "makasih, Kak."

Saka menyerahkan gunting itu kepadanya. "Sama-sama."

Jawabannya singkat seperti biasa

Namun entah kenapa, Wulan kembali teringat kejadian di venue tadi pagi saat Saka mengingatkannya agar tidak menginjak anak tangga.

Tapi hampir setiap kali Wulan lengah, Saka selalu menjadi orang pertama yang menyadarinya.

"Wulan." Suara Sarah kembali memanggil.

"Iya, Kak."

"Tolong ambilin contoh bunga preserved yang di rak atas."

"Oke." Wulan berjalan menuju rak display.

Rak itu cukup tinggi sehingga ia harus sedikit berjinjit untuk mengambil kotak yang dimaksud.

"yaaap"Ujung jarinya hampir menyentuh kotak itu.

Namun masih kurang sedikit.

" Yang paling atas kan? " Sebuah tangan lain meraih kotak tersebut lebih dulu.

Wulan menoleh, saka berdiri tepat di sampingnya sambil menyerahkan kotak bunga yang tadi hendak ia ambil.

Refleks Wulan menerimanya.

" oo iya"

Saka kembali berjalan ke arah meja seolah tidak terjadi apa-apa.

Sementara Wulan masih berdiri beberapa detik di tempat.

"Lan?"

"Iya!"Wulan buru-buru menghampiri Sarah.

Untung saja tidak ada yang memperhatikan wajahnya yang mulai memanas.

Atau... setidaknya begitu pikirnya.

Karena di seberang meja, Nara sudah menatap Rafi sambil menahan senyum.

Rafi hanya menggeleng pelan.

"Jangan."

"Aku diem, kok."

"Ekspresi kamu nggak diem."

Nara langsung menutup mulutnya agar tidak tertawa.

Sarah mulai membuka sketsa dekorasi di atas meja. " Oke, ini konsep awal yang aku buat."

Semua langsung memperhatikan.

" Untuk area akad, aku tetap pakai dominan putih dengan sentuhan peach dan cream."

Nara mengangguk pelan.

"Suka."

"Backdropp-nya dibuat melengkung supaya kelihatan lebih lembut."

"Bagus."

Sarah lalu menunjuk gambar berikutnya. "Nah, kalau ballroom utama aku kepikiran menambah rangkaian bunga gantung di beberapa pilar."

Rafi memperhatikan sketsa itu.

"Nggak bakal terlalu penuh?"

"Nggak." Sarah tersenyum. " Justru kita buat tipis."

Wulan ikut menambahkan. "Biar ruangan tetap terasa luas."

Saka menoleh sebentar ke arah Wulan. " Lampunya tetap dipakai?"

Wulan ikut melihat sketsa itu. "Iya, Lampu warm white."

Saka mengangguk kecil.

"Cocok."

Sarah tersenyum sambil menulis catatan."Berarti kita sepakat."

Nara menatap gambar itu cukup lama."Aku suka."

Rafi ikut mengangguk. "Kelihatannya hangat."

Mendengar komentar itu, Sarah tampak semakin yakin. "Kalau begitu konsep ini kita lanjut."

Tak lama kemudian, Wulan kembali mengambil beberapa contoh bunga untuk dicocokkan dengan sketsa.

Ia mengeluarkan mawar putih, lisianthus, baby's breath, dan beberapa tangkai eucalyptus.

Saka memperhatikan bunga-bunga itu dengan saksama. "Yang ini namanya apa?"

Wulan mengangkat satu tangkai kecil. "Baby's breath."

Saka mengangguk pelan.

"Sering dipakai?"

"Iya." Wulan tersenyum. "Soalnya gampang dipadukan sama bunga apa aja terus bentuknya juga manis."

Saka memperhatikan bunga kecil berwarna putih itu beberapa detik.

"Pantes."

"Pantes apa?"

"Sering dipilih."

Wulan terkekeh kecil. " Iya juga."

Entah kenapa, obrolan sederhana seperti itu terasa jauh lebih nyaman dibandingkan sebelumnya.

Tidak lagi dipenuhi rasa canggung, Tidak lagi dipenuhi keheningan yang membuat salah tingkah.

Kini, percakapan mereka mengalir begitu saja.

Dan tanpa disadari siapa pun seseorang mulai menikmati setiap obrolan kecil yang terjadi di antara mereka.

Suasana di area konsultasi semakin hangat.

Beberapa contoh bunga kini memenuhi meja. Mawar putih, lisianthus, baby's breath, hydrangea, hingga daun eucalyptus disusun berdampingan agar Nara dan Rafi lebih mudah membayangkan hasil akhirnya.

Sarah sesekali menggeser sketsa dekorasi, lalu mencocokkannya dengan warna bunga yang ada di hadapan mereka.

"Kalau untuk buket pengantin, aku masih saranin kombinasi mawar putih sama lisianthus," ujar Sarah.

Nara memperhatikan contoh buket yang ditunjukkan."Cantik..."

"Warnanya lembut," sambung Rafi.

Sarah mengangguk. "Terus karena venue-nya banyak kaca, warna-warna terang bakal lebih keluar pas kena cahaya."

Nara tersenyum puas."Aku suka."

Wulan yang sejak tadi berdiri di samping Sarah kemudian mengambil beberapa pita satin dengan warna berbeda."Kak Sarah, kalau pitanya pakai warna champagne gimana?"

Sarah membandingkan pita itu dengan bunga di atas meja.

"Hm, Coba deketin."

Wulan meletakkan pita tersebut di samping rangkaian bunga.

Beberapa detik semua orang memperhatikan. "Lebih masuk," komentar Rafi.

"Iya," sahut Nara. "Kelihatannya lebih elegan."

Sarah tersenyum. "Berarti pakai yang ini."

Wulan mengangguk kecil sambil mencatat perubahan itu di buku kerjanya.

Di sela-sela diskusi, bel pintu kembali berbunyi.

Seorang pelanggan masuk untuk mengambil pesanan buket wisuda.

"Permisi, saya ambil pesanan atas nama Dinda."

"Sebentar ya, Kak." Wulan segera menuju rak penyimpanan.

Ia mengambil buket yang sudah dibungkus rapi, lalu menyerahkannya kepada pelanggan. "Silakan dicek dulu."

Pelanggan itu tersenyum senang.

"Bagus banget, Terima kasih."

Setelah pelanggan pergi, Wulan kembali ke meja konsultasi Diskusi ternyata masih berlangsung.

Sarah sedang menjelaskan perkiraan waktu pengerjaan dekorasi. "Kalau sesuai jadwal, H-2 semua bunga segar sudah mulai dirangkai."

Rafi mengangguk. "Berarti sehari sebelum acara udah mulai pasang?"

"Iya."

"Supaya pas hari H tinggal finishing."

Nara terlihat semakin antusias.

"Aku jadi nggak sabar."

Sarah tertawa kecil."Masih ada waktu beberapa minggu."

"Tetap aja."Suasana kembali dipenuhi tawa ringan.

Di sisi lain meja, Saka memperhatikan beberapa foto hasil survei yang tadi dipindahkan ke laptop.

Ia menggeser satu per satu foto menggunakan touchpad.

Sesekali berhenti lebih lama di beberapa gambar."Hasil fotonya bagus."

Wulan yang sedang merapikan pita menoleh.

Saka menunjuk salah satu foto taman."Komposisinya enak."

"Oh yaa" Wulan ikut melihat layar.

"Yang itu memang aku ambil beberapa kali."

"Saya tahu."

Wulan menatap Saka sekilas.

"Kok tahu?"

"Soalnya sudutnya beda-beda."

Jawaban itu membuat Wulan tersenyum kecil.

"Iya juga, ya."

Sarah yang mendengar percakapan mereka ikut menoleh. "Memang Wulan telaten kalau soal motret."

"Ah, bisa aja kakak mahh " Ucap wulan malu-malu kucing.

Sarah tersenyum."Makanya dari dulu dokumentasi toko selalu aku serahin ke kamu."

Mendengar itu, Wulan hanya tersipu malu.

Saka kembali menatap layar laptop."Bagus."

Satu kata, Namun entah kenapa Pujian sesederhana itu kembali membuat pipi Wulan terasa menghangat.

Tak lama kemudian, Sarah menutup laptopnya. "Oke, untuk sementara konsepnya udah selesai."

Nara langsung tersenyum lega.

"Berarti tinggal nunggu revisi kecil aja."

"Iya."

"Kalau nanti ada tambahan ide, kabarin aja."

"Siap."

Rafi berdiri lebih dulu."Kalau gitu kita pamit."

Sarah ikut berdiri."Hati-hati di jalan."

"Siap."

Nara menghampiri Wulan sebelum keluar."Semangat ya."

Wulan tersenyum."Siap, Kak."

Nara kemudian melirik sekilas ke arah Saka sebelum berjalan keluar bersama Rafi.

Saka yang masih berada di dekat pintu tampak berhenti sejenak.

Ia menoleh ke arah Wulan."Wulan."

"Iya, Kak?"

"Terima kasih."

Wulan terlihat sedikit bingung.

"Untuk apa?"

"Sudah membantu survei tadi. Hasil fotonya juga sangat membantu."

Wulan tersenyum hangat."Sama-sama, Kak."

ucap Saka pelan. "Sampai ketemu lagi."

"Iya."

Tanpa banyak kata, Saka kemudian menyusul Nara dan Rafi keluar dari toko.

Pintu kaca kembali menutup perlahan, Wulan masih berdiri beberapa detik di tempat.

Tatapannya mengikuti mobil hitam itu hingga perlahan keluar dari halaman Ibusya Flower Studio.

"Wulan." Suara Sarah membuatnya tersadar.

" iya kakakkkk? "

Sarah tersenyum geli. "Mobilnya udah nggak kelihatan."

Wajah Wulan langsung memerah.

" keliatan banget aku ya kakkk, jadi malu dehhh."

" kamu ini ada-ada aja" Sarah hanya terkekeh pelan tanpa melanjutkan godaannya.

" harus dong kakk kalo ngga ada apa-apanya, apa coba yang mau di banggain eyakk" ucap wulan sambil kembali bekerja.

sarah hanya tertawa kecil lalu pergi ke ruangannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!